(Sumber : bincang syariah)

Bisakah Kita Yang Bukan Siapa-Siapa Ini Menjadi \'Orang\' Di Masa Depan?

Khazanah

Eva Putriya Hasanah

  

Sholeh, seorang anak muda yang berasal dari keluarga miskin dan tak terpandang, sering kali merasa gelisah dan terbebani dengan pertanyaan yang datang dari dirinya sendiri, "Bisakah aku yang bukan siapa-siapa ini menjadi 'orang' di masa depan?" Di tengah keberadaan privilege dan kesempatan yang terbatas, Sholeh merasa bahwa jalan menuju kesuksesan dan pengakuan sosial mungkin sulit dijangkau baginya. 

  

Seperti halnya Sholeh, ada banyak anak muda di luar sana juga bertanya hal yang sama. Pertanyaan ini sering kali menghantui pikiran mereka yang berasal dari keluarga miskin dan tak terpandang. Di tengah privilage dan keuntungan tertentu yang dimiliki oleh orang-orang yang lahir dalam lingkungan yang lebih sejahtera, mereka sering kali merasa terpinggirkan dan tidak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan.

  

Kegelisahan ini tidak dapat diabaikan. Mereka yang tumbuh dalam keluarga miskin sering kali dihadapkan pada keterbatasan ekonomi yang signifikan. Mereka mungkin tidak memiliki akses yang sama ke pendidikan berkualitas, fasilitas kesehatan yang memadai, dan peluang-peluang lain yang bisa membantu mereka mencapai potensi penuh mereka. Privilege dan kesempatan yang lebih baik sering kali terbatas pada mereka yang memiliki kekayaan dan pengaruh.

  

Islam dan Jawabannya

  

Islam adalah agama yang memberikan dorongan yang kuat untuk berusaha menjadi lebih baik. Konsep iktiar dan tawakal sangat penting dalam ajaran Islam, yang mengajarkan pentingnya kerja keras dan kepercayaan kepada Allah dalam mencapai kesuksesan.

  

Iktiar, yang berarti usaha atau upaya, adalah bagian integral dari ajaran Islam. Dalam Islam, umat muslim diajarkan untuk berusaha sebaik mungkin dalam segala hal yang mereka lakukan. Iktiar mencakup pengembangan keterampilan, pendidikan, dan usaha dalam mencapai tujuan hidup. Islam mengajarkan bahwa umat muslim harus memberikan yang terbaik dari diri mereka dan tidak boleh menjadi pasif dalam menjalani kehidupan.

  

Namun, iktiar saja tidak cukup. Islam juga mengajarkan pentingnya tawakal, yaitu kepercayaan dan ketergantungan kepada Allah. Setelah melakukan segala upaya dan memperlihatkan usaha maksimal, umat muslim diharapkan untuk melepaskan diri dari kekhawatiran dan kecemasan akan hasil akhir. Mereka diminta untuk menyerahkan segala hasil usaha mereka kepada kehendak Allah. Tawakal adalah tentang meyakini bahwa Allah adalah Yang Maha Pengatur dan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah sesuai dengan kehendak-Nya.


Baca Juga : Setahun Pandemi, Dr. Reisa ; Segera Tindaklanjuti Dampak Tak Langsung

  

Konsep iktiar dan tawakal mengajarkan umat muslim untuk berusaha dengan maksimal dan kemudian berserah diri kepada Allah dalam menerima hasil akhir. Ini menciptakan keseimbangan yang sehat antara usaha dan ketenangan pikiran. Umat muslim tidak boleh berhenti berusaha hanya karena mereka percaya bahwa segala sesuatu adalah takdir Allah. Sebaliknya, mereka harus berusaha semaksimal mungkin dan kemudian mempercayakan hasilnya kepada Allah.

  

Dalam Al-Quran, Allah berfirman, \"Dan bahwa manusia tidak memperoleh melainkan apa yang diperbuatnya (sendiri), dan bahwa usahanya kelak akan diperlihatkan (pada hari pembalasan). Kemudian dia akan diberi balasan penuh balasan yang sempurna.\" (QS. An-Najm: 39-41). Ayat ini menekankan pentingnya usaha dan bahwa manusia akan memperoleh hasil sesuai dengan usaha mereka.

  

Dalam sejarah Islam, banyak teladan dari para sahabat Nabi yang menunjukkan contoh nyata dari konsep iktiar dan tawakal. Mereka berusaha dengan keras dalam menyebarkan agama Islam, belajar dan menyampaikan pengetahuan, serta berjuang dalam medan perang. Namun, mereka juga memiliki kepercayaan yang kuat kepada Allah dan melepaskan hasil usaha mereka kepada-Nya.

  

Dalam kehidupan sehari-hari, umat muslim dapat menerapkan konsep iktiar dan tawakal dalam berbagai aspek kehidupan. Mereka harus berusaha dengan maksimal dalam pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, dan segala hal yang mereka lakukan. Namun, mereka juga harus memiliki kepercayaan yang kuat kepada Allah dan melepaskan diri dari kekhawatiran dan kecemasan yang berlebihan. Mereka harus mempercayai bahwa Allah akan memberikan hasil yang terbaik sesuai dengan kehendak-Nya.

  

Dengan menerapkan konsep iktiar dan tawakal, umat muslim dapat mencapai kesuksesan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Mereka dapat mencapai tujuan hidup mereka dengan berusaha keras dan dengan keyakinan teguh bahwa Allah adalah Maha Adil dan Maha Pengatur. Islam memberikan dorongan yang kuat untuk berusaha menjadi lebih baik dan mengajarkan bahwa kesuksesan adalah hasil dari usaha dan kepercayaan kepada Allah.

  

Bukankah Tubuh yang Lengkap dan Sehat Juga Privilege?

  

Sebagian dari kita mungkin terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, tidak sejahtera, tidak lengkap atau bahkan miskin. Namun apakah hidup kita bukan sebuah keajaiban? Mata yang bisa melihat, hidung yang bisa mencium, telinga yang bisa mendengar, lidah yang bisa mengecap, kulit yang bisa merasakan dan otak yang bisa berpikir bahkan dengan kaki dan tangan, kita bisa berusaha meraihnya. Itu semua adalah bekal untuk meraih apa yang kita inginkan. 

  

Kemampuan untuk melihat adalah salah satu indra yang paling penting dalam kehidupan manusia. Melalui mata kita dapat menikmati keindahan dunia, mengamati detail-detail yang menakjubkan, dan memperoleh informasi yang berharga. Dengan dapat melihat, kita dapat melihat jalan yang akan kita tempuh untuk meraih mimpi kita. Kita dapat melihat peluang dan tantangan yang ada di depan kita, dan dengan itu dapat membuat keputusan yang bijaksana dalam perjalanan kita.

  

Selain itu, kemampuan untuk mendengar juga sangat berharga. Melalui pendengaran, kita dapat mendengarkan suara-suara indah seperti musik, suara alam, dan suara orang-orang terkasih. Mendengar juga memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain, berinteraksi dengan dunia, dan belajar dari pengalaman orang lain. Dengan pendengaran yang baik, kita dapat menerima masukan dan saran yang berguna dalam meraih mimpi kita.

  

Namun, terkadang kita seringkali mengambil kemampuan ini sebagai sesuatu yang biasa saja. Kita seringkali lupa betapa berharga dan istimewanya memiliki tubuh yang lengkap dan sehat. Kita seringkali mengeluh tentang hal-hal kecil dan lupa bersyukur atas hadiah yang kita miliki. Kita juga harus ingat bahwa tidak semua orang memiliki keberuntungan yang sama. Tidak semua orang diberikan kesempatan untuk memiliki tubuh yang lengkap dan sehat. Oleh karena itu, kita harus menghargai dan memanfaatkan anugerah ini dengan sebaik-baiknya.

  

Di tengah privilage dan keuntungan yang dimiliki oleh sebagian orang, menjadi \"orang\" di masa depan mungkin terasa seperti sebuah tantangan besar bagi kita yang berasal dari keluarga miskin dan tak terpandang. Namun, dengan tekad, pendidikan, pengembangan keterampilan, dan memanfaatkan peluang yang ada, kita dapat mengubah nasib mereka sendiri. Kesuksesan tidak selalu tergantung pada latar belakang ekonomi, tetapi pada kegigihan, keberanian, dan tekad untuk meraih impian.