Dakwah Bil Hal dan Pengembangan Masyarakat Pesisir
OpiniSaya tentu merasa senang diundang di dalam acara Goes To Campus, Prospect Talk 42 oleh Prospect Institute bekerja sama dengan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Ampel Surabaya, pada Selasa, 19 November 2024, pukul 09.00-11.30 WIB di Aula FDK UIN Sunan Ampel Surabaya. Acara ini menghadirkan Prof. Dr. Abdul Halim, MA, Adhelia Hasir Miracahyani, dan saya serta moderator Rahadiyand Aditya. Acara ini juga dihadiri oleh Ketua Jurusan PMI, Yusrianingsih, Wadek II, Riesdiyah, mantan ketua jurusan Nadhir Salahuddin, dan para dosen PMI. Ketepatan, saya, Prof. Halim, Nadir Salahuddin dan Riesdiyah adalah mantan ketua jurusan PMI.
Di dalam acara ini saya sampaikan tiga hal penting, yaitu: pertama, dakwah bil hal. Dakwah bil hal sesungguhnya sudah menjadi tema lama di dalam perbincangan ide, gagasan dan pemikiran dakwah serta praktek dakwah di kalangan masyarakat Islam. Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin memang memprioritaskan tentang dakwah dalam bentuk bil hal. Ada banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang menyebarkan salam, memberi makan dan bersilaturrahmi. Bahkan ketiganya disebut sebagai afdhalul a’mal atau keutamaan amal di dalam Islam.
Dakwah bil hal harus dilakukan secara simultan dengan dakwah bil lisan atau bil Qalam. Jangan sampai dakwah bil hal yang sesungguhnya menjadi andalan dalam dakwah untuk memberikan pertolongan dalam kebaikan atau ta’awun bil birri justru terlupakan karena ketidaktahuan umat Islam akan kegunaan dakwah bil hal dimaksud. Indonesia sudah sangat dikenal sebagai negara dengan tingkat pilantropi terbaik di dunia, bahkan beturut-turut dalam lima tahun terakhir di dalam pemeringkatan yang dilakukan oleh World Giving Index atau WGI. Indonesia dikenal oleh dunia dengan gerakan zakat, infaq dan shadaqah serta wakaf yang merupakan ajaran luar biasa dalam gerakan pilantropi.
Islam adalah ajaran agama yang sangat perduli dengan keselamatan yakni keselamatan manusia, keselamatan lingkungan dan keselamatan alam semesta. Tuhan dipastikan tidak akan merusak alam dan seisinya, akan tetapi manusialah yang melakukannya. Di dalam ajaran Islam dinyatakan bahwa “tampak kerusakan di daratan dan lautan disebabkan oleh perilaku manusia.” Manusialah yang berperan akan kerusakan alam, misalnya illegal logging, kerusakan habitat sungai, lautan dan sebagainya.
Kedua, secara teoretik dan konseptual, yang mempelajari tentang teori dan praksis dakwah bil hal adalah Program Studi Pengembangan Masyarakat atau community development. Di Kementerian Agama disebut sebagai Islamic Community Development atau Pengembangan Masyarakat Islam disingkat Prodi PMI. Pengembangan masyarakat Islam merupakan satu kesatuan dengan dakwah bil lisan dan bil Qalam.
Di dalam prodi ini dikaji secara mendalam tentang konsep pengembangan masyarakat, pemberdayaan masyarakat dan juga pengembangan organisasi. Jika pengembangan masyarakat lebih terfokus pada pengembangan Sumber daya manusia, maka di dalam pemberdayaan masyarakat lebih beraksentuasi pada pemberdayaan ekonomi, sedangkan pengembangan organisasi lebih bertumpu di dalam penguatan organisasi dari berbagai dimensi social dan Sumber daya manusianya. Hal yang disentuh adalah kepemimpinan, manejerial dan human insani di dalam organisasi dimaksud.
Di antara contoh sederhana adalah melakukan pemberdayaan dan pengembangan masyarakat dengan melakukan analisis kebutuhan atau pemetaan atas potensi dan problem yang dihadapi oleh masyarakat. Jika pemetaan sudah didapatkan maka ditindaklanjuti dengan analisis situasi social, politik, religious, budaya dan tradisi yang terdapat di dalam masyarakat dimaksud. Barulah kemudian dapat ditentukan prioritas program dari berbagai peluang program yang didapatkan. Kemudian dilakukan upaya bersama masyarakat untuk pengembangan dan pemberdayaan potensi yang dimilikinya secara komunal. Diperlukan juga evaluasi bersama untuk memperoleh input baru dalam kaitannya dengan program yang dilakukan secara bersamaan.
Ketiga, di masa lalu saya pernah terlibat di dalam Pemberdayaan Sosial Berbasis Komunitas (PSBK) yang dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat. Di antara programnya adalah pemberdayaan ekonomi dan lingkungan. Saya teringat pernah terlibat di dalam penanaman pohon mangrove di Banyuwangi, Pantai Muncar, dan Tulungagung, Pantai Popoh. Program pemberdayaan ekonomi yang dilakukan adalah dengan pemberian insentif pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Baca Juga : Pesantren Rakyat, Antara Abangan Dan Nilai Surgawi
Sebagai contoh lain di dalam Gerakan Back To Village dengan konsep One Village One Product (OVOP), maka di wilayah Bojonegoro dan Ngawi yang merupakan masyarakat kehutanan, maka diidentifikasi apa yang menjadi produk desa yang dapat dikembangkan. Nyaris semua wilayah pinggiran hutan terdapat potensi untuk pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. LP3M IAIN (kini UIN) Sunan Ampel terlibat di dalam program pemetaan potensi desa-desa pinggiran hutan tersebut.
Masyarakat pesisiran juga memiliki potensi alam yang luar biasa. Banyak dijumpai misalnya perikanan tangkap, terumbu karang dan mangrove. Selain itu juga potensi garam, rumput laut, budi daya perikanan, industri dan pariwisata. Di beberapa wilayah Pantai, misalnya di Tuban didapati potensi pariwisata, yang dapat didayagunakan untuk pemberdayaan ekonomi rakyat. Selain itu juga budi daya perikanan, seperti tambak udang, ikan bakar, ikan segar dan di kota Tuban didirikan Mall Ikan, yang menjadi tempat untuk bisnis ikan segar dan ikan panggang. Juga berdiri Rumah Makan khas pesisiran yang mengusung tema makanan pesisiran, pedas dan variative.
Namun demikian yang perlu diperhatikan adalah ciri khas perwatakan orang pesisir yang terbuka, keras dan ulet, kesetaraan, dan pemberani. Orang pesisir itu terbuka dengan berbagai inovasi karena dari sinilah sebenarnya perubahan social banyak terjadi. Berbeda dengan orang pedalaman yang relative tertutup, maka kecepatan menyerap inovasi lebih cepat orang pesisir. Keras dan ulet karena berhadapan dengan lingkungan laut yang tak terduga. Hidup di bawah terik matahari dan hujan di lautan yang tak terduga perubahan cuacanya mengharuskan untuk memiliki sikap yang keras dan ulet serta pemberani.
Pemberdayaan masyarakat, pengembangan masyarakat dan pengembangan organisasi tentu harus mempertimbangkan potensi komunitas, ciri khas yang melekat di dalam pemahaman dan perilakunya serta lingkungan kehidupannya. Tanpa memperhatikan atas potensi komunitas dan masyarakat serta pemahaman dan perilakunya, maka program tidak akan diterima sebagai program kebersamaan. Saya berkeyakinan bahwa melalui prodi PMI, hal-hal seperti itu akan dapat dikerjakan bersama.
Prodi PMI sesungguhnya memiliki potensi yang sangat besar di tengah potensi masyarakat yang sangat variative dan berpotensi untuk diaktualkan. Hanya sayangnya, belum banyak yang menjadikan relasi antara pemberdayaan masyarakat, pengembangan masyarakat dan pengembangan organisasi sebagaimana sangat dikuasai oleh insan akademik dan praktisi pemberdayaan dan pengembangan masyarakat dengan pemerintah daerah agar potensi masyarakat dapat dioptimalkan untuk dikembangkan.
Saya mengamati atas karya mahasiswa PMI dengan berbagai inovasi yang dikembangkannya, seperti menjadikan sampah untuk menjadi pupuk organic, tulang ikan untuk menjadi makana berprotein, sisa kopi menjadi pupuk tanaman, dan banyak lagi, sesungguhnya dapat diangkat ke permukaan melalui kerja sama dengan Prospect Institute dan Pemerintah Daerah untuk pemberdayaan masyarakat.
Wallahu a’lam bi al shawab.

