YOLO vs YONO: Siapa yang Lebih Keren di Zaman Now?
InformasiEva Putriya Hasanah
Pernah dengar istilah YOLO? Kalau kamu sering scrolling media sosial beberapa tahun lalu, pasti tidak bernyanyi dengan kalimat ini: "You Only Live Once." YOLO sempat jadi mantra hidup anak muda yang mengajak kita untuk menikmati hidup sepenuhnya. Tapi, di tahun 2025 ini, ada tren baru yang lagi nge-hype banget, yaitu YONO alias "You Only Need One." Nah, apa sih bedanya YOLO sama YONO?
YOLO: Hidup Sekali, Nikmati Maksimal!
YOLO, singkatan dari “You Only Live Once,” pertama kali populer di kalangan milenial sebagai layanan untuk menikmati hidup sepenuhnya. Filosofi ini mendorong orang untuk mengambil risiko, mencoba hal-hal baru, dan memanfaatkan setiap momen sebaik mungkin. Namun seiring berjalannya waktu, makna YOLO sering kali terdistorsi menjadi pembenaran untuk gaya hidup konsumtif dan impulsif. Banyak yang menggunakan istilah ini untuk mendukung keputusan-keputusan spontan, seperti membeli barang mahal atau melakukan perjalanan mewah tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Gaya hidup YOLO memang memberikan kebebasan dan kesenangan, tetapi juga sering kali meninggalkan konsekuensi negatif, seperti masalah keuangan atau tekanan sosial untuk selalu “hidup maksimal.” Hal ini membuat banyak orang, terutama generasi Z, mulai melihat relevansi YOLO di era modern.
YONO: Filosofi Baru yang Lebih Bijak
Sebagai respon terhadap ekses YOLO, muncul tren baru bernama YONO (You Only Need One) . Filosofi ini menekankan pentingnya hidup sederhana, fokus pada kebutuhan, dan mengelola konsumsi dengan bijak. YONO mengajarkan bahwa kita tidak perlu memiliki segalanya untuk merasa bahagia; cukup dengan satu hal yang benar-benar penting, kita sudah bisa menjalani hidup yang memuaskan.
Misalnya, dalam hal konsumsi barang, YONO mendorong seseorang untuk membeli hanya barang yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar mengikuti tren atau dorongan impulsif. Filosofi ini juga berlaku dalam aspek kehidupan lain, seperti hubungan sosial, di mana kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas.
Baca Juga : Relasi Modal Sosial dalam Praktik Antaragama
Mengapa Generasi Z Memilih YONO?
Generasi Z dikenal sebagai generasi yang lebih sadar akan isu-isu global, seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan keinginan. Mereka tumbuh di era mana dampak negatif dari gaya hidup konsumtif semakin terlihat, mulai dari limbah plastik hingga krisis lingkungan. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang merasa bahwa filosofi YOLO tidak lagi relevan dengan tantangan zaman.
Sebaliknya, YONO menawarkan solusi yang lebih sesuai dengan nilai-nilai mereka. Dengan mengadopsi gaya hidup ini, generasi Z dapat mengurangi jejak karbon, menghemat uang, dan menjalani hidup yang lebih bermakna. Selain itu, YONO juga membantu mereka menghindari tekanan sosial untuk selalu tampil sempurna atau memiliki segalanya, yang sering kali menjadi beban mental.
Dampak Positif YONO di Tahun 2025
Tren YONO tidak hanya mengubah cara generasi Z menjalani hidup, tetapi juga membawa dampak positif yang lebih luas. Berikut beberapa dampaknya:
1. Pengelolaan Keuangan yang Lebih Baik
Dengan fokus pada kebutuhan, banyak orang yang mulai lebih bijak dalam mengelola uang mereka. Mereka tidak lagi berpikir untuk membeli barang-barang yang tidak diperlukan, sehingga dapat menabung atau berinvestasi untuk masa depan.
Baca Juga : Wabah Covid-19 Sebagai Peringatan Allah
2. Gaya Hidup Berkelanjutan
YONO mendorong konsumsi yang lebih bertanggung jawab, yang pada akhirnya membantu mengurangi limbah dan berdampak negatif terhadap lingkungan. Misalnya, seseorang mungkin memilih untuk membeli pakaian berkualitas tinggi yang tahan lama daripada membeli banyak pakaian murah yang cepat rusak.
3. Kesejahteraan Mental
Dengan mengurangi tekanan untuk selalu “hidup maksimal,” YONO membantu banyak orang merasa lebih tenang dan puas dengan apa yang mereka miliki. Mereka tidak lagi merasa perlu membandingkan diri dengan orang lain atau mengikuti standar sosial yang tidak realistis.
Apakah YONO Akan Menggantikan YOLO Sepenuhnya?
Meskipun YONO semakin populer, bukan berarti YOLO akan ditinggalkan sepenuhnya. Ada kalanya filosofi YOLO tetap relevan, terutama dalam situasi di mana seseorang perlu mengambil risiko atau keluar dari zona nyaman. Namun yang membedakan adalah cara generasi Z menginterpretasikan kedua filosofi ini. Mereka cenderung memilih lebih banyak dalam penerapan YOLO, memastikan bahwa keputusan yang diambil tetap sejalan dengan nilai-nilai YONO.
Pergeseran dari YOLO ke YONO mencerminkan perubahan besar dalam cara generasi muda memandang hidup. Jika YOLO menekankan kebebasan dan eksplorasi, YONO menawarkan pendekatan yang lebih bijak dan berkelanjutan. Di tahun 2025, YONO menjadi simbol dari kesadaran baru akan pentingnya hidup sederhana, fokus pada kebutuhan, dan menjaga keseimbangan antara kebahagiaan pribadi dan tanggung jawab sosial.
Dengan mengadopsi filosofi YONO, generasi Z tidak hanya menciptakan tren baru, tetapi juga memberikan contoh bagaimana kita semua dapat menjalani hidup yang lebih bermakna dan berkelanjutan. Jadi, apakah kamu siap untuk mengucapkan selamat tinggal di YOLO dan menyambut YONO?

