(Sumber : Doc. Istimewa)

Baiq El Badriyati Cumlaude Meneliti Etos Kerja Penenun Kain Songket

Informasi

Prof Nur Syam menceritakan pengalamannya sebagai promotor ujian yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana (PPs) UIN Sunan Ampel (UINSA), Jum\'at, 04/08/202. Dirinya merasa ujian tersebut sangat khusus, sebab ujian ini dilaksanakan bersamaan waktunya dengan kepergiannya ke Jakarta bersama keluarga. Ujian dilakukan dengan Zoom meeting dalam perjalanan dari Semarang ke Cirebon. Karena di dalam perjalanan, maka terkadang signalnya lemah, sehingga pembicaraan harus terjeda.

 

"Namun secara keseluruhan ujian bisa terselenggara dengan lancar di era teknologi informasi yang luar biasa ini," ujar Nur Syam.

 

Hari Jum'at itu menjadi hari bersejarah bagi Baiq El Badriyati sebab promovendus yang sangat terpelajar tersebut memperoleh predikat cumlaude atas penyelesaian Pendidikan program doktornya. Hadir sebagai penguji adalah Prof. Aswadi (Direktur PPs UINSA dan ketua penguji), Dr. M. Lathoif (Sekretaris Penguji), Prof. Babun Suharto (Rektor UIN KHAS Jember, penguji utama), Dr. Iskandar Ritonga, Dr. Nurhayati, dengan promotor Prof. Nur Syam dan Dr. Sirajul Arifin.

 

Berdasarkan informasi Baiq El Badriyati ternyata memang memiliki kekayaan informasi tentang kaum Muslimah penenun kain Songket di Sukarara. Hal ini tentu disebabkan oleh asal El Badriyati yang juga dari Mataram, dan jarak rumahnya dengan lokasi penelitian juga hanya perkiraan 10 Km saja. Hingga Promovendus bisa menjelaskan secara mendalam tentang tradisi menenun kain songket  perempuan Muslimah di Sukarara. Penelitaannya mendalam dengan kekayaan data yang sangat memadai.

 

Sebagai promotor, Prof. Nur Syam  mengajukan beberapa pertanyaan, di antaranya adalah tentang implikasi teoretik. Dinyatakan: "saudara promovendus menggunakan teori Max Weber dalam karyanya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism". Menimpali Baiq selaku Promovendus dengan sebuah pertanyaan, yaitu mengapa tidak menggunakan konsepsi Prof. Irwan Abdullah atau Prof. Taufiq Abdullah tentang dunia bisnis masyarakat Muslim.

 

"Seharusnya karya Prof. Irwan menjadi bahan referensi mendasar, sebab memiliki kesamaan secara umum dengan penelitian ini, yaitu sama-sama mengkaji mengenai dunia bisnis kaum muslimin," ucapnya.

 

Menghargai Tradisi

 

El Badriyati pun menjelaskan bahwa penelitian ini memang menggunakan bagan konsep Weber. Baginya ternyata memang memiliki perbedaan yang sangat mendasar, bahwa Weber mengkaji masyarakat barat beragama Protestan, khususnya Sekte Calvinis, dengan pelakunya yang bersifat umum, sedangkan penelitian ini meneliti segmen khusus yaitu para perempuan Muslimah.


Baca Juga : RUU SISDIKNAS: Rumpun Ilmu Berkhas KeIndonesiaan

 

"Selain itu Weber sampai kesimpulan bahwa agama menentukan terhadap pertumbuhan kapitalisme, sedangkan penelitian ini tidak menghasilkan pertumbuhan kapitalisme," ujarnya.

 

Dr. Surajul Arifin juga menekankan  tentang kajian Prof. Irwan tentang bisnis kaum reformis. Jadi menurut Prof. Irwan ada keterkaitan antara paham keagamaan kaum reformis dengan pertumbuhan dan semangat berbisnis. Seandainya kata Surajul, hal ini dikaji maka akan menjadi menarik. Selain itu, kaum perempuan di Sukarara ini merupakan perempuan yang menghargai tradisi, misalnya disebutkan bahwa untuk menenun dilakukan upacara-upacara.

 

"Bagaimana perubahannya sekarang, apakah masih seperti itu atau sudah berubah," tanya Surajul.

 

Baiq menjawab bahwa sekarang sudah sangat berbeda. Sudah tidak didapati lagi upacara-upacara sebagaimana di masa lalu, tetapi motif batik songket masih tetap yaitu motif subhanale, yang secara kebahasaan adalah subhanallah.

 

"Yang jelas bahwa ada keterkaitan motif atau corak batik dengan agama. Hingga sekarang motif ini masih terus dipertahankan sebagai ciri khas kain tenun songket," tuturnya.

 

Semangat dan Produktif

 

Prof. Babun Suharto menyoroti tentang perlunya ketelitian di dalam penulisan, sebab di antara ciri doctor adalah ketelitian, kecermatan dan ketepatan dalam penyajian data dan analisisnya. Selain itu, juga dipertanyakan apa sesungguhnya temuan penelitian ini dan apa bedanya dengan penelitian lainnya.Dr. Nurhayati hampir sama pertanyaannya dengan Prof Babun juga menyatakan tentang indikator-indikator kemandirian perempuan Muslimah di Sukarara dan bagaimana kaitannya dengan etos kerjanya.

 


Baca Juga : Preferensi Generasi Z dalam Dunia Kerja

El Badriyati menjelaskan bahwa terdapat beberapa indikator, bahwa temuan dalam penelitian ini mengacu pada tiga hal sebagaimana yang dirumuskan pada rumusan masalah penelitian yaitu, pertama etos kerja muslimah penenun songket di Desa Sukarara memiliki etos kerja tinggi yang ditunjukkan melalui sikap disiplin, kesabaran, ketekunan, ketelitian, komitmen, dan tanggung jawab.

 

"Etos kerja ini dimotivasi oleh beberapa hal yaitu: religiusitas, ekonomi, budaya, dan aktualisassi diri," jelasnya.

 

Kedua, produktivitas muslimah penenun songket di Sukarara dalam menjalankan profesinya sebagai penenun songket sangat tinggi. Hal itu tergambar melalui beberapa indikator, yaitu: peningkatan hasil yang dicapai, kemampuan melakukan pekerjaan, semangat kerja, pengembangan diri, mutu atau kualitas, efisiensi, dan efektivitas.

 

Sedangkan, ketiga, implikasi etos kerja dan produktivitas terhadap kemandirian ekonomi muslimah penenun songket di Sukarara telah terwujud melalui beberapa indikator, yaitu pemodal kerja, pencari nafkah atau tulang punggung keluarga, memiliki keyakinan dalam bisnis, mampu mengelola keuangan, siap mental terhadap gangguan finansial, kreatif dan inisiatif, dan mitra suami atau saling bersinergi.

 

Ada Dimensi Spiritual

 

Sementara itu, Dr. Iskandar menimpali pertanyaan kepada Promovendus, yaitu apa sebenarnya yang menjadi kekhasan penelitian ini dari sisi teori atau konsep yang dikaji. Baiq pun menjawab bahwa implikasi teoritik Max Weber dalam buku " The Protestant Ethic and Spirit Capitalism", bahwa etos kerja memiliki afinitas elektif dengan semangat kapitalisme. Namun berbeda halnya dengan etos kerja para muslimah penenun di Sukarara, mereka memiliki etos kerja tinggi, namun bukan berlandaskan pada spirit kapitalisme.

 

Dr. Lathoif menyoroti tentang teks yang mendasari ethos kerja dan kemandirian, demikian pula Prof. Aswadi juga memberikan catatan tentang ayat-ayat Alqur\'an yang dijadikan sebagai pijakan di dalam kajian. Prof. Aswadi memuji karya ini karena menukil pemikiran Ibn Athoillah, bahwa ada dimensi spiritual atau Tuhan di dalam semua usaha manusia.

 

Di dalam pidato pengukuhan doctor, Prof. Nur Syam menyatakan bahwa catatan-catatan dari penguji agar dijadikan sebagai kepekaan untuk mempertajam kajian ini, dan sesungguhnya bisa dijadikan sebagai karya lain dalam bentuk jurnal, khususnya yang terindeks di Scopus.

 

"Misalnya yang menarik tentang bagaimana para penenun kain songket yang kebanyakan perempuan Muslimah tradisional, bisa NU atau Nahdlatul Wathan,  ternyata memiliki etos kerja yang hebat, dan selama ini yang dilihat kaum akademisi hanya umat Islam reformis saja," jelasnya.

 

"Inilah kekhasan di dalam penelitian ini. Selamat kepada Dr. Baiq El Badriyati dan segenap kluarga besar termasuk kepada UIN Mataram yang telah memiliki tambahan doctor yang mumpuni dalam bidang ekonomi Syariah," tutupnya.