Tiga Pesan Prof. Nur Syam Terhadap Mahasiswa PPL
InformasiSelama mengikuti program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), mahasiswa harus menyadari tiga hal yang menjadi prioritas mereka saat belajar, yaitu kesadaran untuk belajar, kesungguhan berproses, dan kekuatan mental.
Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Nur Syam, M.Si, saat memberikan sambutan dalam acara Opening Ceremony Internship Program yang diikuti oleh 14 mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Kegiatan tersebut dilakukan via zoom mulai pukul 09.00-14.00 WIB.
Siap Digodok dalam Kawah Candradimuka
Dalam kesempatan tersebut, sebagai founder Nur Syam Centre (NSC), Prof. Nur Syam menyatakan bahwa selama proses pelaksanaan PPL ini, mahasiswa setidaknya harus memiliki kesadaran penuh untuk belajar. Dia mengibaratkan NSC sebagai sebuah “Kawah Candradimuka” bagi teman-teman mahasiswa yang sedang PPL. Istilah “Kawah Candradimuka” ini menurutnya merujuk pada istilah pewayangan yang mengisahkan tentang salah satu kesatria yang bernama Gatotkaca. Kesatria ini cukup dikenal sebagai tokoh yang memiliki julukan “otot kawat, tulang besi”.
“Julukan itu diberikan setelah sekian lama Gatotkaca digodok di Kawah Candradimuka, dan berguru langsung pada para dewa. Tentu, prosesnya cukup keras, kita tahu sendiri bagaimana panasnya Kawah Candradimuka itu. Kawah Candradimuka itu juga dapat dipahami sebagai sebuah proses belajar, belajar yang sungguh-sungguh, belajar yang keras, dan belajar yang giat,” jelasnya.
Di samping itu, mantan Rektor IAIN Sunan Ampel (sekarang UIN Sunan Ampel) ini juga menambahkan, dalam kawah tersebut, mahasiswa mengikuti program “pendadaran”. Sebuah proses yang lebih kompleks dari sekedar pelatihan yang terkesan secara fisikal dan rasional. “Pendadaran" meliputi proses belajar yang cukup intens, terukur, dan keras, serta tidak hanya tentang ilmu-ilmu yang menjadi konsentrasi belajar di kampus, namun juga memperkuat ilmu-ilmu agama.
“Ibarat telur yang didadar, dipecahkan cangkangnya, dikocok, digoreng, dibolak balik di atas tungku. Pendadaran proses belajar yang lebih kompleks tidak hanya mengacu pada hal-hal yang bersifat rasional, namun juga dibutuhkan kekuatan mental. Teman-teman mahasiswa ini, nantinya mungkin akan ditekan, dimarahi, dikritisi, dan dipaksa belajar dengan keras. Dan bukan hanya sekedar menulis, tapi juga harus mengaji,” tambahnya.
Generasi Penerus Islam Wasathiyah
Baca Juga : Integrasi Sains dan Ilmu Agama: Ekonomi Syariah
Selanjutnya, Prof. Nur Syam menjelaskan, pilihan pihak kampus menjadikan NSC sebagai tempat PPL bagi mahasiswa bukan tanpa alasan. Menurutnya ada hal yang cukup strategis yang hendak diintegrasikan dan dikerjasamakan antara mahasiswa dengan NSC. Sehingga mahasiswa menjadi lebih siap untuk menerima tongkat estafet dalam menggelorakan gerakan dan pemikiran Islam Wasathiyah atau Islam moderat.
“Artinya agar mahasiswa ke depannya menjadi orang yang terus berpikir, mengembangkan, berkarir, dan berkarya dalam konteks Islam Wasathiyah. Atau menggelorakan moderasi beragama berbasis media sosial demi Indonesia yang lebih baik. Hal inilah yang menjadi tanggung jawab kaum muda ke depannya. Karena mereka nantinya yang akan menjadi pengisi zaman.” terangnya.
Siapkan Mental yang Kuat
Pesan terakhir yang diberikan oleh Prof Nur Syam, kepada mahasiswa yang mengikuti program PPL di NSC tersebut, adalah tentang kesiapan mental dalam mengikuti proses belajar yang telah disusun dan direncanakan oleh pihak NSC. Proses belajar tersebut memang cukup berat, namun hal itu harus dilalui dengan baik, sehingga mendapatkan hasil yang maksimal.
“Teman-teman harus siapkan mentalnya, mental bahwa di sini kalian akan “digebuki”. Mentalnya harus kuat, karena akan ada moment di mana mentalnya akan di-down-kan, program-program pembelajaran yang cukup ketat, keras, dan terukur. Jadi saya harap teman-teman siap lahir dan batin,” ujarnya.
Karena itulah, Prof. Nur Syam berharap agar teman-teman mahasiswa benar-benar sadar dan sungguh-sungguh dalam belajar. Dia berpesan agar menjadikan proses belajar itu sebagai medan jihad mahasiswa, sehingga nantinya dapat memperoleh pencerahan dan ilmu-ilmu baru selama mereka belajar bersama di NSC.
“Proses belajar itu akan menguras banyak energi dan emosi. Karena itu saya berharap mahasiswa agar bersungguh-sungguh dalam belajar, ini jihad bagi mahasiswa saat ini,” tuturnya.
Baca Juga : Corak Kajian Sosiologi Islam: Kuliah Program Doktor UIN Khas Jember
Menulis, Menulis dan Menulis
Di akhir sambutannya, Prof. Nur Syam, memberikan pengalaman dan motivasinya dalam menulis. Menurutnya selama ini dia sudah menulis kurang lebih sekitar 2000 artikel yang tertuang di berbagai media dan buku. Jika salah satu tokoh filosof modern, Descartes, mengatakan “saya berpikir, maka saya ada”, maka bagi Prof. Nur Syam, “saya menulis, maka saya ada”.
“Karena itu saya kemudian punya prinsip 'di mana pun kita bisa menulis’. Saya bisa menulis di mana pun, bahkan dalam pesawat pun saya menulis. Pengalaman-pengalaman kecil, jika kita tulis, akan jadi abadi. Karena itulah saya sering mendorong kawan-kawan untuk terus menulis, menulis dan menulis,” ucapnya.
Kebiasaan Prof. Nur Syam dalam menulis sebenarnya terinspirasi dari banyak tokoh yang telah menghasilkan karya-karya besar. Salah satu tokoh yang dikaguminya adalah Imam Al-Ghazali. Tokoh Islam yang sangat populer lewat karya-karya monomentalnya ini memberikan banyak inspirasi bagi ketekunan Prof. Nur Syam dalam memproduksi tulisannya.
“Saya terinspirasi dari Imam Al-Ghazali, betapa banyak karya-karya beliau yang diabadikan dan masih bisa dibaca sampai sekarang, betapa besar pahala beliau, jika setiap orang yang membaca karyanya mendoakan beliau. Karena itu menulislah. Yang penting kita harus punya semangat, sesuatu ditentukan oleh semangat, ditentukan oleh niat, apa-apa itu tergantung niatnya,” pungkasnya
Mahasiswa Sebagai Agen Moderasi Beragama
Hal yang tak jauh berbeda juga disampaikan oleh Dr. H. Abd. Halim M.Ag, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam sambutannya dia berharap PPL tersebut menjadi tempat bagi mahasiswa untuk mempraktikkan ilmu yang telah didapatkan selama kuliah dan dapat mengambil pelajaran dan pengalaman-pengalaman baru dari NSC. Sehingga nantinya dapat memiliki keterampilan yang selaras dengan konsentrasi belajar mereka selama di kampus. Keterampilan tersebut diharapkan dapat mengkomunikasikan Islam yang moderat kepada masyarakat melalui berbagai bentuk kreativitas mereka.
"Saya berharap teman-teman mahasiswa nanti dapat menjadi komunikator, analis, trainer, maupun yang ahli dalam bidang advertising, yang berperan untuk mengkomunikasikan pesan-pesan Islam yang rahmatan Iil 'alamin yang juga menjadi distingsi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA. Di mana ada spirit nilai-nilai keislaman yang menjiwai profesi dan keahlian, dan nilai tersebut dikritalisasi dan dimunculkan dalam bentuk konten-konten yang produktif, menarik dan diminati oleh masyarakat," paparnya
Terakhir, Dr. Abd. Halim mengucapkan terima kasih kepada NSC dan Prof. Nur Syam yang telah bersedia menjadi tempat pelaksanaan PPL bagi mahasiswanya. Dia juga berharap, pasca PPL tersebut, ada beberapa mahasiswanya yang dapat bergabung dengan NSC atau menjadi agen-agen NSC yang sama-sama mengusung gerakan Islam moderat.
"Karena NSC sendiri sebenarnya membantu lembaga Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang menjadi wasilah dan episentrum untuk menggerakkan sebanyak mungkin pemikiran dan gerakan yang mengarah pada moderatisme," pungkasnya. (Nin/Ij)

