Salat Sebagai Perintah Penting: Memaknai Isra' Mi'raj
KhazanahIsra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW merupakan peristiwa historis dalam sejarah Kenabian Muhammad SAW. Bagi orang yang ragu atau gnostic, maka perjalanan panjang Nabi Muhammad SAW ke Masjidil Aqsha di Yerusalem, dan dilanjutkan dengan perjalanan Mi’raj Nabi Muhammad SAW ke haribaan Tuhan Allah SWT merupakan rekayasa religious untuk memantapkan otoritas kenabian Muhammad SAW. Sebuah perjalanan yang tidak rasional, apalagi hanya dilakukan dalam waktu semalam.
Bagi kaum orientalis, maka perjalanan Nabi Muhammad SAW dengan berbagai cerita yang dinyatakannya adalah sebuah ilusi yang tidak masuk akal. Bisa saja dianggap sebagai day dreams. Maklum mereka memang tidak mengakui Kenabian Muhammad SAW, Orang Suci kekasih Allah SWT. Pada zaman Nabi Muhammad SAW juga ada banyak orang yang tidak memercayainya. Kecuali Sahabat Sayyidina Abubakar R.A., yang langsung memercayainya. Bagi Sayyidina Abu Bakar, apa yang datang dari Nabi Muhammad SAW adalah kebenaran. Demikian pula para sahabat assabiqunal awwalun, 39 lelaki dan 23 perempuan. Semua percaya.
Seirama dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka banyak cerita di dalam Al-Qur’an yang kemudian menjadi realitas yang bisa dibenarkan secara saintifik. Misalnya kematian Fir’aun di laut Merah dan kandungan garam di dalam mulutnya yang secara ilmiah bisa dibenarkan. Kemudian bulan terbelah sebagaimana mu’jizat Nabi Muhammad SAW yang ternyata benar, bahwa ada bekas keterbelahan permukaan bulan. Juga suasana Malam Lailatul Qadar yang memberikan indikasi kebenaran adanya malam yang penuh berkah tersebut. Semua hasil pengamatan dan pengalaman saintifik ini telah mengantarkan para penemunya untuk menjadi muslim.
Tetapi tentu saja tetap ada misteri religious yang belum ditemukan jawabannya secara ilmiah atau berdasarkan scientific approach, misalnya peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Misalnya pertanyaan ahli ilmu kalam, apakah yang Mi’raj itu roh Nabi Muhammad SAW ataukah juga termasuk badannya atau fisiknya. Sebagaimana dinyatakan di dalam Al-Qur’an, bahwa Nabi Muhammad SAW diperjalankan di dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj dengan perlindungan di sekelilingnya. Al-Qur’an menjelaskan: "Subhanalladzi asra bi’abdihi lailam minal masjidil Haram ilal Masjidil Aqsha alladzi barakna haulahu linuriyahu min ayatina innahu huwas sami’ul bashir.” Artinya: “Maha Suci Allah yang memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi di sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” Kata barakna haulahu merupakan sebuah pernyataan bahwa Allah memberikan perlindungan atas kecepatan perjalanan yang hanya semalam tersebut. Bagaimanakah barakna haulahu itu hingga kini belum didapatkan penjelasannya secara ilmiah. Bisa jadi Nabi Muhammad dibungkus dengan perisai atas kekuasaan Allah SWT.
Manusia telah mencari Tuhan dalam 4.000 tahun sebelum masehi. Betapa lamanya manusia ingin menemukan kebenaran Tuhan. Artinya bahwa manusia sudah mengenal dimensi religiositas di dalam kehidupannya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana mereka mencari dan menemukan Tuhan. Gambaran yang didapatkan di dalam Al-Qur’an adalah sebagaimana pengalaman Nabi Ibrahim, yang menemukan Tuhan setelah meyakini bahwa bulan atau matahari atau benda-benda hebat di dunia dianggapnya Tuhan, dan akhirnya menemukan Tuhan melalui ‘ainun bashirah atau wahyu yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Keyakinan akan hanya ada satu Tuhan yang disembah dan diimani tersebut mengantarkan dirinya sebagai orang yang dikenal monotheis sejati. Agama Hanif yang menurunkan agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Ibrahim dikenal sebagai Bapak Monotheisme.
Sebagaimana dipahami bahwa penafsiran agama itu mengalami proses heterodoksi. Jarak waktu antara pemuka agama yang pertama dengan umatnya yang semakin jauh, sehingga menyebabkan terjadinya proses “penyimpangan” yang melebihi batas. Maka Allah lalu menurunkan Nabi atau Rasul yang mengembalikan pemahaman agama sebagaimana semula meskipun namanya berbeda, akan tetapi hakikat ajarannya sama atau universal. Islam datang dengan Nabi Muhammad SAW untuk mengembalikan heterodoksi dalam paham agama Hanif yang dibawakan oleh Nabi Ibrahim AS.
Di dalam Islam, shalat adalah inti ajaran peribadahan. Ashalatu ‘imaduddin, shalat adalah tiang agama. Karena shalat adalah tiang agama, maka untuk kepentingan tersebut maka Nabi Muhammad SAW dipanggil langsung oleh Allah SWT. Hakikat shalat sebagai inti ajaran seluruh agama-agama perlu diluruskan dan diperbaiki. Makanya Nabi Muhammad menghadap secara langsung kepada Allah untuk memperoleh penjelasan tentang apa dan bagaimana shalat tersebut. Mula-mula diwajibkan sebanyak 50 kali tetapi akhirnya hanya diwajibkan lima kali dalam sehari. Ada proses bertemu dengan arwah Nabi-Nabi sebelumnya yang memberikan masukan berapa jumlah shalat yang ideal bagi umat Muhammad SAW.
Di dalam agama terdapat doktrin yang tidak perlu dipertanyakan dan wajib diketahui dan diyakini kebenarannya. Ada hal-hal kegaiban yang harus diyakini oleh umat Islam dan tidak perlu dipertanyakan keberadaannya. Di dalam konteks ini umat Islam harus meyakini sebagai kebenaran yang tidak bisa ditawar. Dan tidak boleh ada keraguan di dalamnya. La raiba fiha.
Shalat merupakan kewajiban yang universal, artinya ada di setiap agama-agama sebelumnya sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Nabi-Nabi sebelumnya. Islam mewajibkan shalat lima kali dalam sehari, dan ada yang mensyariatkan berbeda berdasarkan atas tafsir agama yang bersangkutan. Jika ada umat agama lain yang menjalankan ritual persembahan sesuai dengan keyakinannya, maka hal tersebut merupakan tanggungjawabnya atas kebenaran yang diyakininya.
Islam memberikan panduan bahwa shalat merupakan instrument untuk menghadap Allah SWT sebagai jalan agar mengenal-Nya. Maka siapapun yang ingin dikenal Tuhan, maka salah satu cara istimewanya adalah dengan menjalankan shalat. Sama dengan jika manusia ingin dikenal oleh Rasulullah, maka manusia harus sebanyak-banyaknya membaca shalawat. Shalat dan shalawat adalah inti ajaran Islam dalam relasi religious.
Sesiapaun yang bisa melakukannya dengan keyakinan penuh, maka insyaallah akan memeroleh keberkahan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah memberkahi bagi kita yang meyakini akan kebenaran Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad dan juga melakukan perintah universalnya dimaksud.
Wallahu a’lam bi al shawab.

