(Sumber : Medcom.id)

Penguatan Stratifikasi Sosial: Terjemahan Al-Qur’an dalam Bahasa Madura

Riset Agama

Artikel berjudul “Reinforcement of Social Stratification Through the Use of Speech Levels in Maduranese Translation of Qur’anic Dialogue Versus” merupakan karya Masyithah Mardhatillah, Moh. Hafid Effendy, Kudrat Abdillah, Fahrurrozi dan Usman. Tulisan ini terbit di Journal of Indonesian Islam tahun 2023. Tujuan dari penelitian ini adalah memetakkan tipologi hubungan yang mendasari penggunaan kata, faktor penentu dan implikasi terhadap terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Madura. Meskipun, terdapat prinsip dan bahasa al-Qur’an yang tampak egaliter, namun penggunaan kata dalam ayat-ayat tertentu dalam bahasa Madura nampaknya memperkuat stratifikasi sosial yang sudah ada sejak lama di masyarakat. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, pemetaan pola relasi tingkat bahasa bahasa Madura terjemahan ayat ‘dialog’ Al-Qur’an. Ketiga, stratifikasi sosial sebagai penentu hubungan tingkat bahasa. Keempat, aspek stratifikasi sosial hubungan tingkat bahasa pada Al-Qur’an terjemahan Madura.

  

Pendahuluan

  

Al-Qur’an terjemahan dalam Bahasa Madura oleh Kementerian Agama pada tahun 2018 memiliki kewenangan kultural dan formal. Meskipun, pembacanya sangat terbatas karena publikasi yang tidak luas. Kewenangan ini terkait dengan dua faktor yang berbeda. Pertama, penggunaan berbagai ‘aksesoris’ Bahasa Madura yang memberikan legitimasi budaya tertentu pada terjemahan tersebut. Kedua, relasi penerjemahan dengan lembaga pemerintah, dan penulisnya oleh para ahli multidisiplin yang relevan memberikan kesan legitimasi formal. 

  

Salah satu ‘aksesori’ yang digunakan dalam penerjemahan adalah “onÿhâgghâ bhâsa” yang mengacu pada tingkatan bahasa bahasa Madura yang digunakan. Hal ini tentu terkait dengan status pembicara, pendengar, dan orang ketiga. Ketika seseorang penutur berbahasa dengan sesepuh, tingkat kelembutannya adalah tingkat bahasaan biasanya digunakan, sedangkan tingkatan kasar digunakan pada situasi sebaliknya. Penggunaan tingkatan bahasaan yang sporadis dan konsisten pada keseluruhan bagian penerjemahan menunjukkan munculnya bahasa sasaran yang tidak yakin dengan sumber yang tidak memiliki kesamaan sistem. Salah satu akibat dari peralihan bahasa ini adalah menguatnya stratifikasi sosial yang mengklasifikasikan masyarakat berdasarkan berbagai kategori. 

  

Pemetaan Pola Relasi Tingkat Bahasa Bahasa Madura Terjemahan Ayat ‘Dialog’ Al-Qur’an

  

Meskipun sifat bahasa Madura sangat hierarkis, identifikasi tingkat bahasanya dalam ayat al-Qur’an terjemahan bahasa Madura menunjukkan pola egaliter pada beberapa kasus. Pengkategorian berpola dua ini erat kaitannya dengan konsep stratifikasi sosial, di mana pola egaliter digunakan antar individu dengan status sosial dan komunitas yang sama, atau yang tidak saling mengenal. Sebaliknya, pola hierarki digunakan ketika terdapat perbedaan status sosial antar individu, misalnya dalam kasus hubungan keluarga, usia, kelas sosial, jenis kelamin atau pemimpin dan bawahan. 

  

Berbeda dengan bahasa Madura, bahasa Arab tidak membedakan hierarki sosial dalam penggunaan diksinya. Misalnya, istilah “qala” yang berarti berbahasa, menjawab atau beratanya. Kata ini digunakan secara umum dan oleh siapa pun. Hal ini berbeda jauh dengan bahasa Madura yang menggunakan kata kerja “aÿhâbu” yang artinya berbahasa dengan status sosial lebih tinggi. Sedangkan, “mator” dengan kata diri sendiri saat berinteraksi dengan orang yang status sosialnya lebih tinggi, dan “ngoca” dengan orang pertama, kedua, atau ketiga yang berstatus sosial sama atau lebih rendah. 

  

Kemunculan pola egaliter yang memanfaatkan tataran bahasa informal atau santai dalam bahasa Madura disebut juga “enjâ\'-iyâ,” dalam dialog al-Qur’an digunakan baik antara individu yang akrab satu sama lain maupun tidak. Karakteristik penting dari dialog semacam ini adalah keseimbangan kekuatan dan pemahaman bersama mengenai tingkat pembahasaan yang tepat. Misalnya, dialog dalam al-Qur’an antara Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis yang memiliki kedudukan sama sebagai pemimpin bangsa, antara Nabi Musa dan kedua wanita yang berniat menimba air dari sumur, antara Maryam dan orang-orang di lingkungannya, atau antara Nabi Yusuf dan sesama tahanan. Contoh ini, sejalan dengan praktik bahasa Madura sehari-hari.


Baca Juga : Antara Takdir, Kecelakaan dan Pembinaan Santri

  

Pola yang lain adalah hierarkis yakni pada kasus tertentu seperti relasi kekeluargaan, perbedaan usia, jenis kelamin, pekerjaan dan status sosial. Al-Qur’an terjemahan bahasa Madura secara konsisten menggunakan tingkatan bahasa yang hierarkis ketika menggambarkan dialog antara anak dan orang tua. Terlepas, dari apakah anak tersebut ‘taat’ atau tidak. Namun, tingkat bahasa hierarkis tersebut tidak diterapkan secara konsisten dalam dialog lain, seperti antara kakak-adik, antar suami-istri, atau antara raja dan rakyatnya. Hal ini menunjukkan bahwa pola komunikasi hierarkis lebih kompleks dibandingkan pola egaliter. 

  

Stratifikasi Sosial Sebagai Penentu Hubungan Tingkat Bahasa

  

Terjemahan al-Qur’an  dalam bahasa Madura tidak bersifat statis, melainkan dinamis. Penggunaan pola egaliter dan hierarkis menunjukkan keluwesan bahasa Madura dalam berbagai situasi dan konteks. Lebih jauh, penggunaan tingkat bahasa yang konsisten dalam terkait menyoroti stratifikasi sosial sebagai faktor utama yang menentukan struktur tingkat bahasa. Meskipun berbagai faktor seperti kekayaan, keturunan, pendidikan, pekerjaan, usia, kekerabatan dan kebangsaan biasanya dianggap mempengaruhi preferensi tingkat bahasa. Namun, pola hubungan tingkat bahasa dalam terjemahan tersebut terutama ditentukan oleh pengelompokan sosial dan konteks atau peristiwa tertentu. 

  

Penggunaan tingkat bahasa dalam terjemahan al-Qur’an bahasa Madura sebagian besar dipengaruhi kelompok sosial. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Madura menganggap kelas sosial sebagai faktor penting dalam interaksinya dengan orang lain. Ketika berbahasa dengan yang lebih tua, meski asing, penutur condong dengan tingkat bahasa yang lembut. Misalnya, dalam al-Qur’an ada dialog antara Musa dan Syu’aib. Penggunaan nada kasar yang dilakukan Syu’aib terhadap Musa tampaknya dipengaruhi usia dan kelas sosial. 

  

Faktor penentu dalam jenis tingkatan bahasa adalah kelas sosial. Pada sebagian besar, konteks kelas sosial memiliki bobot lebih besar dibandingkan faktor penentu lainnya. Hal ini terlihat dalam dialog antara Yusuf dan saudaranya setelah ia lama tinggal di Mesir. Meskipun Yusuf lebih muda, seperti yang terlihat dari postur dan garis wajahnya, posisinya sebagai staf kerajaan membuat kakak laki-lakinya menggunakan tingkat bahasa yang lembut. 

  

Selain itu, yang menentukan tingkat bahasa adalah kekerabatan. Dialog dalam al-Qur’an melibatkan berbagai relasi kekerabatan, misalnya orang tua dan anak, suami dan istri, paman dan keponakan, maupun kakak dan adik. Meskipun, identitas masing-masing tokoh tidak disebutkan secara eksplisit dalam al-Qur’an, namun sebagian besar dialog kekeluargaan menyebutkan hubungan para penuturnya, seperti Nuh dan putranya, Ibrahim dan ayahnya, Fir’aun dan istrinya, dan lain sebagainya. Ada pula faktor konteks, situasi atau peristiwa. Kategori ini mencerminkan penyimpangan terhadap aturan etika masyarakat Madura mengenai penggunaan hubungan hierarkis atau egaliter yang tepat. Anomali dapat timbul ketika dua penutur berada dalam situasi tegang akibat konflik tertentu. Alhasil, penggunaan tingkat bahasa tidak proporsional atau tidak sesuai dengan pola umum mungkin terjadi. Anomali ini dapat dikategorikan menjadi dua jenis yakni anomali deterioratif yang mengacu pada penggunaan tuturan kasar dalam suasana formal, yang seharusnya menggunakan bahasa lembut. Sedangkan, anomali amelioratif mengacu pada tuturan lembut dalam suasana informal yang seharusnya menggunakan bahasa kasar.

  

Aspek Stratifikasi Sosial Hubungan Tingkat Bahasa pada Al-Qur’an Terjemahan Madura 

  

Penggunaan hubungan dua tingkat bahasa dengan faktor determinan yang berbeda dengan al-Qur’an terjemahan bahasa Madura memiliki implikasi teoretis dan praktis. Hubungan ini diperlukan dalam penerjemahan karena tidak hanya melibatkan transfer bahasa, namun juga budaya dan nilai yang menyertainya. Implikasi teoretis muncul dari kenyataan bahwa bahasa telah banyak diteorikan dalam berbagai pedoman dan standar, sedangkan implikasi praktisnya lebih fokus pada dampak struktural dalam kehidupan sehari-hari. 

  

Implikasi awal mengungkapkan adanya kehalusan budaya, condong menonjolkan sifat dinamis bahasa. Hal ini dapat dilihat secara mendasar melalui relasi tingkat bahasa hierarkis dan egaliter yang belum terpetakan. Pada konteks yang lebih luas, penggunaan tingkat bahasa dalam al-Qur’an terjemahan bahasa Madura memiliki implikasi teoritis yang signifikan karena menonjolkan nuansa budaya. Ketika sebuah kata diterjemahkan berbeda dalam berbagai konteks karena tingkat ucapan yang berbeda, negosiasi antara bahasa sumber dan bahasa sasaran menghasilkan terjemahan yang mungkin tidak identik, tapi masih dianggap setara. Meskipun bahasa Arab menggunakan kata kerja atau benda yang sama untuk merujuk pada individu dengan status sosial berbeda, terjemahan bahasa Madura tidak bisa sepenuhnya selaras. 

  

Sementara itu, implikasi praktis yang paling signifikan dari penggunaan tingkatan bahasa adalah penggabungan bahasa sumber dalam bahasa sasaran. Artinya, bahasa sumber ‘mengalah’ terhadap bahasa sasaran karena pengaruhnya yang lebih besar dalam proses penerjemahan. Bahasa Arab tidak mengenal tingkatan bahasa, mau tidak mau diterjemahkan menggunakan kerangka tingkatan bahasa. Oleh sebab itu, dialog tertentu yang lembut dan kasar digunakan secara bergantian tergantung faktor yang menentukannya. Artinya, nilai agama yang semula egaliter dalam bahasa Arab menjadi berpusat pada kelas sosial dan versi terjemahannya. Akibatnya, kerangka penerjemahan menggambarkan munculnya ketimpangan relasi gender, kelas sosial dan memburuknya kohesi, sehingga menghilangkan nilai-nilai egaliter yang asli. 

  

Kesimpulan

  

Beragamnya kategorisasi tingkat bahasa memerlukan sintesa yang dapat mengakomodasinya dari berbagai sudut pandang. Pola relasional yang egaliter dan hierarkis dapat memberikan sintesis alternatif yang dapat mencakup berbagai kategorisasi yang umum hingga khusus. Namun, berbagai sudut pandang pada akhirnya mengarah pada stratifikasi sosial yang membentuk penggunaan tingkat bahasa berdasarkan identitas orang pertama, kedua maupun ketiga. Pada konteks penerjemahan ayat dialog dalam Al-Qur’an ke dalam bahasa Madura bukan hanya faktor penentu yang berperan dalam hubungan kelompok sosial dan kekeluargaan, karena konteks atau situasi percakapan mempengaruhi tingkat bahasa. Meskipun konsep tingkat bahasa tidak dikenal dalam bahasa Arab, penting memasukkannya dalam terjemahan bahasa Madura guna memastikan validitas keakuratannya.