Tujuh Belas Agustusan: Beri Peluang Garuda Terbang Tinggi (Bagian Kelima)
OpiniNegeri ini sudah kenyang pengalaman dalam dinamika perubahan sosial dan politik yang menikung tajam. Perubahan sosial yang akseleratif meski evolusioner maupun yang revolusioner sudah pernah dialami oleh bangsa Indonesia. Dan pengalaman memberikan fakta bahwa seberapa besar tikungan perubahan tersebut terjadi, tetapi selalu berujung keselamatan. Perubahan politik dari demokrasi terpimpin yang semi otoriter ke demokrasi terbuka dan partisipatif ternyata berjalan dengan baik meskipun di sana-sini terdapat riak-riak yang nyaris membuat sekat relasi sosial terganggu. Namun demikian, secara umum perubahan tersebut tidak menjadikan bangsa ini terpecah belah dalam sekat-sekat primordialisme kedaerahan, keagamaan dan bahkan etnistitas.
Di dalam kehidupan keberagamaan yang selama ini menjadi variable penting untuk menjaga keindonesiaan ternyata juga semakin meningkat religiositasnya. Berdasarkan survei yang diselenggarakan oleh lembaga survey nasional digambarkan bahwa masyarakat Indonesia semakin religius. Survei Balitbangdiklat Kemenag RI, 2021, bahwa religiositas masyarakat Indonesia meningkat 81 persen semenjak masa Pandemi Covid-19. Data hasil survey dengan menggunakan accidental sampling ini menggambarkan bahwa 55, 1% responden menyatakan Covid-19 tidak memengaruhi kehidupan keagamaannya. 61,6% menyatakan bahwa kehadiran Covid-19 justru masyarakat merasa menemukan agamanya, 97% menyatakan keyakinan agamanya membantu dalam menghadapi Covid-19 dan 86,7% masyarakat melakukan relasi dengan tokoh agama, serta 89.4% merasakan mendapat support atau dukungan mental dari tokoh agama. (tempo.co diunduh 15 Agustus 2021).
Menurut Alvara Research Center, bahwa masyaraat Indonesia juga semakin religious dengan persentase sebesar 95%. Mereka itu sebanyak 26,6% dalam sebulan dipastikan menghadiri acara keagamaan, 28,8% menghadiri acara keagamaan sekali dalam sepekan, dan hanya 5 persen yang tidak hadir di dalam acara keagamaan. Kemudian sebanyak 41,8% selalu melakukan shalat dan 22% di antaranya selalu shalat jamaah dan hanya 0,9 yang menyatakan jarang-jarang shalat dan tidak pernah shalat sama sekali. (tempo.co diunduh 15 Agustus 2021).
Namun fakta akhir-akhir ini yang juga perlu untuk diwaspadai adalah semakin menguatnya keberagamaan masyarakat Indonesia tetapi dalam coraknya yang ultra konservatif dan konservatif, sementara itu yang moderat atau wasathiyah semakin tergerus di tengah serbuan media sosial yang bisa dimanfaatkan secara optimal oleh kaum konservatif dan ultra konservatif dimaksud. Jika perkembangan pemahaman keagamaan tersebut tidak direspon dan dimanej dengan baik oleh pemerintah dan organisasi sosial keagamaan yang masih, sekali lagi masih, mengedepankan paham keagamaan yang moderat, maka akan bisa dibayangkan akibatnya. Dan yang agak mengkhawatirkan bahwa penganut agama ultra konservatif dan konservatif ini adalah para generasi muda yang mulai tercerabut dari akar pemahaman sejarah kebangsaannya.
Salah satu tantangan yang paling riil dewasa ini adalah bagaimana menghadapi kaum muda yang tertarik dengan ideologi islamis yang ujungnya akan mengganti Pancasila dengan ideologi agamaisme. Jika ini yang terjadi maka bisa diprediksi bahwa masa depan Indonesia akan menjadi berantakan. Bagi generasi tua, maka Pancasila itu harga mutlak bagi Indonesia masa depan. Upaya untuk mengganti Pancasila dengan ideologi apapun tentu tidak akan pernah menguntungkan kehidupan bangsa ini secara keseluruhan.
Peringatan tujuh belas Agustusan ini memgandung makna agar seluruh komponen bangsa ini berkomitmen untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa yang tuntas. Pancasila dan NKRI adalah harga mati. Siapapun pemimpin bangsa dan dari mana latar belakang politiknya harus tetap berada di dalam koridor kesepakatan bangsa yang tidak boleh digeser sedikitpun. Para generasi tua sekarang tentu tetap menghendaki agar Burung Garuda sebagai lambang negara bangsa akan terus terbang tinggi membawa gerbong masyarakat Indonesia ke depan yang religius, modern dan moderat. Cita-cita seperti ini hanya akan bisa digapai jika seluruh komponen bangsa memahami bahwa dengan Pancasila saja kehidupan yang rukun dan harmonis akan terjadi.
Para generasi muda harus dipahamkan tentang bahaya mengikuti paham keagamaan yang ultra konservatif dan juga yang konservatif. Yang membahayakan karena tafsir teksnya yang bercorak tunggal dan menafikan tafsir lainnya. Paham agama yang paling benar adalah paham agamanya sehingga yang lain harus dihilangkan dan diganti dengan paham agamanya. Tafsir tunggal inilah yang di mana-mana membawa malapetaka bagi kehidupan msyarakat yang plural dan multikultural.
Burung Garuda akan bisa terbang tinggi membawa gerbong masyarakat Indonesia yang plural dam multicultural dengan selamat mengarungi perubahan dan dinamika, jika masyarakat Indonesia, khususnya generasi mudanya, dapat menjaga kepak sayapnya terus terbentang dengan semangat moderasi di dalam banyak aspek kehidupan. Tidak hanya di dalam kehidupan keagamaannya tetapi juga ekonomi dan politiknya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

