(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Tujuh Belas Agustusan: Menjaga Solidaritas Kesehatan (Bagian Ketiga)

Opini

Sebagaimana yang ramai di dalam pemberitaan media, baik televisi, radio, surat kabar dan media sosial lainnya, maka yang dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya lonjakan penularan Covid-19 adalah kerumunan yang terjadi pasca hari Raya Idul Fitri, 1442 H. Hal  ini difasilitasi oleh banyaknya masyarakat yang pulang kampung dalam rangka menjaga tradisi mudik setiap tahun, khususnya dari kota ke desa. 

  

Tradisi pulang kampung (pulkam) memang telah menyejarah di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tradisi ini sudah terjadi ratusan tahun yang terus dipertahankan di dalam kehidupan masyarakat. Tidak perduli bagaimana kondisi dan status ekonominya, akan tetapi pada hari raya Idul Fithri pasti terjadi keramaian dengan acara saling kunjung rumah, baik masyarakat dalam satu kampung atau wilayah maupun antar wilayah, misalnya dari masyarakat yang hidup di kota ke masyarakat desa. 

  

Kerumunan sebagai penyebab lonjakan Covid-19   memperoleh pembenaran dengan terjadinya lonjakan penyebaran Covid-19 di India pasca terjadinya acara keagamaan di dalam tradisi agama Hindu, yaitu mandi bersama di Sungai Gangga, yang dianggap sebagai tradisi sacral di dalam agama ini. Pasca acara tersebut kemudian India didera dengan penyebaran Covid-19 yang luar biasa, bahkan muncul  varian baru yang disebut sebagai Covid-19 varian delta, yang tingkat persebarannya lebih cepat dan massif. India pun kalang kabut dan akhirnya virus Corona varian baru ini juga sampai di Indonesia melalui jalur transmisi para pendatang India ke Indonesia. 

  

Makanya ada banyak orang yang menyalahkan pemerintah terkait dengan kebolehan pendatang India, yang ternyata ada di antaranya yang mengidap varian baru Covid-19, dan kemudian secara berantai menyebar di Indonesia. Jadilah Covid-19 mewabah lagi di Indonesia yang dikenal sebagai gelombang ke dua sebaran Covid-19. Pemerintahpun akhirnya harus memutuskan kebijakan PPKM, yang dilakukan khusus di Jawa dan Bali, yang ditengarahi sebagai daerah dengan sebaran Covid-19 terbesar. Pemerintah memang memaksa masyarakat agar melakukan cegah tangkal terhadap penyebaran Covid-19 melalui pembatasan relasi sosial. Sebuah kesadaran yang dipaksakan. 

  

Jadi sesungguhnya yang diperlukan di era sekarang adalah membangun solidaritas kesehatan, yaitu dengan saling memahami dan menyadari bahwa kebutuhan akan kesehatan itu tidak bisa ditunda. Artinya bahwa hanya dengan kesehatan fisik maka akan didapati kesehatan rohani. Orang yang secara fisik sehat tentu memiliki potensi untuk sehat secara rohani. Dengan demikian, maka kesehatan fisik menjadi persyaratan dasar bagi kehidupan yang selaras dengan keinginan untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna. 

  

Solidaritas kesehatan sebenarnya juga sesuatu yang tidak berharga mahal. Yang terpenting adalah memiliki kesadaran untuk sehat bersama dan berkehidupan yang lebih baik secara bersama. Yang dibutuhkan adalah kesadaran untuk terus menjaga prokes dengan optimal. Di manapun dan dalam keadaan apapun individu dalam berrelasi dengan individu lainnya harus tetap menjaga agar menggunakan masker. Penggunaan masker adalah persyaratan dasar, sebab wabah Covid-19 terkait dengan instrument fisik hidung dan mulut. Maka menutup kedua indra ini menjadi sangat penting agar pertama-tama terhindar dari wabah Covid-19. Sudah sangat banyak iklan layanan masyarakat melalui media yang menginformasikan agar terus menjaga prokes di tengah pergaulan. Lalu, yang tidak kalah menarik juga menjaga agar tidak terlibat di dalam kerumunan sosial. Masyarakat harus menyadari bahwa kerumunan juga menjadi factor penting penularan Covid-19. Jika kita ingin memberikan solidaritas kepada yang lain, maka satu-satunya hal yang harus dihindari dalam kehidupan sosial adalah menjaga agar tiada kerumunan sosial. 

  

Disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan, terkadang banyak di antara masyarakat kita yang mengabaikan protocol kesehatan. Dan yang juga menyedihkan adalah keinginan untuk menyembunyikan bahwa seseorang terpapar Covid-19. Dianggapnya sebagai  suatu aib jika dirinya terpapar Covid-19, sehingga terdapat sikap untuk menyembunyikan aib dimaksud. Akibatnya orang yang terpapar Covid-19 akan dapat menjadi penular aktif bagi yang lain, jika yang bersangkutan masih suka melakukan relasi sosial dengan lainnya. 

  

Momentum peringatan Agustusan ini, maka yang menjadi penting adalah bagaimana membangun kesadaran untuk memahami akan bahaya penyakit Covid-19 dan bagaimana memanej penyebaran Covid-19. Sosialisasi harus terus digalakkan dengan melibatkan semua komponen masyarakat, baik di perkotaan maupun pedesaan, baik melalui institusi sosial maupun institusi keagamaan. Para pendidik, kyai, ulama, tokoh masyarakat, politisi, polisi, birokrat dengan berbagai institusinya harus melakukan sosialisasi secara massif tentang bagaimana sikap dan tindakan yang harus dilakukan di dalam relasi sosial. 

  

Kita mesti harus selalu ingat slogan: “Maskermu menyelamatkanku, dan maskerku menyelamatkanmu”. Lalu, “Menjaga kebugaran tubuh sama dengan menjaga diri dan masyarakat” atau ungkapan: “Jaga kebersihan diri untuk kesehatan masyarakat”. Setiap memasuki Kawasan permukiman sudah terdapat peringatan tentang bahaya Covid-19, tetapi masih diperlukan penyadaran lebih mendasar bagi setiap anggota masyarakat untuk mematuhinya. 

  

Sebenarnya, peringatan 76 tahun kemerdekaan Indonesia, bukan hanya memperingati sebuah hari kemerdekaan, akan tetapi bagaimana menjaga solidaritas di antara sesama warga negara terutama menjaga kesehatan masyarakat agar aspek lain, perumbuhan ekonomi akan kembali ke jalur yang sebenarnya.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.