(Sumber : serambinews)

Framing Budaya dan Rekonstruksi Identitas

Riset Budaya

Artikel berjudul “Islam and Nationalist Mobilization in Kazakhstan: Post-Soviet Cultural (Re)Framing and Identity (Re)Making” merupakan karya Bilal Ahmad Malik dari Universitas Kashmir, India. Tulisan ini terbit di Qudus International Journal of Islamic Studies tahun 2023. Penelitian tersebut mencoba menjelaskan bahwa Khazakhstan mencoba menampilkan diri sebagai jembatan yang menghubungkan dunia barat, muslim dan Asia. Tentunya dengan mengeksplorasi dinamika yang rumit dalam menyusun kembali budaya dan rekonstruksi identitas di tengah mobilisasi nasionalis pasca Uni Soviet runtuh. Secara metodologis penelitian tersebut menyelidiki peran Islam yang sering kali dikaburkan melalui “respon elit” yang mencerminkan sikap negara terhadap agama. Terdapat tiga sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, mobilisasi nasionalis. Ketiga, Islam dan mobilisasi nasionalis. 

  

Pendahuluan

  

Selama tujuh dekade, sekularisasi ateis yang diberlakukan oleh rezim Soviet mengakibatkan adanya serangan yang gencar terhadap para komunitas agama di kawasan Asia Tengah. Pengendalian yang dimekanisasi oleh negara ini dianggap sebagai pencabulan dimensi sosio-politik agama, terutama Islam yang terpinggirkan. Akibatnya, agama yang dominan pada konteks regional direduksi menjadi “penanda samar” identitas budaya baik dalam literatur Uni Soviet maupun Pasca Soviet. Pasca memperoleh kemerdekaan, kebijakan negara Kazakhstan secara terang-terangan bertujuan mendamaikan kontinuitas warisan Soviet dengan kembalinya warisan sejarah dan budaya. Deklarasi formal “kebebasan beragama” yang mewakili penyimpangan ‘de jure’ dari proyek diskursif Homo Sovietivus di Soviet memfasilitasi kebangkitan beragam bentuk fenomena keagamaan. Transformasi dalam hal ini adalah revitalisasi Islam secara bertahap sebagai elemen fundamental bagi Islam yakni pemulihan warisan spiritual, integritas budaya dan tradisi sejarah. 

  

Dampak kebangkitan Islam yang secara akademis disebut dengan “revivalisme Islam” diwujudkan dalam dua tingkat. Misalnya, pada tataran individu dengan meningkatnya partisipasi dalam berbagai bentuk ibadah, seperti salat, puasa, dan zakat. Begitu juga dengan jumlah umat Islam yang menganut prinsip normatif mengalami relatif peningkatan. Pada saat yang sama, Islam muncul kembali pada tataran publik. Relasi antara negara dan masyarakat mengenai Islam mengambil bentuk yang terstruktur dengan contoh semakin berkembangnya instrumentalisasi dan pelembagaan ‘faktor Islam.’

  

Permulaan kebangkitan Islam di Kazakhstan serupa dengan yang terjadi di negara Asia Tengah. Bertepatan dengan munculnya narasi barat seputar ‘Islam Politik’ atau ‘Islam Radikal.’ narasi ini adalah bentuk ruit dari neo-Orientalisme yang kemudian memunculkan berbagai literatur guna menanggapi gerakan transnasional revivalisme Islam. Wacana barat yang dominan mengenai kebangkitan Islam dan ditandai dengan konstruksi ‘dekontekstualisasi,’ semakin diperkuat oleh meningkatnya literatur Islamophobia pasca 9/11 yang secara luas menytereotipkan persepsi global tentang muslim dan membingkai Islam sebagai agama yang ditakuti sekaligus diperjuangkan. 

  

Mobilisasi Nasionalis

  

Konseptualisasi nasionalisme menggali relasi Islam dengan teritorialitas negara dan bangsa. Pada konteks muslim yang lebih luas, dua pendekatan berbeda telah berkembang. Pendekatan pertama adalah nasionalisme Islam yang menekankan pada dimensi etno-kultural Islam dalam mobilisasi nasionalis. Kedua, Islam Ummatisme yang mengajarkan konsep umat supra-nasionalis, menekankan pada universalitas prinsip Islam dalam gerakan Islam trans-nasional. 

  

Dinamika mobilisasi nasionalis di Kazakhstan dicirikan oleh ‘hubungan paradoks’ antara retorika politik negara dan tindakan politik di lapangan. Di satu sisi kekuatan politik yang dipengaruhi pola pikir Soviet dan komunis menjadikan faktor Islam secara keseluruhan rentan terhadap sekuritisasi yang intens. Di sisi lain pemerintah Kazakhstan berupaya meningkatkan hubungan diplomatik dengan negara muslim yang berpengaruh secara ekonomi, seperti Arab Saudi, Qatar, UEA, dan Turki. Hal ini secara strategis menggambarkan negara tersebut dengan citra religius yang secara historis terkait dengan Islam dan komunitas muslim global.

  

Fenomena revivalisme Islam sedang mengalami perluasan yang substansial ke seluruh Kazakhstan. Islam secara progresif beralih dari pengalaman individual ke kolektif, bermanifestasi dalam beragam bidang yang meliputi ruang keagamaan, pasar, platform media, serta kontribusi terhadap pembentukan identitas nasional. Mayoritas Islam di Kazakhstan menganut prinsip dasar agama, termasuk keyakinan akan keesaan Tuhan, nabi, dan keyakinan akan akhirat. Selain itu, ada peningkatan komitmen terhadap praktik keagamaan wajib seperti salat, puasa, dan sebagainya. Perkembangan jumlah masjid juga meningkat dari 63 pada tahun 1991 menjadi 3000 pada tahun 2018. Jumlah jamaah haji meningkat dari 228 tahun 2001 menjadi 3000 pada tahun 2018. Para wanita juga mulai menunjukkan identitas keIslamannya di tempat umum. 

  

Industri halal juga berkembang cukup signifikan di Kazakhstan yang mencakup sektor perbankan, makanan, restoran, obat, bahkan kosmetik. Secara khusus, sektor keuangan Islam telah menunjukkan tingkat pertumbuhan yang unggul dibandingkan negara Asia Tengah selama dekade terakhir. Terlepas dari bentuk atau karakter spesifiknya, revivalisme Islam secara sosiologis mewakili manifestasi sosio-kultural dari fungsi keagamaan yang mempengaruhi penyusunan ulang dinamika budaya masyarakat di Kazakhstan. Selain itu, hal ini membantu memahami titik temu yang signifikan antara perilaku, budaya dan agama yang mendasari makna sosial dari rasa memiliki serta integrasi nilai tradisional dalam rekonstruksi masyarakat Kazakhstan modern. 

  

Islam dan Mobilisasi Nasionalis 

  

Jika ditinjau dari perspektif top-down, proses mobilisasi nasionalis melibatkan elit yang memiliki kapasitas untuk mendefinisikan hakikat bangsa dan menyampaikannya. Adanya anggapan bahwa para intelektual elit memainkan peran penting dalam membentuk sikap sosio-politik masyarakat mempengaruhi sentimen masyarakat terhadap negara, khususnya ketika masa transisi. Sejak memperoleh kemerdekaan, para elit intelektual di Kazakhstan telah berpartisipasi aktif dalam pembentukan identitas nasional di tengah kebangkitan etno-budaya. 

   

Menurut Imam dalam tulisannya berjudul “Personal Communication” menyatakan bahwa masyarakat Kazakhstan secara konsisten mempertahankan identitas muslim mereka, bahkan selama Uni Soviet masih berpengaruh. Kebangkitan Islam kembali di masyarakat melalui praktik budaya dan fungsi spiritual. Adanya tema yang konsisten antara keterkaitan revivalisme Islam dengan budaya, tradisi dan identitas Kazakhstan, menggarisbawahi ikatan antara Islam dan budaya. Jadi, kebangkitan salah satu budaya pasti akan mengiringi revitalisasi budaya lainnya. kebangkitan budaya Kazakhstan menjadi barometer kebangkitan semua elemen yang secara historis membentuknya, termasuk Islam. 

  

Kesimpulan

  

Secara garis besar penelitian tersebut menawarkan pemahaman berbeda terkait relasi antara Islam dan mobilisasi nasionalis di Kazakhstan. Hal ini menekankan pentingnya perspektif elit dalam membentuk narasi identitas nasional dan mendorong kohesi sosial, sekaligus mengakui tantangan yang timbul dalam menyeimbangkan nilai-nilai agama dengan keharusan bernegara yang modern. Maka, penting untuk menjaga pendekatan yang seimbang terhadap agama dalam kaitannya dengan Pembangunan bangsa, mengadvokasi pelestarian warisan budaya juga mempromosikan integrasi sosial dan Pembangunan berkelanjutan. Jadi, perlu digarisbawahi pentingnya dialog dan kerja sama berkelanjutan antar lembaga negara, otoritas agama dan aktor masyarakat guna menavigasi kompleksitas identitas agama dalam lanskap sosio-politik yang berubah dengan cepat.