(Sumber : Nur Syam Centre)

Implementasi Takwa: Dua Contoh Amal Saleh

Daras Akhlak

Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak membaca surah al-Fatihah, kita hadiahkan untuk penulis kitab Taisir al-Khalaq yang sedang kita kaji bersama. Untuk, al-Syekh Hafidz Hasan al-Mas‘udi, al-Fatihah.

  

Pada kesempatan sebelumnya, al-Syekh Hafidz menjelaskan bahwa seseorang yang senantiasa mengingat kematian dan menyadari “di depannya” hanya ada dua pilihan, “Surga atau neraka?”, secara otomatis akan terdorong untuk melakukan amal-amal kebajikan, sesuai dengan kemampuannya. Nah, kali ini, beliau menguraikan dua contoh amal saleh yang patut dilakukan. Beliau menuliskan:

  

Di antara amal-amal saleh adalah membantu kaum muslimin dan melihat mereka dengan pandangan kasih sayang. Khususnya, bila mereka lebih dahulu berbuat baik kepadanya.

  

Sekarang, mari mengkaji masing-masing 2 amal saleh yang beliau sebutkan tersebut.

  

Membantu Kaum Muslimin

  

Ada banyak hadis yang menjelaskan pentingnya hal ini. Di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berikut ini. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

  

Seorang muslim sebagai saudara kepada sesama muslim, tidak boleh menganiaya atau membiarkan dianiaya. Dan siapa yang sedang menyampaikan hajat saudaranya, maka Allah akan melaksanakan hajatnya. Dan siapa yang membebaskan kesukaran seorang muslim, Allah akan membebaskan kesusahannya di Hari Kiamat. Dan siapa yang menutupi kejelekan seorang muslim, Allah akan menutupi kejelekannya di Hari Kiamat. (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

  

Tentu dalam tataran implementasinya, bentuk bantuan yang kita berikan kepada sesama muslim itu beragam. Karena makna “kesukaran” atau “kesusahan” (kurbat) yang terdapat dalam hadis di atas adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa dan menyusahkan hati, atau membuat hati menjadi prihatin, sehingga orang yang mengalaminya seakan-akan kesulitan bernafas. Oleh karenanya, kesusahan itu tidak melulu perkara keuangan atau finansial. Bisa juga kesulitan dan kesusahan dalam memahami materi pelajaran; mengerjakan tugas sekolah, kuliah, kantor; mendidik anak atau murid; memecahkan atau mencari jalan keluar atas problem yang terjadi antar saudara; dan lain sebagainya. Bahkan, konflik persoalan jodoh atau konflik asmara bisa jadi termasuk di dalamnya.


Baca Juga : Program Pembelajaran Kampus Hijau Berbasis Tauhid: Bangunan Karakter Insan Kamil

  

Selanjutnya, di sisi lain, pemberian bantuan kepada sesama muslim itu mengambil dua bentuk implementasi. Pertama, mengulurkannya secara langsung dengan perbuatan. Artinya, kita sendiri yang turun tangan dalam pemberian bantuan tersebut. Semisal, saudara muslim yang kesusahan membayar biaya pendidikan, kemudian kita bantu secara langsung dengan membiayainya secara cuma-cuma atau memberinya pinjaman. Kedua, menjadi sebab atau perantara atas terselesainya suatu permasalahan. Sebagai contoh, kita mencarikan biaya pendidikan orang tersebut dengan cara meminjam uang dari orang-orang berkecukupan yang kita kenal, atau pun dari bank. Nah, baik yang pertama maupun yang kedua, sama-sama mendapatkan fadhilah/keutamaan memberikan bantuan kepada sesama muslim, sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Syekh Muhammad bin ‘Allan.

  

Jika ditanya, “Mengapa kita perlu semaksimal mungkin memberikan bantuan itu?” Maka, jawabannya adalah karena satu muslim dengan muslim yang lain itu ibarat satu bangunan yang kokoh, yang saling menguatkan antara satu bagian dengan bagian yang lain. Bila ada satu saja yang rusak, tentu semegah apapun bangunan itu akan terlihat cacat, kurang sempurna. Hal ini, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  

Seorang mukmin bagi sesama mukmin, bagaikan bangunan yang kuat-menguatkan, sebagian pada sebagian yang lain. (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

  

Bahkan, dari hadis di atas, al-Syekh al-Munawi memahami bahwa bersosial-masyarakat itu lebih utama daripada menyendiri/mengasingkan diri sendiri, dan menyambung (hubungan dengan sesama muslim) itu lebih terpuji daripada memutusnya. Karena bagaimana pun indahnya suatu bangunan, tidak akan bisa dimanfaatkan dan diberdayakan bila satu bagian dengan bagian yang lain terputus. Sebaliknya, bila saling sambung-menyambung dan kuat-menguatkan, akan bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Contoh sederhanya, sesuap nasi. Bayangkan, butuh waktu berapa bulan bila untuk sesuap nasi saja kita harus menanam padi sendiri, merawatnya setiap hari, dan saat panen tiba, menuai dan memprosesnya menjadi beras, hingga menanaknya sendiri? Belum lagi membuat dan menciptakan segala alat yang diperlukan untuk semua itu? Maka, tidak heran bila ada yang berkata, “Manusia itu secara karakterk/naluri adalah makhluk sosial. Dalam kehidupannya, ia tidak mungkin mengasingkan diri dari masyarakat. Sebaliknya, satu dengan yang lain pasti akan saling membutuhkan untuk mencapai kesejahteraan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.”

  

Pandangan Kasih Sayang

  

Sebagaimana sebelumnya, pentingnya memandang kaum muslimin dengan pandangan kasih sayang ini pun dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkali-kali di dalam hadisnya. Di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat al-Nu‘man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma berikut ini:

  

Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta kasih dan rahmat hari mereka bagaikan satu badan. Apabila satu anggota menderita, maka menjalarlah penderitaan itu ke seluruh badan hingga tidak dapat tidur dan panas. (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

  


Baca Juga : TikTok Sebagai Guru Agama Virtual untuk Kaum Milenial

Bahkan, memandang dan berlaku kasih sayang kepada orang lain ini, tidak hanya berlaku kepada muslim, tapi juga non muslim. Hal ini dikarenakan, dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan redaksi “al-naas” atau “man” (manusia atau benda secara umum), atau :

  

Siapa yang tidak mengasihi/menyayangi sesama manusia (al-naas), niscaya Allah tidak mengasihi/menyayanginya. (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

  

Orang-orang yang berbelas kasih sayang akan disayang oleh Dzat Yang Maha Penyayang. Kasih sayangilah penduduk bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangimu. (H.R. al-Tirmidzi)

  

Tentu, perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memandang, memperlakukan dan menebar kasih sayang ini telah didahului oleh teladan yang beliau tunjukkan sehari-hari, baik dalam sifat, ucapan, maupun tingkah laku atau perbuatan. Karena sejak awal, beliau diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.

  

Dan tidaklah Kamu mengutusmu (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) melainkan (sebagai) rahmat bagi seluruh alam. (surah al-Anbiya’ [21]: 107)

  

Beliaulah rahmat bagi orang-orang mukmin, dengan memberi petunjuk kepada mereka menuju kebahagiaan dunia dan akhirat; bersungguh-sungguh memerhatikan segala hal yang patut bagi urusan agama dan dunia mereka; dan memperingatkan segala hal yang bisa merusak perkara dunia dan akhirat mereka. Beliaulah rahmat bagi orang-orang munafik, dengan menjamin keamanan atas mereka dari pembunuhan dan penyekapan, karena melihat keislaman mereka secara lahir di dunia. Beliaulah rahmat bagi orang-orang kafir, dengan mengangkat azab yang disegerakan untuk mereka di dunia. Tidak seperti umat-umat terdahulu, yang setiap kali mendustakan rasul yang diutus kepada mereka, pasti akan ditimpa azab, sebagaimana yang terjadi pada kaumnya Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih dan Nabi Luth ‘alaihimus salam. Memang, ada “azab khusus” yang disegerakan bagi sebagian mereka, tetapi secara umum, Allah SWT tidak mengazab orang-orang kafirnya umat Islam ini dengan azab yang segera dan membumihanguskan seluruhnya, sebagaimana orang-orang kafirnya umat terdahulu.

  

Tidak hanya itu, beliau pun juga rahmat bagi seluruh golongan manusia, baik dewasa maupun kanak-kanak, lelaki maupun perempuan. Bahkan, juga rahmat bagi burung-burung dan berbagai macam hewan yang lainnya. Singkatnya, beliaulah rahmat bagi seluruh ciptaan makhluk Allah SWT. Demikian kurang lebih penjelasan al-Syekh ‘Abdullah Sirajuddin al-Husaini.

  

Nah, sebagai umatnya, tentu kita berkewajiban untuk meneladani beliau. Bukan hanya memandang dengan pandangan kasih sayang, tapi juga menebar kasih sayang kepada semua makhluk. Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan hidayah, inayah dan taufik-Nya kepada kita semua, sehingga mampu meneladani dengan baik kekasih-Nya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam al-Mushthafa. Allaahumma aamiin.


Baca Juga : Minyak Goreng Langka Hadirkan Kebijakan yang Antisipatif

  

Referensi:

  

Abi Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, Riyadh al-Shalihin min Kalam Sayyid al-Mursalin (Beirut: Dar Ibn Katsir, 2007), 95-96, 100.

  

Salim Bahreisy, Tarjamah Riyadhus Shalihin (Bandung: Alma‘arif, 1986), Vol. 1, 234-235, 245.

  

Muhammad bin ‘Allan al-Shiddiqi al-Syafi‘i, Kitab Dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh al-Shalihin (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, t.t.), Vol. 3, 42-43.

  

‘Abdur Ra’uf al-Munawi, Faydh al-Qadir: Syarh al-Jami‘ al-Shaghir (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1972), Vol. 6, 252.

  

Abi ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah al-Tirmidzi, Jami‘ al-Tirmidzi (Riyadh: Bayt al-Afkar al-Dauliyyah, t.t.), 324.

  

al-Syekh ‘Abdullah Sirajuddin al-Husaini, Sayyiduna Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Aleppo: Maktabah Dar al-Falah, t.t.), 278-281.