Dakwah Melalui Budaya
Riset AgamaTulisan berjudul “Gendhing Pepeling: Media Dakwah Melalui Budaya Lokal Masyarakat Jawa” merupakan karya Agik Nur Effendi. Tulisan ini terbit di Jurnal Studi Agama-agama dan Lintas Budaya tahun 2019. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui dimensi nilai keagamaan dalam lirik lagu Papeling, karya Ki Anom Suroto. Selain itu, untuk menyampaikan bentuk dakwah dalam Islam yang bernuansa budaya lokal. Penelitian Effendi tersebut merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Artinya, “mengupas” sifat dan makna dari sebuah fenomena yang terjadi. Di dalam resume ini akan dijelaskan secara singkat tulisan Effendi dalam tiga sub bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, tembang Jawa sebagai media dakwah. Ketiga, simbol, bahasa, dan pemaknaan gendhing pepeling.
Pendahuluan
Di dalam penyampaian dakwah, tidak terbatas ruang dan waktu. Sasaran dakwah juga tidak memandang strata sosial, masyarakat desa atau kota, kaya atau miskin. Namun, dakwah menjadi “aspek” yang harus sampai kepada siapa saja dengan baik. Artinya, dalam melakukan dakwah membutuhkan inovasi dan kreatifitas yang dapat digunakan sebagai strategi untuk mencapai tujuan dakwah. Salah satunya adalah Ki Anom Suroto yang memanfaatkan komunikasi antar budaya.
Ki anom Suroto merupakan tokoh penting dalam budaya Jawa. Ia telah menciptakan banyak karya, baik lakon dalam pewayangan maupun lagu. Salah satunya, ia menciptakan lagu yang berjudul Pepeling guna menjadi media dakwah. Lagu tersebut dinyanyikan pada setiap pertunjukan Jawa, seperti Ludruk, Tayub, Campursari, Wayang, dan lain sebagainya. Artinya, pagelaran yang diadakan tidak hanya menjadi pertunjukan, namun juga media tuntunan.
Di dalam praktek budaya dengan komunikasi, maka da’i terlebih dahulu harus menguasai dan menyesuaikan aspek simbol, bahasa, dan pemaknaan di dalamnya. Faktor tersebut membuat setiap dakwah dikemas dalam bentuk budaya dapat berjalan dengan baik dan diterima oleh masyarakat. Budaya lokal dapat mendukung keberhasilan dalam berdakwah, dan dakwah dapat menolong melestarikan budaya lokal.
Tembang Jawa Sebagai Media Dakwah
Masyarakat Jawa memiliki keselarasan antara agama dan budaya. Akulturasi Islam dan masyarakat Jawa tampak pada penggunaan bahasa dan mistimse Islam dan Jawa sebagai bentuk kebijaksanaan. Falsafah Jawa yang mengutamakan keluhuran budi dan kehalusan berbahasa yang dikemas dalam berbagai kegiatan bukan berarti berbentukan dengan ajaran agama Islam. Namun, menjadi bagian dari hierarki beragama. Begitu juga dengan sebuah tembang atau gendhing. Salah satu tembang yang masih sering dilantunkan diberbagai kegiatan budaya masyarakat Jawa adalah Gendhing Pepeling.
Secara lirik lagu, gendhing pepeling memiliki lirik yang sederhana. Namun, mengandung makna yang mendalam. Gendhing tersebut mengajarkan kepada umat Islam untuk melaksanakan perintah agama dengan sepenuh hati dan istiqomah. Di dalam bahasa Jawa, pepeling berarti mengingat. Artinya, senantiasa mengingat Allah yang telah menciptakan kehidupan beserta isinya.
Baca Juga : Pesan Anwar Zahid Untuk Menyongsong Tahun 2022
Perintah sholat lima waktu bermaksud melatih diri untuk menjadi pribadi yang disiplin. Sebab, menjadi pribadi yang disiplin akan mengantarkan seseorang menjadi orang sukses. Penerapan disiplin dalam kehidupan akan menjadikan manusia berhasil dan dapat mengantarkan sebagai bangsa yang maju. Tentu saja disiplin meliputi waktu, ilmu, dan dalam segala hal.
Secara garis besar, gendhing pepeling mengajarkan kepada masyarakat bahwa bila adzan sudah berkumandang, maka hendak dengan bersegera untuk menjalankan perintah Allah SWT berupa sholat fardhu. Sholat tepat waktu akan mengantarkan manusia menjadi orang yang diridhoi dan diberkahi. Selain itu, pepeling juga digunakan sebagai penambah motivasi guna menumbuhkan manusia yang memiliki ketakwaan dan kemuliaan di hadapan Allah SWT.
Simbol, Bahasa dan Pemaknaan dalam Gendhing Pepeling
Di dalam gendhing pepeling, mayoritas isi setiap liriknya mengajak untuk melaksanakan perintah agama berupa sholat wajib. Lirik pertama bait kedua terdapat kalimat “Sholat dadi cagaking agomo”, artinya sholat menjadi tiang agama. Pada lirik tersebut terdapat simbol yang membuat perintah sholat memiliki kedudukan khusus yang tidak sama dengan ibadah lainnya. Diibaratkan dengan bangunan yang memiliki pondasi berupa syahadat, sholat lima waktu menjadi representasi tiang penyangga. Apabila orang Islam senantiasa melaksanakan sholat lima waktu, maka dalam dirinya memiliki kekokohan dalam bergama. Namun, apabila orang Islam merasa malas melaksanakan sholat lima waktu, maka sama saja dengan melemahkan Islam dengan merobohkan tiang penyangganya.
Gendhing pepeling menggunakan bahasa yang beragam, yakni bahasa Jawa dan bahasa Arab. Kata bahasa Arab pada lirik menggunakan kata adzan, sholat, istiqomah, tumakninah, jamaah, Subuh, Luhur, Ashar, Maghirb, Isya’, dan tawakal. Selebihnya, menggunakan bahasa Jawa. Pada gendhing pepeling Ki Anom Suroto tidak terkesan membawa agama Islam dalam unsur ke arab-araban. Namun, lebih memberikan citra kearifan lokal masyarakat Jawa. Hal ini direpresentasikan dalam penggunaan bahasa jawa dalam karyanya.
Kesimpulan
Pada dasarnya, penyampaian dakwah keagamaan tidak hanya dilakukan dngan berdiri di mimbar keagamaan saja. Namun, dapat dilakukan dengan berbagai media. Salah satunya dengan menggunakan lagu. Jika dalam sejarah di daratan Arab ada Jalaluddin Rumi dengan syair, di Jawa ada Walisongo, salah satunya adalah Sunan Kalijaga yang menyampaikan dakwah Islam dengan kebudayaan dan kepercayaan masyarakat lokal melalui media upacara, tradisi, lagu, wayang dan sebagainya. Di era saat ini, penyampaian dakwah dengan lagu masif digunakan. Salah satu lagu tradisional dengan muatan masyarakat Jawa dalam hal dakwah adalah gendhing pepeling karya Ki Anom Suroto.

