(Sumber : Harian inhua online)

Lebai Mamat Membangun Peradaban Di Gunung Totek Kayong Utara Kalimantan Barat

Horizon

Oleh Rabudin

Mahasiswa S3 Program Doktoral UNISMA Malang 

  

Lebai mamat sekeluarga berasal dari malaysia bermukim di Terengganu datang ke Indonesia bersama tiga orang saudaranya yaitu lebai yasin, lebai mamat dan lebai somat. Lebai mamat pertama kalinya bertempat tingga di Ketapang Teluk Kelapa Kuala Kubu. Tidak berapa lama di masa itu, kerajaan Kubu dipegang oleh Syarif Zeen. Mengingat ada beberapa pelaksanaan tugas kerajaan kubu dengan lebai mamat terdapat selisih pendapat maka lebai mamat menarik kesimpulan untuk pidah dari lokasi yang mereka tempati saat itu.

  

Tujuan lebai Mamat saat itu pertama kali adalah untuk membangun pemukiman. Dalam perjalanannya menggunakan perahu layar lebai Mamat sekeluarga menuju ke pulau Padang Tikar. Setelah tiba di pulau tersebut, untuk pertama kalinya beliau bermukim di sana tepatnya di Kampung Tengah. Tidak berapa lama lebai mamat dan keluarganya di sana, beliau merasa tidak mendapatkan hasil yang beliau inginkan dan beliaupun memutuskan untuk melakukan perjalan kembali dengan tujuan daerah lain. 

  

Lebai mamat-pun melakukan perjalanan kembali menggunakan perahu layarnya menuju ke pulau Maya. Dalam perjalanannya menuju pula Maya, beliau banya sekali mendapat tantangan dan rintangan berupa angin dan ombak. Dengan tekat dan keinginan yang kuat akhirnya lebai mamat sekeluarga tiba di tempat yang ia tuju yaitu pulau Maya. Pada saat itu pula Maya masih hutan berantara termasuk pulau-pulau kecil di sekitarnya. Bahkan di tempat pendaratan perahu layar beliau dan di tempat tinggal beliau-pun belum ada penghuninya.

  

Dengan tekat dan kemauan yang kuat lebai mamat beserta keluarganya berusaha untuk membangun peradaban saat itu. Beliau beserta keluarganya secara bertahap melaksanakan tugas dan kewajibanya sehari-hari denga bercocok tanam, membuka hutan belantara untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan. Lokasi yang dibangun pada saat itu adalah dua Gunung diantara banyak Gunung yang terdapat disekitarnya yaitu Gunung di sebelah laut dan darat. Setelah melihat keberhasilah yang diperoleh setelah melihat hasil pertanian dan perkebunan tersebut, lebai mamat sekeluarga tertarik untuk menjadikan wilayah tersebut sebagai perkampungan menetap.

  

Masa silih berganti, tugas sebagai seorang petani telah dilakukan dengan baik, kehidupan keluarGa tumbuh dan berkemang sesuai dengan harapannya. Dengan azaz dan mufakat sekeluarga, maka ditetapkan dan diputuskan lokasi yang dikelola Lebai Mamat diberi nama Gunung Totek yang sebelumnya belum memiliki nama. Karena lokasi lahan di daerah tersebut sangat luas dengan hutan yang sangat lebat maka Gunung Totek dijadikan dua lokasi yaitu Gunung Totek Laut dan Gunung Totek Darat. Gunung Totek Laut yang berbatasan langsung disebelah utara dengan Selat Maya dan Gunung Totek Darat berbatasan dengan Batu Cap Belanda dan Batu Malang. Sedangkan dari arah selatan berhadapan dengan Gunung Totek Darat, arah timur terdapat ujung sungai Totek dan hutan lindung yang dihuni oleh keluarga Lebai Mamat. Di sinilah Lebai mamat membina anak cucunya. Menjadikan Gunung Totek Darat dan Gunung Totek Laut sebagai perkampungan tempat tinggal menetap. 

  

Selama Lebai Mamat mengelola tanaha pertanian dan perkebunan di Gunung Totek Darat dan Laut belum ada orang lain yang pernah mendiami ataupun mengelola tanah tersebut. Dengan keuletan serta kemauan yang keras, Lebai Mamat mempunya karismatik tersendiri , disamping ahli dibidang pertanian, perkebunan maupun perdagangan, ia juga seorang ahli geograpi, seni dan budaya selaras dengan silsilah keturunanya yaitu dari malaysia. Bahkan Lebai Mamat dipandang sebagai tokoh masyarakat dan tokoh Agama Islam pada saat itu. Dengan keahlian dan kemampuannya yang sangat luar biasa, beliau mampu menuliskan al Quran dengan tangannya sendiri.

  


Baca Juga : Tiga Pesan Prof. Nur Syam Terhadap Mahasiswa PPL

 Lebai mamat memiliki 14 orang anak yang terdiri dari 7 laki-laki dan 7 perempuan, yaitu : 

a. Tujuh Anak Laki-Laki Lebai Mamat : 

1. Deraman bin Lebai Mamat

2. Daud bin Lebai mamat

3. Bujang bin Lebai Mamat

4. Pendek bin Lebai Mamat

5. Jalil bin Lebai Mamat

6. Keria bin Lebai Mamat

7. Taib bin Lebai Mamat

b. Tujuh Anak Perempuan Lebai Mamat : 

1. Maryam binti Lebai Mamat

2. Halimah binti Lebai Mamat

3. Saedah binti Lebai Mamat

4. Kamariah binti Lebai Mamat

5. Timah binti Lebai Mamat

6. Sitam binti Lebai Mamat

7. Belidah binti Lebai Mamat

  

Untuk menunjang tata kehidupan dan perjuangan dakwah beliau,  Lebai Mamat juga melakukan perdagangan, yaitu jual beli barang makanan pokok antar pulau di sekitaran Gunung Totek. Bahkan dengan bermodalkan pengalaman Lebai Mamat melakukan perdagangan antar pulau sehingga sampai ke malaysia, singapura bahkan di pulau jawa. Adapun barang pokok yang diperjualbelikan adalah hasil perkebunan dan pertanian dari keluarganya di Gunung Totek. Seperti buah-buahan, sayur-sayuran, koprah kelapa dan sebagainya. Usaha yang dilakukan Lebai Mamat cukup lumayan dalam memenuhi kebutuhan anak  cucu beliau, sebab dari malaysia, singapura maaupun di pulau jawa, harga sandang pangan agak lebih murah dibandingkan di Indonesia khususnya di lokasi Gunung Totek.

  

Selanjutnya, setelah melihat perkembangan di Gunung Totek, lebai Mamat kembali memutuskan serta mempertimbangkan dengan matang, lebai Mamat memutuskan untuk mengembangkan tanah pertanian dan dakwah beliau di pulau meresak. Lebai Mamat beserta anak cucunya mulai membabat hutan sebagai langkah awal untuk dijadikan tempat tingggal yang sekaligus membangun peradaban.  Sesekali beliau menyemberang pulau ke Gunung Totek untuk melihat perkembangan perjuangan beliau yang dilanjutkan oleh anak-anaknya di Gunung Totek. 

  

Anak lebai Mamat yang masih menetap di Gunung Totek sering ditanyai dimana ayahnya Lebai mamat berada, anak-anak beliau menjawab bawah ayahanda Lebai Mamat berada di pulau Meresak. Kedatangan orang yang tak dikenal di pulau Gunung Totek mulai dicurigai oleh anak-anak beliau, namun kehadiran orang yang tak dikenal ini, anak-anak Lebai Mamat tidak terlalu menanggapi dan tetap tenang-tenang saja.

  

Sekembalinya Lebai Mamat ke Gunung Totek untuk mengunjungi anak-anak beliau, anak-anak beliaupun menyampaikan bahwa ada sekelompok orang yang menanyakan keberadaaan beliau. Tak lama kemudian, berselang beberapa waktu sekelompok orang tersebut datang lagi ke Gunung Totek dengan membawa temannya yang gagah-gagah. Lebai Mamat-pun melakukan pembicaraan sekelompok yang tak dikenal tersebut, kemudian sekelompok orang tersebut diusir oleh beliau karena memiliki niat untuk memeras anak cucuk beserta warga sekitar. Jelas kepergian sekelompok tersebut membawa kesan yang kurang baik, maka dari itu lebai Mamat-pun memberitahukan kepada anak cucunya agar selalu waspada. Kemudian lebai Mamat kembali lagi ke pulau Meresak untuk melanjutkan visi dan misinya yang belum selesai.  Singkat cerita umur beliaupun sudah lanjut usia, hingga pada akhirnya dalam riwayat hidupnya beliau juga salah satu tokoh di Desa Padang Tikar dan wafat juga di Desa padang Tikar Kabupaten Kubu Raya di makamkan di Kampung Tengah.