Lembaga Keagamaan dan SDG’s
Riset AgamaArtikel berjudul “Religious Institutions as Global Sustainability Champions: Istiqlal Mosque’s Green Mosque Program and the Sustainable Development Goals” merupakan karya Nadia Farabi dan Anjani Tri Fatharini. Tulisan terbut terbit di Studia Islamika tahun 2025. Studi tersebut membahas tentang Masjid Istiqlal di Jakarta yang menjadi contoh bagaimana sebuah institusi keagamaan dapat berperan aktif dalam agenda keberlanjutan global. Pada tahun 2022, Istiqlal menjadi masjid pertama di dunia yang menerima sertifikasi EDGE Green Building, sebagai pengakuan atas upayanya dalam menerapkan prinsip-prinsip bangunan hijau. Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa Masjid Istiqlal menonjol sebagai pemimpin dalam inisiatif lingkungan Islam, baik di Indonesia maupun secara global.
Penulis mengulas bagaimana masjid ini mengintegrasikan tanggung jawab lingkungan dalam praktik keagamaan dan operasionalnya, dengan fokus pada pengelolaan sumber daya, pendidikan lingkungan, dan keterlibatan komunitas. Istiqlal telah berhasil mengadopsi teknologi ramah lingkungan seperti panel surya dan sistem pengelolaan air yang efisien. Inisiatif ini berkontribusi pada pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam hal efisiensi energi, pengelolaan air bersih, dan pengurangan emisi karbon. Terdapat empat sub bab dalam review ini. Pertama, Masjid Istiqlal dan kontribusinya pada tujuan pembangunan berkelanjutan. Kedua, integrasi etika lingkungan Islam dalam pengelolaan masjid. Ketiga, masjid sebagai wadah advokasi lingkungan. Keempat, tantangan dan peluang kedepan.
Masjid Istiqlal dan Kontribusinya pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Masjid Istiqlal menjadi sorotan dalam penelitian tersebut karena tidak hanya memiliki peningkatan teknis dalam hal efisiensi energi dan air, tetapi juga berperan dalam menyebarkan nilai-nilai keberlanjutan berdasarkan prinsip-prinsip etika Islam. Penulis menyoroti bagaimana masjid ini berkontribusi pada beberapa SDGs seperti air bersih dan sanitasi (SDG 6), energi bersih dan terjangkau (SDG 7), kota yang berkelanjutan (SDG 11), konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG 12), serta aksi terhadap perubahan iklim (SDG 13). Kontribusi ini bukan hanya dalam bentuk renovasi bangunan, melainkan juga melalui program pengelolaan sumber daya, pendidikan lingkungan, dan keterlibatan publik yang didasarkan pada nilai-nilai Islam, seperti prinsip kepengurusan (stewardship), keseimbangan (mīzān), dan pencegahan kemudaratan (fasād). Dengan pendekatan ini, Istiqlal berhasil menunjukkan bahwa institusi keagamaan dapat terlibat dalam perubahan sosial yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
Integrasi Etika Lingkungan Islam dalam Pengelolaan Masjid
Sebagai lembaga agama, Istiqlal mengadopsi prinsip-prinsip etika lingkungan Islam dalam setiap praktiknya. Etika lingkungan dalam Islam, yang bersumber dari ajaran Al-Qur\'an dan Hadis, menekankan bahwa manusia bertanggung jawab sebagai khalīfah (pemimpin atau penjaga) di bumi untuk menjaga keseimbangan alam dan menghindari kerusakan yang dapat merugikan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Artikel tersebut menjelaskan bagaimana masjid ini mengintegrasikan prinsip-prinsip tersebut ke dalam tata kelola institusional dan praktik agama sehari-hari, baik dalam hal penggunaan energi terbarukan, efisiensi penggunaan air, serta pengelolaan sampah. Istiqlal tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai lembaga yang menyebarkan nilai-nilai keberlanjutan kepada masyarakat luas. Selain itu, masjid ini aktif menyampaikan pesan-pesan tentang pelestarian lingkungan melalui khutbah Jumat dan program-program edukasi yang berbasis pada ajaran Islam.
Masjid Sebagai Wadah Advokasi Lingkungan
Artikel tersebut juga menyoroti bagaimana Istiqlal memainkan peran penting dalam advokasi lingkungan melalui da’wah (pengajaran agama) dan kampanye publik. Melalui khutbah Jumat, masjid ini sering mengangkat tema-tema seperti \"Pentingnya Pelestarian Lingkungan,\" yang menekankan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari kewajiban spiritual umat Muslim. Selain itu, Istiqlal juga mengadakan program-program edukasi tentang perlindungan lingkungan dan gaya hidup hijau yang berakar pada ajaran Islam. Istiqlal juga telah meluncurkan aplikasi Haji Hijau yang memberikan panduan kepada jamaah haji dan umrah tentang bagaimana mengurangi dampak lingkungan selama ibadah mereka. Aplikasi ini mencakup tips tentang penghematan air, penggunaan energi yang efisien, dan pengurangan sampah, yang sejalan dengan ajaran Islam tentang menjaga kebersihan dan keberlanjutan.
Tantangan dan Peluang Kedepan
Meskipun Istiqlal telah membuat kemajuan yang signifikan, artikel tersebut juga mencatat tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan lingkungan di masjid. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya pemahaman dan keterlibatan masyarakat terhadap kebijakan dan inisiatif yang diterapkan. Meskipun masjid ini telah mengadopsi teknologi canggih dan prinsip keberlanjutan dalam operasionalnya, belum banyak masyarakat yang menyadari sepenuhnya pentingnya keberlanjutan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Penting bagi Istiqlal untuk meningkatkan upaya sosialisasi dan pendidikan publik agar masyarakat lebih memahami dan terlibat dalam program-program lingkungan yang dijalankan. Koordinasi yang lebih baik antara masjid, pemerintah, dan masyarakat juga diperlukan agar kebijakan ini dapat diterapkan secara luas di seluruh Indonesia.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Masjid Istiqlal telah berhasil memadukan prinsip-prinsip Islam dengan tujuan keberlanjutan global, menjadikannya contoh yang patut ditiru oleh masjid dan institusi keagamaan lainnya. Melalui penerapan prinsip kepengurusan lingkungan dan program-program keberlanjutan yang berbasis pada etika Islam, Istiqlal tidak hanya berperan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pemimpin dalam perubahan sosial dan lingkungan. Inisiatif ini membuktikan bahwa masjid dapat menjadi kekuatan penting dalam menghadapi tantangan lingkungan global, sekaligus memberikan contoh bagaimana nilai-nilai agama dapat berkontribusi dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Namun, untuk mencapai hasil yang lebih maksimal, diperlukan lebih banyak usaha untuk memperluas pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam program-program keberlanjutan ini.

