Manipulasi Informasi dan Gerakan Terorisme
Riset AgamaArtikel berjudul “Peran Manipulasi Informasi Terhadap Keikutsertaan Perempuan dalam Gerakan Terorisme” merupakan karya Teddy Indra Wijaya. Tulisan ini terbit di Journal of Terrorism Studies. Tujuan dari penelitian tersebut adalah mengkaji peningkatan fenomena keterlibatan perempuan dalam ISIS maupun kelompok teroris lain yang berkaitan dengan penggunaan manipulasi infoemasi maupun propaganda oleh kelompok teroris. Faktanya, terdapat peningkatan keterlibatan perempuan dalam dunia terorisme. Hal ini adalah oksimoron karena perempuan biasanya tidak memiliki peran besar pada manifesto kelompok teroris. Teori yang digunakan sebagai pisau analisis adalah agenda setting, framing dan propaganda yang dilakukan kelompok teroris guna menjelaskan penggunaan manipulasi informasi yang membentuk persepsi dan memperkuat motivasi perempuan untuk terlibat dalam kelompok teroris. Terdapat tiga sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, agenda setting, framing, dan propaganda. Ketiga, partisipasi perempuan dalam terorisme: propaganda manipulasi informasi?
Pendahuluan
Partisipasi perempuan dan anak dalam gerakan ekstremis bahkan teroris semakin meningkat baik pada level nasional maupun global. Misalnya pada kelompok teroris sayap kiri, perempuan berpotensi memegang peranan operasional. Selain itu, pada kelompok teroris sayap kanan, peran operasional perempuan condong terbatas. Pada kelompok teroris dengan ideologi Islam seperti al-Qaeda dan Hamas, perempuan lebih berperan sebagai penjaga nilai keluarga dan kebutuhan logistik. Di Indonesia, keterlibatan perempuan dalam gerakan radikalisme terbukti meningkat bahkan lebih aktif sebagai pelaku serangan terror. Misalnya, pada Desember 2016, seorang perempuan bernama Dian Yulia Novia dan Ika Puspitasari ditangkap oleh Densus 88 karena sedang dipersiapkan untuk melakukan aksi bom bunuh diri di Istana Kepresidenan Jakarta dan lokasi lain di Bali.
Pada taraf internasional, fenomena keikutsertaan perempuan dalam organisasi teroris juga meningkat akhir-akhir ini. Terbukti misalnya dengan perempuan bernama Aqsa Mahmood dari Glasglow Inggris yang memilih menikah dengan pejuang ISIS dan pergi ke Suriah. Selain itu, ada perempuan bernama Yussra Hussein dari Bristol, Inggris yang dilaporkan hilang dan ternyata pergi ke Suriah. Keduanya adalah perempuan terpelajar yang memutuskan pergi ke Suriah. Sebelumnya, mereka diketahui mengakses laman daring perjodohan “Jihad Matchmaker.” Saat ini, Mahmood terindikasi menjadi salah satu propagandis dan perekrut ISIS yang aktif dalam jejaring media sosial, khususnya Twitter dengan nama Umm Layth. Ia juga aktif menulis dalam berbagai blog.
Agenda Setting, Framing, dan Propaganda
Studi awal teori agenda setting dilakukan oleh McCombs dan Donald Shaw yang mengelaborasikan hubungan isu prioritas di media massa dan masyarakat. Pesan yang terus menerus diulang akan membentuk persepsi masyarakat. Teori agenda setting sering digabungkan dengan teori komunikasi lainnya, seperti framing. Framing adalah konsep membingkai karakter untuk membentuk informasi yang akan disampaikan kepada pihak lain baik di tingkat personal, komunal maupun publik. Konsep framing dalam komunikasi juga berkesesuaian dengan propaganda dalam komunikasi politik.
Propaganda merupakan jenis komunikasi yang berusaha mencapai respon target sesuai dengan tujuan yang diinginkan pelaku. Biasanya, propaganda digunakan oleh kelompok ekstremis maupun teroris untuk mempromosikan pandangan mereka ke seluruh dunia yang mereduksi kompleksitas kehidupan hanya dalam gambaran sederhana, hitam dan putih. Menurut Cunningham dalam tulisannya berjudul “The Idea of Propaganda: A Reconstruction” (2002) menjelaskan bahwa ada sembilan tipe propaganda yang dapat dikategorikan dalam empat dimensi yakni dimensi tujuan, dimensi materi sosial-politik, dimensi sumber dan dimensi materi etikal.
Pertama, propaganda berdasarkan tujuan terbagi menjadi propaganda agitasi dan integrasi. Propaganda agitasi adalah tipe yang bertujuan membangkitkan kesadaran publik dan menciptakan kekacauan maupun ketakutan karena mempromosikan penolakan terhadap struktur dan kondisi sosial politik yang ada. Sedangkan, propaganda integrasi adalah tipe yang didesain untuk menyatukan sebuah masyarakat.
Baca Juga : Membincang Kemandirian Bangsa: Asosiasi Dosen Pergerakan Untuk Indonesia Hebat
Kedua, propaganda materi sosial politik yang terbagi menjadi propaganda putih, hitam dan abu-abu. Propaganda putih menggunakan sebagian besar materi fakta yang akurat. Propaganda hitam adalah tipe yang menggunakan materi data tidak tepat dan condong menyesatkan. Sedangkan, tipe propaganda abu-abu adalah tipe yang secara epistemic berlapis menciptakan ilusi informasi dan akhirnya mengaburkan informasi yang sesungguhnya.
Ketiga, propaganda sumber yang terdiri dari birokrasi dan kontra-propaganda. Propaganda birokrasi adalah tipe yang bersumber dari organisasi terkait. Misalnya, laporan resmi berupa gambaran rasional dan objektivitas akademis mengenai organisasi tersebut. Sedangkan, kontra-propaganda adalah tipe yang didesain untuk menegasikan propaganda awal, biasanya sebagai respons perlawanan yang bersumber dari pihak yang berlawanan.
Keempat, propaganda materi etik yang terdiri dari propaganda kebencian dan tindakan baik. Propaganda kebencian adalah tipe yang menggunakan materi dalam paradigma etik tertentu guna mempromosikan kebencian terhadap kelompok tertentu. Sedangkan, propaganda tindakan baik adalah tipe yang menggunakan etik tertentu untuk memberikan gambaran yang lebih baik dan positif.
Partisipasi Perempuan dalam Terorisme: Propaganda Manipulasi Informasi?
Keterlibatan perempuan dalam organisasi ekstrem maupun teroris memang bukan hal baru. Peran perempuan dalam kelompok teroris sebelum tahun 1980-an memang condong tradisional sebagai pendukung logistik maupun perekrut, kecuali kelompok ekstrem kiri. Namun, harus diakui ada perbedaan yang dijalankan kelompok terafiliasi dengan al-Qaeda dibanding dengan ISIS terkait dengan partisipasi perempuan. Secara tidak langsung, ada perubahan ideologi jihadis Salafi yang makin menerima peran perempuan dalam aksi bersenjata. Peran tradisional perempuan di antaranya adalah sebagai unsur pendukung seperti perawat, guru, ataupun pendukung laki-laki dalam hal rumah tangga.
Terdapat tiga pola gerakan keikutsertaan perempuan dalam ISIS. Pertama, gerakan sel ISIS yang seluruh anggotanya perempuan. Brigade al-Khansa dibentuk tahun 2014 oleh seorang perempuan berkewarganegaraan Inggris. Anggotanya di luar Arab difungsikan sebagai petarung garis depan, sedangkan mereka yang berasal dari negara-negara Arab menjalankan fungsi kepolisian di bawah kekuasaan dan pemerintahan. Kedua, gerakan dalam sel keluarga. Perempuan biasanya menjadi pendukung suami yang menjadi pejuang ISIS. Bentuk ketiga adalah bergerak perseorangan dalam melakukan serangan teror.
Terdapat empat kategori yang menjadi motivasi pendorong perempuan untuk ikut dalam kelompok teroris. Pertama, faktor ideologi dan kepercayaan. Kedua, perempuan merasa bertanggung jawab sebagai penghasil dan pembentuk masa depan karena bertugas melahirkan dan mendidik anak. Ketiga, motivasi pemberdayaan. Keempat adalah motivasi petualangan, cinta, rasa kepemilikan dan pencarian identitas.
ISIS membentuk persepsi perempuan di seluruh dunia dengan propaganda hitam dan menyampaikan pesan khusus untuk memotivasi perempuan agar bergabung. Pola mobilisasi yang dimanfaatkan adalah panutan dengan profil perempuan yang ‘cocok’ dijadikan sebagai panutan. Selain itu, pola peniru guna memberikan ide bagi perempuan untuk bergabung. Selanjutnya, pola saudara perempuan di mana dapat dijadikan sebagai mentor yang seolah menjadi saudara perempuan. Terakhir, pola guru agama di mana mereka berfungsi sebagai pengajar agama bagi perempuan yang akan direkrut.
Kesimpulan
Secara garis besar, penelitian tersebut berusaha menjelaskan bahwa motivasi perempuan untuk ikut berpartisipasi dalam kelompok teroris tidak dapat dimaknai secara tunggal dan sederhana. Hal ini disebabkan, para kelompok teroris menggunakan strategi propaganda yang terbukti ampuh dan menarik bagi perempuan. Strategi tersebut juga diperkuat dengan pemanfaatan teknologi berupa media sosial dan lain sebagainya. Kanal aplikasi media sosial ini membentuk persepsi perempuan terhadap kelompok teroris. Meskipun ISIS telah dinyatakan kalah dan ‘bubar,’ namun penelitian ini masih relevan jika subjeknya dikaitkan dengan organisasi ekstremis dan teroris lain. Faktanya, masih banyak perempuan yang menjadi korban dari propaganda kelompok ekstremis melalui media sosial.

