Puasa: Syahrut Tarbiyah (Bagian Ketiga)
KhazanahOleh: Abdul Wasik
Mahasiswa Program Doktor Prodi Studi Islam UIN KHAS Jember
Sepintas, kitab Hikmah Al-Tasyri Wa Alsafatuhu adalah salah satu karya monemonetal Syeikh Ali Ahmad Al-Jurjawi yang hidup di Mesir pada tahun 1905 sampai dengan 1956. Al-Jurjawi hidup pada zaman di mana pada saat itu terjadi kegoncangan khususnya di wilayah Mesir. Mesir pada saat itu sedang berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Perancis yang selalu mengusik ketenangannya. Hal tersebut berpengaruh pada masalah keilmuan yang ditekuninya. Di mana pada tahun 1920-an ia mengalami banyak kesulitan dalam mencari buku yang ideal khususnya mengenai masalah hukum dan hikmah-hikmah atau rahasia-rahasia yang ada dalam ajaran Islam. Berawal dari situasi semacam itu al-Jurjawi bisa mendapat banyak ide dan bertekat bulat untuk membuat kitab yang membahas mengenai hikmah-hikmah ajaran Islam. Itu semua dilakukan demi mengembangkan keilmuan Islam yang pada kenyataanya masih banyak kesulitan.
Dalam kitab ini ada dua pendekatan yang mendasari dilegislasikannya hukum islam, yaitu Pertama, Pendekatan Filosofi, kerangka dasar yang mempengaruhi kitab ini dapat dibagi 4 karakter, yaitu 1) pengetahuan terhadap Allah SWT, baik dari sisi ke-Esa-an Allah, mengetahui sifat-sifat kemulyaan Allah (sifat yang wajib, sifat yang mustahil dan sifat yang jaiz bagi Allah), 2) melaksanakan ibadah kepada Allah dengan ikhlas sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan-NYA, 3) motivasi Amar Makruf Nahi Mungkar yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari melalui etika yang baik dengan sesama, bertanggung jawab atas amanah yang diberikannya, sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dan lain sebagainya sehingga terbentuklah harkat dan martabat yang tinggi baik disisi Allah atau disisi manusia lainnya, 4) langkah preventif untuk tidak melampaui batas hukum yang telah ditetapkan dalam kehidupan social. Kedua, pendekatan rasionalitas Hukum, hal ini bisa dilihat dari referensi yang menjadi landasan hukumnya seperti Dalil Naqli (Al-Qur’an dan Al-Hadits), Illat Hukum dan menggunakan logika berfikir yang disesuaikan dengan teks dan konteksnya.
Puasa Dalam Perspektif Kitab Hikmah Al-Tasyri Wa Alsafatuhu mengandung beberapa pendidikan didalamnya, antara lain:
Pertama, Aspek Spiritual (Hubungan manusia dengan Allah). Aspek spiritual merupakan nilai-nilai ketuhanan yang terkandung dalam ibadah yang dapat menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta. Karena melaksanakan ibadah puasa adalah sebagai tanda rasa terima kasih pada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan dan tidak terhitung jumlahnya. Sebagaimana firman Allah SWT:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya:”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: \"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih\".(QS. Ibrahim: 7)
Baca Juga : Menerapkan Etika Global dalam Konteks Lokal
Puasa ditinjau secara aspek spiritual merupakan jalan dari masing-masing manusia yang penuh dengan kepasrahan (berserah diri). Apa yang dilakukan tersebut semata-mata merupakan sebagai salah satu bentuk riil dari rasa ketaqwaan yang tinggi hanya kepada Allah SWT, meskipun banyak halangan yang harus dihadapi. Di mana kalau orang sudah bisa melakukan hal tersebut, maka orang tersebut akan mudah mendapatkan kebahagiaan baik dunia lebih-lebih di akhirat kelak.
Kedua, puasa dapat menepis sifat kebinatangan yang ada pada sebagian manusia yaitu hanya bergairah kepada makan dan minum, pada dasarnya semua itu hanya untuk menuruti nafsunya saja sebagai ciri khas dari sifat binatang. Apabila manusia bisa menahan diri dari sifat kebinatangan untuk mendapat kelezatan seperti makan, minum, hubungan seks dan sebagainya, maka akan mengakibatkan manusia dapat terbebas dari sifat-sifat kebinatangan dan ia lebih dekat kepada sifat kemalaikatan. Hal itu akan berpengaruh pada pelaksanaan ibadah-ibadah yang lain. Manusia dapat melaksanakan ibadah dengan diliputi kejiwaan yang ikhlas, bersih dari noda-noda keraguan dan kebingungan akibat dari pelaksanaan ibadah yang sesuai dengan aturan. Dari hal itu akan menjadikan orang yang taat dan malu kepada Allah. Dan kebalikannya orang yang kenyang akan selalu digoda oleh syaithon. Rasulullah SAW bersabda:
إن الشيطان يجري من ابن آدم مجرى الدم ، فضيقوا مجاريه بالجوع والعطش
Artinya: Sesungguhnya Syaithan Akan Mengitari Manusia Dengan Mengikuti Aliran Darah Ditubuhnya, Dan Pembuluh Darahnya Akan Menyempit Disebabkan Karena Lapar Dan Dahaga.
Ketiga, Aspek Psikologis. Puasa dijadikan sebagai media untuk melemahkan nafsu syahwat bersetubuh pada manusia. Fitroh manusia adalah mempunyai keinginan untuk melakukan hubungan seksual baik yang masih lajang lebih-lebih yang sudah melaksanakan pernikahan. Islam sangat menganjurkan ummatnya untuk melaksanakan pernikahan ini bahkan Nabi Muhammad SAW menjadikan nikah ini sebagai salah satu indicator manusia diakui sebagai ummatnya, akan tetapi bagi orang yang belum memenuhi syarat dan rukun pernikahan maka islam menganjurkan untuk berpuasa karena dengan puasa bisa meminimalisir syahwat manusia untuk termotivasi melakukan dosa. Hal ini juga berlaku bagi orang yang berkeluarga karena ia harus menahan diri dari bersenggama disiang hari.
Keempat, Aspek Sosiologis (Hubungan antar manusia). Puasa adalah cara mengingatkan orang kaya kepada penderitaan seperti yang dialami fakir miskin sehingga setelah melaksanakan puasa diharap orang kaya tersebut nantinya akan mampu mengasihi dan menyayangi, yakni dengan cara ditempatkan dalam kesempitan. Dengan tujuan orang terebut bisa sekaligus ikut merasakannya. Hal itu bisa menjadi pelajaran bagi orang kaya untuk lebih mengetahui perasaan orang lapar maka orang tersebut harus ikut berlapar-lapar.
“Suatu ketika di permulaan Ramadhan, baginda Nabi Muhammad SAW berpesan, \"Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan-NYA di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bershodaqohlah kepada kaum Fuqara dan Masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraannmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. (HR Ibnu Huzaimah).
Dus, puasa adalah merupakan obat dari segala macam penyakit. Penyakit jauh dari Allah, puasa jawabannya, penyakit renggang dengan sesama maka puasa solusinya, hawa nafsu sebagai fitroh manusia ketika selalu mengajak akan kejelakan dan kejahatan, puasa juga sebagai pencegahnya.

