Rekonstruksi Studi Sufisme Sosial
Riset AgamaTulisan berjudul “Reconstruction of Social Sufism Studies: Qur’anic Sufism as the Basis of Internalizing Social Character and Identity” merupakan karya M. Fauzan Zenrif, Fathul Lubabian Nuqul, M. Luthfi Musthofa dan Achmad Barizi. Artikel tersebut terbit di Junal Ulumuna tahun 2024. Tujuan penelitian tersebut adalah menjelaskan dan mengevaluasi manifestasi Sufisme sosial, menggunakan kerangka Teori Representasi Sosial (SRT) yang dihubungkan dengan konteks Al-Qur'an. Penelitian tersebut menggunakan metodologi penelitian deskriptif kualitatif, penelitian tersebut melakukan investigasi empiris di Kabupaten Malang, yang terkenal karena kontribusinya yang signifikan terhadap kehidupan sosial Jawa Timur, yang dicirikan oleh warisan budaya dan adat istiadat yang mendalam. Terdapat enam sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, memajukan kajian ilmiah atas artefak sufi sosial. Ketiga, kajian Al-Quran yang hidup dalam konteks sufi sosial: menganalisis kontribusi epistemologis sufi Al-Quran. Keempat, perilaku altruistik: teori representasi sosial dan sufisme sosial di kalangan santri. Kelima, sufisme Al-Qur\'an: landasan altruisme sebagai mekanisme untuk membina karakter sosial. Keenam, sufisme Al-Qur\'an: nilai kebaikan sebagai dasar internalisasi identitas sosial.
Pendahuluan
Kajian Al-Qur’an dalam paradigma Sufi terbatas pada analisis teks-teks interpretatif yang dihasilkan oleh kaum Sufi, atau eksplorasi penafsiran oleh para ulama Muslim yang bertujuan untuk menjelaskan berbagai tahap evolusi penafsir Sufi. Pada kerangka yang lebih luas, studi Al-Qur'an melalui paradigma Sufi ini melibatkan tradisi penafsiran esoteris untuk mengungkap makna-makna yang lebih dalam tertanam dalam Al- Qur'an.
Pada kajian tasawuf, penelitian yang menggunakan kerangka sosiologi dan antropologi difokuskan pada pelaksanaan tarekat. Kajian tasawuf dalam konteks sosial lintas berbagai bidang kajian mengkaji konsekuensi doktrin tasawuf terhadap sistem ekonomi. Berdasarkan teori pedagogi, kajian tasawuf menekankan pada pengembangan karakter pendidikan, integrasi prinsip-prinsip tasawuf dalam praktik pendidikan, pendidikan karakter, dan pengaruh ajaran tasawuf.
Selain itu, disiplin akademis Studi Sufi Sosial saat ini perlu mengintegrasikan prinsip-prinsip etika yang berasal dari Al-Qur'an dalam merumuskan moralitas dan identitas sosial. Akibatnya, disiplin tersebut harus lebih mampu menjelaskan mekanisme yang mendasari perkembangan sosial Islam. Lebih jauh, penelitian terhadap Sufi Al-Qur'an dapat berfungsi sebagai sarana untuk memperluas cakupan dan memperkuat kemajuan Studi Sufi Sosial. Penelitian semacam itu dapat menjelaskan proses yang terlibat dalam pembentukan identitas dan karakter dalam komunitas Islam, khususnya ketika didekati melalui psikologi sosial.
Memajukan Kajian Ilmiah atas Artefak Sufi Sosial
Di Indonesia, tasawuf mulai menyebar pada abad ke-17, dan diperkenalkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin di Sumatera. Tasawuf dapat dibagi menjadi dua jenis utama: filsafat dan akhlak. Tasawuf Filsafat lebih menekankan pada teori, sedangkan Tasawuf Akhlak lebih menekankan pada etika sosial untuk mencapai kedekatan dengan Allah SWT. Kajian tasawuf di Indonesia senantiasa berkembang, mencerminkan perubahan pemikiran intelektual dan masyarakat. Tasawuf memegang peranan penting dalam membentuk dinamika sosial, dengan menawarkan bimbingan spiritual personal, kerangka etika, dan praktik komunal, yang menjawab tantangan modern.
Studi tentang tasawuf sosial berfokus pada aspek sosiokultural tasawuf Islam, khususnya praktik spiritual dan etika individu yang membentuk masyarakat. Tasawuf sosial dibangun di atas tasawuf amali meskipun fondasinya berbeda. Kedua pendekatan tersebut dapat bekerja sama untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan meningkatkan spiritualitas sosial, dengan menekankan pentingnya yurisprudensi Islam (Syariah) dan pengembangan perilaku dan pola pikir holistik, yang dikenal sebagai tarekat.
Baca Juga : Kecanduan Judi Online: Mengapa dan Bagaimana Caranya Berhenti?
Kajian Al-Quran yang Hidup dalam Konteks Sufi Sosial: Menganalisis Kontribusi Epistemologis Sufi Al-Quran
Studi Al-Qur'an terutama memandang Al-Qur'an sebagai objek penelitian ilmiah dan bukan sebagai paradigma teoritis. Usulan bahwa Al-Qur'an dapat berfungsi sebagai paradigma kajian sosiologi belum memperoleh perhatian yang signifikan dalam analisis sosiologi yang dilakukan oleh akademisi. Kajian kontemporer lebih banyak menekankan pada keterkaitan dan status otoritatif ilmu pengetahuan tentang studi Al-Qur\'an, dan sering kali berupaya untuk memvalidasi kebenaran Al-Qur'an dalam lingkungan sosiokultural.
Pada konteks tersebut kajian Sufi Sosial dapat diintegrasikan dalam kerangka Al-Qur'an, sehingga menempatkannya sebagai model dasar untuk kajian Sufi Sosial. Berdasarkan sudut pandang epistemologis, kajian ini dapat lebih jauh memahami Sufi Al-Quran, yang mencakup penafsiran mistik Al-Qur'an yang telah secara signifikan membentuk perilaku dan tradisi sosial.
Perilaku Altruistik: Teori Representasi Sosial dan Sufisme Sosial di Kalangan Santri
Teori Representasi Sosial (SRT), yang dikonseptualisasikan oleh Moscovici pada tahun 1961 sebagai komponen disertasi doktoralnya yang berjudul "Psikoanalisis, citra diri, dan masyarakat," merupakan kerangka dasar dalam psikologi sosial. Paradigma teoritis ini memberikan pemahaman yang bernuansa tentang pengaruh sosial dengan mengintegrasikan wawasan dari psikologi, sosiologi, antropologi, dan studi komunikasi. SRT terutama menjelaskan mekanisme yang digunakan individu untuk mengonstruksi pengetahuan dan mengartikulasikannya melalui interaksi dan komunikasi serta implikasi representasi ini terhadap pengalaman hidup mereka. Representasi sosial dapat dikarakterisasikan sebagai kumpulan pengetahuan yang sistematis atau manifestasi akal sehat kolektif yang digunakan individu untuk memahami lingkungan mereka dan terlibat dalam tindakan yang bertujuan.
Lebih jauh, Teori Representasi Sosial menggarisbawahi pentingnya kompetensi sosial di antara individu, khususnya mereka yang menduduki posisi keagamaan, yang harus menunjukkan pemahaman mendalam tentang perilaku yang sesuai dalam berbagai situasi. Sebaliknya, keterlibatan dalam perilaku menyimpang secara sosial dapat dikaitkan dengan kurangnya pengetahuan individu atau niat yang disengaja untuk bertindak bertentangan dengan norma yang ditetapkan.
Di dalam pesantren, terdapat pengakuan dan promosi kerangka etika tanpa pamrih ini, yang disebut dalam ajaran Sufi Imam al-Gazali sebagai ketulusan. Bantuan altruistik ini menumbuhkan dinamika patron-klien yang dikenal sebagai Kiai-Santri, yang sangat penting dalam tatanan sosial kehidupan para santri. Dorongan untuk berperilaku menolong sering kali berakar pada dorongan empati yang didorong oleh niat altruistik. Reaksi empati ini mencakup dimensi emosional, yang memungkinkan individu untuk merasakan perasaan orang lain, dan aspek kognitif, yang memfasilitasi pemahaman emosi orang lain dan motivasi yang mendasari perilaku altruistik. Pada konteks sufisme sosial Madura, empati dipandang sebagai sumber altruisme dan merupakan nilai tradisional dalam budaya.
Baca Juga : Erick Thohir, Sepak Bola Indonesia dan Piala Dunia U-17
Sufisme Al-Qur'an: Landasan Altruisme sebagai Mekanisme untuk Membina Karakter Sosial
Masyarakat Madura, khususnya kelas menengah, dibedakan oleh keberanian dan etos kompetitifnya. Karakteristik ini terwujud dalam berbagai dimensi kehidupan mereka, yang meliputi usaha ekonomi dan politik. Karakteristik ini tertanam dalam identitas dan kerangka budaya Madura, yang dipengaruhi oleh pendidikan formatif awal di Langgar/Musala. Atribut ini berkontribusi secara signifikan terhadap pengalaman sehari-hari masyarakat Madura. Masyarakat Madura dibedakan oleh rasa kebersamaan dan kohesi sosial yang kuat. Bahkan dalam migrasi ke berbagai tempat, watak sosial ini semakin kuat saat mereka mengalami rasa takdir dan perjuangan kolektif. Etos integritas dan solidaritas komunal ini terlihat jelas dalam setiap pertemuan dalam masyarakat. Praktik komunikasi mereka lebih jauh mencerminkan komitmen mereka untuk menegakkan keharmonisan sosial dan membina hubungan yang bersahabat di antara berbagai kelompok. Selain itu, masyarakat kelas menengah Madura dikenal karena kesetiaan dan rasa hormatnya terhadap figur otoritas, termasuk para pendidik dan pemimpin spiritual.
Pemberian dukungan sosial semakin memperkuat penghargaan yang dimiliki kelas ekonomi menengah terhadap tokoh-tokoh otoritas agama dan politik. Penghormatan terhadap figur otoritas dapat berdampak signifikan terhadap metode komunikasi mereka, yang ditandai dengan rasa hormat yang menonjol terhadap individu yang memiliki posisi otoritas, khususnya dalam konteks yang melibatkan pemimpin agama. Pada interaksi mereka dengan otoritas agama, anggota kelas menengah Madura biasanya menunjukkan rasa hormat yang menonjol. Sebaliknya, politisi dari kelas menengah cenderung terlibat dalam komunikasi yang lebih lugas daripada rekan-rekan mereka dalam lingkup ekonomi kelas menengah. Fakta komunikasi ini semakin mendukung Teori Representasi Sosial, yang menyatakan bahwa mekanisme yang digunakan individu untuk membangun dan mengekspresikan pengetahuan mereka melalui interaksi dan komunikasi berasal dari representasi mereka terhadap pengalaman hidup. Pola komunikasi ini juga merupakan bukti representasi sosial, yang mencirikan kumpulan pengetahuan yang sistematis dan mewujudkan akal sehat kolektif yang digunakan individu untuk memahami pengetahuan mereka.
Sufisme Al-Qur'an: Nilai Kebaikan sebagai Dasar Internalisasi Identitas Sosial
Bagi masyarakat kelas menengah Madura-Santri, agama memegang peranan penting dalam kehidupan dan tradisi sehari-hari mereka. Tradisi Islam juga memegang peranan penting dalam budaya Madura, terutama pada bulan-bulan yang mulia seperti Ramadhan dan Idul Fitri, yang dirayakan dengan berbagai pernak-pernik budaya untuk menegaskan kekhidmatannya. Nilai-nilai luhur juga ditegaskan pada bulan yang mulia ini.
Masyarakat Madura memilih Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai salah satu identitas sosialnya. Kenyataannya, Madura-Santri adalah dipandang sebagai panutan dalam menegakkan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat ekonomi menengah Madura-Santri. Mereka memperoleh pengetahuan tentang nilai-nilai baik dan konsep kebaikan\" melalui ajaran agamanya. Salah satu konsep tersebut adalah sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran (3): 92.
Salah satu cara untuk menjaga solidaritas sosial dan membantu mereka yang kurang mampu adalah melalui tradisi-tradisi yang mencerminkan nilai-nilai agama dan budaya Madura yang kuat. Tradisi-tradisi ini juga memberikan kontribusi yang signifikan untuk menjaga identitas budaya nasional yang beragam dan mempromosikan Islam moderat dan tradisi populer pesantren. Demografi kelas menengah Santri menjadikan perayaan keagamaan, seperti yang dicontohkan oleh Bulan Maulud, sebagai katalisator bagi keterlibatan dan perilaku sosial yang konstruktif. Bagi masyarakat Madura, merayakan Bulan Maulud melambangkan pentingnya iman dan warisan budaya. Periode ini memungkinkan untuk merenungkan ajaran Nabi Muhammad SAW, memperkuat prinsip-prinsip spiritual, dan memperkuat solidaritas komunal. Perayaan ini tidak hanya berfungsi untuk menggambarkan identitas masyarakat kelas menengah tetapi juga memperkuat hubungan interpersonal dalam masyarakat dan dengan entitas eksternal.
Kesimpulan
Sufisme Sosial mencakup minimal tiga domain pengetahuan: Sufisme, Tafsir al-Qur'an, dan Ilmu-Ilmu Sosial (khususnya Psikologi Sosial). Disiplin ilmu tasawuf membangun kerangka dasar yang penting untuk memahami dan menjelaskan prinsip-prinsip moralitas sosial, yang menjadi penekanan utama penelitian tersebut. Tafsir Al-Qur'an berfungsi sebagai landasan paradigmatik dan teoritis untuk mengkaji dan menafsirkan nilai-nilai agama yang menjadi landasan moralitas sosial. Ilmu Sosial (Psikologi Sosial) menyediakan kerangka teoritis untuk meneliti hasil-hasil studi empiris, khususnya tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang sedang dipertimbangkan.

