(Sumber : mui.or.id)

Perjuangan Salafisme di Indonesia

Riset Agama

Artikel berjudul “Islam on the Air: The Struggle for Salafism Through Radio in Indonesia” merupakan karya Masduki, Akh. Muzakki, Imron Rosidi, dan Toni Hartono. Tulisan ini terbit di Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies tahun 2022. Karya tersebut berusaha membahas perjuangan dakwah Salafisme melalaui salah satu radio di Indonesia yakni Radio Hang di Batam. Secara garis besar penelitian tersebut berusaha menjawab dua hal yakni pertumbuhan pemikiran keagamaan dalam Islam di Indonesia dan hubungannya dengan propaganda media. Serta, perjuangan Salafi untuk menunjukkan identitas Islamnya melalui siaran radio. Terdapat  lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, kontestasi ideologis dan kebangkitan radio dakwah. Ketiga, Hang Radio di antara fenomena dakwah yang sedang berkembang. Keempat, Salafisme dari Radio Hang. Kelima, lintasan Salafisme di udara.

  

Pendahuluan

  

Salafisme merupakan salah satu ideologii Islam yang diilhami secara global. Ideologi ini telah mengembangkan berbagai media dakwah, tidak hanya melalui pembelajaran agama secara langsung, namun juga melalui teknologi, misalnya radio. Di Neigeria, Salafisme di bawah kepemimpinan Abubakar Gumi telah menggunakan radio sejak tahun 1967. Di Tunisia, Salafisme mengembangkan stasiun radio lokal untuk dakwah Islam sekaligus perjuangan identitas revolusioner. Di Indonesia, terdapat tiga radio Salafi di Surakarta yang mencoba merebutkan legitimasi posisinya dalam gerakan dakwah kelompok Salafi. Selain itu, ada pula Radio Hang di Batam sebagai salah satu radio yang menguasai segmen tertentu dengan mengusung atau menyiarkan paham keagamaan Salafi. 

  

Kontestasi Ideologis dan Kebangkitan Radio Dakwah

  

Saat ini, Indonesia merupakan “rumah” bagi ideologi Islam. Setiap ideologi Islam disebarkan melalui media dan organisasi. Hal ini membawa kontestasi ideologis. Seiring dengan representasi diri sebagai ajang kontestasi ideologi Islam, Islam Indonesia telah menyaksikan kebangkitan kegiatan dakwah non-pribadi, terutama melalui gelombang udara. Misalnya, melalui media sosial, televisi, dan radio. 

  

Secara sosiologis, kehadiran dakwah melalui radio memiliki kaitan erat dengan konteks lokal representasi identitas Islam. Menurut Sunarwoto dalam tulisannya berjudul “Dakwah Radio in Surakarta: A Contest for Islamic Identity” menyatakan bahwa, menjamurnya radio dakwah di Surakarta tidak lepas dari keragaman identitas keislaman di Surakarta. Begitu juga dengan penelitian Irzum Farihah berjudul “Radio sebagai Solusi Keagamaan Muslimah” yang menganggap bahwa radio menjadi penting untuk mediasi dakwah, terutama pada kalangan perempuan. Artinya, tumbuhnya radio dakwah berdampak pada aspek kehidupan perempuan, seperti akses belajar agama.

  

Hang Radio di antara Fenomena Dakwah yang sedang Berkembang

  

Berbagai jenis radio dakwah di Indonesia telah berkembang sejak jatuhnya rezim Orde Baru. Pada 17 Juli 2014, Persatuan radio dan Televisi Islam Indonesia mencatat ada sejumlah 58 radio dakwah. Salah satunya adalah Radio Hang yang didirikan tahun 2002 di Batam. Awalnya, stasiun radio ini sama seperti radio di perkotaan lainnya yang melekat dengan identitas remaja. Acaranya diisi dengan hiburan musik pop. Namun, masalah keuangan menjadi titik balik stasiun radio tersebut. Pemiliknya mengira karena isi atau program radio tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. 


Baca Juga : Digital Nostalgia: Gen Z dan Pesona Masa Lalu

  

Lokasi Hang Radio berada tepat di tengah keramaian kota Batam, tepatnya dalam kompleks perdagangan atau perbelanjaan. Hal ini mencerminkan “perkawinan” antara Islam dan kapitalisme. Toko dan perdagangan merupakan simbol kapitalisme, sedangkan Hang Radio adalah simbol media Islam yang mengambil misi dakwah. Strategi pemilihan lokasi di keramaian kota Batam menjadi semacam “batu loncatan” bagi pengembangan dakwah yang lebih luas. Di satu sisi, Radio Hang menggunakan kapitalisme sebagai elemen pendukung misi kenabian, di sisi lain menolaknya sebagai elemen yang bertentangan dengan nilai syariat Islam. 

  

Salafisme di Radio Hang

  

Radio Hang tidak mengakomodasi identitas Islam lain dalam program siarannya. Tidak ada musik apa pun bahkan yang bernuansa religi atau Islam. Sesuai dengan yang dikatakan oleh direktur program Radio Hang yakni Ghazali Yahya yang menyatakan bahwa hiburan yang tepat bagi seorang muslim adalah Al-Qur’an. Ucapan tersebut seakan menjelaskan salah satu tanda identitas unik dalam tradisi Salafi. 

  

Kelompok Salafi berusaha menghidupkan kembali tradisi Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya di bawah gempuran modernisasi dan globalisasi. Menurut Roel Mijer yang dikutip oleh Bianca J. Smith dan Saipul Hamdi dalam tulisannya berjudul “Between Sufi dan Salafi Subjects: Female Leadership, Spiritual Power and Gender Matters in Lombok” menyatakan bahwa kelompok Salafi pada dasarnya merupakan gerakan terfragmentasi yang menghindari definisi konkret. Artinya, istilah Salafi mengacu pada gerakan yang “cair”, sehingga tidak memiliki definisi tetap. Gerakan salafi bukan gerakan homogen yang stabil. Bahkan dalam lanskap Islam global, Salafi mengalami pertukaran pemikiran dengan budaya lokal yang mempengaruhi karakter heterogennya. 

  

Terdapat beberapa poin yang dapat menjelaskan mengenai bagaimana Salafisme disebarkan melalui Radio Hang. Pertama, Hang Radio memandang definisi hiburan dalam makna yang luas, sehingga tidak menyiarkan program hiburan berupa musik. Bagi mereka, al-Qur’an adalah hiburan terbaik yang bisa disajikan. Hiburan dalam kehidupan sehari-hari yang berkembang saat ini merupakan simbol dari kapitalisme. Secara implisit, mereka menolak kapitalisme karena dianggap dapat mengeringkan spiritual. Selain itu, program siaran Radio Hang yang paling favorit adalah soal hidup. Pendengar akan memberikan pertanyaan terkait masalah yang dihadapi, kemudian pembicara akan memberikan jawaban yang disertai dalil agama, terutama al-Qur’an dan hadis. 

  

Kedua, presentasi Radio Hang mengenai peran perempuan. Radio Hang memiliki aturan yang cukup jelas dalam hal segregasi gender. Salah satunya adalah perempuan tidak diperbolehkan menjadi pegawai Radio Hang. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa suasana religiusitas Radio Hang akan berkurang. Meskipun unsur kenyamanan secara eksplisit dijadikan sebagai alasan utama, pada dasarnya alasan tersebut telah “dimodifikasi” demi memperkuat identitas Islam. Pada tradisi Salafi, pemisahan laki-laki dan perempuan adalah sebuah keniscayaan. Perempuan tidak boleh “muncul” di ranah publik. Selain itu, Radio Hang juga sangat paternalistik. Misalnya, pemisahan pintu masuk dan keluar antara laki-laki dan perempuan. Sayangnya, integrasi semacam ini tampaknya kurang sesuai dengan tradisi masyarakat, khususnya di Batam. Pada budaya kosmopolitan, interaksi sosial tanpa pemisahan jenis kelamin di ruang publik adalah hal yang lumrah. Artinya, regulasi Radio Hang terkait pemisahan tersebut tampaknya belum sepenuhnya diterapkan dalam realitas sosial. 

  

Ketiga, desakan Radio Hang pada simbol-simbol Islam. Kehadiran simbol-simbol Islam di ruang publik Indonesia menandakan dua hal yakni kesalehan publik semakin meluas di satu sisi dan membungkam makna agama di sisi lain. Hal pertama ditengarai oleh gejala kebangkitan Islam di Indonesia, sedangkan yang kedua dilatar belakangi dan disusupi oleh semangat kapitalisme. Kemunculan audio Radio Hang dimaknai sebagai salah satu cara memperkuat identitas sebagai radio misionaris independen dan berkarakter Salafi. Tata lingkungan studio Radio Hang sarat dengan simbol penyucian Islam Salafisme, namun tidak luput dari kapitalisme. Toko terdekat menjual atribut khas Salafi seperti buku, jilbab, madu dan lain sebagainya. Para pengunjung juga menggunakan identitas Salafi, perempuan memakai jilbab, sedangkan laki-laki memakai celana putih sampai tumit dan umumnya berjenggot. Di sisi lain, toko makanan dan minuman sebelum memasuki studio Radio Hang mewakili karakter kapitalisme. 

  

Lintasan Salafisme di Udara

  

Pendengar Radio Hang umumnya mendengarkan siaran di dalam mobil ketika berkendara. Mereka memosisikan Radio Hang sebagai pusat pembelajaran agama baru yang meniadakan pusat lingkungan belajar tradisional dan non-agama. Pada perkembangan saat ini, nilai sosialisasi telah bergeser dari lembaga konvensional menuju media baru yang berbasis digital. Artinya, dalam konteks tersebut Radio Hang berfungsi sebagai media yang menambah keragaman otoritas keagamaan di Batam. Hal tersebut dipengaruhi oleh efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran agama yang tidak membutuhkan banyak tenaga, waktu dan biaya. 

  

Inti dari perjuangan Hang Radio adalah menjadi radio dakwah terdepan dalam Islam di Batam yang identik dengan penyebarluasan pembelajaran agama Islam. Oleh sebab itu, radio ini menolak jika dituduh membawa radikalisme pada komunitas muslim. Upaya yang dilakukan untuk menepis tuduhan semacam itu adalah komitmen kepada tradisi Islam untuk mempromosikan perdamaian. 

  

Ide-ide Salafi yang digaungkan oleh Radio Hang tidak akan melahirkan homogenisasi dalam komunitas muslim. Hal ini disebabkan pengaruh Radio Hang yang bervariasi pada tingkat individu tergantung pada latar belakang sosial, budaya dan pendidikan. Namun, pendengar Radio Hang pasti menonjolkan identitas tersendiri. Tujuannya adalah identitas distingtif dibentuk untuk menjadi “daya jual” kepada publik; serta untuk mempengaruhi pendengar mereka. Jelas bahwa motifnya adalah mempengaruhi pendengar untuk mengikuti paham keagamaan atau identitas keagamaan yang telah mereka kembangkan. 

  

Kesimpulan

  

Radio Hang berupaya menegakkan identitas Islam melalui media. Jika awalnya stasiun radio ini memiliki misi pemurnian Islam yang kaku, maka semakin meningkatnya kontestasi dengan komunitas muslim lain membuat Radio Hang melunakkan misi kenabiannya. Radio ini menghasilkan idem peraturan, simbol, program siaran, dan bentuk studio berdasarkan identitas Islam Salafi. Mereka mengusung ide keagamaan Salafi dengan cara memperjuangkan identitas Islam yang terbingkai dalam visi, misi, afiliasi, program, kebijakan dan sebagainya. Secara garis besar, mereka mencoba menyampaikan bagaimana seharusnya umat Islam bersikap di tengah modernisasi, sekularisasi dan globalisasi. Fakta keberadaan Radio Hang di Batam menjadi ciri bahwa perjuangan identitas Islam Salafi melalui media dakwah tampaknya secara eksklusif kuat. Sekaligus dapat menjadi bukti bahwa Salafisme di Batam telah menunjukkan “tampilannya” yang luar biasa melalui gelombang udara.