Polyworking, Strategi Gen Z Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi
InformasiEva Putriya Hasanah
Bagi generasi muda hari ini, bekerja tidak lagi selalu berarti datang ke satu kantor, menjalankan satu peran, dan menerima satu sumber gaji. Di tengah meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi, semakin banyak pekerja—terutama dari kalangan Gen Z—memilih jalan polyworking, yakni menjalani lebih dari satu pekerjaan secara bersamaan sebagai strategi bertahan hidup.
Polyworking berbeda dari sekadar pekerjaan sampingan. Dalam praktiknya, seseorang bisa memiliki dua, tiga, bahkan lebih pekerjaan yang sama-sama menuntut komitmen waktu dan tanggung jawab serius. Fenomena ini bukan lagi kasus individual, melainkan mulai membentuk pola global.
Hal ini tercermin dalam Survei Tenaga Kerja Global 2025 yang dilakukan oleh ADP Research. Survei tersebut menunjukkan bahwa 18 persen pekerja di dunia memiliki dua pekerjaan sekaligus, sementara 5 persen lainnya menjalani tiga pekerjaan atau lebih. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa polyworking tengah bergerak dari solusi darurat menjadi tren struktural dalam dunia kerja modern.
Selain data global, tren polyworking juga tercermin dari berbagai survei di sejumlah negara. Di Kanada, misalnya, sekitar 36 persen Gen Z tercatat memiliki pekerjaan sampingan, sementara sekitar 45 persen lainnya mengaku sedang mempertimbangkan untuk mengambil pekerjaan tambahan. Angka ini menunjukkan bahwa memiliki lebih dari satu sumber penghasilan mulai dipandang sebagai kebutuhan, bukan lagi pengecualian. Bahkan, dalam survei yang sama, lebih dari 70 persen responden menyatakan alasan utama mereka bekerja lebih dari satu pekerjaan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, bukan semata-mata mengejar minat atau passion pribadi. Temuan ini menegaskan bahwa polyworking lahir dari tekanan ekonomi yang nyata, bukan sekadar gaya hidup atau tren karier semata.
Dorongan Ekonomi sebagai Pemicu Utama
Alasan paling dominan di balik keputusan polyworking adalah persoalan ekonomi. Upah dari satu pekerjaan sering kali tidak lagi cukup untuk menutup kebutuhan dasar, terutama di wilayah dengan biaya hidup tinggi. Kebutuhan seperti sewa tempat tinggal, transportasi, makanan, dan layanan kesehatan terus meningkat, sementara kenaikan gaji tidak selalu sejalan.
Baca Juga : Seruan Agama Harus Peka Hukum Sosial
Menurut data ADP Research, alasan utama pekerja melakukan polyworking adalah:
1. Menanggung biaya kebutuhan dasar, seperti tempat tinggal dan kebutuhan harian.
2. Menabung untuk pengeluaran tambahan, termasuk pendidikan, kesehatan, atau kebutuhan keluarga.
3. Mempersiapkan dana pensiun, karena banyak pekerja muda tidak lagi sepenuhnya percaya pada jaminan pensiun dari satu perusahaan atau satu pekerjaan saja.
Dengan memiliki beberapa sumber penghasilan, pekerja merasa lebih aman secara finansial dan tidak terlalu bergantung pada satu pemberi kerja.
Perubahan Cara Pandang terhadap Karier
Polyworking juga menandai perubahan cara generasi muda memandang karier. Jika generasi sebelumnya cenderung mengejar stabilitas jangka panjang di satu perusahaan, Gen Z justru lebih pragmatis dan fleksibel. Mereka terbiasa berpindah peran, menggabungkan pekerjaan formal dengan pekerjaan lepas, atau menyeimbangkan kerja kreatif dengan pekerjaan berbasis layanan.
Teknologi berperan besar dalam mendukung pola ini. Pekerjaan jarak jauh, platform digital, serta sistem kerja berbasis proyek membuat seseorang bisa mengelola beberapa peran dalam waktu yang relatif bersamaan. Bagi sebagian orang, polyworking bahkan dianggap sebagai cara untuk mengembangkan keterampilan lintas bidang sekaligus memperluas jaringan profesional.
Tantangan di Balik Banyaknya Peran
Baca Juga : Haji Furoda: Problem Regulasi dan Realitas Sosial
Meski menawarkan keuntungan finansial, polyworking bukan tanpa risiko. Menjalani banyak pekerjaan berarti membagi energi, fokus, dan waktu ke berbagai arah. Tanpa manajemen yang baik, kelelahan fisik dan mental menjadi ancaman nyata.
Banyak pekerja polyworking menghadapi jam kerja panjang, waktu istirahat yang minim, serta berkurangnya waktu untuk kehidupan sosial. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko burnout dan menurunkan kualitas kesehatan mental.
Selain itu, tidak semua sistem ketenagakerjaan dirancang untuk pekerja dengan banyak peran. Perlindungan sosial, asuransi, dan jaminan kerja sering kali masih berbasis pada satu pekerjaan utama, sehingga pekerja polyworking berada di area abu-abu perlindungan hukum dan kesejahteraan.
Menuju Pola Kerja Baru
Meningkatnya jumlah pekerja dengan dua atau lebih pekerjaan menunjukkan bahwa polyworking bukan sekadar tren sesaat. Ia mencerminkan respons rasional terhadap realitas ekonomi global yang semakin menantang. Selama biaya hidup terus naik dan ketidakpastian kerja masih menjadi bagian dari sistem, polyworking kemungkinan akan terus berkembang.
Bagi dunia kerja, fenomena ini menjadi pengingat bahwa definisi “pekerjaan normal” sedang berubah. Bagi para pekerja, polyworking adalah bentuk adaptasi—cara untuk tetap bertahan, merencanakan masa depan, dan menjaga kendali atas kondisi finansial mereka di tengah dunia yang kian tidak pasti.

