(Sumber : Fisip Undip)

PTKIN-Pun Berebut Peringkat Internasional

Opini

PTKIN di Indonesia telah memasuki era baru dengan capaian atau prestasi, baik di level nasional maupun internasional. Capaian tersebut tentu bukan dilakukan melalui jalan pintas tetapi dirancang dengan sangat memadai dengan gerakan para civitas akademikanya. Semua bekerja dengan optimal untuk memperoleh prestasi yang tentu saja bisa membanggakan bagi semua civitas akademika. Prestasi tersebut dapat dicapai berkat kerja sama di antara seluruh civitas akademika PTKIN. Pimpinan, dosen dan mahasiswa semua terlibat di dalam upaya untuk memajukan PTKIN yang menjadi tempat untuk melakukan pengabdian.

  

Salah satu yang membuat kita gembira bahwa PTKIN di Indonesia sudah memasuki era internasionalisasi yang ditandai dengan beberapa capaian dalam peringkat dunia.  Di antara yang menjadi standart sebagai PT berperingkat internasional adalah Website yang dimiliki oleh PTKIN. Di antara yang membuat gembira adalah capaian PTKIN dalam meraih prestasi dalam Webmetrics. Sebuah Lembaga pemeringkatan internasional yang berpusat di Spanyol dalam memberi peringkat atas website yang dimiliki oleh PTKIN dan juga PTU.

  

Di antara 10 PTKIN yang mencapai derajat terbaik dalam Webometrics adalah: 1) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, 2) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 3) UIN Sunan Ampel Surabaya, 4) Institut Agama Islam (IAIN) Palangkaraya, 5) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniri Aceh, 6) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo, 7) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, 8) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, 9) Institut Agama Islam (IAIN) Kendari, 10) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung. (www.webometric.info). 

  

Untuk mencapai peringkat ini tentu bukan hal yang mudah. Semuanya terencana secara sistematis,  terstruktur dan massif. Secara sistematis artinya bahwa semua rencana tersebut harus dipahami oleh semua komponen civitas akademika, terutama para dosen. Maknanya bahwa dosen  harus terlibat secara sistemik antara satu dengan lainnya. Arti terstruktur bahwa semua komponen civitas akademika harus secara aktif terlibat di dalam upaya untuk menggelembungkan informasi (karya ilmiah popular atau ilmiah akademis) apapun di dalam institusinya. Kemudian massif berarti  terdapat upaya semua dosen untuk terlibat di dalam memberikan karya apapun jenisnya kepada khalayak atau para pelanggan internal maupun eksternal. 

  

UIN Sunan Ampel Surabaya, misalnya mengusahakan untuk memasuki era Webometrics tersebut sudah sangat lama. UIN Sunan Ampel (dulu IAIN Sunan Ampel) sudah masuk di dalam peringkat Webometrics pada tahun 2010. Peringkatnya berada pada urutan 7717 dari 8000 PT dunia dan peringkat 57 di Indonesia,  dan menjadi satu-satunya PTKIN yang masuk dalam peringkat Webometrics. Tentang  peringkat Webometrics ini masih dapat dilihat pada postingan saya di blog nursyam.uinsby.ac.id pada   17 Pebruari 2010 dengan judul “IAIN SA Pun Bisa Meraih Peringkat Webometrics”.   Tulisan lain, “Makna Webometrics Bagi IAIN SA” yang diupload pada 22 Juli 2010. Lalu tulisan yang lebih lama, dengan judul “IAIN Sunan Ampel Pun Mimpi Webometrics” yang diupload 10 Agustus 2009. Jadi UINSA telah lama berkutat dalam peringkat Webometrics. 

  

Pada tahun 2009  hanya PTU yang mendapatkan peringkat internasional Webometrics dan belum satupun PTKIN yang masuk di dalamnya. Itulah sebabnya, pada tahun 2009 itu Webometrics masih menjadi  mimpi, dan mimpi itu menjadi kenyataan pada tahun 2010 melalui kerja keras semua komponen civitas akademika. Dan untuk bisa memasuki area ini ternyata harus benar-benar direncanakan dan mendapatkan dukungan semua pihak, terutama dosen. Pada waktu itu, Webometrics adalah satu-satunya pemeringkatan internasional yang bisa dicapai oleh IAINSA. Tanpa dukungan semua pihak untuk memperbanyak tulisan atau karya ilmiah dari civitas akademika, maka tidak mungkin akan terdapat kekayaan files yang menjadi persyaratan  Webometrics.

  

Untuk memperoleh peringkat Webometric sebenarnya harus memenuhi standart, yaitu presence. Yaitu keberadaan web PT yang tidak mengalami discontinue dan terus menerus terisi dan dikelola secara memadai. Artinya semakin banyak web (link) yang terkoneksi dengan web PT tentu akan semakin baik. Kemudian, Visibility atau web content impact dengan bobot 50%. Artinya bahwa semakin banyak konten yang dimiliki oleh PT akan semakin baik. Atau jumlah kekayaan files sangat menentukan peringkat web tersebut. Lalu, transparency atau openness dengan bobot 10%. Semua informasi tersebut dapat diakses oleh siapapun tanpa ada hal-hal yang tersembunyi. Kemudahan akses tentu menjadi persyaratan untuk penilaian. Yang juga penting adalah excellence dengan bobot 40%, artinya web tersebut berisi tulisan berbobot dengan citasi yang tinggi. Tinggi rendahnya citasi menjadi ukuran dalam pemeringkatan Webometrics.  Selain ini juga harus diperhatikan tentang konten web (jumlah halaman web dan file), visiblilitas dan publikasi yang dibuktikan dengan banyak catatan referensi (link, catatan kaki, kutipan situs) yang berasal dari web kampus. (blog.ecampus diunduh 01/02/2023). 

  

Dengan demikian, diperlukan gerakan secara lebih massive untuk mendorong agar dosen PTKIN untuk terlibat dalam menggelembungkan kekayaan file PT, misalnya dengan membuat blog yang terkonek dengan web PTKIN. Jika satu dosen menulis 3 kali dalam sepekan, maka dalam 1 bulan akan terdapat 12 tulisan dan dalam setahun akan terdapat sebanyak 144 tulisan. Jika tulisan ini memiliki tema-tema tertentu, maka akan dapat dijadikan buku. Maka setahun akan memberikan kekayaan file ke PTKIN sebanyak 144 tulisan dan juga dapat mendorong lahirnya buku. One Year One Book. 

  

Dan yang sangat penting adalah memperkuat repositori PTKIN. Kekayaan file juga akan dapat dilihat dari repository PTKIN. Semua skripsi, tesis dan disertasi serta makalah dan artikel terdokumentasi secara memadai  dan dapat diakses dengan mudah oleh siapapun yang memerlukannya. Lalu yang tidak kalah penting juga gerakan menulis, misalnya gerakan menulis artikel juga harus disertai dengan gerakan citasi.  Keduanya merupakan satu kesatuan sistemik untuk mendongkrak pemeringkatan Webometrics.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.