(Sumber : Antara Foto)

Presiden Jokowi, Perguruan Tinggi dan Riset

Opini

Membicarakan riset bagi Perguruan Tinggi tentu bukan barang baru. Hakikat pengembangan ilmu pengetahuan sesungguhnya berawal dari riset. Yang abadi di dalam dunia ilmu pengetahuan adalah riset. Tanpa riset maka tidak akan ada pengembangan ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya para dosen tidak hanya sebagai pengajar untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan tetapi juga seorang periset yang tangguh. Di dalam dirinya harus mengalir darah riset, karena dosenlah yang memiliki otoritas untuk meneliti dalam bidang ilmunya.

  

Perguruan tinggi di Indonesia sungguh beruntung sebab memiliki Tri Darma Perguruan Tinggi, sebagai basis transformasi ilmu pengetahuan lewat pembelajaran ilmu pengetahuan, riset untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian masyarakat sebagai instrumen untuk pemberdayaan. Sudah lama gagasan tentang pentingnya membangun sistem terpadu untuk pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Dalam konsepsi akhir-akhir ini disebut sebagai konvergensi tri darma perguruan tinggi. 

  

Konvergensi Perguruan tinggi, hakikatnya adalah sistem terpadu untuk menyelaraskan dan menyeimbangkan antara pengajaran, riset dan pengabdian dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Tri darma perguruan tinggi merupakan satu kesatuan sistem, pengajaran menghasilkan riset dan berimplikasi pada pengabdian masyarakat. Dari riset kemudian menjadi instrumen pengabdian masyarakat dan terus dikembangkan untuk bahan pengajaran. Ajar Teliti Abdi atau Teliti Abdi Ajar atau Abdi Ajar Teliti.

   

Saya sungguh tertarik dengan pidato Pak Jokowi dalam sambutan pembukaan Forum Rektor Indonesia (FRI), 15-16/01/2024, di Universitas Negeri Surabaya (UNESA)  yang diikuti oleh Rektor PTN/PTKIN dan Rektor PTS se Indonesia. Pak Jokowi menyatakan: “Lembaga pendidikan tinggi itu sangat penting dan memiliki peran strategis bagi negeri. Rektor memiliki peranan besar. Bulan yang lalu, saya datang ke Amerika dan pergi ke dua PT, di Washington DC dan San Fransisco,  saya masuk dan ternyata lebih dari separuh mahasiswanya datang dari China. Inilah yang menyebabkan China itu melompat dalam 20 tahun terakhir dan melampaui negara maju lainnya. Yang kedua terbesar  ternyata India. Dari Indonesia hanya lima. Sangat kecil. Lalu saya dibawa ke Fakultas Robotic dan AI, dan ternyata separuhnya juga datang dari RRC.”

  

Lebih lanjut dinyatakan: “di Vietnam ada sebuah perusahaan yang memiliki R&D sebanyak 2300 peneliti. Ini perusahaan swasta. Vietnam ternyata sangat menghargai riset.   Perguruan Tinggi  di Indonesia diharapkan menjadi lembaga riset. Di Vietnam antara industri dan universitas itu menjadi satu kesatuan. Untuk itu di Indonesia harus melakukan percepatan untuk mempercepat riset. BRIN harus menjadi orchestrator penelitian. Dan kuncinya ada di Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi harus menjadi pusat bagi pengembangan riset and development. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar menyusun anggaran yang besar untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. Kita perlu mengembangkan smart farming, smart fishery, smart bioenergy, smart manufacturing dan sebagainya.”

  

“Perguruan Tinggi  di Indonesia harus terus ditingkatkan dalam kaitannya dengan pengembangan kualitas, terutama peringkatnya di dunia internasional. Yang berada di peringkat 200 sangat sedikit. Dan yang masuk peringkat 50 belum ada. Kita menyadari bahwa untuk mempercepat kualitas dan pengembangan SDM diperlukan dana yang memadai.” Lebih lanjut Pak Jokowi menyatakan: “setelah ini saya akan melakukan rapat dan meminta kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk merancang anggaran yang memihak kepada pengembangan pendidikan. Berikan dana yang besar agar nanti menjadi kebijakan presiden yang akan datang, entah paslon Nomor 1, Nomor 2 atau Nomor 3. Jika sudah dianggarkan maka presiden yang akan datang tidak berani mengubahnya”. 

  

Kebijakan pemerintah tentang pendidikan sebenarnya sudah jauh lebih baik. Sesuai dengan UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka sudah diamanatkan anggaran sebesar 20 persen dari APBN. Sayangnya bahwa anggaran sebesar itu lebih banyak dipakai untuk biaya rutin, seperti gaji pegawai, tunjangan profesi dan tunjangan lainnya. Sementara sisanya dipakai untuk belanja modal dan biaya pengembangan. Oleh karena itu, jika masih terdapat keluhan tentang penganggaran pendidikan tentu bukanlah hal yang asing di telinga kita.

  

Malaysia tentu lebih baik kualitas pendidikannya pada 30 tahun terakhir. Pada masa Orde Baru, kala anggaran pendidikan kita baru 10,2 persen APBN, maka Malaysia sudah menganggarkan untuk pendidikan sebesar 19%, hanya kalah dengan Singapura yang 21%. Padahal arsitek pendidikan tinggi di Malaysia adalah para dosen dari Indonesia, khususnya ITB. Bangunan fisik University Technology Malaysia (UTM) di Johor didesain oleh para dosen ITB. Dan akhirnya Malaysia menjadi murid yang cerdas dalam mengembangkan pendidikan tinggi dengan pemihakan anggaran yang memadai.

  

Sebagaimana visi dan misi Presiden Jokowi, maka dunia pendidikan tinggi harus berbenah, para dosen dan pimpinan PT harus bekerja keras untuk menjadikan PT sebagai Research University melalui dukungan anggaran dan kebijakan yang memihak kepada peningkatan kualitas pendidikan. Dipercaya sepenuhnya, bahwa tugas PT adalah untuk mengembangkan SDM berkualitas dan juga riset yang berbasis pada kepentingan industri dan inovasi di berbagai bidang untuk pembangunan berkelanjutan.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.