(Sumber : Tribun Jakarta )

Youtuber dengan Jutaan Viewer: Ning Umi Laila UIN Sunan Ampel

Opini

Jika saya tidak menulis Ning Umi Laila,  maka tindakan saya itu termasuk dosa sosial.  Saya  sudah menulis youtuber Shanna Shanen yang mendendangkan lagu ayahnya Ebiet G. Ade, yang berjudul “Masih ada Waktu” di media social nursyamcentre.com.,  bahkan saya juga sudah menulis Sinden Megan dari Amerika  Serikat di media sosial nursyamcentre. 

  

Untuk menebus dosa sosial tersebut, maka secara sengaja saya akan menuliskan tentang Ning Umi Laila, seorang Youtuber yang berasal dari  Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Ampel (UINSA), Surabaya. Tentu menjadi sebuah kebanggan bahwa dari Prodi Komunikasi dan penyiaran Islam (KPI) dapat terlibat di dalam mengaktualkan bakat untuk menjadi Youtuber dan sangat terkenal. 

  

Berdasarkan telisik saya, Ning Umi Laila ini lebih hebat dan lebih heboh, sebab talentanya relatif  lebih banyak. Ning Umi, bisa mendendangkan lagu dengan suara yang merdu, bisa berceramah bagaikan  da’i kondang dan juga bisa menulis dengan baik. Ketiga talenta tersebut,  saya kira tidak dimiliki oleh youtuber lainnya terutama para generasi melineal. Jika kita mendengar suaranya melalui channel Youtube, kita pasti tidak menduga bahwa yang melantunkannya adalah mahasiswa Semester VIII prodi KPI pada FDK UINSA. Kita mesti mengira dia ini jebolan  Dangdut Academy Indosiar, seperti Lesti Kejora, Evi Masamba, Aulia, Tiyara Ramadlani, dan sebagainya.

   

Saya mendapatkan kiriman y\\Youtube  Ning Umi Laila dengan lagu Sluku-Sluku Batok itu kira-kira dua pekan yang lalu. Dikirimkan oleh salah seorang peserta setia Ngaji Bahagia di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency. Tentu saja lagu itu  saya dengarkan. Seingat saya setelah sholat shubuh. Saya senang mendengar lagu ini. Sebab lagu-lagu Jawa hasil kreasi para Waliyullah, khususnya Kanjeng Eyang Sunan Kalijaga ini sudah tidak banyak diingat oleh generasi Milenial. Kalah dengan lagunya Justin Beiber, Shakira atau Christina Aguileira. Kalau saya senang lagunya Rhoma Irama, Iwan Fals, atau Ebiet G. Ade. Tiga-tiganya  sudah saya tulis di media social nursyamcentre.

  

Yang menarik,  Ning Umi berhasil menyajikan lagu yang kuno, dan rasa pedesaan tersebut menjadi lagu yang menarik, enak didengar dan perlu. Syair lagu “Sluku-sluku Batok Batoke Ela-Elo”  yang  dipadukan dengan shalawatan dalam  nyanyian Jawa ternyata menarik dan mendapatkan banyak penggemar, baik  subscribe dan comment. Banyak orang yang mendengarkan. Dalam beberapa pekan sudah menghasilkan jutaan pemirsa dan pendengar. Ning Umi merupakan bagian dari generasi milenial yang menyukai ekplorasi atau disebut generasi eksplorer, generasi IT yang mampu memanfaatkan Youtube, Instagram, Facebook, Tiktok dan  Twitter untuk meneguhkan jati dirinya atau membranding diri. Sekarang upaya itu sudah menunjukkan hasilnya. Man jadda wa jadda. 

   

Ning Umi Laila bukanlah orang yang mapan hidupnya. Bahkan hampir putus kuliahnya di kala Covid-19, karena adik dan abahnya (KIai Edi Rohmatullah) sudah meninggalkannya. Sementara ibunya sudah stroke sekitar tujuh tahun.”Ungtunglah ada pemotongan UKT, sehingga saya bisa melanjutkan kuliah”. Ungkapnya waktu memberikan ceramah di UINSA. Di hadapan gurunya, Prof. Ali Azis dan dosen-dosen FDK serta para undangan yang jumlahnya ratusan, sama sekali tidak menunjukkan rasa minder atau grogi. Ceramahnya mengalir bercerita tentang bagaimana dia membranding dirinya di tengah dunia media sosial yang tidak ramah. Di tengah sempitnya ruang media sosial dan kontestasi yang sedemikian keras. Dan  akhirnya dia menemukan jalan untuk menyanyikan lagu-lagu shalawatan dan sukses  menjadi berkah.

   

Saya ingin menganalisis atas konten Youtube Ning Umi, khususnya lagu Shalawatan Sluku-Sluku Batok. Lagu ini  bukanlah lagu yang popular. Yang mengenal lagu ini adalah para generasi kolonial, yang lahir di bawah tahun 1960-an atau generasi X pada awal tahun 1970-an. Lagu ini bahkan dianggap sebagai lagunya anak-anak kecil atau lagu dolanan, berbeda dengan lagu Tombo Ati, Lir-Ilir, Turi-Turi Putih, Kinanti, Pangkur dan sebagainya yang sering dikaitkan dengan pitutur luhur. Di antara lagu-lagu anak tersebut adalah gundul-gundul Pacul dan Sluku-Sluku Batok.

  

Lagu ini sungguh sudah tidak popular. Jarang anak-anak atau generasi muda yang menyanyikan. Sudah dianggap kedaluwarsa, sudah kuno, tidak modern dan sudah ketinggalan zaman atau out of date. Makanya, kala hadir lagu ini dengan kemasan baru dan  warna genre baru hasil pemaduan dengan shalawat Nabi, di tengah era semakin menguatnya Islamisasi kultural di Indonesia dan bentangan sasaran dakwah melalui kanal youtube, tentu  akan menjadikannya sebagai lagu ikonik bagi generasi muda Islam.  Penyanyi yang masih muda belia, suaranya yang sangat merdu dan parasnya yang cantik tentu menggenapi tampilannya yang apik. 

   

Selain itu juga lagunya yang bertemakan Joko Tingkir, yang merupakan jawaban langsung atas lagu yang “melecehkan” Kanjeng Sultan Hadiwijaya karena rendahnya literasi sejarah pencipta lagunya. Syair baru lagu Joko Tingkir dapat menggambarkan akan talentanya untuk meluruskan sejarah yang dikoyak oleh lagu Joko Tinggkir ngombe dawet, dengan mengubah syairnya menjadi: “Joko Tingkir Wali Jowo, Muride Sunan Kalijogo, Wis Masyhur ning Nuswantoro, dadi Wali yo dadi Rojo”. Lagu ini juga didendangkan oleh Group Majelis Azzahir, Alhabib Ali Zainal Abidin Assegaf.  Melalui lagu shalawatan seperti ini sekaligus meneguhkan bahwa harus ada yang melakukan counter atas lagu atau musik yang tidak sesuai pakem Islam. Jadi tidak asal mencipta lagu, dan lalu viral di media social, akan tetapi juga ada etika sosial dan Islamis.

  

Melalui kehadiran Ning Umi Laila di dalam dunia media sosial ini dapat memberikan perspektif baru di kalangan generasi muda Islam, bahwa dakwah bisa juga dilakukan oleh generasi muda yang sesuai dengan para mitra dakwahnya. Dakwah melalui lagu-lagu yang popular di masa lalu ternyata bisa dihadirkan dengan nuansa baru, tidak hanya popularitas tetapi juga bisyarah atau cuan  yang jelas. 

  

Selamat berkarya Ning Umi, kami semua mendukungmu dan semoga muncul talenta-talenta baru yang dapat mengharumkan nama UINSA dalam blantika kontestasi pada Perguruan Tinggi. Tetaplah kaki menginjak bumi di tengah keinginan meraih bintang di langit. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.