(Sumber : Teras Media )

Televisi, Dai Seleb dan Gaya Hidup

Opini

Televisi merupakan dunia media audio visual yang luar biasa pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Secara teoretik, bahwa medium it self is the message. Media, khususnya televisi itu seakan-akan adalah pesan itu sendiri. Oleh karena itu, setiap pesan apapun akan dapat mempengaruhi perilaku orang jika dilewatkan televisi. Teori konvensional ini tentu masih memiliki pengaruh hingga sekarang, meskipun telah dibantah oleh teori lain, misalnya teori konstruksi social media.

  

Meskipun dunia media social sekarang lagi ngetren akan tetapi tidak berarti media televisi kehilangan citranya di mata public. Media televisi tetaplah menjadi salah media yang dapat menyajikan secara tepat waktu akan siaran-siaran langsung, misalnya even olahraga sepak bola atau volley dan badminton. Belum lagi siaran-siaran yang terkait dengan berita yang lebih luas dibanding uraian di media social. Pada masa televisi dikuasai oleh pemerintah, maka acara “Dunia Dalam Berita” yang disiarkan oleh TVRI menjadi media orang untuk mendapatkan berita baik nasional maupun internasional.  Sekarang saja di era televisi swasta, maka orang bisa memilih stasiun mana yang bisa menyajikan berita lebih cepat dan acara hiburan yang lebih variative. 

  

Di era kebebasan berekspresi, maka dunia televisi juga menikmati kebebasan tersebut. Bisa menyiarkan apa saja asalkan tidak melampaui batas sesuai dengan panduan siaran televisi oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang bisa memberikan punishment atas penyiaran di televisi. Bahkan misalnya ada stasiun TV yang menyiarkan perkawinan seorang artis dalam durasi yang panjang. Termasuk juga menyiarkan pemberitaan yang terkait dengan dunia sensualitas dalam relasi social. Memang televisi tidak sebagaimana media social lain yang secara vulgar bisa menyajikan gambar-gambar sensual dalam relasi lelaki dan perempuan. Nyaris tiada sensor di dalamnya. Media social bisa mengekspresikan apa saja yang penting mendapatkan  banyak viewer dan follower. Itu saja. Perduli amat dengan moralitas atau etika.

  

Televisi juga bisa melambungkan para da’i. Di antara da’i yang melambung dalam dunia perdakwahan adalah Ustadz Solmed, Ustadz Jefri (alm), AA Gym, Ustadz Das’ad Latif, Ustadz Nur Maulana,  dan tentu saja Ustadzah Mamah Dedeh. Seorang da’i yang dapat manggung di televisi, maka dianggap oleh masyarakat sebagai da’i idaman. Da’i televisi akan dapat memperoleh job manggung di dalam berbagai acara lainnya di luar acara televisi. Bahkan banyak da’i yang mematok harga yang relative tinggi di dalam dakwahnya. Juga bisa dibayangkan seorang da’i dapat berhaji sebanyak 33 kali, artinya setiap tahun bisa pergi haji. Selama 33 tahun.  Bisa  dibandingkan dengan calon jamaah haji yang mengantri selama puluhan tahun. Da’i adalah contoh dalam perilaku. Da’i adalah role model. Dengan berhaji setiap tahun sebanyak 33 kali, maka secara etis tidaklah patut.    

  

Para da’i ini seperti para selebritis dalam dunia hiburan. Mereka adalah orang yang terpilih oleh media televisi karena memiliki talent yang sesuai dengan kehendak televisi dan sesuai dengan keinginan public. Mereka tidak harus orang “alim” dalam agama. Alim dalam konteks memiliki pengetahuan Islam yang sangat mendalam, misalnya standart penguasaan kitab kuning, hafal sejumlah hadits atau hafal Alqur’an. Dunia televisi memiliki standar tersendiri sebagai ukuran kemenarikan audience atas figure seorang da’i. Oleh karena itu, belum tentu seorang yang sangat alim dalam pengetahuan agama lalu bisa menjadi da’i seleb dalam dunia televisi. Sekali lagi televisi memiliki ukuran sendiri untuk menentukan siapa yang layak dan tidak layak untuk menjadi da’i di televisi.

  

Saya sungguh terhenyak kala membaca berita bahwa seorang da’iyah, di dalam berita disebutkan secara jelas namanya, yaitu Mamah Dedeh yang di dalam berita itu digambarkan pernah berhaji sebanyak 33 kali dan memiliki rumah sebanyak tujuh buah dengan hiasan emas. Benarkah? Di dalam berita tersebut digambarkan dengan jelas tentang bagaimana kenyataan kehidupan Mamah Dedeh yang menjadi da’iyah  yang sangat terkenal di televisi. Tentang pernah naik haji 33 kali disampaikan dalam acara tedak siten pada acaranya Atta Halilintar dan Aurel, 07/07/2024. Lalu juga rumahnya  yang dinyatakan bahwa Mamah Dedeh tinggal di rumah mewah bak aistana kerajaan. Asesori rumahnya ada yang berlapis emas, misalnya guci berlapis emas dan hiasan foto yang berlapis emas. Sebuah gambaran rumah yang sangat ideal dan indah. (insertive.com, 17/07/2024). 

  

Sungguh menjadi da’i adalah perofesi yang sangat mulia. Da’i adalah orang yang menyiarkan agama Islam agar tidak berhenti dalam pengetahuan tetapi menjadi kelakuan. Di tengah media social yang hingar bingar, maka pengetahuan agama bisa diperoleh oleh masyarakat melalui media social. Ada kalanya bersumber dari ajaran Islam wasathiyah dan adakalanya berasal dari sumber yang non-wasathiyah. Orang bisa memilih pada sumber mana dan apa seseorang mendapatkan ilmu agama.

  

Maka, tugas da’i tidak hanya memberikan pengetahuan tetapi bagaimana mengimplementasikan pengetahuan menjadi kelakuan. Dai seleb tentu tidak perduli dengan apakah yang disampaikan itu menjadi kelakuan atau tidak. Yang penting keinginan media televisi sudah disampaikan. Di dalam literatur ilmu dakwah, maka yang seperti ini hanya dianggap sebagai tabligh dan bukan dakwah. Tabligh sekedar menyampaikan dan tidak dituntut ada pengaruhnya terhadap perilaku, akan tetapi dakwah dituntut harus menghasilkan dampak secara positif atas apa yang disampaikan. 

  

Sebagai akibat sebagai da’i seleb, maka da’i tersebut dapat diundang oleh artis, pejabat dan juga orang-orang kaya yang menginginkan agar acaranya menjadi lebih menarik dan hebat. Jika kemudian seorang da’i seleb menjadi kaya dalam ukuran masyarakat pada umumnya, maka hal tersebut disebabkan ruang dakwah yang dilakukannya berada dalam kawasan elit. Keterkenalan da’i seleb dapat mengantarkannya pada ruang public yang berbeda. Saya membayangkan dengan dunia pendidikan. Di desa-desa di Jawa ada guru madrasah yang hanya memperoleh bisyarah Rp250.000 sebulan dan pendapatan lain dari insentif daerah sesuai dengan kemampuan pemda. Mereka inilah yang sesungguhnya merupakan pewaris para ulama masa lalu yang bekerja dengan keikhlasan tanpa pamrih dan hanya menginginkan keberkahan hidup. 

  

Jadi, para da’i seleb sesungguhnya sudah menikmati hasil kerjanya. Sebagai selebritis tentu juga memiliki gaya hidup yang berbeda. Mobil mewah, rumah mewah, perhiasan mewah, bahkan jam tangan dan perhiasan mewah. Asset yang di atas rata-rata. Jangan-jangan nanti ada juga  sebutan sebagaimana  Raffi Ahmad, Sultan Andara. Dan sebutan itu untuk da’i seleb.

  

Secara kelakar saya kirim pesan dalam WA kawan saya, “Gelar boleh professor, jabatan boleh eselon satu, tetapi pendapatan tentu kalah dengan da’i seleb.” Lalu dijawab: “profesi assalamu alaikum lebih jelas pendapatannya bagi da’i selebritis.” Lalu saya jawab lagi: “nasib-nasib”.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.