Spiritualitas Islam yang ‘Asli’
Riset AgamaArtikel berjudul “Muhammadiyah, Sufism, and the Quest for ‘Authentic’ Islamic Spirituality” merupakan karya Ahmad Muttaqin, Ustadi Hamsah, dan Robby Habiba Abror. Tulisan ini terbit di Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies tahun 2023. Penuisan tersebut mencoba menganalisis tren wacana dan praktik tasawuf dalam organisasi Islam modern-pembaharu di Indonesia dengan referensi khusus pada gerakan Muhammadiyah. Masyarakat condong mengkategorikan Muhammadiyah secara umum sebagai gerakan anti-tasawuf. Namun, praktik dan wacana tasawuf merupakan fenomena keagamaan yang nyata di kalangan tokoh dan anggotanya. Meskipun secara organisasi, Muhammadiyah tidak mengakui keberadaan tarekat. Terdapat lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, wacana dan praktik tasawuf di Muhammadiyah. Ketiga, sufisme praktis di akar rumput. Keempat, istilah bernuansa sufi dalam dokumen Muhammadiyah. kelima, spiritualitas Islam yang autentik dalam konteks Muhammadiyah.
Pendahuluan
Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang dikenal dengan semboyan ‘Amal Ma’ruf Nabi Munkar’ yang berakar pada epistemologi para reformis Islam. Landasan pendiri reformis Islam adalah pemikiran rasional dan implementasi sosialnya. Paradigma reformasi umat Islam lebih pada rasionalisasi sistem kepercayaan, kitab suci, dan sumber hukum untuk menjawab permasalahan sosial yang ada. Pada konteks ini, Muhammadiyah menjadi pionir dalam mengembangkan cara pandang rasionalis dalam Islam.
Pada perkembangannya saat ini, Muhammadiyah banyak berinteraksi dengan dinamika sosial budaya yang lebih luas. Dinamika sosial paradigma reformis ini terus muncul dalam konteks sosial yang lebih kompleks. Sekilas paradigma rasionalis condong mengabaikan praktik asketisme yang menekankan pada praktik batin. Epistemologi berbasis intuisi yang dikembangkan dalam tradisi asketis bukan domain paradigma rasionalis. Meski demikian, dinamika perkembangan lingkungan Muhammadiyah dalam berinteraksi dengan berbagai konteks sosial budaya terkadang mengarah pada kecenderungan ‘asketis’ yang berorientasi pada praktik tasawuf secara khas.
Wacana dan Praktik Tasawuf di Muhammadiyah
Secara umum, sikap Muhammadiyah terhadap tasawuf dapat digolongkan menjadi tiga kategori. Pertama, mereka yang sepenuhnya menentang dan menolak tasawuf. Kedua adalah mereka yang terbuka terhadap gagasan tasawuf. Ketiga, mereka yang mengakomodasi tasawuf.
Muhammadiyah mengambil kemaslahatan tasawuf dalam berbagai aspek, karena hakikat tasawuf adalah akhlaqul karimah. Maka, Muhammadiyah lebih mengelaborasi konsep pengamalan akhlaqul karimah dibandingkan tarekat yang kebenarannya berbeda-beda. Ada beberapa kelompok tarekat yang tergolong “mu’tabarah” (sah/sahih karena dianggap tidak bertentangan dengan syariat), ada pula kelompok tarekat yang tergolong “ghairu mu’rabarah” (tidak sah, karena bertentangan dengan prinsip syariah).
Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, KH Ahmad Azhar Basyir menyatakan bahwa tasawuf identik dengan ihsan. Namun, kalangan aktivis Muhammadiyah saat ini memaknai ihsan dengan konteks yang lebih luas. Tidak hanya dalam konteks spiritualitas Islam saja, melainkan merujuk pada dimensi batin pengalaman beragama seperti tertuang dalam hadis. Dimensi ihsan adalah tentang “takziyatu nafs” yang sudah termasuk dalam tauhid dan doktrinal. Ihsan juga diartikan lebih pada buah amal saleh dan akhlak.
Baca Juga : Trik Atasi Anak Kecanduan Bermain Gadget
Sufisme Praktis di Akar Rumput
Aktivis, anggota dan simpatisan Muhammadiyah di kalangan akar rumput nampaknya lebih terbuka dan tidak alergi terhadap dimensi pengalaman Islam. Di Yogyakarta, pusat pelatihan spiritual korporat telah berkembang sejak awal tahun 2000-an yang didirikan dan dipimpin oleh tokoh Muhammadiyah. Misalnya, Bionergi yang didirikan oleh Syaiful M. Maghsri. Ia mengaku apa yang ia lakukan hanya sekadar menjelaskan ajaran sufi seperti sabar, syukur, ikhlas, dan tawakal pada tataran praktis untuk tujuan langsung mencapai kesuksesan duniawi. Ia juga menambahkan bahwa kata spiritualitas adalah tasawuf dalam arti praktisnya.
Pada tingkat akar rumput, sejak tahun 2010 terdapat tren kelompok pengajian tasawuf di kalangan masyarakat Muhammadiyah. Misalnya, di Sidoarjo, Jawa Timur didirikan kelompok kajian tasawuf yang digagas H. Khusni Tauchid, Ketua Pengurus Cabang Muhammadiyah Sukodono di Masjid Al-Ishlah. Pada lima tahun terakhir, kelompok belajjar sufi semakin meluas dan berkembang di kalangan komunitas Muhammadiyah di kota-kota besar seperti Bandung dan Yogyakarta.
Istilah Bernuansa Sufi dalam Dokumen Muhammadiyah
Selama ini Muhammadiyah dikenal sebagai kelompok yang progresif, modernis dan belakangan puritan. Sehingga, akomodasi tasawuf akan sulit meskipun dalam tataran jangka panjang. Misalnya, tokoh karismatik Muhammadiyah, Hamka, yang menulis “Tasawuf Modern.” Ia harus menambahkan ‘modern’ setelah tasawuf agar resep dan praktik dimensi batin Islam dapat diterima. Karya Hamka adalah bagian dari proyeknya untuk mengembalikan tasawuf pada makna yang benar dan asli.
Merujuk pada dokumen-dokumen Muhammadiyah, ada beberapa istilah yang disamakan dengan tasawuf jika istilah tersebut dimaknai dalam dimensi batin ekspresi keIslaman, seperti Ihsan, spiritual dan spiritualitas. Muhammadiyah lebih memilih kata Ihsan dibandingkan tasawuf, sebab kata tersebut disebutkan secara pasti oleh Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadisnya. Oleh sebab itu, para tokoh Muhammadiyah menguraikan konsep ihsan dalam tataran praktis. Salah satu pasal dalam Kepribadian Muhammadiyah menyebutkan “Ihsan Kepada Kemanusiaan” sebagai bagian dari jati diri Muhammadiyah.
Meskipun istilah-istilah tasawuf yang padanannya banyak dijumpai dalam dokumen resmi Muhammadiyah, namun konsep organisasi dan pedoman spiritualitas Islam di lingkungan Muhammadiyah masih jarang ditemukan. Secara organisasi, Muhammadiyah masih bungkam terhadap tasawuf. Bungkamnya Muhammadiyah terhadap wacana tasawuf bertentangan dengan atributnya sebagai gerakan reformasi. Kritik Muhammadiyah terhadap pendekatan dikotomis dalam pendidikan, misalnya, telah mendorong organisasi ini mengusulkan sistem terpadu yang melayani ilmu sekular dan pengajaran Islam di sekolah-sekolahnya. Selain itu, kritik Muhammadiyah terhadap permasalahan kemiskinan membuat organisasi ini menginisiasi aksi filantropi Islam untuk melayani kebutuhan masyarakat dengan mendirikan rumah sakit dan panti asuhan. Namun, muncul pertanyaan mengapa kritik yang dilontarkan Muhammadiyah terhadap TBC (Tahayul, Bit’ah dan Churafat) tidak pernah diikuti dengan konsep dan tindakannya dalam memberikan saluran spiritual yang sah? Keengganan Muhammadiyah menguraikan secara sistematis dan ajaran spiritualitas Islam yang autentik menimbulkan stigma bahwa Muhammadiyah puritan dan anti-tasawuf.
Spiritualitas Islam yang Autentik dalam Konteks Muhammadiyah
Fenomena tasawuf muncul di kalangan Muhammadiyah dengan dua bentuk yakni etika dan etos. Bentuk etika menitikberatkan pada penyerapan unsur fundamental dalam tasawuf seperti tauhid, ketundukan kepada Tuhan, internalisasi nilai moral dan pietisme. Sedangkan, wujud etos menitikberatkan pada kegigihan dan ketertiban ibadah, semangat kerja keras memajukan masyarakat, penerapan nilai moral dalam ranah individu dan sosial, serta kebersihan dan ketertiban umum. Keduanya ada dalam tubuh gerakan Muhammadiyah baik secara personal maupun institusi. Menariknya, nilai etika dan etos tidak dilembagakan dalam satu organisasi tarekat sufi, melainkan sistem nilai bagi warga dan pimpinan Muhammadiyah.
Terdapat kebangkitan kembali semangat tasawuf di lingkungan Muhammadiyah yang telah ditunjukkan oleh Hamka dalam karyanya “Tasawuf Modern.” Fenomena ini dapat dijelaskan dengan merinci mistisme dalam agama menjadi tiga lapisan dalam model analisis Stephen Katz. Pertama, fenomena mistik adalah kondisi kesadaran manusia untuk bersatu di tengah-tengah Tuhan. Hal ini diaktualisasikan menjadi inti kesadaran beragama. Kedua, kristalisasi nilai-nilai mistik dilihat dalam kerangka tradisi keagamaan. Kristalisasi ini akan membentuk tradisi mistik tertentu pada masing-masing agama, dalam Islam disebut tasawuf. Ketiga, pelembagaan praktik tasawuf dalam tradisi tarekat yang khusus mengembangkan praktik “suluk” tokoh sufi tertentu. Tarekat lebih mementingkan aspek kelembagaan seperti yang diajarkan para tokoh. Secara kelembagaan, tarekat membatasi diri pada tradisinya sendiri dan hampir tidak pernah mengajarkan tradisi dari tarekat lain.
Praktik tasawuf di lingkungan Muhammadiyah menjadi anti-tesis atas tradisi tasawuf dalam Islam yang hampir selalu dibingkai dalam tarekat sufi yang terikat pada tradisi tertentu. Meski begitu, Muhammadiyah tidak menentang tradisi tasawuf yang dianut berbagai tarekat, kecuali yang bertentangan dengan nilai tauhid murni dan akhlak yang baik. Tasawuf di Muhammadiyah menekankan pada penerapan nilai tauhid dan moralitas dalam perilaku sehari-hari, baik secara individu maupun institusi. Pengalaman tasawuf di Muhammadiyah menjadi pengayaan tradisi tasawuf di dunia Islam yang lebih berorientasi menuju aksi sosial inklusif daripada asketisme individu kepuasan batin yang eksklusif.
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak anti-tasawuf, melainkan tidak mengakomodir tarekat sufi. Tasawuf berbeda dengan tarekat sufi di mana tasawuf adalah “isinya,” sedangkan tarekat adalah wadah atau payung organisasinya. Tasawuf adalah tujuan kualitas yang ingin dicapai, sedangkan tarekat adalah salah satu cara mencapai kualitas tersebut. Absennya promosi kata tasawuf dan tidak memberi ruang bagi tarekat bukan berarti organisasi Islam Modernis ini menolak dimensi esoterik Islam. Alangkah bijaknya jika dikatakan bahwa Muhammadiyah merumuskan dan mengamalkan tasawuf dengan cara yang khas.

