(Sumber : Epaper Media)

Sarung: Dari Pakaian Tradisional ke Modern

Opini

Pada masa   Orde Lama dan Orde Baru, sarung itu identik dengan pakaian santri, yang biasanya dikaitkan dengan pesantren  tradisional, yang berafiliasi kepada NU, atau yang juga lazim disebut sebagai pesantren Salafiyah. Sebuah lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu keislaman berbasis pada kitab kuning. Pengajaran kitab kuning dengan berbagai disiplin keilmuannya seperti ilmu Bahasa, ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fikih, ushul fikih, ilmu tasawuf dan jenis-jenis ilmu keislaman lainnya dengan menggunakan kitab kuning sebagai referensi utamanya.

  

Dewasa ini, memang terdapat pengategorian pesantren dan santri berdasarkan penggolongan paham keagamaannya. Jika di masa lalu, pesantren itu menjadi kawasannya orang NU atau bisa disebut sebagai pesantren Salafiyah, maka dewasa ini kelompok Salafi Wahabi juga mendirikan pesantren. Ada yang dengan tegas menyatakan pesantren dan ada yang menyatakan sebagai Islamic Boarding School. Di Indonesia jumlahnya sudah banyak dengan perkembangan kuantitas dan kualitas fisikal yang sangat cepat. Pesantren ini bisa disebut sebagai pesantren salafi, yang mengusung program pendidikan tahdidzul Qur’an dan pendidikan moderen. Berdasarkan atas out word looking juga tentu bisa dibedakan di antara kedua tipologi pesantren ini. 

  

Jika ada orang yang memakai sarung, maka ada dua indicator yang melekat padanya, yaitu sebagai santri atau kiai dari pesantren tradisional atau masyarakat pedesaan yang selama itu juga menggunakan sarung sebagai bagian dari performance berpakaian. Identifikasi seperti itu dapat dengan mudah untuk dibaca karena realitas empirisnya memang memberikan gambaran out word looking yang jelas. Sungguh sangat jarang santri atau kyai menggunakan celana sebagai wujud ekspresi kehidupannya. Demikian pula orang desa juga jarang yang menggunakan celana panjang dalam ekspressi kehidupannya. 

  

Sarung juga dapat digunakan untuk mengidentikasi berasal dari golongan mana seseorang tersebut hadir. Sarung menjadi lambang santri dan Kiai tradisional, NU, warga pedesaan, sedangkan celana panjang bisa menggambarkan santri dan ulama modern atau warga perkotaan. Warga Muhammadiyah bisa berada di dalam ekspressi keagamaan seperti itu.

  

Seirama dengan perubahan zaman, maka tidak ada yang stagnan di dalam kehidupan. perubahan selalu terjadi terutama dalam dimensi atribut. Yang substansial mungkin tidak berubah tetapi di dalam atribut bisa saja terjadi perubahan kapan saja dan dimana saja. Contohnya adalah pakaian. Di masa lalu celana jeans misalnya Levi’s adalah celana pekerja kasar di Amerika, akan tetapi celana jeans ini justru menjadi pakaian kebanggaan di negara lain, termasuk di Indonesia. Orang merasa menjadi modern kala berpakaian tersebut. Sama dengan makanan cepat saji yang di Amerika Serikat disebut sebagai junk food, ternyata di Indonesia menjadi makanan kebanggaan bahkan sebagai prestise diri. 

  

Sarung dulu hanya menjadi pakaian khusus para santri kala mengaji dan dalam kehidupan di pesantren atau sejauh-jauhnya digunakan oleh masyarakat Islam tradisional. Tetapi seirama dengan perubahan social yang terjadi, maka sarung telah menjadi pakaian formal tidak hanya di pesantren tetapi juga di lembaga pendidikan lain. Sarung memasuki dunia lembaga pendidikan formal tentu dapat dikaitkan dengan dicetuskannya Hari Santri Nsional (HSN) tanggal 22 Oktober 2015. Melalui perjuangan panjang, maka ditetapkanlah oleh Pemerintah melalui Presiden Joko Widodo untuk diresmikan sebagai Hari Santri Nasional (HSN) yang peresmiannya dilakukan di Masjid Nasional Istiqlal di Jakarta pada Kamis, 22/10/2015. 

  

Melalui penetapan HSN dimaksud, maka sarung dan peci yang selama itu melekat sebagai pakaian para santri kemudian menjadi pakaian nasional terutama di lembaga-lembaga pendidikan. Sontak seluruh lembaga pendidikan Islam baik swasta maupun negeri memperingati HSN dengan cara berpakaian ala santri, bersarung, baju koko dan songkok hitam atau putih. Jika selama ini upacara dilakukan dengan pakaian resmi lembaga pendidikan, terutama di level pendidikan menengah, maka pada hari tersebut menggunakan pakaian para santri. Guru, dosen, siswa dan tenaga kependidikan  semuanya menggunakan pakaian santri. Sungguh perubahan yang sangat nyata tentang keinginan untuk mengekspresikan kesantrian di dalam kehidupan. 

  

Memang sedang terjadi proses santrinisasi yang luar biasa di dalam kehidupan masyarakat, bahkan di kakangan generasi muda.  Kecenderungan  untuk life style santri itu sangat luar biasa. Misalnya mereka melakukan gerakan filantropi Islam, menggunakan makanan halal, penginapan halal dan juga rekreasi halal. Halal life style telah mentradisi di sebagian masyarakat Islam. Banyak perguruan tinggi umum, salah satunya Universitas Indonesia yang menggelar acara philantropi. UI menggelar acara yang disebutnya sebagai ”Philanthropy Learning Forum Goes to Camous, pada 17/10/2023. UI berharap agar pilantropi tidak hanya dimaknai sebagai pemberian bantuan langsung tetapi bisa lebih luas, termasuk juga memberikan ide, gagasan, konsep dan dana untuk pengembangan Sustainable Development Goal’s” (SDG’s). Coba cermati unggahan: “Makin Muda, Makin Kaya, Makin Mudah Berderma”. (Amartha.com 14/05/2020). 

  

Hal yang juga menarik, tidak hanya di kala peringatan HSN saja mereka menggunakan asesori busana santri, tetapi di kala peringatan Hari-Hari Besar Islam (HBI), maka para siswa lembaga-lembaga pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi juga berpakaian ala santri. Yang siswa mengenakan pakaian sarung, peci dan baju koko, sementara yang siswi menggunakan pakaian Muslimah. Demikian pula pada siswa dan siswi pada lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama. 

  

Para santri tentu bisa merasa bangga, sebab busana santri yang di masa lalu dilabel sebagai busana tradisional, maka sekarang sudah menjadi busana modern. Makanya, kita tidak lagi heran, jika ada orang yang datang ke Mall, atau resto atau hotel berbintang dengan menggunakan sarung, sebab sarung sudah menjadi bagian dari life style masyarakat Muslim Indonesia.

  

Wallahu a’lam bi al shawab,