Pendidikan Islam Masa Depan: Pengaruh Humanoid Pada Pendidikan Islam
OpiniBreakfast Meeting oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Menag, yang diikuti oleh hampir 1000 orang dari pejabat pusat sampai daerah menghasilkan rekomendasi yang menarik untuk diperbincangkan terutama terkait dengan Pendidikan Islam. Bisa dipahami sebab pendidikan adalah salah satu instrument terbaik dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di semua negara.
Di antara yang menarik didiskusikan adalah mengenai bagaimana Pendidikan Islam di masa depan, khususnya Pendidikan Tinggi Islam di tengah terus berkembangnya dengan cepat Artificial Intelligent (AI), yang tidak hanya memasuki dunia bisnis dan perkantoran tetapi juga pendidikan. Pengaruh AI sedemikian powerfull. Jika di tahun terakhir pengaruhnya lebih banyak menyasar pada dunia bisnis dan mulai memasuki dunia perkantoran, maka dalam beberapa tahun ke depan akan sangat besar pengaruhnya bagi dunia pendidikan. Ada tiga hal yang saya jelaskan di dalam artikel ini, yaitu:
Pertama, perkembangan industri robot atau humanoid revolution program telah menghiasi dunia dewasa ini. Jika mengambil contoh yang paling kongkrit adalah China. Di sini perkembangan jumlah robot untuk dunia industri sangatlah spektakuler. Perkembangan experiment humanoid telah menjadi problem yang sangat dahsyat, sebab perkembangan teknologi humanoid akan dapat mengoyak kehidupan manusia, khususnya tenaga kerja. Revolusi humanoid memang berhasil menjadikan dunia industri makin efektif dan efisien, produk yang dihasilkan juga sangat massive melebihi kemampuan produksi yang bisa dihasilkan oleh tenaga kerja manusia, akan tetapi akan menyebabkan terjadinya pengangguran massal karena banyak jenis pekerjaan yang bisa digantikan dan bukan sekedar digeser oleh robot-robot pintar.
Bisa dibayangkan bahwa produk yang dihasilkan oleh revolusi industri bisa sangat luar biasa. Kemampuan robot tentu berbeda dengan manusia. Robot bisa bekerja berjam-jam tanpa istirahat, bisa bekerja nonstop selama 24 jam tanpa jeda, sehingga menghasilkan produksi yang massal. Berbeda dengan manusia yang memiliki kemampuan terbatas. Harus istirahat. Dalam delapan jam, manusia harus istirahat. Tidur. Makanya produknya tentu tidak sebanyak yang dihasilkan oleh robot. Padahal ada efisiensi upah, dan jumlah tenaga kerja.
Akan tetapi akan menghasilkan paradoks, yaitu produk melimpah tetapi pembelian atas produk industri akan berkurang. Melalui kehadiran robot pekerja, maka akan terjadi pengurangan tenaga kerja dan konsekuensinya adalah menurunnya daya beli masyarakat atas produk-produk industri. Inilah paradoks terbesar yang dihadapi oleh dunia industri, manusia dan robot yang diciptakannya sendiri.
Dalam catatan Gilarsi WS, 20/01/2026, China telah memasang 295.000 robot industri baru sepanjang 2024, menjadikan total robot aktif di negara itu mencapai 2,027 juta unit—jumlah tertinggi di dunia. Namun yang lebih mencengangkan adalah produksi robot humanoid: AgiBot Shanghai mengirimkan lebih dari 5.100 unit pada 2025, menguasai 39 persen pangsa pasar global. UBTECH mengirimkan ratuan unit Walker S2 ke pabrik-pabrik FAW-Volkswagen, BYD, Geely, dan Foxconn untuk tugas perakitan otomotif dan elektronik. Ini bukan lagi pilot terbatas—ini adalah produksi massal pertama di dunia untuk robot humanoid industri.
Kedua, pengaruh Humanoid project tidak hanya terbatas pada dunia industri, akan tetapi juga pada dunia perkantoran atau white collars. Sebuah contoh kecil, di dalam rapat pimpinan, maka dapat dilibatkan robot cerdas yang dapat dengan cepat menjadi notulen. Semua pembicaraan dapat terekam tanpa ada yang tertinggal. Semua yang dibicarakan dapat diubah menjadi catatan rinci, dan kemudian dapat diminta untuk menyimpulkan dengan tepat apa yang menjadi kesimpulan rapat, dan bahkan langkah-langkah pemecahan jika yang diminta adalah problem solving atas masalah yang dihadapi oleh dunia perkantoran. Ini contoh sederhana. Artinya, pimpinan kantor tidak perlu rumit untuk menyipkan notulensi rapat dan harus menyimpulkan dan menemukan solusi yang perlu diambil.
Dalam nada getir, Gilarsi WS (20/01/2026) menyatakan: “Jika Anda berpikir bahwa gelar sarjana dan pekerjaan kantor akan melindungi Anda, pikirkan lagi. AGI (Artificial General Intelligence) yang sedang berkembang tidak hanya mengancam tangan-tangan kasar di pabrik, tetapi juga pikiran-pikiran terlatih di ruang rapat. Analisis Microsoft pada akhir 2025 mengidentifikasi 5 juta posisi white-collar Amerika—analis manajemen, representatif layanan pelanggan, insinyur penjualan—yang menghadapi kepunahan.”
Baca Juga : Hadapi Covid-19 Dengan Spiritualitas
Ketiga, dunia pendidikan juga akan mengalami kesulitan yang luar biasa di masa depan. Jika selama ini pendidikan merupakan instrument pengembangan SDM yang unggul untuk menghasilkan para professional di dalam pekerjaan yang manual, maka ke depan perlu dicatat tentang dunia pekerjaan ke depan yang sungguh mengkhawatirkan. Jika tantangan generasi milenial ketiga, dengan kemampuan berpikir kreatif dan inovasi, berpikir kritis dan problem solving, kemampuan komunikasi dan kolaboratif, maka para sarjana yang dihasilkan oleh institusi pendidikan tinggi menjadi sia-sia. Ada banyak ahli yang dihasilkan oleh pendidikan tinggi akan tetapi mereka harus berhadapan dengan karyawan baru, robot pekerja dengan varian keahlian yang selama ini menjadi pekerjaan manusia.
Apakah manusia akan benar-benar tergusur dari dunianya? Saya kira tidak. Manusia dengan kecerdasannya akan berhasil keluar dari kemelut masa depan tersebut dengan Langkah-langkah yang cerdas. Revolusi industry 1.0 hingga 3.0 justru menghasilkan banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh manusia, sedangkan revolusi Industri 4.0 dan 5.0 justru akan menihilkan pekerjaan untuk manusia. Namun demikan melalui kecerdasannya itu manusia akan berhasil keluar sebagai pemenang. Diibaratkan ada sebuah dialektika dari humanoid-dehumanoid-rehumanoid. Di kala produk industri berlebih sementara itu daya beli masyarakat sangat terbatas, maka di saat itu akan terdapat koreksi mendasar. Pilihannya dipastikan akan kembali menempatkan manusia dalam tempat yang benar sesuai harkat dan martabat manusia.
Katakan bahwa pekerjaan banyak dihasilkan oleh robot-robot, akan tetapi kemudian terjadilah dehumanisasi dan nihilisasi pekerja lalu akan menyebabkan terjadi chaos karena banyak manusia yang melawannya, maka kemudian akan terjadi upaya untuk melakukan rehumanoid. Menyeleksi ulang mana pekerjaan yang bisa dilakukan oleh robot dan mana pekerjaan yang bisa dilakukan oleh manusia.
Namun demikian, bagi pimpinan PTKI dan para pengambil kebijakan tetap harus memperhitungkan variable program humanoid yang melanda dunia, sebab pengaruhnya tentu akan dapat dirasakan oleh generasi Z atau genzi yang menjadi sasaran program pendidikan. PTKI harus menyiapkan pendidikan yang berbasis pada penyiapan tenaga terdidik yang memiliki kemampuan professional dalam hard skilled-nya sambil menyiapkan soft skilled yang mendukung keahliannya dalam program-program digital.
PTKI itu menyiapkan ahli yang berkemampuan plus. Ahli dalam bidangnya dan juga ahli dalam ilmu keagamaan. Keduanya dapat diintegrasikan dalam pengembangan kurikulum yang momot dengan keahlian plus. Program integrasi ilmu saya kira dapat menjadi solusi untuk mencetak ahli yang mampu bersaing dalam kehidupan duniawi tetapi juga dapat menyeimbangkan dengan dunia spiritualitas yang adiluhung.
Peran tenaga pendidik, dosen guru, ustadz dan ahli keagamaan tetap dibutuhkan di tengah melubernya sumber belajar. Robot bisa menjadi pengganti tenaga pendidik, akan tetapi tidak mampu mentransformasikan etika dan spiritualitas. Pengetahuan etika dan pengetahuan spiritual bisa digantikan tetapi pengalaman personal tidak mampu ditransformasikannya.
Inilah yang menjadi kelebihan PTKI dalam kancah kontestasi dengan dunia humanoid yang terstruktur. Hal yang penting, PTKI harus tetap berada di dalam jalurnya, mengembangkan pendidikan yang memiliki basis kepentingan masyarakat di tengah dunia digital dengan tetap merawat spiritualitas yang menjadi ciri khasnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

