(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Model Islam Nusantara

Riset Agama

Tulisan berjudul “Islam Nusantara: A Middle Way” merupakan karya Luqman Nurhisam dan Mualimul Huda. Artikel ini terbit di Qudus International Journal of Islamic Studies tahun 2016. Tulisan Nurhisam dan Huda ini menggunakan pendekatan historis dan epistemologis. Penelitian ini mencoba memberikan wacana yang dimunculkan kembali pada “Deklarasi Nahdlatul Ulama” pada Konferensi Pimpinan Islam Moderat (ISOMIL) yang berlangsung selama tiga hari di Jakarta. Tujuan penulisan artikel ini adalah menjawab gugatan bahwa model Islam Nusantara mencerminkan ajaran Islam tidak tunggal. Di dalam resume ini akan dijelaskan kembali secara singkat tulisan Nurhisam dan Huda dalam empat sub bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, terminologi Islam nusantara. Ketiga, klaim kebenaran: debat panjang tidak kunjung usai. Keempat, Islam Nusantara sebagai jalan tengah?. 

  

Pendahuluan

  

Istilah Islam Nusantara tidak dapat diketahui kepastian waktu kapan pertama kali muncul.  Namun, pada bulan Mei 2016, istilah ini diperdebatkan oleh banyak pihak. Ada satu kelompok yang menyatakan bahwa itu merupakan salah satu bentuk bid’ah. Akibatnya, terjadi polemik sosial-agama. Fragmen sejarah justru terkadang membuat peradaban menjadi “kabur”. Bahkan, merasa kesulitan ketika mempersepsikan dan memahami bahwa Arab belum tentu muslim dan Islam belum tentu Arab. Sehingga, banyak orang yang jatuh dalam pemahaman Arabsentris yang seharusnya Islam sentris. Akibatnya, banyak di antara umat slam yang lupa bahwa ajaran Islam itu perihal keteduhan, harmoni, cinta, damai dan akhlak yang baik, bukan dengan kekerasan yang selalu dianggap eksklusif dan merusak.

  

Terminologi Islam Nusantara

  

Menurut Akhmad Sahal dalam bukunya berjudul “Islam Nusantara Dari Ushul Fiqh hingga Paham Kebangsaan” menyatakan bahwa, pengertian Islam Nusantara berarti meyakini eksistensi agama dan budaya. Artinya, Islam tidak lagi menampilkan diri dengan kaku dan tertutup, namun lebih kepada menghargai perbedaan. Jika Nusantara diartikan sebagai tempat atau wilayah, maka Islam Nusantara harus mencatut semua sekolah dan organisasi Islam di Indonesia. Teuku Kemal Fasya dalam salah satu tulisannya berjudul “Dimensi Puisi dan Budaya Islam Nusantara” mengartikan bahwa, Islam Nusantara adalah apresiasi dan praktik orang lokal yang tinggal di pulau bernama “Nusantara”. Keberhasilan Islam sehingga Nusantara damai tidak lepas dari adaptasi dan ketahanan pengetahuan, seni dan budaya lokal. 

  

Klaim Kebenaran: Debat Panjang Tidak Kunjung Usai

  

Ada satu penyakit yang hingga sekarang belum ada obatnya, pertimbangan sendiri yang palinng benar.  Thomas Khun dalam tulisannya berjudul “The Structure of Scientific Revolution” menjelaskan bahwa, setiap manusia hanya mampu menciptakan “paradigma” kebenaran, bukan menghadapi kebenaran itu sendiri, hanya bisa mencapai fakta, bukan realitas. Pernyataan ini digunakan oleh Khun untuk memukul keras positivisme yang mengidolakan “single truth”. Konsep kebenaran dalam benak masyarakat modern ditambah dengan “sakralitas” teks yang berlebihan, maka seseorang seakan “menjelma” menjadi sosok Tuhan. 

  

Faktor lain yang “berkontribusi” pada klaim kebenaran adalah keseragaman pemahaman antara hukum Islam, syariah, dan fikih. Namun, hukum Islam maupun fikih belum tentu bisa dijadikan dalih mutlak untuk menentukan kebenaran. Artinya, parameter yang benar dalam konteks ini relatif, sebab dipengaruhi banyak faktor. Sehingga, tidak etis jika ditengah heterogenitas bangsa, ilmu tersebut digunakan sebagai senjata untuk menghukum perbedaan cara pandang apalagi mengukur tingkat kesalehan seseorang.

  

Islam Nusantara: Sebagai Jalan Tengah?

  

 Ahmad Baso dalam bukunya berjudul “Islam Nusantara Ijtihad Jenius dan Ijma’ Ulama Indonesia” menjelaskan bahwa, Islam Nusantara ibarat dua anakan yang berbeda jenis, tapi dapat disatukan dalam proses persilangan yang akan menghasilkan benih baru yang unggul. Melintasi Islam dan Nusantara diharapkan mendapatkan bibit baru dengan karakter atau sifat unggulan yang diinginkan. Benih tersebut dapat tumbuh dan bertahan di lingkungan manapun. Islam Nusantara adalah hasil persilangan dua benih yakni ijtihad yang mendukung keunggulan dan kekayaan dalam nusantara. 

  

Menurut Gus Dur, Islam tidak statis. Ajaran Islam bukan sesuatu yang diturunkan dan tidak pernah membutuhkan reformulasi. Artinya, dengan kata lain karakteristik esensial hukum Islam adalah kebutuhan untuk ditafsirkan secara kontekstual. Azyumardi Azra dalam tulisannya berjudul “Islam Indonesia Berkelanjutan” menganggap bahwa, Islam Nusantara diwakili oleh NU dan Muhammadiyah. Sebab, dianggap memiliki hampir “seluruh” syarat untuk mewujudkan peradaban rahmatan lil ‘alamin. Islam Nusantara berpotensi untuk menjadi yang terdepan dalam memajukan peradaban Islam global. Melalui peradaban Islam wasathiyah, Islam Nusantara dapat memberi kontribusi peradaban dunia yang lebih damai dan harmonis. Harapan semacam ini meningkat ditengah berbagai konflik yang terus berlanjut di negara muslim. Oleh sebab itu, NU dan Muhammadiyah tidak hanya perlu meningkatkan pemikiran dan upaya di negeri sendiri. Namun, juga menyebarkan Islam wasathiyah ke negara asing. Sehingga, Islam Nusantara mampu berdiri di garda depan dalam mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. 

  

Kesimpulan

  

Islam Nusantara bukan sebuah gerakan yang mengubah “doktrin” Islam. Artinya, tidak akan mengubah kiblat dari Mekkah ke Indonesia. Namun, hanya ingin menemukan cara bagaimana “menjangkarkan” budaya Islam dalam konteks masyarakat yang beragam. Islam Nusantara hanya ingin menaburkan wajah Islam yang teduh. Berdasarkan sejarah, Islam Nusantara mengalami perjuangan yang cukup panjang dengan berbagai tantangan dari tempat yang berbeda. Oleh sebab itu, sifat fleksibilitas diperlukan guna bertahan dan berkembang, sehingga menunjukkan ekspresi Islam baru yang khas dan berbeda dari yang lain. Islam Nusantara bukan sesuatu yang baru, melainkan hanya ingin menempatkan sesuatu pada tempatnya. Selain itu, Islam Nusantara adalah pengingat bahwa Arab belum tentu muslim dan Islam belum tentu Arab.