Kecerdasan Spiritual Dalam Menghadapi Era Disrupsi
InformasiFounder Kajian Islam Dan Psikologi (KIP) Prof. Dr. Reni Akbar dan Pusat Studi Timur Tengah Dan Islam (PSTTI) Universitas Indonesia menyelenggarakan ngaji online bertajuk 'Memperkuat Spiritual Intelligent di era Disrupsi'. Ngaji online kali ini turut mengundang yaitu Prof. Dr. Nur Syam, M.si Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai narasumber. Sementara, Prof. Dr. Reni Akbar sebagai moderator yang memandu jalannya acara hingga selesai. Hadir dalam acara ini peserta dari berbagai kalangan civitas akademika, yaitu mahasiswa dan dosen yang secara keseluruhan berjumlah 20 peserta. Ngaji online ini dilaksanakan secara langsung melalui saluran meeting online Zoom, (18/09).
Acara dimulai dengan membaca surat Yasin bersama yang dipimpin oleh M Arifurrahman. Lalu, seusai pembacaan surat Yasin, moderator mengambil alih forum ngaji online dan membuka acara dengan menyapa seluruh peserta. Lalu, dilanjutkan dengan membacakan curriculum vitae singkat narasumber. Seusai pembacaan curriculum vitae tanpa menunggu waktu lama, Nur Syam sebagai narasumber langsung memaparkan materi terkait tema ngaji online.
Norma Agama Sebagai Pattern For Behaviour
Nur Syam memulai pemaparan materi dengan menyatakan bahwa manusia memiliki empat kecerdasan. Adapun empat kecerdasan tersebut, yaitu kecerdasan rasional, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual. Ia pun mengatakan karena empat kecerdasan tersebut, manusia dinyatakan sebagai makhluk ciptaan yang unik dan spesial daripada makhluk ciptaan lainnya.
"Itulah kenapa akhirnya manusia memiliki jabatan yang luar biasa di muka bumi ini yaitu kholifatu fii al-ard (pemimpin di muka bumi)," tutur Nur Syam.
Pendiri media online Nur Syam Centre ini, juga menyampaikan bahwa manusia merupakan makhluk yang tercipta dengan sebaik-baiknya penciptaan. Empat kecerdasan tersebut diberikan kepada manusia sebagai piranti dalam menghadapi kehidupan. "laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim," imbuhnya di depan seluruh peserta ngaji online.
Kecerdasan spiritual menjadi salah satu kecerdasan yang berpengaruh pada tindakan manusia. Sedang, kecerdasan spiritual mampu melahirkan beragam tindakan kebaikan. Seperti halnya disampaikan oleh Nur Syam, ia menyampaikan bahwa tindakan yang berbasis kecerdasan spiritual akan melahirkan berbagai macam tindakan kebaikan. Tindakan kebaikan tersebut cerminan sifat-sifat sang pencipta. Hingga tindakan berbasis kecerdasan spiritual dapat mendekatkan diri seseorang pada sang pencipta.
"Nantinya muncul sifat belas-kasih, yang mana sifat tersebut cerminan sifat-sifat sang pencipta alam semesta yaitu Rahman Rahim. Sifat belas-kasih tersebut menjadi suatu rahmat yang diberikan oleh-Nya untuk umat Islam. Dalam diri manusia sesungguhnya terdapat ruh ketuhanan. Maka, manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan, yaitu welas asih, cinta kasih, dan persahabatan," ujar lelaki paruh baya yang mengenakan batik berwarna coklat kala itu.
Nur Syam yang juga merupakan pendiri Friendly Leadership School kembali menyampaikan bahwa tindakan yang berbasis kecerdasan spiritual akan melahirkan nilai-nilai spiritual, seperti kejujuran, tanggung jawab, keadilan, dan kesetaraan. ia juga menyampaikan bahwa tindakan yang berbasis kecerdasan spiritual tersebut tergerak atas dasar religiusitas yang dimiliki seseorang.
"Semua tindakan berdasarkan norma-norma agama. Ini menjadi pattern for behaviour (pola berperilaku)," tegasnya.
Hukum Keseimbangan Dunia Dan Akhirat
Di akhir pemaparan materi, Nur Syam mengatakan bahwa untuk itu penting dalam hidup memiliki tujuan hidup yang jelas. Tak hanya itu, juga penting dalam diri seseorang tumbuh harapan-harapan yang diharapkan di masa sekarang dan masa yang akan datang. Namun, tak cukup dengan kedua hal itu, menjalin persahabatan juga menjadi suatu hal yang penting dalam hidup. Ia pun mengatakan bahwa ketiga hal tersebut yang nantinya mengantarkan diri seseorang pada hidup yang penuh kebahagiaan.
"Dalam hidup harus punya tujuan. Itu artinya kita hidup harus punya tujuan dalam rangka meraih ridha Allah. Final goalnya adalah meraih ridha Allah bukan instrument goal, seperti mendapat jabatan tinggi atau mendapat gaji yang besar. Namun, final goal bergantung pada instrument goal. Instrument goal menjadi jembatan menuju ridha Allah. Mengutip (Syekh Syadzili) disampaikan bahwa harta adalah jembatan menuju Allah. Misalnya, nanti kita bisa berbagi sebagian harta kepada orang yang kurang mampu. Jaga hukum keseimbangan antara dunia dan akhirat," pungkasnya.
Berdasar ulasan yang ditulis oleh Caolinn Douglas dalam Corporate Research Forum (20/12/17), era disrupsi merupakan sebuah era saat teknologi dan masyarakat berkembang lebih cepat daripada yang dapat diadaptasi secara alami. Hal ini seperti terlihat mulai banyak perusahaan tradisional dan konvensional beralih menjadi platform digital. Sementara, yang mampu mengantisipasi dan merespon dengan cepat perubahan tersebut adalah ia yang mampu bertahan saat ini.
Caolinn kembali menyatakan bahwa terdapat 90 persen perusahaan mulai mengikuti tren digital, namun juga terdapat beberapa perusahaan yang juga gagal dalam menghadapi tantangan di era tren digital. Hal ini disebabkan karena perusahaan masih didasari asumsi bahwa dunia adalah linear, seperti perlu menyediakan kotak yang rapi, hirarki, garis pelaporan. Tapi, yang dituntut di era disrupsi saat ini adalah ketangkasan, kemampuan beradaptasi, dan inovasi. (Nin)

