(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Menciptakan Generasi Muslim Moderat di Indonesia

Riset Agama

Tulisan berjudul “Islamic Orthodoxy-Based Character Education: Creating Moderate Muslim in a Modern Pesantren in Indonesia” merupakan karya Imam Mujahid. Artikel ini terbit di Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies tahun 2021. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan bagunan turats (nilai luhur muslim tradisional) yang di ajarkan di pesantren sebagai warisan ajaran ortodoks untuk mencetak pemuda muslim yang bersikap moderat melalui pendidikan karakter. Selain itu, tulisan ini juga memperdalam bagaimana dan mengapa pendidikan karakter dengan muatan ajaran Islam ortodoks penting untuk diajarkan di pesantren guna menciptakan muslim yang moderat. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Terdapat tiga sub bab dalam review ini. Pertama, tuntutan dan tantangan pesantren. Kedua, pembentukan karakter dalam Islam. Ketiga, pesantren Assalam dan pembentukan karakter. 

  

Tuntutan dan Tantangan Pesantren

  

Di dalam menjelaskan gap penelitian pada pendahuluan, Imam Mujahid menjelaskan terkait dengan definisi pesantren, tantangan, tugas, sekaligus contoh salah satu pesantren yang menerapkan sistem pembelajaran modern. Pesantren didefinisikan sebagai tempat pembelajaran autentik khas Indonesia yang menampilkan identitasnya sebagai pusat tafaqquh fi al din yakni lembaga yang mengajarkan ajaran Islam dengan memelihara turats sebagai ortodoksi Islam guna membangun Islam damai. Saat ini, pesantren menghadapi tantangan global yang dipicu oleh globalisasi dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, seperti radikalisme dan terorisme. Misalnya, dari survey International Crisis Group (ICG) yang mencatat bahwa salah satu pesantren terkemuka di Jawa Tengah memiliki relasi yang erat dengan jaringan teroris Asia Tenggara. 

  

Oleh sebab itu, pesantren secara responsif harus beradaptasi dengan tantangan ini dan terus membangun karakter moderat melalui proses pendidikannya. Howard M. Federspiel dalam tulisannya berjudul “The Muhammadijah: A Study of an Orthodox Islamic Movement in Indonesia” mendefinisikan turat sebagai warisan nilai moral dari peradaban Islam masa lalu untuk umat Islam saat ini sebagai referensi agama untuk menjaga Islam moderat. Turat mengandung banyak bentuk pemikiran, tradisi, karya intelektual, kegiatan atau nilai luhur yang dikembangkan pada waktu dan tujuan tertentu. Jika melihat lingkungan globalisasi, ortodoksi Islam di pesantren perlu memodifikasi turat menuju pendidikan karakter modern. 

  

Imam Mujahid menambahkan bahwa modernisasi pendidikan pesantren dituntut untuk mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan di era globalisasi yang menuntut intelektualitas kerohanian dan kesiapan moral. Hal ini disebabkan modernitas mengharuskan pola kerja berorientasi pada masa depan, namun modernisasi pendidikan di pesantren dirancang untuk melestarikan turat sebagai ortodoksi Islam. Ia menyontohkan Kiai Zarkasyi pemimpin pesantren Gontor yang menekankan efektivitas model pembelajaran integral dalam membangun karakter yakni dengan menggabungkan teori dan praktek.

  

Pembentukan Karakter dalam Islam 

  

Pada menjelaskan terkait karakter, Imam Mujahid menjelaskan beberapa definisi menurut beberapa tokoh. Pertama, I. Pritchard dalam tulisannya berjudul “Character Education: Research, Prospects and Problems” mengartikan karakter adalah identitas pribadi yang membentuk cara pandang, sikap, dan perilaku yang dikembangkan dari waktu ke waktu melalui faktor alamiah dan pengasuhan. Kedua, V. Battisch dalam tulisannya yang berjudul “Character Education, Prevention and Positive Youth Development” menjelaskan bahwa karakter adalah campuran kompleks dari sifat, keterampilan dan tindakan. Ketiga, di dalam Islam karakter dipandang sebagai fitrah manusia. Artinya, semua orang memiliki karakter dasar yang ditakdirkan Allah SWT ketika lahir (fitrah). Seiring tumbuhnya manusia, fitrah ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, kehidupan sosial dan latar belakang budaya. 

  

Pesantren Assalam dan Pembentukan Karakter

  

Penelitian yang dilakukan oleh Imam Mujahid berada di Pondok Pesantren Assalam yakni salah satu pesantren ternama di Solo, Jawa Tengah. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1985 dan mengasuh lebih dari 2000 santri. Seluruh santri tinggal di asrama seluas 10 hektar. Berbeda dengan pesantren ‘arus utama’ yang masih tradisional dan hanya mempertahankan ortodoksi ajaran Islam, Pesantren Assalam adalah pesantren modern dengan sistem dan infrastruktur pembelajaran terkini, namun tetap dengan ‘pengaturan’ yang tradisional. 

  

Hasil penelitian dari Imam Mujahid menunjukkan bahwa prefensi Pesantren Assalam untuk modernisasi diakomodasi dalam turat al-muhafadhatu \'ala al-qadim as-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-asslah.  Pesantren Assalam menerapkan gaya pendidikan yang komprehensif dalam tiga cara. Mereka mengintegrasikan dua manhaj pendidikan (sistem), menegakkan konsep-konsep modern, dan membawa keluar pendidikan integral-holistik.

  

Pesantren Assalam menerjemahkan visi pesantren dengan membangun fondasi yang kuat bagi karakter moderat santrinya. Oleh sebab itu, pesantren mengembangkan karakter melalui program yang komprehensif, berkonsep dan terukur mulai dari rumusan nilai karakter umata dan dasar, serta kegiatan 24 jam bagi santri dalam strategi membangun karakter. Pertama, nilai karakter utama dan dasar yang disebut keassalaman (nilai Assalam) yakni ilmu pengetahuan dan teknologi, tafaqquh fi al-din, akhlakul karimah, dakwah Islam dan kepemimpinan. Kedua, siklus aktivitas pesantren 24 jam yakni kegiatan melalui club olahraga, berbagai jenis studi agama, dan organisasi mahasiswa yang terntu saja diberada pada pengawasan para pendidik. Ketiga, strategi membangun karakter yakni sosialisasi nilai karakter, kegiatan pembelajaran, pengembangan kegiatan pribadi dan pengkondisian dengan rekayasan suasana kondusif seperti hidup disiplin dan penciptaan budaya yang baik. 

  

Kesimpulan

  

Penelitian yang dilakukan oleh Imam Mujahid secara garis besar bertujuan untuk memberikan masukan kepada instansi pendidikan berbasis keagamaan lainnya dalam mempromosikan dan mendidik para generasi penerus bangsa untuk memiliki karakter yang moderat. Sekali lagi penegasan bahwa Islam moderat memang menjadi pilihan. Meskipun di awal penulisan artikel ini tidak dijelaskan bahwa ia mengambil contoh studi kasus salah satu pondok di Solo, Jawa Tengah, namun dengan membaca isi keseluruhan akan didapatkan banyak pengetahuan baru. Terutama terkait strategi yang diterapkan oleh Pondok Pesantren tersebut dalam membangun karakter moderat bagi santrinya. Hal ini bisa menjadi ‘contoh’ atau referensi yang cukup menarik. Secara garis besar, hasil penelitian Imam Mujahid memperjelas bahwa karakter moderat berasal dari dogma ushul fikih dan al muhafadhatu\'ala al-qadim as-sholih wal akhdu bi al-jadid al-ashlah. Selain itu, dengan kegiatan yang dilakukan selama 24 jam dengan tuntunan Islam. Artinya, nilai karakter moderat ditanamkan dalam aktivitas santri/siswa yang berakar pada al-Qur’an dan hadis sebagai landasan agama, visi para founding fathers, misi pesantren, pengalaman kontekstual serta tantangan globalisasi yang dinamis. Seluruh proses pendidikan karakter sangat membuka jalan penting bagi terciptanya generasi muslim moderat.