(Sumber : Inspirensis.id)

Santri Sinematik dan Muslim Tradisionalis

Riset Sosial

Artikel berjudul “The Rise of Cinematic Santri in Post Authoritarian Indonesia: Figure, Field, and the Competing Discourse” merupakan karya Ahmad Nuril Huda. Tulisan ini terbit di Studia Islamika tahun 2023. Penelitian ini mengkaji kebangkitan sinematik di kalangan generasi muda muslim (santri) yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Fokusnya pada aktor sosial, bidang produksi budaya dan persaingan wacana menjadi inti kebangkitan budaya ini.  Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, sosok santri sinematik. Ketiga, tradisi sinematik Lesbumi dan NU. Keempat, wacana bersaing. 

  

Pendahuluan

  

Dekade terakhir, kebangkitan sinematik mulai terlihat di kalangan santri. Mereka memperoleh pelatihan keagamaan di pesantren yang menganut versi Islam yang relatif ortodoks. Salah satu penyebabnya adalah pergaulan yang tumbuh di sekitar budaya sinematik, sehingga mereka menghindari praktik menonton film di bioskop. Namun, setelah peluncuran film Islami yang sukses di box office pada tahun 2008, banyak santri yang mulai mengembangkan praktik dan wacana sinematik mereka sendiri. Mereka menantang stereotip mengenai ketidakcocokan antara Islam dan sinema yang menunjukkan betapa kompleksnya peran praktik pembuatan gambar dalam film. 

  

Meluasnya praktik sinematik di kalangan santri menandakan semakin tingginya persinggungan antara media dan agama di ruang publik Indonesia. Alhasil, seakan menyerukan pentingnya mengkaji kembali tempat dan peran agama dalam kaitannya dengan media dan publik. Agama dan media saling membentuk sebagai sebuah wilayah simbolik yang menjadi terjadinya tempat restrukturasi tatanan kehidupan sosial. Meskipun masyarakat mungkin menggunakan media untuk tujuan keagamaan, cara keterlibatan media akan menghasilkan tatanan baru dalam hal sosialisasi, nilai-nilai ekonomi, makna politik dan kondisi lain yang membentuk kemampuan, tujuan dan cara umat beragama berinteraksi. 

  

Sosok Santri Sinematik 

  

Salah satu sosok santri sinematik adalah Hamzah Sahal yang perannya sangat besar dalam menyebarkan tren ini di kalangan NU. Sahal lahir pada tahun 1979 dari keluarga santri di Cirebon, Jawa Barat. Ia tidak memiliki latar belakang akademis dalam pembuatan film dan tidak mengetahui secara teknis cara pembuatan film. Namun, ia sering mengorganisir berbagai bentuk kegiatan sinematik di lingkup komunitas NU. Kegiatan sinematiknya meliputi pemutaran film, seminar film, diskusi film, kompetisi film, dan pelatihan pembuatan film. Ia menciptakan jaringan alternatif pameran film untuk penonton NU, dan mendekati beberapa produser budayawan senior NU untuk meminta dukungan dan membangun jaringan komunikasi. 

  

Ketertarikan Sahal terhadap film dimulai sejak usia muda. Kebanyakan orang tua berlatar belakang pesantren tidak mengizinkan anak mereka pergi ke bioskop dan menonton film. Hal ini disebabkan semakin besarnya asosiasi bioskop dengan sekularisme. Namun, orang tua Sahal tidak menganggap menonton film adalah sebuah masalah. Baginya, selama ia mampu mengikuti kedisiplinan orang tuanya di rumah, ia selalu diperbolehkan menonton film.

  

Pada tahun 2008, ia mulai terlibat dalam diskusi film bersama rekan santrinya di Lesbumi. Hal ini mendorongnya untuk memikirkan pentingnya pemutaran film Islami bagi penonton dari pesantren NU. Tiga tahun kemudian, ia mendirikan Lintang Sanga yakni sebuah praktik bioskop keliling di mana is menyelenggarakan pemutaran film dan diskusi di kota-kota kecil dan pesantren di Jawa. Keterampilan negosiasi dan jaringannya yang luas dengan banyak santri NU membuat program sinematiknya relatif diterima di kalangan NU, sehingga ia bisa berkolaborasi dengan banyak santri lain. Pada tahun 2016, ia mendapatkan pendanaan film dari Kementerian Agama RI untuk memproduksi film dokumenter berjudul “Jalan Dakwah Pesantren.” Film ini mengungkap kehidupan intelektual dan budaya masyarakat pesantren.


Baca Juga : Meneliti Kinerja Pengawas Madrasah: Abd. Rahman Peroleh Gelar Doktor

  

Tradisi Sinematik Lesbumi dan NU 

  

Kemunculan santri sinematik juga memberi kepercayaan pada sejarah aktivisme NU di kancah perfilman tanah air. Lesbumi merupakan organisasi seni dan budaya NU yang didirikan pada tahun 1962. Meski tidak secara khusus fokus pada film, banyak tokoh sentralnya adalah pekerja film seperti Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani. Pada tahun 1964, Lesbumi memproduksi film mengenai ibadah haji ke Mekkah yang berjudul “Tauhid.”

  

Pada masa Orde Baru, dengan dihapuskannya Lesbumi dan dikeluarkannya NU dari politik partai, peran NU dalam kancah perfilman tanah air sangat kecil.  Namun, beberapa tokoh NU berpartisipasi dalam debat publik mengenai penggunaan film untuk dakwah. Selain itu juga menyoroti akan pentingnya memproduksi film yang dapat melawan masuknya film yang diduga menampilkan seks, kekerasan dan representasi Islam palsu. 

  

Jatuhnya Orde Baru, membuka saluran baru bagi praktik media, mobilitas ekonomi dan pluralitas budaya yang memberikan harapan sinematik baru bagi para santri. Pada tahun 2005, NU kembali mendirikan Lesbumi dan merujuk mendiang Alex Komang, seorang aktor film santri peraih berbagai penghargaan. Dibangunnya kembali Lesbumi memberikan harapan kembalinya sinematik kepada para santri. 

  

Wacana Bersaing

  

Perkembangan teknologi media baru masyarakat muslim telah mengundang berbagai ideologi bersaing untuk mendominasi penafsiran Islam yang benar. Salah satu narasi tua dalam kajian Islam di Indonesia menunjukkan pentingnya kesenjangan tradisionalis- modernis dalam memahami ekspresi politik NU di ruang publik. Beberapa ulama menolak wacana rivalitas tradisionalis-modernis ketika membahas Islam di Indonesia. Hal ini bisa jadi disebabkan karena pendekatan NU yang terputus-putus dengan kaum modernis. 

  

Terkait rivalitas tersebut, para santri sinematik kerap mendiskusikan program film mereka yang bertema semangat. Wacana sinematik santri muncul pada seputar popularitas film Islami di Indonesia pasca Orde Bru dinilai salah dalam menggambarkan agama dan NU. Misalnya, film berjudul “Perempuan Berkalung Sorban” karya Hanung Bramantyo. Film tersebut menceritakan seorang perempuan muda di pesantren tradisional yang berbicara tentang kesetaraan gender melawan budaya patriarki di lembaga dan masyarakat pada umumnya. Hal ini diduga menyerang budaya patriarki NU yang menimbulkan perdebatan sengit di kalangan muslim tradisionalis. Diskusi mengenai film ini dianggap sebagai budaya tandingan terhadap Muhammadiyah. Hasilnya, menunjukkan adanya persaingan antara umat Islam tradisional dan modernis mengenai penafsiran Islam yang meluas di bidang film. 

  

Kesimpulan

  

Secara garis besar penelitian ini menghasilkan bahwa tokoh santri sinematik modern di Indonesia mengacu pada generasi santri muda yang memanfaatkan praktik dan teknologi pembuatan film untuk mengartikulasikan perbedaan agama dan politik mereka di ruang publik. Hal ini muncul dari perubahan dan kesinambungan berbagai sektor kehidupan masyarakat NU.  Para santri sinematik mendambakan film-film yang melambangkan pesantren NU, nilai-nilai, seperti kebajikan pendidikan, budaya lokal, toleransi beragama, dan citacita nasionalis. Isu-isu ini mengakar kuat dalam wacana masyarakat sipil NU. Mereka menempatkan wacana ini terhadap kelompok modernis dan Islamis yang film-filmnya dilihat oleh para santri terutama membahas aspek-aspek Islam yang \\\'dangkal.’ Munculnya santri sinematik telah meningkatkan kecenderungan persaingan masyarakat Islam di Indonesia.