Yang Menarik dari Pilpres Tahun 2024
InformasiEva Putriya Hasanah
Pemilihan Umum Presiden 2024 telah menjadi peristiwa yang menciptakan beragam kejutan dan sorotan tajam di kalangan masyarakat Indonesia. Berbagai aspek menarik dari Pilpres tahun 2024 mencakup perubahan dinamika politik, partisipasi aktif dari generasi muda, pemanfaatan media sosial yang inovatif, dan narasi kampanye yang kreatif.
Generasi Muda: Suara yang Tak Bisa Diabaikan
Sesuai Daftar Pemilih Tetap Pemilu 2024 yang dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, jumlah total pemilih di Pemilu 2024 adalah 204.807.222. Dari jumlah tersebut terbagi menjadi beberapa kategori berdasarkan generasi dan umur. Untuk Pre Boomer atau pemilih dengan tahun lahir sebelum 1945 sebanyak 1,74 persen, baby boomer (1946 – 1964) sebanyak 13,73 persen, generasi X atau gen X (1965-1980) sebanyak 28,07 persen, generasi milenial (1981-1996) sebanyak 33,60 persen serta generasi Z (1997-2009) sebanyak 22,85 persen.
Dari prosentase pemilih berdasarkan generasi dan umur, pemilih pada Pemilu 2024 jelas didominasi oleh pemilih muda yakni yang berusia 17 – 40 tahun atau generasi Milenial dan generasi Z, dengan prosentase kurang lebih 52 persen dari total pemilih di Indonesia. Itu artinya, suara anak muda menjadi kekuatan super besar dalam menentukan masa depan negara Indonesia di pemilihan kemarin.
Tren Media Sosial yang Ikut Meramaikan Pilpres Tahun 2024
Salah satu tren yang sangat mencolok adalah peningkatan penggunaan platform media sosial sebagai alat kampanye politik yang efektif. Para kandidat dan tim kampanye mereka mengoptimalkan berbagai platform seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan TikTok untuk menyebarkan pesan politik, membangun citra, dan memenangkan dukungan publik. Konten-konten kreatif, cerdas, dan kadang kontroversial menjadi senjata utama dalam pertarungan kampanye di ruang digital. Hal ini bisa di lihat salah satunya melalui akun-akun partai yang secara aktif ikut serta berkomentar, menanggapi nitizen, dan membuat konten yang relevan.
Baca Juga : Dari Perbincangan Menteri Agama dengan Tim Sebelas Plus (Bagian Satu)
Tidak hanya datang dari tim kemenangan para kandidat, tren partisipasi yang tinggi dari berbagai kalangan masyarakat dalam diskusi politik di media sosial juga mencerminkan semangat demokrasi yang semakin tumbuh di kalangan pengguna platform-platform tersebut. Diskusi-diskusi, polling, dan kampanye-kampanye sukarela yang diinisiasi oleh berbagai pihak menciptakan ruang partisipasi politik yang lebih terbuka bagi beragam pandangan dan aspirasi. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi panggung politik, tetapi juga wadah untuk menggalang partisipasi dan memperluas jangkauan pesan politik.
Peningkatan penggunaan tagar atau hashtag dalam kampanye politik juga menjadi tren yang mencolok dalam Pilpres 2024. Tagar-tagar yang digunakan sebagai simbol atau slogan kampanye kandidat menjadi viral di media sosial, memperluas jangkauan pesan politik dan memicu keterlibatan publik. Dengan demikian, tagar-tagar ini tidak hanya menjadi alat untuk menggalang dukungan, tetapi juga untuk mengorganisir aksi politik secara daring.
Selain itu, tren pemanfaatan fitur live streaming dalam media sosial menjadi salah satu daya tarik utama dalam kampanye politik. Kandidat-kandidat memanfaatkan fitur live streaming untuk menghadirkan diri secara langsung kepada para pemilih, memberikan kesempatan bagi interaksi langsung dan penyebaran pesan politik secara real-time. Hal ini menciptakan keterlibatan yang lebih personal dan menjangkau pemilih secara langsung melalui platform-platform media sosial. Diantaranya melalui live Tiktok yang dilakukan oleh Anis Baswedan.
Secara keseluruhan, tren media sosial yang meramaikan Pilpres Tahun 2024 mencerminkan evolusi politik dalam dunia digital. Media sosial bukan hanya menjadi alat kampanye, tetapi juga panggung untuk perdebatan, dialog, dan mobilisasi politik yang melibatkan berbagai pihak. Dengan keterampilan teknologi dan semangat yang tinggi, masyarakat Indonesia telah membawa perubahan positif dalam cara politik dipahami dan dijalankan di era digital ini.
Fenomena Viral yang Mendominasi Pesta Demokrasi
Pemilihan Umum 2024 telah menjadi sorotan publik, bukan hanya karena pertarungan antara calon presiden dan wakil presiden, tetapi juga karena sejumlah hal yang viral yang menyertai ramainya pesta demokrasi ini. Fenomena-fenomena yang viral tersebut mencakup segala hal, mulai dari capres dan cawapres hingga tren-tren yang mencuri perhatian masyarakat. Mulai dari meme lucu, quote, kata-kata, musik hingga tren kampanye yang unik, fenomena-fenomena ini menjadi bahan pembicaraan yang hangat di kalangan generasi muda.
Selain itu, momen-momen viral juga melibatkan orang-orang di sekitar paslon, seperti dukungan dari tokoh-tokoh terkenal, pernyataan kontroversial, atau kegiatan sehari-hari yang diabadikan dalam konten-konten kreatif. Soundtrack kampanye juga menjadi bagian penting dalam menciptakan momen-momen viral, karena musik memiliki daya tarik yang kuat dan mampu memengaruhi emosi dan persepsi masyarakat.
Beberapa hal viral yang bisa dirangkum dalam pilpres kemarin diantaranya seperti kata-kata Anis bubble, gemoy, desak anis, oke gass, all in, anak abah, mundur wir, slepet, anak sekecil itu berkelahi, wakanda no more Indonesia forever, dan rugi dong. Viralnya hubungan anak dengan ayah, Ganjar Pranowo dan anaknya Alam, Anis Baswedan dengan putrinya, kisah percintaan setiap paslon, kucing peliharaan capres nomor dua dengan nama Bobby Kartanegara, kisah percintaan Prabowo dan Titik Soeharto hingga ajudannya Mayor Taddy. Fenomena-fenomena ini berhasil mencuri perhatian publik dan menciptakan sensasi di tengah hiruk-pikuk kampanye politik kemarin bahkan hingga hari ini.

