(Sumber : Kompasiana.com)

Selamat Tinggal Pantofel: Selamat Menikmati Kets

Opini

Jum’at, 06/09/2024, saya melaksanakan tugas untuk menguji disertasi atas nama Mahasiswa Program Doktor Managemen Pendidikan Islam di UIN Sultan Thaha Saifuddin (STS)  Jambi atas undangan sebagai penguji eksternal oleh Prof. Dr. Risnita, MPd, Direktur Program Pascasarjana UIN STS  Jambi. Saya naik pesawat Batik Air dari Bandara Juanda di Surabaya, jam 06.00 WIB. Ujian dilaksanakan pada jam 13.30 WIB, ba’da Shalat Jum’at. 

  

Dari Bandara Soeta Cengkareng harus pindah pesawat. Sebelumnya booking Lion Air, ternyata pesawatnya di cancel jam 12.20 WIB, maka dengan terpaksa harus pindah ke pesawat Super Air Jet, pada pukul 10.00 WIB. Harus pindah terminal. Tidak apa-apa, yang penting datang pada waktu yang tepat. Syukurlah semua berjalan lancar dan peluang untuk datang tepat waktu tercapai akhirnya.

  

Tetapi ada yang menarik dari pengamatan saya atas para penumpang pesawat Batik Air. Memang tidak bisa memastikan apakah 100% atau 90% penumpang yang menggunakan sepatu kets, tetapi saya kira mayoritas mereka, lelaki dan perempuan, tua dan muda, kebanyakan  menggunakan separtu kets. Nyaris tidak ada yang menggunakan sepatu pantofel. Sebuah fenomena yang menarik untuk diamati. 

  

Di masa lalu, katakanlah di era Orde Baru, nyaris semua orang menggunakan sepatu pantofel atau menggunakan sandal bermerek, jika naik pesawat terbang. Maklumlah orang yang bisa naik pesawat terbang adalah mereka yang secara ekonomi masuk dalam kategori kelas menengah ke atas. Kaum birokrasi juga semuanya menggunakan sepatu pantofel. Sepatu kets hanya untuk olahraga sepekan sekali. Biasanya hari Jum’at. 

  

Secara sengaja memang saya mengamati para penumpang, baik di ruang tunggu maupun di kala memasuki pesawat terbang. Di kiri dan kanan saya atau di depan dan belakang semuanya menggunakan sepatu kets. Nyaris tidak ada yang menggunakan sepatu pantofel. Bahkan ada seseorang yang saya kira pejabat, sayang saya tidak kenal, dengan dua ajudannya, ternyata ketiganya juga menggunakan sepatu kets. Saya bahkan berkesimpulan bahwa sekarang adalah era sepatu kets. Sebagaimana tulisan saya di nursyamcentre.com tentang “Jokowi, Birokrasi dan Style Berpakaian” 12/01/24 bahwa  gaya berpakaian masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh gaya berpakaian Pak Jokowi. Jadi sekarang rasanya bisa diungkapkan selamat tinggal sepatu pantofel dan selamat menikmati sepatu kets. 

  

Saya juga terpengaruh oleh gaya bersepatu kekinian. Ada sepatu kets dengan berbagai merk yang saya punya. Ada yang beli lewat online dan  ada yang dibeli saat ada potongan harga, meski harus berdesak-desakan. Asyik juga.” (nursyamcentre.com, “Antrian Regular Buy One Get One Free” 04/08/24). Ada  merk Sketch warna abu-abu, ada Reebok warna ungu dan Adidas warna hitam dan putih. Saya sebenarnya juga memiliki beberapa pasang sepatu pantofel yang saya beli pada saat di Kemenag Pusat. Ada yang bermerk Belly, ada  dua pasang yang saya beli tahun 2013-2017. Bahkan ada sepatu yang saya beli di Washington DC, kala saya ke Amerika Serikat dengan sejumlah Rektor PTU dan PTKIN. Sepatu-sepatu ini nyaris tidak pernah dipakai semenjak Covid-19. 

  

Maklum pada waktu itu ada kebijakan work from home dan juga social distancing. Jadi pastilah sepatu-sepatu tersebut tidak digunakan selama Covid-19 berlangsung. Akhirnya ada beberapa sepatu tersebut yang rusak. Jika mau dipakai tentu harus ganti bantalan kakinya. Bahkan sekarang juga sudah jarang digunakan. Rasanya aneh jika saya menggunakannya. Bayangkan jika ke kantor atau mengajar, maka seluruh pejabat dan para dosen semuanya menggunakan sepatu kets dengan varian merknya. Makanya jika saya bersepatu pantofel rasanya ganjil. Meskipun sesungguhnya  biasa-biasa saja. Sekarang era Sneaker. 

  

Oleh karena itu tidak salah jika ada pabrik sepatu yang kemudian gulung tikar. Di antaranya adalah pabrik Sepatu Bata. Sepatu jenis ini pernah merajai pengguna sepatu di era pertengahan Orde Baru, kira-kira tahun 1990-an. Jika kita menggunakan sepatu dengan merek  Bata itu rasanya sudah tergolong kelas menengah. Lalu ada juga sepatu Merk Buchery  yang semuanya berjenis pantofel. Baik sepatu bermerek Bata maupun Bucherry saya pernah memakainya. Semua itu menggambarkan posisi seseorang dalam dunia kelas menengah. 

  

Semua itu sudah berakhir. Semenjak Pak Jokowi blusukan dengan sepatu kets dan bahkan ke kantor dengan sepatu kets, kecuali acara formal dengan  pimpinan negara lain, barulah kita lihat digunakan sepatu pantofel. Itu pun sangat jarang. Yang lebih banyak adalah bersepatu kets. Dulu Pak Dahlan Iskan pernah ditolak oleh Hotel Bintang V karena menggunakan sepatu kets. Sayangnya saya lupa tahun berapa dan hotel apa. Tetapi sekarang yang seperti itu sudah tidak akan terjadi lagi. Semua orang yang keluar masuk hotel, naik pesawat, naik bus sleeper, naik sedan mewah dan sebagainya semua menggunakan sepatu kets.

  

Bahkan di kala saya menunggu pesawat di Bandara I Gate A6, maka orang di kanan, kiri, depan dan orang yang lalu lalang, lelaki dan perempuan, tua dan muda, semuanya menggunakan sepatu kets. Begitulah trend bersepatu dan tentu juga perubahan social yang terjadi.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.