Siaran Dakwah Salafi di Televisi Indonesia
Riset SosialArtikel berjudul “Challenging the Mainstreams: Broadcasting Slafi Da’wah on Indonesian TV Channel\" merupakan karya Ahmad Subakir. Tulisan ini terbit di Ulumuna: Journal of Islamic Studies tahun 2024. Tujuan dari penelitian tersebut adalah menganalisis bagaimana gerakan dakwah Salafi mencoba mendominasi ruang publik Islam di negara ini melalui program dakwah di TV. Penelitian tersebut mengkaji gerakan dakwah Salafi melalui stasiun televisi (TV) swasta nasional. Maraknya, dakwah di TV swasta pasca-rezim Soeharto dianggap sebagai bagian dari meningkatnya komodifikasi Islam dengan menyasar kaum muslim kelas menengah. Kemunculan secara rutin para pendakwah ini telah membentuk otoritas keagamaan alternatif yang menantang dan bersaing dengan otoritas keagamaan konvensional dari organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah, bahkan lembaga pendidikan Islam seperti pesantren maupun universitas Islam. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, munculnya dakwah Salavi di TV. Ketiga, agenda acara dakwah Salafi di TV. Keempat, menantang program dakwah arus utama.
Pendahuluan
Dakwah di TV dianggap sebagai salah satu strategi untuk menyebarluaskan ajaran Islam, sebab jangkauan media ini cukup luas. Tujuannya adalah untuk mengintensifkan keimanan dan ketakwaan umat Islam. Selain itu, juga digunakan untuk “membujuk” non-Muslim agar memeluk Islam. Bagi umat Islam, dakwah adalah kewajiban sehingga dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi media massa di Indonesia mempengaruhi tren dakwah dari strategi konvensional pada platform media seperti TV. Di sisi lain, tren dakwah di TB juga dianggap sebagai bagian dari perubahan konservatif Islam Indonesia. Perubahan citra Islam Indonesia dari yang toleran dan cenderung berkompromi, menjadi tidak toleran yang ditandai dengan banyaknya konflik pada Rezim Soeharto.
Para pendakwah baru yang berafiliasi dengan Salafisme secara rutin tampil di TV, seperti Badrussalam, Khalid Basalamah dan Syafiq Basalamah. Meningkatnya jumlah pendakwah di TV menggarisbawahi peran penting media, simbol Islam dan pengalaman keagamaan dalam masyarakat dan politik di Indonesia. Demokratisasi media telah memungkinkan industri TV berkembang pesat guna memenuhi sebagian besar harapan khalayak terhadap produk dan konten Islam di TV. Lebih jauh, para pendakwah di TV menawarkan otoritas keagamaan alternatif bagi masyarakat Muslim yang dibentuk melalui budaya populer dan hiburan di media. Jenis praktik Islam ini merupakan bagian dari tren global kebangkitan agama, yang menunjukkan hubungan yang kompleks dan berlapis-lapis antara media dan otoritas.
Munculnya Dakwah Salafi di TV
Salah satu stasiun TV swasta yang menyiarkan program dakwah adalah Trans7, di bawah naungan Gramedia Kompas Group dan CT Corporation. Stasiun TV ini mulai beroperasi pada 15 Desember 2006 dengan beragam program acara seperti berita, hiburan, talkshow, dan lain sebagainya. Program dakwah di Trans7 terbagi menjadi tiga jenis, yaitu Rahasia Sunnah, Khazanah Islam, dan Khalifah. Jika program dakwah Islam di stasiun televisi swasta lainnya menggunakan panggung yang di atasnya terdapat pendakwah dan presenter yang duduk berhadapan dengan kamera, maka semua program dakwah di Trans7 diawali dengan pemutaran film dokumenter pendek tentang topik yang akan dibahas penceramah setelah film pembuka selesai. Pada pemutaran film dokumenter pendek tersebut, ada seorang laki-laki atau perempuan yang menjelaskan apa yang ditayangkan dan sesekali mengutip beberapa ayat Al-Qur\'an atau Hadits. Jenis dakwah ini sudah muncul sejak tahun 2010 di Trans7.
Perbedaan lainnya adalah pada isi. Jika program dakwah di stasiun lain cenderung menghindari topik-topik yang kontroversial, program dakwah di Trans7 justru memilih topik-topik seperti itu. Misalnya, para pendakwah membahas tentang larangan ziarah kubur dan beberapa jenis doa. Hal-hal tersebut merupakan hal yang masih bisa diperdebatkan dalam hukum Islam. Berbeda dengan stasiun lain yang biasanya memilih pendakwah televisi kondang seperti Mamah Dedeh, Yusuf Mansur, dan lain-lain, program dakwah di Trans7 memilih pendakwah Salafi dari Rodja TV seperti Badrussalam, Khalid Basalamah, dan Syafiq Basalah yang belum tentu terkenal.
Fakta lainnya adalah wakil kepala produser dakwah di Trans7 adalah seorang Salafi. Ia tampak ramah dan memiliki jenggot panjang serta bintik hitam di dahinya. Ia menyatakan bahwa ia mulai menjadi pengikut Salafi setelah ia menonton dan mendengarkan program dakwah di Rodja TV pada tahun 2009. Motivasinya semakin kuat saat ia berencana untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Ia berpendapat bahwa sebagai seorang jurnalis, ia harus bersikap kritis, liberal, dan berpikiran terbuka. Sebelum pergi ke Mekkah, ia mencoba untuk meningkatkan religiusitasnya. Ia menghadiri beberapa pertemuan kajian, namun ajaran Islam yang ia cari baru ditemukan pasca menonton dan mendengarkan Rodja TV. Setelah pulang haji, pada awal tahun 2010, ia mulai berinisiatif untuk mengundang para penceramah yang berafiliasi dengan Rodja TV, seperti Syafiq Reza Basalamah, Badrussalam, dan Budi Ashari, untuk menyampaikan ceramah mereka di Trans7. Ia juga mengubah program dakwah Islam yang sebelumnya ada di Trans7 menjadi program-program di atas.
Baca Juga : Gerakan Islam Wasathiyah Jangan Lagi Terlambat
Mengingat Trans7 merupakan stasiun televisi swasta komersial yang berada di bawah naungan perusahaan milik Jacob Utomo (w. 2020), seorang penganut Katolik, dan dipimpin oleh Chairul Tanjung yang bukan penganut Salafi, maka kehadiran dakwah Salafi di Trans7 menimbulkan pertanyaan mengapa pemilik sekaligus direktur Trans7 mengizinkan tayangan dakwah Salafi di stasiun televisinya? Alasannya tentu saja untuk komersial. Munculnya dakwah aliran Salafi di Trans 7 menghadirkan model baru komoditisasi program yang berbeda.
Agenda Acara Dakwah Salafi di TV
Dakwah Salafi memiliki tiga agenda utama, yaitu: (1) pemurnian akidah Islam, (2) penerapan syariat Islam secara hukum, dan (3) pendirian negara Islam. Agenda mereka menjadi topik utama dalam program dakwah Trans7. Pada beberapa episode program dakwah Salafi menampilkan dan mengkritik berbagai macam praktik dan adat istiadat yang banyak dilakukan umat Islam di Indonesia untuk mengoreksinya agar sesuai dengan ajaran Salafi. Begitu pula dalam kasus hukum Islam dan pendirian khilafah, mereka membahasnya dalam satu episode karena tidak mungkin penerapan yang pertama tanpa yang kedua. Menurut para pendakwah Salafi, hukum Islam dapat diterapkan sepenuhnya di seluruh wilayah nusantara jika negara Islam didirikan.
Ada episode dengan agenda pemurnian Salafi menyangkut kelompok muslim yang dianggap menyesatkan pada program Khazanah. Topik penyesatan kelompok Muslim di Khazanah terbagi dalam beberapa episode. Episode pertama memperkenalkan sejarah munculnya kelompok sesat setelah wafatnya Nabi Muhammad, dimulai dengan deklarasi nabi-nabi palsu dan kemudian munculnya kelompok Muslim sesat dan bagaimana kekhalifahan Islam menangani mereka.
Kemudian, episode kedua Khazanah berfokus pada Ahmadiyah. Ahmadiyah adalah gerakan keagamaan Islam yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di India pada akhir abad kesembilan belas. Bagi sebagian pengikutnya, ia dianggap sebagai nabi baru setelah Nabi Muhammad. Pada episode ini, ada penjelasan bagaimana Ahmadiyah telah dilarang di beberapa negara dengan mayoritas muslim, seperti Pakistan dan Bangladesh. Ahmadiyah dianggap menyesatkan berdasarkan ajarannya, terutama menyangkut keyakinan Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang nabi. Ahmadiyah telah dilarang di Indonesia melalui fatwa MUI pada tahun 2005.
Pada episode ketiga kelompok muslim sesat, khatib Khazanah membahas tentang Syiah. Mazhab Islam ini diasosiasikan dengan salah seorang sahabat Nabi Muhammad, Ali bin Abu Thalib. Berbeda dengan para penganut Syiah, penganut Islam Sunni meyakini bahwa Muhammad tidak menunjuk pengganti sebelum wafatnya. Mirip dengan Ahmadiyah, Syiah masuk ke Indonesia sebelum merdeka dan telah lama hidup berdampingan dengan ormas muslim lainnya. Keberadaan mereka baru menjadi masalah setelah tahun 1998. Episode tersebut juga menguraikan ritual Syiah yang dianggap berdosa, seperti Idul Ghadir yang dirayakan setiap tahun tanggal 18 Dzulhijjah dalam kalender Islam.
Episode terakhir Khazanah membahas tentang ajaran sesat Jaringan Islam Liberal atau JIL. JIL merupakan forum untuk mendiskusikan dan menyebarluaskan konsep liberalisme Islam di Indonesia. Diskusi pertama, yang dianggap sebagai tanggal berdirinya, diadakan pada tanggal 21 Februari 2001, oleh salah seorang pemimpinnya, Luthfi Assyaukanie. Pada tayangan tersebut, pendakwah Khazanah menegaskan bahwa JIL menyesatkan karena menyebarkan ide-ide pluralisme, liberalisme, dan sekularisme. Ide-ide ini telah dilarang oleh MUI melalui fatwa mereka pada tahun 2005.
Baca Juga : Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Makan Siang Sekolah di Jepang?
Pada episode kelompok-kelompok muslim sesat tersebut, para pendakwah mengkritik pemerintah yang tidak melarang Syiah dan JIL, seperti yang telah mereka lakukan dengan melarang Ahmadiyah. Para pengikut kelompok Muslim sesat yang disebutkan di atas masih ada di Indonesia, tetapi mereka menghadapi kesulitan dalam menjalankan keyakinannya. Para pengikut Ahmadiyah di beberapa kabupaten di Indonesia meninggalkan rumah mereka karena mereka menolak untuk mengikuti keyakinan utama Islam Sunni di Indonesia. Mayoritas umat Islam melarang para penganut Syiah untuk melakukan ritual mereka di depan umum, sementara JIL sering menjadi sasaran ancaman dan kekerasan.
Kasus dakwah Salafi di Trans7 menunjukkan keberhasilan para pemimpin Salafi dalam mengarusutamakan ide-ide Salafi dari masyarakat ke televisi komersial. Agenda-agenda dakwah Salafi yang selama ini menjadi wacana subordinat program-program dakwah Islam melalui saluran-saluran televisi swasta, kini muncul di media arus utama. Agenda keagamaan mereka yang bersifat penyucian dan tujuan politik untuk menegakkan kekhalifahan dan hukum Islam menjadi pusat wacana-wacana Islam di televisi Indonesia saat ini.
Menantang Program Dakwah Arus Utama.
Munculnya dakwah Salafi di Trans7 dan media lainnya telah memicu perdebatan yang signifikan di masyarakat. Khususnya, para pemimpin dan anggota NU telah mengambil peran penting dalam memimpin perdebatan ini. Reaksi mereka terhadap kritik program dakwah di Trans7, yang telah menantang agenda NU, organisasi Muslim terbesar di negara ini, menjadi sangat penting. Tiga agenda dakwah utama NU, rekonsiliasi dengan tradisi Indonesia, menerima dan menjaga ideologi nasional, dan mengadopsi budaya hukum Islam lokal menjadi pusat perhatian perdebatan ini. Semua agenda dakwah Salafi di Trans7 bertolak belakang dengan agenda NU. Akibatnya, persaingan antar kedua pihak untuk meyakinkan umat Islam Indonesia tidak dapat dihindari.
Beberapa ulama NU di Jakarta dan Surabaya melaporkan kejadian yang sama tentang Khazanah kepada KPI. Dalam kejadian ini, para pelapor menganggap Khazanah memancing kebencian terhadap mazhab fiqih tertentu dan menciptakan intoleransi terhadap berbagai praktik dalam komunitas Muslim karena mereka mengkategorikan praktik NU, seperti pembacaan Tahlilan, ziarah kubur, dan sebagainya, sebagai sesuatu yang menyesatkan. Menanggapi laporan ini, KPI mengadakan mediasi pada 17 April 2013, di kantor pusat di Jakarta. Pada mediasi tersebut, Idy Muzayyad dari KPI mengusulkan agar tayangan dakwah di Trans7 sebaiknya menghindari topik-topik yang sensitif dan kontroversial yang dapat memancing polemik di masyarakat.
Jadi, jelas bahwa program dakwah melalui TV komersial telah menjadi ajang bagi para pendakwah untuk mendefinisikan sikap muslim di Indonesia kontemporer. Mereka cepat tanggap terhadap tren yang berkembang di masyarakat. Media TV diuntungkan dengan reaksi tersebut dalam hal rating dan jumlah penonton. Topik terkini program dakwah melalui TV yang menyangkut perdebatan, mendorong penonton untuk menyaksikan dan mengikuti program tersebut.
Kesimpulan
Kemunculan program dakwah Salafi di stasiun TV swasta merupakan hal baru karena pada umumnya kaum Salafi menghindari platform media komersial. Pengikut Salafi lebih memilih menggunakan media untuk dakwah mereka, seperti media cetak, radio, dan saluran TV komunitas. Mereka menganggap media komersial merusak dakwah dan mencampurnya dengan tujuan material. Rodja TV, salah satu stasiun TV komunitas Salafi di Indonesia, melihatnya secara berbeda. Pendiri Rodja TV memandang stasiun TV swasta nasional sebagai ajang dakwah dan pemberantasan praktik-praktik Islam yang menyesatkan, mereka menyiarkan program-program mereka di stasiun-stasiun televisi swasta nasional, Trans7 dan TransTV, yang isinya mengoreksi sebagian besar ritual-ritual umat Islam. Konflik yang ditimbulkan membuktikan adanya kontestasi otoritas keagamaan di antara mereka untuk mendapatkan legitimasi dan mewakili Islam yang beriman. NU dan MUI menilai kehadiran Salafi di Trans7 tidak dapat diterima karena ideologi dan agendanya bertentangan dengan ideologi mereka dan negara Indonesia.

