(Sumber : Salafidunord)

Salafisme Perdesaan: Perjuangan Islam Indonesia Pasca Orde Baru

Riset Sosial

Artikel berjudul “Salafism in Rural Java: The Struggles of Indonesian Islam Since the Fall of the New Order” merupakan karya Zuly Qodir, Krismono dan Irwan Abdullah. Tulisan ini terbit di Qudus International Journal of Islamic Studies (QIJIS) tahun 2023. Penelitian ini berusaha menjelaskan faktor yang mendorong munculnya salafisme di pedesaan Jawa, termasuk aktor individu, gerakan Salafi Global dan hubungan antar organisasi Islam yang terjadi pasca runtuhnya orde baru. Gerakan Salafi tidak murni bersifat keagamaan di pedesaan Jawa, namun lebih bertujuan memberikan keselamatan ekonomi dan politik kepada para anggotanya. Kontestasi ekonomi dan politik yang beragam telah terjadi dalam gerakan Salafi sebagai aktor yang menjalin relasi dengan individu dengan berbagi visi maupun ideologi politik. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, ciri-ciri gerakan Salafi. Ketiga, Kepakisan: arena yang diperebutkan. Keempat, bangkitnya Salafisme di Kepakisan.  

  

Pendahuluan

  

Pengunduran diri Presiden Soeharto pada bulan Mei 1998 yang bertepatan dengan krisis moneter, ekonomi dan politik dianggap memberikan momentum bagi Islam untuk mulai memainkan peran yang semakin penting dalam politik. Hal ini dibuktikan dengan dua faktor: pertama, bangkitnya gerakan-gerakan Islam dan partai politik secara terbuka; kedua, ekspresi simbol dan identitas Islam di ruang publik. Gerakan ini termasuk organisasi paramiliter seperti Laskar Jihad, Front Pembela Islam, dan Majelis Mujahidin Indonesia. yang membentuk masyarakat dengan cara baru, sehingga menimbulkan kekhawatiran besar bagi organisasi Islam terbesar di Indonesia seperti Muhammdiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) yang keduanya menganut Islam lebih moderat.

  

Penyebaran Salafisme di seluruh dunia termasuk pedesaan Indonesia telah menghasilkan identitas Islam global baru yang terpisah dari referensi nasional, sejarah lokal dan institusi budaya yang dianggap non-Islam. Salafisme seperti ini dianggap lebih cocok dengan situasi global saat ini, di mana identitas telah mengalami deteritorialisasi. Keinginan mewujudkan bentuk Islam yang murni telah memberikan kontribusi signifikan terhadap penciptaan identitas Islam baru dan mendapat daya tarik tersendiri di kalangan komunitas marginal barik di negara-negara barat maupun negara mayoritas muslim. 

  

Situasi ini secara signifikan mengubah konfigurasi Islam di Indonesia, termasuk Jawa. Dampaknya semakin nyata beberapa tahu terakhir, ketika Islam Indonesia berhadapan dengan gerakan Salafi yang puritan. Pengaruh Timur Tengah mulai terasa nyata pada tahun 1980-an dan 1990-an, kemudian seiring berjalannya waktu pandangan tersebut mulai dianut umat Islam di Indonesia. Praktik-Praktik Islam tradisional perlahan terkikis. 

  

Ciri-Ciri Gerakan Salafi

  

Meskipun Salafisme telah menyebar luas di Indonesia khususnya di pulau Jawa, masih terdapat ketegangan antara kelompok Salafi dan komunitas lokal yang menganut kepercayaan tradisional dan menjunjung tinggi status quo. Namun pada tingkat akar rumput, Salafisme telah mendapatkan penerimaan yang signifikan di kalangan masyarakat pedesaan yakni mereka yang masih menjalankan budaya tradisional. Kesuksesan Salafisme ini terletak pada kemampuannya dalam mentransformasikan pemahaman penganutnya dengan doktrin Islam. Cita-cita gerakan ini menjadi terkontekstualisasi, vernakularisasi bahkan pribumi. 

  

Di Kepakisan, Salafisme pertama kali muncul melalui khotbah di musala setempat, sehingga kemudian dijadikan ajang kontestasi ideologi, politik, dan ekonomi. Jadi, pendekatan lokal terhadap Salafisme berbeda dengan pendekatan dalam literatur. Selain itu, di Kepakisan, Wonosobo, pemahaman terhadap Salafisme secara umum bersifat moderat, bukan ekstrem atau kekerasan. Meski demikian, aktivitas ekonomi dan politik dilakukan para aktivis Salafi selama ini berorientasi pada mewujudkan perubahan budaya, politik, dan ekonomi, sekaligus memegang dan mempertahankan kekuasaan, Awalnya, Salafisme di desa ini lebih fokus pada dakwah, namun seiring berjalannya waktu menjadi lebih bersifat politis karena anggota masyarakat bersaing untuk mengendalikan ruang ekonomi. 


Baca Juga : Ceramah Jadi Komedi Lewat Fenomena Dubbing

  

Kepakisan: Arena yang Diperebutkan

  

Kepakisan adalah desa di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo. Tepatnya, kurang lebih 30-kilometer dari Kota Wonosobo. Berdasarkan sejarahnya, penduduk Kepakisan sebagian besar menganut agama Islam ‘abangan.’ Sebelum masuknya Islam, mereka sebagian besar menganut Hindu-Budha. Namun, perubahan secara signifikan terjadi setelah Supoyo Raharjo menjadi kepala desa Kepakisan pada tahun 2010. Ia mempromosikan apa yang dianggapnya sebagai Islam yang ‘murni’ yakni menekankan hukum dan simbol syariah. Hal yang menarik dicatat adalah pada akhirnya masyarakat mengubah keyakinan mereka dengan meninggalkan tradisi sinkretis dan memilih Islam ‘murni’ dan ‘modern.’ 

  

Secara tradisional, umat Islam Kepakisan melakukan praktik seperti Manakban, Maulid, Barjanzi, Tahlil, dan peringatan kematian. Demikian pula dengan kegiatan pembersihan desa yang telah lama dilakukan. Hal ini menunjukkan bagaimana penduduk desa memadukan pemikiran Islam dengan budaya lokal. Namun seiring berjalannya waktu, khotbah Supoyo Raharjo membuat warga semakin meninggalkan tradisi tersebut. Ia mengajarkan bahwa Islam tidak boleh bercampur dengan tradisi lokal dan mempromosikan apa yang dianggap Islam ‘murni.’

  

Supoyo menemukan keberhasilan dalam menyebarkan Islam yang ‘murni’ sebagian karena dukungan dari Muhammdiyah, Persatuan Islam (PERSIS), dan Sarekat Islam, dan organisasi-organisasi lama dengan minat yang sama dalam mempromosikan Islam ‘murni.’ Kedekatannya dengan organisasi tersebut memudahkan aktivitas dakwahnya, sekaligus mendukung ajakan Muhammad Adib, salah satu murid Jafar Umar Thalib guna menandai bangkitnya Salafisme di Kepakisan. Pada khotbahnya Supoyo dan Adib menghimbau agar tidak terpecah belah oleh organisasi keagamaan. Mereka berdalih atas nama Islam bukan Muhammdiyah, NU, PERSIS maupun yang lain. 

  

Bangkitnya Salafisme di Kepakisan

  

Kemunculan dan perkembangan pemikiran Salafi di Kepakisan tidak lepas dari Muhammad Adib yang pertama kali mengajar Salafisme di desa tersebut. Ia memiliki peran penting dalam penyebaran Salafisme di Wonosobo yang disebarkan dari masjid ke masjid. Selain itu, ia menulis dan disebarkan melalui majalah bulanan bertajuk Salafy kepada masyarakat umum. 

  

Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kesiapan masyarakat Indonesia terhadap Salafisme ala Timur Tengah. Pertama, masyarakat pedesaan di Indonesia khususnya Jawa terkenal karena keramahan dan keterbukaannya. Kedua, masyarakat pedesaan condong mengedepankan kerukunan dan toleransi dalam budayanya. Ketiga, masyarakat pedesaan condong lebih bersedia menerima gerakan Islam baru selama gerakan tersebut tidak bertentangan dengan tradisi Islam sendiri. Keempat, modernisasi dan globalisasi memungkinkan mempelajari berbagai alternatif, sehingga dapat memilih bentuk paling sesuai dengan kepentingan. Kelima, masyarakat pedesaan sering menghadapi kesulitan keuangan yang mengakibatkan mereka condong bergabung dengan gerakan sosial. 

  

Di Kepakisan, Salafisme diterima karena menyebarkan Islam sekaligus menawarkan cara yang tampaknya logis untuk mengatasi masalah yang mengacu pada ajaran eksplisit al-Qur’an dan Sunnah. Masuknya Salafisme ke Kepakisan menunjukkan bahwa pemikiran Islam Timur Tengah sebagaimana diperkenalkan melalui modernisasi dan globalisasi dapat menyebabkan transformasi sosial-keagamaan yang signifikan. Secara historis, keyakinan agama, moral, dan praktik Kepakisan sangat berbeda dengan aliran Salafisme.

  

Selama beberapa dekade, reformasi Islam yang diusung Supoyo Raharjo tidak banyak berpengaruh terhadap identitas keIslaman penduduk desa. Namun, ketika Salafisme mengakar justru akan membentuk perspektif teologis dan realitas sosio-politik yang menantang tradisi lama. Artinya, Salafi di Kepakisan dapat dipahami sebagai kelanjutan reformasi Islam yang diusung Supoyo Raharjo. 

  

Kesimpulan

  

Perkembangan Salafisme di pedesaan Jawa, seperti yang ditunjukkan dalam kasus Kepakisan, tidak dapat dipisahkan dari transformasi politik dan ekonomi yang menyertai reformasi politik Indonesia dan proses globalisasi yang sedang berlangsung. Penyebaran Salafisme sangat didorong oleh keinginan untuk mengkonsolidasikan kekuatan politik dan ekonomi; namun, karena gerakan ini menampilkan dirinya terutama sebagai gerakan keagamaan, motivasi ini tidak mudah dikenali. Demikian pula, kebangkitan Salafisme di Indonesia tidak dapat dielakkan lagi terkait dengan reformasi politik yang diterapkan di negara ini sejak runtuhnya Orde Baru pada tahun 1998. Ketika Indonesia menjadi semakin demokratis, gerakan-gerakan politik dan Islam baru mulai berlomba-lomba mendominasi ruang-ruang publik, khususnya tanah subur di pedesaan nusantara.

,