Tradisi Baru Menyambut Hari Raya: Tonglek di Pedesaan
OpiniSebenarnya bukan baru sama sekali, akan tetapi penampilan grup yang menabuh alat-alat music keliling desa di Desa Sembungrejo, Merakurak Tuban sudah mengalami pembaharuan terutama dalam penampilan asesorinya. Malam hari raya, Jum’at 21 April 2023 atau 30 Ramadlan 1444 H sungguh sudah berubah. Seingat saya tahun lalu belum segegap gempita tahun ini. Maklum music tongklek ini sudah diperlombakan pada Agustus yang lalu.
Grup music tongklek sebenarnya berasal dari music jalanan kampung yang dimainkan oleh sekelompok anak-anak muda di desa ini untuk menandai akan datangnya waktu sahur pada bulan ramadlan. Semula hanya dengan alat-alat music sederhana saja. Ada gitar, ada ketimpung dan ada alat gamelan peking dan kentongan dari pohon bambu. Alat-alat music ini digunakan untuk menirukan lagu-lagu shalawatan dan juga lagu-lagu yang cukup popular di masyarakat, seperti sluku-sluku batok, tombo ati, rujak uleg dan sebagainya.
Tongklek berasal dari bunyi tong…tong…tong atau bunyi kentongan yang dipukul dan klek…klek…klek yang merupakan campuran bebunyian dari alat music lainnya. Music tongklek dimainkan pada sepertiga malam atau antara jam 02.00-3.00 WIB dengan mengelilingi jalanan desa. Lama kelamaan music ini mengalami perkembangan menuju arah yang baru. Yaitu menggabungkan alat alat music tradisional, misalnya jedor, saron, peking, kentongan dengan aneka suara, gitar, dan lain-lain. Lagunya juga makin variative. Yang banyak dimainkan adalah lagu-lagu campur sari yang juga popular di radio. Sayangnya saya tidak tahu nama-nama lagunya. Yang jelas telinga pendengar dan juga saya bisa menikmati music tongklek ini. Jika di masa lalu, alat-alat musiknya diangkat oleh pemain musiknya, akan tetapi sekarang sudah dimoderenkan. Dengan kendaraan dokar atau andong, di masa lalu ditarik oleh kuda, maka sekarang dijadikan sebagai alat pengangkut alat-alat music. Dokar itu dijadikan tempat alat-alat musiknya, dan pemain music berjalan di belakang alat-alatnya. Semua pemain music berada di dalam kendaraan yang dibuat seperti hiasan istana yang megah. Tampak dari depan adalah kepala naga yang dihias dengan indah, sekeliling dokar juga dihias dengan hiasan seperti hiasan wayang atau gunungan dalam tradisi gambar wayang. Yang jelas asesori music ini cukup menyenangkan jika dilihat. Apalagi juga ada hiasan lampion yang dimainkan. Anak-anak kecil tentu senang.
Ketepatan pada saat malam hari raya itu seluruh keluarga saya datang di rumah Tuban. Anak-anak saya ada yang datang dari Jakarta, dan Surabaya pulang ke rumah embahnya, Hj. Turmiatun. Rumah tempat kelahiran saya itu sudah direnovasi tahun 1990-an, dan juga besar untuk menampung anak, menantu dan cucu-cucu saya. Sudah delapan cucu saya. Ramai. Mereka datang secara khusus ke rumah embahnya, sambil bisa shalat ‘id di masjid desa. Bertepatan saya yang diminta oleh Ta’mir Masjid Nur Iman untuk menjadi khotibnya. Sambil menyelam minum air.
Music Tongklek ini dipastikan melewati depan rumah saya. jalan di depan rumah saya adalah jalan yang menghubungkan antara desa Semampir, Sembungrejo dengan desa Pongpongan. Jadi pasti lewat depan rumah jika ada hal-hal seperti ini. Pada waktu mereka berada di depan rumah, maka saya minta mereka berhenti sejenak. Saya ingin agar keluarga saya menikmati music ini. Ada bocah-bocah yang usainya dua sampai delapan tahun. Yuvika Farnaz Adzkiya, Nisrina Arfa Al Abbasy, Elshanum Shafina Adzkiya, Muhammad Shahif Najmi, Sahifa Aqila Najma, Mohammad Fathan Abqory, Qiandra Fidelia Al Mahyra, Chalista Elisya Al Mahyira tentu senang dengan pertunjukan ini. Maka dengan uang secukupnya dan juga kue-kue seadanya, music tongklek berhenti sejenak untuk memainkan beberapa lagu.
Banyak juga yang hadir. Tiba-tiba saja di depan rumah ramai dengan penonton: anak-anak, remaja dan orang-orang tua menonton permainan music ini. Saya lihat juga ada yang bergoyang mengikuti irama rancak dari music campuran. Tetapi ada dua yang dominan, yaitu bedug dan peking. Penempatan peking sebagai pengatur irama dan bedug di tengah untuk menutup irama-irama lagunya. Dug..dug…dong. Suara bedug bertalu-talu.
Cuaca malam itu juga sangat mendukung. Malam sebelumnya hujan meskipun hanya rintik-rintik. Tetapi malam takbiran itu cuaca sangat bersahabat. Terang langitnya, dan tidak ada mendung yang menggelayut. Tuhan seakan memberikan peluang bagi umat Islam untuk merayakan malam takbiran dengan nuansa yang menyenangkan dan membahagiakan. Lelaki dan perempuan, tua dan muda sama-sama menikmati iringan music tongkleng dengan riang gembira, seriang gembira para pemain music yang bersemangat.
Masyarakat desa benar-benar menikmati sajian music ini. Selepas kerja di sawah atau ladang, dan berbuka puasa, maka kehadiran music tongkleng terasa bisa melepas kepenatan tubuh. Meriangkan hati dan menggembirakan menyambut hari raya idul fitri. Jika selama ini mereka hanya nonton music di televisi, maka kali ini mereka bisa menikmati music sungguhan. Meskipun hanya music jalanan tetapi bisa memberikan rasa nyaman dan senang. Sepanjang jalan yang dilewati oleh grup music ini, maka berjajar orang tua, remaja dan anak-anak untuk menyaksikannya.
Manusia memiliki kebutuhan integrative, tidak sekedar kebutuhan biologis dan social. Music adalah salah satu instrument untuk pemenuhan kebutuhan akan rasa senang, bergembira dan nyaman. Jiwa kita sesungguhnya juga memiliki elemen untuk mendengarkan music, melihat tarian dan pertunjukan hiburan lainnya. Manusia harus menyeimbangkan kebutuhah fisik, jiwa dan rohani.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang agamis. Memilki rasa keberagamaan yang tinggi. Berawal dari ajaran Islam yang bercorak esoteris ini, maka Islam di Indonesia adalah masyarakat Islam yang kreatif. Masyarakat yang mencoba untuk memadukan antara ajaran Islam yang berasal dari Timur Tengah dengan tradisi local, sehingga menghasilkan corak Islam yang secara front stage atau formalitas Islam dengan back stage atau substansialitas Islam berbeda. Perbedaan itu pada aspek luarnya tetapi di dalamnya adalah Islam juga. Temuan saya secara konseptual adalah Islam kolaboratif, yaitu Islam hasil dialog jangka panjang antara tradisi Islam dengan tradisi local yang dilakukan oleh golongan wong NU, wong Muhammadiyah dan wong abangan di dalam medan budaya sumur, kuburan dan masjid sehingga menghasilkan Islam dalam tradisi local atau tradisi Islam local. (Nur Syam, Islam Pesisir, 2005).
Tongklekan adalah khazanah tradisi Islam yang dijdikan sebagai tradisi menyambut hari raya idul fitri, dan kreativitas seperti ini tentu bukan untuk membuat Islam menjadi tidak murni, akan tetapi untuk menjadikan Islam sebagai etiket substansial, yang dapat memperkaya Islam di Indonesia.
Wallahu a’lam bi al shawab.

