Erdoganomics Versus Teori Ekonomi, Mampukah?
HorizonOleh: Achmad Rizadi
(Mahasiswa Program Doktor Ekonomi Syariah,
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya)
Gegap gempita piala dunia di Qatar beberapa waktu lalu telah memunculkan Argentina sebagai juara dunia untuk ketiga kalinya. Keberhasilan Messi dan timnya membawa piala dunia stelah 36 tahun lalu tentunya menjadi hiburan yang tak ternilai bagi masyarakat Argentina di tengah terpaan krisis ekonomi yang semakin parah saat ini. Berdasarkan data dari trading economics, inflasi argentina diperkirakan mencapai 92,4 % dibulan November 2022. Yang membuat miris, imbas dari tingginya nilai inflasi tersebut seperti diberitakan cnbcindonesia (14/10/2022) mengakibatkan 36% masyarakat Argentina jatuh dalam jurang kemiskinan sehingga banyak yang bertahan hidup dengan menjadi pemungut sampah. Setali tiga uang dengan Argentina, negara kelompok G20 lain yg mengalami tingkat inflasi tertinggi selanjutnya adalah Turki, dengan tingkat inflasi menurut trading economics pada bulan November 2022 mencapai 84,39%.
Namun satu hal yang menarik dan berbeda dengan Argentina yang konsisten menerapkan teori ekonomi konvensional, dimana untuk menekan inflasi pemerintahnya menaikkan suku bunga acuan hingga 75% pada September 2022 dan pemerintahnya setia mengandalkan bantuan IMF sebagai penyelamatnya, maka Turki menempuh jalan yg berbeda dalam menghadapi pengaruh inflasi dan krisis ekonomi. Adalah Recep Tayyib Erdogan Presiden Turki yang dengan gigih melawan arus teori ekonomi konvensional dalam mengatasi dampak inflasi di negaranya dalam kurun waktu bertahun-tahun hingga saat ini.
Bila normalnya dalam teori ekonomi konvensional, bank sentral suatu negara akan menerapkan kenaikan suku bunga acuan untuk menekan terjadinya inflasi dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar agar inflasi dapat terkendali, maka hal tersebut bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Erdogan. Erdogan seperti yang dikutip Reuter 2018 mengatakan bahwa suku bunga tingggi adalah biangnya setan. Erdogan berpandangan bahwa suku bunga tinggi saat inflasi akan menghambat investasi dan mengurangi nilai mata uang Turki serta membuat impor lebih mahal sehingga berdampak pada perlambatan ekonomi. sebaliknya Erdogan tetap bersikukuh mempertahankan tingkat suku bunga yang relatif rendah di saat inflasi tinggi agar investasi tetap berjalan dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Bank Sentral Turki atau Türkiye Cumhuriyet Merkez Bankası (TCMB) beberapa kali tercatat telah menahan dan memangkas suku bunga acuan agar tetap rendah dibawah 15%. Bila Gubernur Bank Sentral berseberangan dengan Erdogan untuk menaikkan suku bunga, maka akan berakibat pada pencopotan Gubernur Bank Sentral tersebut. Tercatat Turki di era Erdogan sejak tahun 2019 hingga saat ini telah berganti 4 (empat) kali Gubernur Bank Sentral.
Akibat pernyataan dan tindakan yang kontroversial serta kontradiktif dengan teori ekonomi yang berlaku umum tersebut, para pengamat hingga media barat menjuluki konsep ekonomi Erdogan tersebut dengan sebutan “Ërdoganomics”. Meskipun angka inflasi nyaris mencapai 85,5% di bula Oktober 2022 yang merupakan rekor tertinggi inflasi di Turki sejak 1997, Erdogan tetap merasa ekonomi negaranya baik-baik saja. Erdogan merasa bahwa model ekonominya fokus pada pertumbuhan melalui investasi, lapangan kerja, produksi, ekspor dan surplus transaksi berjalan telah membuahkan hasil. Sederet kebijakan Erdogan selain menahan suku bunga di tengah kenaikan inflasi memang menjadi salah satu kunci meredam krisis inflasi di Turki meluas menjadi krisis ekonomi di masyarakat yang bisa mengancam kekuasaannya. Seperti yang dihimpun dari berbagai sumber termasuk dari media sosialnya, Erdogan telah membuat berbagai kebijakan untuk menandingi kenaikan harga-harga antara lain dengan menaikkan upah minimum karyawan, menaikkan gaji pegawai negeri, menaikkan tunjangan pensiun, menaikkan batas pinjaman dan menurunkan suku bunga pinjaman modal untuk petani melalui bank khusus pertanian.
Selanjutnya pemerintah Erdogan turut mempelopori reformasi upah tenaga kesehatan, menghapus bunga pinjaman untuk mahasiwa, meluncurkan skema perumahan murah untuk pembeli rumah pertama dan menciptakan sistem kredit yang lebih murah untuk bisnis. Kemudian Erdogan juga mengumumkan paket bantuan untuk warga berpenghasilan rendah seperti subsidi pelunasan pinjaman dan memberikan subsidi tagihan listrik dan gas bagi masyarakat yang membutuhkan. Sederet terobosan Erdogan di tengah inflasi dan anjloknya mata uang Turki yang menjadi mata uang terlemah di dunia tersebut paling tidak mampu menahan gejolak krisis ekonomi, meningkatkan produktivitas dan nilai ekspor serta meminimalisir gejolak sosial di negaranya, sehingga belum sampai bernasib sama seperti rakyat Argentina.
Meskipun demikian, kebijakan ekonomi Erdogan yang anomali dengan system ekonomi global tersebut tentunya juga bukan tanpa risiko, mengingat di dalam negeri sendiri harga-harga kebutuhan pokok dan energi seperti bahan bakar juga meningkat berkali lipat. Barang-barang impor terutama untuk keperluan bahan baku dan penunjang industri juga menjadi mahal karena nilai tukar mata uang Turki yang terdepresiasi sangat dalam terhadap mata uang asing terutama dollar US sebagai mata uang global.
Pada akhirnya mampukah Turki bertahan di tengah kondisi inflasi yang sangat tinggi tersebut? Akankah nasib Turki akan sama dengan Argentina atau berakhir tragis seperti Srilanka yang menjadi negara gagal atau berkebalikan secara gemilang Turki akan menjadi negara yang mampu lepas dari jeratan inflasi dan krisis ekonomi sehingga partai Erdogan kembali mampu memenangi Pemilu Juni 2023 nanti? Hanya waktu yang nampaknya akan menjawabnya.
Wallahualam bish-shawab.

