Studi Diaspora Madura dalam Penguatan Ketahanan Sosial Pasca Konflik
Riset AgamaArtikel berjudul “Peace Building Pesantren: The Study of Madurese Diaspora in Reinforcing Social Resilience in Post-Ethnic Conflicts West Kalimantan, Indonesia” merupakan karya Abdur Rozaki dan Ahmad Izudin. Tulisan ini terbit di Ulumuna: Journal of Islamic Studies tahun 2025. Studi tersebut membahas tentang g keterlibatan diaspora Madura di Kalimantan Barat dalam pendirian pesantren dan kontribusinya terhadap ketahanan perdamaian yang masih terbatas.tujuan penelitian tersebut adalah menyelidiki mengapa dan bagaimana diaspora Madura terlibat dalam ketahanan perdamaian melalui pendirian pesantren. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan analisis dokumen menggunakan pendekatan studi kasus ganda. Fokus penelitian tersebut pada empat pesantren yakni Darun Nasyi\'in, Darul Ulum, Al Murabbi, dan Walisongso yang secara aktif terlibat dalam mempromosikan pembangunan perdamaian berkelanjutan di Kalimantan Barat. Terdapat tiga sub bab dalam penelitian ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, peran pesantren dalam pembangunan perdamaian berkelanjutan. Ketiga, dampak pesantren terhadap ketahanan social.
Pendahuluan
Kalimantan Barat menarik perhatian internasional selama konflik etnis yang terjadi pada bulan Desember 1996, Januari 1997, dan 1999, yang mempengaruhi provinsi ini di Pulau Kalimantan. Sekitar 70.000 orang diungsikan oleh pemerintah ke kota Pontianak akibat bentrokan antara suku Dayak dan Madura, serta antara suku Melayu dan Madura. Krisis kemanusiaan ini menimbulkan kerusakan yang cukup besar pada penduduk setempat selama hampir tiga dekade, yang mengakibatkan tidak hanya kehancuran infrastruktur fisik tetapi juga trauma psikologis.
Berbagai inisiatif proaktif, rekonsiliasi, dan rekonstruktif telah dilakukan di antara kelompok-kelompok etnis, termasuk lembaga-lembaga keagamaan seperti pondok pesantren, yang bertujuan untuk meringankan trauma psikologis dan mengurangi potensi permusuhan yang berkepanjangan. Akibatnya, terjadi penurunan kekerasan yang signifikan setelah berdirinya lembaga-lembaga ini. Jadi, lembaga-lembaga pendidikan Islam ini tidak hanya menyediakan wadah bagi diaspora Madura untuk terlibat dan berkontribusi pada kemajuan sosial, tetapi juga berpotensi meningkatkan ketahanan sosial di era pascakonflik.
Peran Pesantren dalam Pembangunan Perdamaian Berkelanjutan
Terdapat tiga temuan tematik yang saling terkait secara kolektif menjelaskan fungsi pesantren dimana terus mengalami perkembangan dan mendorong pembangunan perdamaian dalam konteks multicultural. Pertama, kerangka redukasi yang tertanam pada kurikulum studi Islam. Kehadiran pesantren menandai transisi yang disengaja menuju penanaman nilai-nilai inklusif, dengan penekanan yang kuat pada toleransi beragama dan keterlibatan sipil sebagai komponen fundamental pedagogi Islam.
Kedua, pesantren secara aktif mengadvokasi pengajaran koeksistensi dan harmoni sosial, tidak hanya melalui kerangka teoretis tetapi dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip ini ke dalam praktik sehari-hari dan ritual komunal, sehingga menumbuhkan pengalaman hidup pluralisme di antara para santrinya.
Ketiga, keterlibatan proaktif pesantren dalam pengembangan masyarakat menunjukkan kapasitas mereka sebagai agen akar rumput kohesi sosial, yang mahir dalam menangani keluhan lokal dan memediasi potensi konflik. Terakhir, pesantren berperan penting dalam memfasilitasi dialog antaragama, memanfaatkan legitimasi keagamaan dan otoritas moral mereka untuk berinteraksi dengan komunitas non-Muslim dan mendorong pemahaman antaragama.
Baca Juga : Solusi Atasi Bias Gender di Dunia Profesional
Para perantara budaya, termasuk Kiai dan pengawas pesantren memainkan peran penting dalam membangun kepercayaan di antara berbagai komunitas etnis dengan berkolaborasi dengan para pemimpin etnis setempat. Kegiatan seperti khotbah, pertemuan etnis, dan dialog komunitas, telah berkontribusi signifikan dalam membangun kepercayaan di antara kelompok-kelompok etnis. Kepercayaan yang terbina ini telah mendorong berbagai komunitas etnis untuk mendaftarkan anak-anak mereka di pesantren. Selain itu, para pesantren telah menerapkan kebijakan yang memprioritaskan keberagaman staf pengajar, sehingga memungkinkan siswa berinteraksi dengan beragam latar belakang etnis dan memahami pentingnya menghormati perbedaan. gam latar belakang etnis dan memahami pentingnya menghormati perbedaan. Lebih lanjut, kebijakan penerimaan yang tidak mempertimbangkan etnisitas berkontribusi signifikan terhadap penanaman nilai-nilai toleransi sejak dini. Bukti komitmen untuk menumbuhkan toleransi ini juga tercermin dalam program beasiswa yang ditujukan bagi anak-anak Melayu, seperti yang ditawarkan oleh Pesantren Al-Murabbi, yang secara eksplisit mendukung anak-anak dari keluarga bercerai.
Kontribusi terakhir pesantren terhadap inisiatif pembangunan perdamaian dicontohkan melalui dialog antaragama. Peran pesantren dalam mendorong dialog antar kelompok etnis yang beragam, yang mencakup kolaborasi antarkomunitas dan keterlibatan kelompok perempuan setempat. Misalnya, Pesantren Darul Ulum dan Walisongo telah memperingati Hari Santri pada tahun 2022, 2023, dan 2024. Lembaga-lembaga Islam ini telah memberikan undangan kepada berbagai pemangku kepentingan, termasuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Perkumpulan Merah Putih (PMP). Pada konteks ini, para guru, santri, dan pengurus dari pesantren-pesantren ini berpartisipasi dalam upacara pelantikan untuk menghormati para pahlawan nasional dan kontribusi mereka terhadap pembangunan daerah. Pada akhirnya, inisiatif-inisiatif yang bertujuan untuk mendorong dialog antaragama, mempromosikan toleransi dan harmoni di dalam pesantren yang ramahlingkungan, dan mendesain ulang kurikulum pendidikan berkontribusi secara signifikan terhadap upaya-upaya pembangunan perdamaian.
Dampak Pesantren Terhadap Ketahanan Sosial
Pada konteks pesantren, promosi nilai-nilai keberagaman terlihat jelas melalui kurikulum yang terstruktur dengan baik yang mencakup konten yang mengakui perbedaan budaya, etnis, dan agama. Modul pendidikan yang mencakup narasi sejarah, aspek budaya lokal, dan berbagai praktik keagamaan dirancang untuk mencerahkan siswa tentang dan menanamkan apresiasi terhadap keberagaman yang ada di lingkungan mereka. Lebih lanjut, penerapan praktik keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Peningkatan solidaritas dan kohesi sosial di pesantren dapat dicapai melalui berbagai pendekatan strategis yang mengintegrasikan pendidikan, praktik sosial, dan jaringan alumni. Sanad Keilmuan (pengetahuan genealogis), yang berakar pada prinsip-prinsip Wasathiyah Islam (Islam moderat), berfungsi sebagai landasan fundamental untuk mendorong toleransi antar kelompok etnis. Melalui penanaman ajaran-ajaran ini dalam konteks sosial, pesantren dapat menumbuhkan nilai-nilai etika yang menghargai keberagaman dan mendorong kolaborasi antarmasyarakat di Kalimantan Barat.
Pengembangan nilai-nilai masyarakat madani di dalam pesantren merupakan proses transformatif yang memadukan prinsip-prinsip Islam dengan norma-norma sosial untuk menumbuhkan suasana komunitas yang kohesif dan suportif. Pesantren, yang berfungsi sebagai pusat pendidikan Islam, menanamkan ilmu agama yang menumbuhkan perilaku etis dan saling menghormati di antara para santri dan alumni. Inisiatif ini semakin diperkuat melalui kemitraan dengan organisasi-organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU), sebuah lembaga Islam terkemuka di Indonesia, yang memainkan peran penting dalam menyatukan lulusan pesantren. NU mempromosikan nilai-nilai inklusivitas, toleransi, dan keadilan sosial, sehingga memperkaya layanan pendidikan pesantren. Pendekatan komprehensif ini tidak hanya membekali siswa dengan dasar yang kuat dalam pengetahuan agama tetapi juga mempersiapkan. Melalui penanaman nilai-nilai ini ke dalam praktik pendidikan dan bermitra dengan organisasi berpengaruh seperti NU, pesantren dapat memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan masyarakat sipil, membina generasi yang menjunjung tinggi standar etika dan terlibat aktif dalam kemajuan masyarakat.
Kesimpulan
Pesantren di Kalimantan Barat telah muncul sebagai kontributor penting dalam meningkatkan ketahanan sosial dan mengembangkan masyarakat sipil dengan mengintegrasikan pendidikan agama dengan praktik berorientasi masyarakat yang mendorong kohesi, toleransi, dan inklusivitas. Penelitian tersebut mengidentifikasi empat tema utama: promosi perdamaian dan keharmonisan sosial, integrasi kurikulum dan ritual yang berorientasi pada keberagaman, pemanfaatan strategis Sanad Keilmuan dan jaringan alumni untuk memperkuat solidaritas, dan reformasi nilai-nilai masyarakat sipil melalui paradigma Islam. Lembaga-lembaga seperti Darun Nasihin, Al-Murabbi, Darul Ulum, dan Walisongo berfungsi tidak hanya sebagai lembaga pendidikan tetapi juga sebagai lembaga komunal. tempat-tempat di mana keragaman etnis dan agama didamaikan melalui praktik-praktik bersama, termasuk Haul, Tahlil, dan Imtihÿnan. Kegiatan-kegiatan ini terjalin dengan ekspresi budaya lokal, seperti handep, dan didukung oleh ajaran Islam moderat (Wasathiyah) serta afiliasi dengan organisasi-organisasi yang lebih besar seperti Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu, pesantren memainkan peran penting dalam membina generasi baru yang berdedikasi pada pluralisme etika, sehingga meningkatkan kemampuan lembaga untuk berkontribusi pada pembangunan perdamaian dan integrasi sosial dalam lanskap etnis dan agama Indonesia yang beragam.

