(Sumber : Nursyamcentre)

Sang Penunggu

pepeling

Oleh: Jambedaweh

Bagi siapapun yang berkenan mencermati tulisan ini, mohon sudi membacakan surat al-Fatihah untuk tokoh kita, Wak Kariban dan Cak Luth. Untuk keduanya, al-Fatihah.

  

Beberapa saat setelah jamaah surau kami menyelesaikan ritualnya, terdengar pengumuman dari pengeras suara surau kecil tersebut. Isi pengumuman menyampaikan bahwa tetangga kami bernama Cak Luth telah berpulang sowan Penciptanya. Cak Luth merupakan tetangga yang biasa memakmurkan surau kami, terutama saat khataman. Suaranya sumbang melengking, dan ghoyah bacaannya meliuk-liuk berlanggam Jawa, sehingga tiap orang di kampung kami sangat mengenali gaya bacaan tersebut sebagai made in Cak Luth.

  

Tanpa diperintah, apalagi melalui surat resmi layaknya di instansi pemerintahan, satu persatu warga sekitar kediaman Cak Luth berdatangan ke rumah duka dan melakukan apa saja yang dapat mereka kerjakan. Tidak perlu waktu sampai sebatang rokok habis terkonsumsi, rumah Cak Luth telah ramai dengan warga yang bertakziyah.

  

Kaum ibu berdatangan dengan membawa baki atau nampan yang umumnya di kampung kami berisi beras atau sembako seadanya sebagai tanda duka. Orang kampung kami menyebutnya dengan selawatan. Ibu-ibu tersebut langsung memasuki ruang dalam rumah duka dan tampak sesekali di antara mereka berbincang dengan janda Cak Luth yang didampingi putri bungsunya.

  

Di halaman, dengan tangkas kaum pria sibuk menyiapkan alat-alat pemulasaraan jenazah melalui komando dan supervisi Wak Modin desa kami. Putra sulung almarhum tampak menyalami tiap pelayat yang baru tiba dan sesekali menjawab beberapa pertanyaan mereka. Ketegaran yang diperagakannya tak mampu menutupi kedua matanya yang sembab sebagai tanda duka mendalam.

  

Setelah jenazah disucikan, dikafani, dan disholati, tibalah saatnya jenazah diberangkatkan menuju tempat perisitirahatannya menuju liang lahat yang telah dipersiapkan untuknya. Setelah Wak Modin memimpin shalat jenazah, membaca surat Yasin, dan menyelesaikan bacaan tahlil yang disambung doa, serta orasi dukanya, jenazah diberangkatkan dengan iringan bacaan tahlil dengan irama yang khas. Irama khusus pengiring jenazah ke kuburan. Itu menandakan liang lahat telah siap difungsikan. Tak kurang dari dua jam waktu pemulasaraan jenazah Cak Luth. Waktu yang relatif cepat.

  

“Monggo Yai, saya dherek-ke ke makam.” Saya menawarkan boncengan sepeda pada Wak Modin menuju makam, dan beliau menyetujuinya. Jadilah kami tiba lebih awal di makam dan langsung menuju liang lahat yang dibuat untuk Cak Luth. Di makam kampung kami, umumnya galian liang lahat dibuat sampai sedalam satu setengah meter. Kedalaman maksimal, sehingga untuk masuk diperlukan bantuan orang lain, atau media oncatan.

  


Baca Juga : Dibalik "Launching" Nur Syam Centre

“Wak Modin, ada kuburan yang masih utuh jasadnya.” Sekonyong-konyong salah satu penggali makam berbicara yang tampaknya ditujukan pada Wak Modin yang berjalan di depanku. Tanpa menjawab, Wak Modin menghampiri penggali makam tersebut dan berbisik-bisik lirih ke telinganya, lalu keduanya menuju lokasi yang dimaksud. Ternyata penggali makam menunjukkan sisi barat dari galian liang lahat. Memang tampak kain kafan yang masih putih bersih terlihat lamat-lamat di temaram malam dan aroma wangi makin menyengat. Wak Modin lalu berpesan pada penggali makam itu untuk tidak banyak membicarakan kejadian itu.

  

Rasa penasaranku menguat ingin mengetahui siapa jenazah yang masih utuh itu. Batu nisan makam lama juga tak terlihat identitasnya, apalagi ditambah dengan timbunan tanah galian liang sebelahnya. Tapi seiring itu insting nalar modernitasku masih tak percaya sebab belum menyentuh jenazah yang dikabarkan utuh itu. Hanya dengan melihat kafannya, tak menidurkan tuntutan membuktikannya lebih lanjut. Antara lain seperti menyentuh jenazah itu misalnya. Tapi aku tetap diam dan tak berani berinisiatif atas alasan menjaga kesopanan. Sambil mengikuti geliat penasaran itu, rombongan pelayat dan jenazah Cak Luth tiba dan langsung menuju tempat kami berada di sekitar liang lahat baru itu.

  

Tiba-tiba Wak Modin memintaku untuk ikut turun ke liang lahat dan membantu proses persemayaman jenazah. “Ini kesempatan,” gumamku. Beberapa orang membantu menurunkanku dan dua orang keluarga Cak Luth ke liang lahat itu. Kebetulan aku berada tepat pada posisi yang dimaksud penggali ada jenazah yang utuh. “Sebentar, saya periksa dulu, jenazah jangan dulu diturunkan.” Setelah mengucapkan aba-aba itu, aku berjongkok, menjulurkan tangan ke dalam celah lobang tanah, dan meraba-raba bagian yang disebut ada kain kafan jenazah lama yang masih utuh itu. Temaramnya malam membantuku.

  

“Subhanallah.” Terpegang oleh tapak tanganku tubuh yang masih hangat layaknya masih hidup. Kugerakkan tapak tangan ke beberapa bagian tubuh jenazah yang telah lama tersebut, dan memang masih terasa hangat, sampai teriakan pelayat di atas tanah sana membuyarkan penyelidikanku.

  

Sejurus kemudian jenazah Cak Luth dikebumikan dari arah selatan liang lahat. Kepalanya adalah bagian yang mula-mula masuk liang lahat, sampai seluruh tubuhnya bersemayam di dasar liang menghadap kiblat. Layaknya saat bayi lahir di mana umumnya kepala bayi keluar dari gua garba ibundanya, begitulah kepala jenazah saat memasuki liang lahat. Tak berselang lama jenazah sudah disemayamkan, liang ditimbun, nisan dipancangkan, Wak Modin membacakan talqin, memimpin doa, lalu pelayat membubarkan diri. Di perjalanan pulang, Wak Modin membisikiku. “Jenazah yang utuh itu Wak Kariban, bapaknya Cak Luth. Dia sudah meninggal sekitar tahun delapan puluhan.” Aku hanya terdiam seolah-olah merasa “terbaca” oleh Wak Modin.

  

Informasi Wak Modin tersebut tak menyurutkan penasaranku. Justru kabar itu menjadi api yang menyulut minyak rasa penasaranku untuk mengetahui apa kelebihan Wak Kariban sampai Sang Pencipta menjadikan jenazahnya masih utuh, bahkan setelah puluhan tahun bersemayam di dalam tanah. Keesokan harinya saat ikut tahlilan almarhum Cak Luth kumulai penyelidikan dengan bertanya pada beberapa keluarganya. Mulai dari anak, cucu, sampai beberapa keluarga besarnya, tak kutemukan informasi keistimewaan orang jenazahnya utuh ini, selain keterangan bahwa beliau merupakan bapak yang perhatian dengan anak-anaknya.

  

Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Sampai aku merasa harus mengakhiri penyelidikan ini. Sampai suatu ketika Nyai Jah, janda Wak Kariban yang sudah berusia lebih dari 80 tahun terlihat berjalan pelan-pelan menuju surau untuk menunaikan jamaah shalat dluhur seperti biasanya, walau saat itu belum masuk waktu shalat. Sambil bergurau kutanyakan padanya mengapa sampai serajin itu mendatangi jamaah, wong belum masuk waktu. Nanti setelah adzan masih bisa datang ke surau. Situasi panas di siang bolong seperti ini apa tidak lebih baik istirahat dulu di rumah.

  

Nyai Jah menjawab dengan suara rentanya yang nyaring, “aku hanya ingin meniru suamiku Nak. Semasa hidup dia itu senangnya datang ke langar atau masjid sebelum adzan. Saat menunggu biasanya sambil nyapu-nyapu atau bersih-bersihlangar.” Seketika aku terkesiap sambil bergumam dalam hati. “Mungkin ini jawaban mengapa jenazah Wak Kariban masih utuh di kuburannya walau telah puluhan tahun dia meninggal.”

  

Tentu itu bukan jawaban terabsah dari pertanyaan. Juga bukan hipotesis untuk meneliti fakta-fakta selanjutnya tentang korelasi jamaah dengan utuh-hancurnya jenazah. Juga bukan kesimpulan final bahwa kiat dan tips jenazah utuh adalah menunggu shalat jamaah. Bahkan, mungkin tidak perlu mempertanyakan fakta atas hancur atau utuhnya jenazah seseorang, sebab semua kemungkinan ada dalam genggaman kekuasaan Allah swt.

  

Satu hal yang perlu diteladani dari tokoh seperti Wak Kariban dan Nyai Jah adalah kesadaran atas diri mereka sebagai hamba. Bahwa anugerah terbesar bagi seorang hamba yang papa di dunia ini adalah memenuhi panggilan menghadap Tuannya Yang Maha Kaya, yaitu Allah swt.

  

Ibarat pekerja, kehadiran dan kesiapan Wak Kariban maupun Njai Jah melayani bukanlah muncul saat dipanggil majikan, akan tetapi kehadiran dan kesiapan menjalankan titah telah dipersiapkan oleh keduanya sebelum datangnya panggilan pelayanan. Ibarat pedagang, keduanya tidak menunggu kebutuhan pembeli lalu mendatangi keduanya, tapi mereka berdua merupakan pedagang yang tanggap kebutuhan para pembeli dan berinisiatif lebih dulu datang pada mereka. Ibarat orang yang kasmaran, keduanya tidak menunggu kekasih yang didamba menyatakan cintanya, tapi keduanya lebih dulu istiqomah memperagakan komitmen cinta dengan kehadirannya. Ibarat murid, keduanya tidak menunggu sang guru mengajarinya, tapi keduanya terlebih dulu belajar dan menyandarkan pembelajarannya. Ibarat guru, keduanya tidak memaksa murid memahaminya, tapi keduanya terlebih dulu berusaha memahami keberadaan muridnya. Ibarat anak, keduanya tidak berposisi menuntut pengayoman, tapi keduanya lebih memposisikan dirinya siap diayomi. Ibarat orang tua, keduanya tidak menuntut kepatuhan anak, tapi keduanya terlebih dulu meneladankan bagaimana kepatuhan itu sendiri.

  

Kelas spiritual orang seperti Wak Kariban dan Nyai Jah bukan mendatangi atau menghadiri panggilan, tapi menunggu atau menanti. Itulah kelas mereka, Sang Penunggu.