(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Refleksi Akhir Tahun: Progresivitas PTKIN

Opini

Sungguh sudah ada banyak kemajuan yang dicapai oleh PTKIN di Indonesia. Di antara yang menonjol adalah semakin banyaknya program unggulan yang menghasilkan banyak perubahan bagi pengakuan atas PTKIN di mata publik. Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan yang diraih oleh PTKIN adalah kerja keras dari semua pengambil keputusan baik di tingkat pusat maupun PTKIN sendiri. 

  

Saya kira yang luar biasa adalah transformasi PTKIN dari STAIN ke IAIN dan ke UIN. Perubahan demi perubahan tersebut tentu menjadi akses bagi PTKIN untuk berkembang dalam upaya memberikan peluang bagi masyarakat untuk memasuki pendidikan tinggi dan sekaligus juga memberikan peluang bagi pengembangan ilmu pengetahuan agar lebih luas cakupannya di era sekarang maupun yang akan datang. 

  

Transformasi ke UIN yang di masa lalu merupakan tantangan yang luar biasa, akhirnya bisa dibuka aksesnya karena kebijakan politik pendidikan yang memihak kepada pengembangan pendidikan dan akses pendidikan. Inisiatif Kemenang tersebut gayung bersambut dengan keterlibatan Kementerian PAN&RB, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sampai di Sekretariat Negara, Menkumhan  dan Menko PMK tidak bisa dianggap kecil dalam transformasi ke UIN. Melalui perubahan mindset tentang pentingnya memperluas akses pada pendidikan tinggi di kalangan pejabat yang terkait dengan perluasan akses pendidikan tentu sangatlah dominan di dalam program transformasi tersebut. Sekarang sudah terdapat sebanyak  17 UIN, 24 IAIN dan masih tersisa 17 STAIN, yang sesuai dengan skema STAIN akan menjadi IAIN dan lalu menjadi UIN. IAIN Jember dan IAIN Tulungagung yang dalam waktu kurang dari lima tahun dapat menjadi UIN merupakan hal yang sangat unik. 

  

Pengembangan SDM dosen dalam jenjang karir Pendidikan juga sangat memadai. Melalui program 5000 doktor yang dimulai tahun 2014 maka sekarang sudah bisa dipetik hasilnya. Terdapat ratusan doktor baik dari dalam maupun luar negeri dan ke depan akan menjadi aset untuk  professor. Di Inggris, misalnya pendidikan tinggi itu dikenal dan dimasuki oleh banyak mahasiswa  karena dosen bergelar profesor dan memiliki reputasi internasional yang sangat baik. Tidak hanya sejarah panjang institusi pendidikan tinggi saja yang dianggap penting tetapi adalah reputasi para guru besarnya. Program 5000 doktor itu juga gayung bersambut dengan kebijakan Institusi pendidikan di luar negeri yang juga menjadikan pangsa pasar negeri-negara berkembang untuk pengembangan SDM. Di institusi pendidikan tinggi, misalnya    PT di Australia terdapat direktorat khusus yang menangani para mahasiswa dari negara-negara berkembang, misalnya dari Indonesia, Thailand dan India. Tusinya, salah satunya adalah untuk menarik mahasiswa dari negara-negara tersebut untuk masuk ke institusi pendidikannya.

  

Jika di masa lalu ada semacam dikhotomi tentang pendidikan tinggi di bawah Kemenag dan Kemendikbud, maka seirama dengan transformasi dari IAIN ke UIN, maka rekognisi tersebut juga muncul, misalnya dengan masuknya beberapa PTKIN dalam jajaran top 100 PT di Indonesia. UIN Sunan Gunung Jati, UIN Syarif Hidayatullah, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan UIN Sunan Ampel, misalnya telah masuk dalam jajaran top 100 PT di Indonesia. Pengakuan kesederajatan tersebut tentu diindikatori oleh beberapa hal, misalnya sarana prasarana yang sangat memadai, akreditasi PT yang baik, dan kekuatan jurnal bereputasi nasional maupun internasional. Sebanyak tujuh UIN sudah masuk dalam kategori institusi pendidikan bereputasi dalam akreditasi, sebab telah memperoleh nilai akreditasi A. Melalui akreditasi seperti itu, maka pengakuan tersebut bisa menjadi tolok ukur kemajuan PTKIN. Akreditasi institusi dikeluarkan oleh institusi yang sangat otoritatif (BAN PT) dalam memutuskan ketercukupan standart kualifikasi yang sangat terukur.

  

Melalui skema pembiayaan pembangunan infrastruktur PTKIN, maka bisa dilihat kemajuan yang sangat baik dalam kualitas infrastuktur pendidikan tinggi. Melalui politik penganggaran, misalnya dengan kehadiran loan IsDB yang mengucurkan anggaran lebih dari Rp300 milyar, dan  juga program SBSN yang mengucurkan  pembiayaan pembangunan infrastruktur bagi seluruh PTKIN, maka bisa dilihat perkembangan infrastruktur yang sangat memadai di PTKIN. 

  

Bisa dilihat kemajuan pengembangan infrastuktur di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Maliki Malang, UIN Alauddin Makasar, UIN Sunan Gunung Jati Bandung, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Walisongo Semarang, UIN Palembang, UIN Sumatera Utara yang memperoleh skema pembiayaan dari IsDB. Lalu beberapa UIN yang mendapatkan suntikan dana SBSN sebanyak Rp300 milyar lebih, misalnya UIN Raden Intan Lampung, UIN Banten, UIN Jambi, UIN Antasari Banjarmasin, UIN Imam Bonjol Padang, dan juga IAIN yang juga mendapatkan skema penganggaran SBSN. 

  

Melalui skema-skema politik anggaran seperti ini, maka PTKIN bisa melipat tahun dalam pengembangan insfrastrukturnya. Di masa lalu anggaran pembangunan fisik itu hanya Rp10 milyar (maksimal). Jadi untuk memiliki kualitas gedung seperti sekarang maka memerlukan waktu 30 tahun. Tetapi  dengan politik anggaran baru ini maka pengembangan PTKIN bisa dipercepat untuk mencapai target “ketercukupan” infrastruktur dalam waktu 3-4 tahun. Sungguh sangat spektakuler pengembangan infrastruktur di PTKIN tersebut. Nyaris tidak bisa dipercaya UIN Sunan Ampel Surabaya memiliki Gedung Twin Tower di jalan utama, yang menghubungkan Surabaya dan Sidoarjo. Sama seperti kemegahan Gedung-gedung di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di berada di jalan utama, UIN Jakarta, UIN Sunan Gunung Jati Bandung, dan sebagainya.

  

Pengakuan ini juga diikuti dengan rekognisi lain, misalnya UIN Raden Intan dengan Green Campus, UIN Sunan Gunung Jati dengan pemilikan Hak Kekayaan Intektual (HaKI), UIN Syarif Hidayatullah dengan jurnal terindeks nasional dan internasional,  UIN Walisongo dengan mahasiswa berprestasi internasional, UIN Sunan Kalijaga dengan jejaring perpustakaan Internasional. Dan PTKIN lainnya yang bereputasi dalam bidangnya. Semua ini menggambarkan telah terjadi progresivitas yang tinggi dalam menyongsong masa depan PTKIN yang berkualifikasi lebih baik.

  

Di balik gemerlap capaian prestasi ini, maka yang tidak boleh dilupakan bahwa terdapat mandate untuk mengembangkan integrasi ilmu, sebab misi didirikannya UIN adalah untuk mengembangkan integrasi itu. PTU tanpa harus menyatakannya sudah melakukannya dalam bentuk karya akademik, misalnya program studi Ekonomi Islam, yang sudah memadukan antar cabang ilmu di dalamnya, lalu karya akademik di PTU lain juga sudah mengembangkan integrasi ilmu, misalnya sosiologi agama, antropologi agama, psikhlogi agama dan lainnya. Oleh karena itu, semua UIN dan IAIN tetap berkewajiban untuk mengembangkannya setapak lebih maju baik dari sisi ontologi, epistemologi dan axiologi integrasi ilmu dimaksud.

  

Beberapa PTKIN sudah tuntas dalam membangun fisik ruang kelas, ruang administrasi, dan ruang akademik lainnya, maka harus dirancang segera untuk menyiapkan pembangunan infrastruktur melalui roadmap pengembangan smart university. PTKIN sudah berada di dalam area Revolusi Industri 4.0 yang seharusnya menginspirasi untuk melakukan perubahan. Jika  PTKIN tidak hanya ingin dipandang hebat dari gedungnya, maka pengembangan SDM, Infrastuktur dan kultur akademik untuk memasuki era baru harus segera disiapkan. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.