(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Religiusitas Masyarakat Indonesia Makin Konservatif?

Opini

Survei yang dilakukan oleh PPIM (2020) dengan menggunakan konsep jaringan media sosial ternyata menghasilkan temuan yang sangat menarik. Data yang ditemukan disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia dewasa ini memang semakin religius, hanya sayangnya bahwa religiusitas tersebut berpotensi menjadi semakin konservatif. Di antara temuannya adalah mengenai semakin banyaknya unggahan konten  bermedia sosial yang bercorak konservatif. 

  

Dinyatakan bahwa: “Narasi keagamaan di media sosial didominasi oleh narasi konservatisme, politisasi agama berkontribusi bagi peningkatan narasi konservatif dan Islamis di media sosial, kontestasi narasi keagamaan dominan di Jawa, Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh, dominasi narasi konservatif pada  isu gender dan  proporsi narasi konservatif yang tinggi di kalangan perempuan bisa melahirkan transmisi  konservatisme antar generasi.\" Selain tokoh agama, maka individu siapapun meski tidak memiliki basis massa/follower yang banyak , akan tetapi tetap memiliki peran sentral dalam mengonstruksi narasi keagamaan di media sosial, karena yang bersangkutan dapat menyebarkan paham keagamaan apapun secara bebas, baik yang radikal ataupun ekstrim.

  

Data tentang jaringan media sosial dalam penyebaran konvervatisme ini tentu sangat menarik. Hal ini tentu saja difaslitasi tentang kesadaran bermedia sosial yang sangat progresif di kalangan kaum konservatif ini. Berbeda dengan kebanyakan kaum wasathiyah, yang secara pengetahuan rendah dalam penguasaan teknologi informasi, sehingga mereka kebanyakan hanya menjadi kelompok yang dijadikan sebagai sasaran media sosial, dan bahkan cenderung hanya menggunakannya untuk kepentingan pertemanan atau persahabatan. Tetapi para pengguna ini juga  berkecenderungan untuk sharing “apapun” yang diterimanya,  bahkan terkadang tanpa melakukan filter terhadap konten media sosial tersebut.

  

Sebagai kelompok yang semula minoritas, maka tingkat progresivitasnya tentu sangat tinggi. Mereka menjadikan generasi muda menjadi sasaran tembaknya, dan sebagaimana konsepsi di dalam ilmu komunikasi “the bullet theory”, maka pesan itu meluncur dengan deras dan memasuki relung-relung generasi muda  yang sedang berada di saat ingin menemukan dunia religiositasnya. 

  

Lalu, banyak generasi muda yang sedang mencari “kebenaran” agama tersebut menjadi followernya, dan sayangnya bahwa imamnya adalah kaum konservatif yang menyebarkan ajaran agama dalam coraknya yang tekstual, dan lebih parah lalu mengkaitkannya dengan dunia politik yang carut marut, sehingga absahlah yang bersangkutan menjadi follower dan bahkan menjadi penyebar konten konservatisme tersebut bagi masyarakat lainnya, baik segenerasinya atau masyarakat luas lainnya.

  

Data lainnya yang sangat penting bahwa prosentase media sosial di DKI sudah berimbang. Di dalam proporsi twitter, maka didapatkan gambaran yang liberal 44,64 persen, moderat 67,11 persen, konservatif 60,39 persen dan Islamis 53,19 persen. Dengan narasi konservatisme yaitu: 1) perempuan, hubungan dengan negara dan kelompok lain: perempuan, surga, aurat, politik, pemimpin, sepilis. 2) amalan buruk: kafir, dosa, syirik, musyrik, munafik, dan 3) amalan baik: surga, salat, taat, pahala, puasa, akhirat, ukhuwah dan Islamiyah. Hal ini terkait dengan dominasi paham konservatisme di media soaial dengan prosentase konservatisme 67,2 persen, moderat 22,2 persen, liberal 6.1 persen dan islamis 4,5 persen. Sedangkan aktor yang dominan adalah Felixsiaw yang tertinggi (315), gusmusgusmus (181), TeladanRasul (145), Alissa Wahid (117), Doaindah (107), ayatquran (57), aagym (42), Buya-Albahjah (21), sabdarasul (14) , firanda_Andirja (7), michsanalfatih (5), Notahalaqoh (5), Peduliislam01 (5), FaktaAgama (4), Hilmi28 (4), Na_dirs (4), Quran dan Sunnah (4), dan salimafillah (4). 

  

Hasil survei ini semakin menegaskan bahwa di Indonesia sedang terjadi “pertarungan” yang sedemikian kuat antara moderatisme dengan konservatisme dan islamisme. Dan sebagaimana yang diduga bahwa konservatisme dan islamisme dapat memanfaatkan media sosial sebagai arena tanding yang sangat luas. Di era proxy war ini, maka siapa yang menguasai media sosial,  maka dialah yang akan memenangkan “pertarungan”. Melalui dukungan anak-anak muda bertalenta di kubu konservatif dan islamis, maka bisa dibaca bahwa kaum moderat keteteran. Hipotesis ini tentu saja perlu diuji lebih lanjut , namun demikian dengan melihat jaringan mereka maka kita bisa membayangkan bahwa kekuatan media sosialnya memang hebat.

  

Dominasi kaum konservatif juga memberikan wake up call bahwa mereka sedang on fire. Dengan kehadiran twitter yang dijadikan oleh kelompok ini, terutama oleh Felixsiaw dan kawan-kawan tentu merupakan tantangan yang realistis. Sementar itu “pasukan” moderatisme sangat terbatas jejaringnya. Jika yang jelas memiliki follower hanya Gus Mus dan Alissa Wahid. Data tentang jaringan media sosial ini tentu menggambarkan tentang realitas bahwa penguasaan media sosial berada di dalam jejaring kaum konservatif. Dan para pengunduhnya adalah generasi muda, yang sedang berada di dalam proses pencarian identitas keberagamaannya.

  

Jika dikomparasikan dengan data survey Alvara Research Center, 2019, bahwa yang tergolong sebagai kaum konservatif sebesar 25, 5 persen, yang ultra konservatif sebesar 11, 6 persen dan  yang moderat sebesar 56, 7 persen. Data dari berbagai survei tentang yang ultra konservatif atau yang cenderung radikal atau ekstrim ini nyaris sama, yaitu berada di dalam kisaran 11 persen. Hal ini senada dengan sumber informasi agama melalui media sosial juga yang berkecenderungan konservatif, misalnya hidayatullah.com, voa-Islam.com, eramuslim.com, suara Islam.com, dan sebagainya. Bahkan juga bisa dibandingkan dengan data tentang semakin banyaknya penikmat siaran TV, seperti TV Rodja, Yuvid TV, MQTV, Ummat TV dan sebagainya.

  

Dengan demikian terdapat sebuah pertanyaan, apakah hal ini menandakan semakin menguatnya gerakan konservatisme di Indonesia? Tentu saja jawabannya bisa “ya atau tidak”. Namun demikian kita bisa membuat prediksi bahwa seirama dengan peningkatan persentase yang cenderung konservatif dan ultra konservatif ini, maka tanda ini memberikan gambaran bahwa kaum Islam wasathiyah ini sedang menghadapi gelombang baru dalam pemahaman dan praksis keagamaan, yaitu semakin menguatnya gerakan konservatisme di Indonesia. Mereka telah memilih jalan yang tepat di era teknologi informasi, yaitu menggunakan media sosial yang dahsyat pengaruhnya. 

  

Para penganut Islam wasathiyah ini baru saja memasuki era teknologi informasi, sementara itu kaum konservatif sudah memulainya 10 sampai 15 tahun yang lalu. Bagi kita tentu saja, semakin menguatnya konservatisme, yang terkadang menyerempet relasi antara agama dan negara, tentu merupakan early warning, alarm bagi pengusung Islam wasathiyah agar terus merapatkan barisan bukan hanya untuk memagari paham keagamaan yang wasathiyah tetapi juga menjaga relasi antara agama dan negara agar tetap bercorak simbiosis mutualisme.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.