Pasca Pemilu, Lalu Apa Selanjutnya?
HorizonEva Putriya Hasanah
Pasca pemilu, fenomena saling bertengkar dan polarisasi dalam masyarakat seringkali muncul. Meski hasil perhitungan suara belum selesai, di media sosial rame di mana beberapa orang ingin pindah kewarganegaraan karena capresnya tidak menang. Pemilu seringkali memicu perbedaan pendapat yang tajam di antara masyarakat. Ketika kemarahan dan kekecewaan atas hasil pemilu sampai mengarah pada pilihan untuk pindah kewarganegaraan, hal ini menjadi cerminan dari betapa dalamnya perpecahan yang terjadi di masyarakat.
Pertanyaan yang muncul adalah, apakah kita benar-benar mengutamakan kebaikan untuk Indonesia, ataukah kita lebih terjebak dalam ego dan kefanatikan politik kita masing-masing? Memahami bahwa kebaikan Indonesia harus menjadi prioritas utama di atas segala kepentingan pribadi atau kelompok sangatlah penting. Keberagaman pendapat dan pilihan politik seharusnya dihargai, namun tidak boleh mengorbankan persatuan dan kesatuan bangsa. Lalu, apa sih yang seharusnya kita fokuskan pasca pemilu?
Membangun Semangat Persatuan
Pasca pemilu, penting untuk membangun semangat persatuan kembali sebagai landasan untuk memperkuat kesatuan dan kebersamaan bangsa. Menjaga persatuan tidak berarti kita harus sepakat pada setiap hal, tetapi lebih kepada kemampuan kita untuk menghormati perbedaan pendapat dan bekerja sama untuk kebaikan bersama.
Langkah konkret untuk menjaga persatuan dimulai dari diri sendiri, dengan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang hanya mengejar sensasi tanpa bukti. Memahami bahwa pemilu adalah bagian dari proses demokrasi yang harus dijalani dengan kedewasaan dan tanggung jawab dapat membantu membangun semangat persatuan kembali. Mempromosikan dialog dan rekonsiliasi antara kelompok-kelompok yang berbeda pendapat. Dialog yang terbuka dan inklusif dapat membantu mengatasi kesenjangan dan ketegangan politik yang muncul selama masa kampanye. Melalui dialog, kita dapat mencari titik temu dan membangun kesepahaman bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih harmonis.
Pendekatan dalam membangun persatuan kembali juga harus melibatkan peran aktif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, partai politik, tokoh masyarakat, dan media. Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memberikan contoh yang baik, mempromosikan narasi yang memperkuat persatuan dan mengurangi retorika yang memecah belah. Kolaborasi lintas sektor juga dapat memperkuat pesan persatuan dan menginspirasi masyarakat untuk bersatu kembali.
Baca Juga : Wacana Gender dalam Memposisikan Pekerja Migran Perempuan di Indonesia
Pendidikan dan edukasi juga memegang peran penting dalam menjaga persatuan pasca pemilu. Program-program pendidikan yang membahas nilai-nilai persatuan, toleransi, dan kerjasama lintas budaya dapat membantu membentuk generasi yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman.
Selain itu, penting untuk menciptakan ruang untuk partisipasi politik yang inklusif bagi semua golongan masyarakat. Keterlibatan aktif dalam proses politik dapat membantu masyarakat merasa didengar dan diwakili, yang pada gilirannya dapat memperkuat rasa kepemilikan terhadap negara dan memperkuat persatuan.
Menajamkan Daya Kritis terhadap Pemerintah
Penting untuk tetap kritis terhadap kinerja pemerintah, baik dalam hal kebijakan ekonomi, sosial, maupun politik. Kritik yang konstruktif dapat membantu pemerintah untuk memperbaiki kebijakan yang kurang efektif atau tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan tetap berpikir kritis, masyarakat dapat ikut serta dalam membangun negara yang lebih baik, tanpa terjebak dalam fanatisme politik yang dapat memecah belah persatuan.
Dalam proses pengawalan pemerintah, penting untuk menghindari fanatisme dan sikap abai. Fanatisme politik dapat mengaburkan pemikiran kritis dan mengarah pada sikap yang tidak rasional. Sebaliknya, sikap abai dapat membuat masyarakat acuh tak acuh terhadap kebijakan yang seharusnya memengaruhi kehidupan mereka secara langsung.
Dukungan terhadap calon presiden dalam pemilihan umum seringkali menimbulkan kefanatikan yang dapat mengaburkan pemikiran obyektif untuk kebaikan Indonesia. Kefanatikan pendukung capres dapat menghalangi kemampuan masyarakat untuk mengevaluasi kebijakan dan program yang diusulkan oleh calon presiden secara obyektif. Ketika pendukung terlalu terpaku pada calon pilihannya, mereka cenderung mengabaikan kelemahan dan risiko dari kebijakan yang diusulkan, dan hanya fokus pada kelebihan yang dijanjikan. Hal ini dapat mengakibatkan keputusan politik yang kurang rasional dan dapat merugikan masyarakat secara keseluruhan.
Lebih lanjut, kefanatikan pendukung capres juga dapat meredam kritik yang konstruktif terhadap kebijakan dan tindakan pemerintah. Masyarakat yang terlalu fanatik cenderung menolak kritik dan masukan yang berasal dari pihak lain, bahkan jika kritik tersebut bermaksud untuk memperbaiki kebijakan dan kinerja pemerintah. Hal ini dapat menghambat perbaikan dan inovasi dalam pemerintahan.
Kemandirian Berpikir dan Tidak Mudah Terprovokasi
Pentingnya memiliki kemandirian berpikir juga tidak bisa diabaikan. Kemandirian berpikir mengacu pada kemampuan seseorang untuk mengevaluasi informasi, merumuskan pendapat sendiri, dan tidak mudah terpengaruh oleh opini orang lain. Dengan memiliki kemandirian berpikir, kita dapat lebih selektif dalam menerima informasi, menganalisis situasi dengan lebih baik, dan mengambil keputusan yang lebih tepat agar tidak mudah terprovokasi.
Kemandirian berpikir juga membantu kita untuk lebih mandiri dalam menghadapi berbagai situasi. Ketika kita memiliki kemampuan untuk berpikir secara independen, kita tidak mudah terbawa arus pendapat mayoritas atau tekanan kelompok. Hal ini memungkinkan kita untuk tetap teguh pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang kita yakini, tanpa harus terpengaruh oleh opini orang lain.
Dengan demikian, tidak mudah terprovokasi dan memiliki kemandirian berpikir merupakan dua hal yang saling terkait dan sangat penting dalam kehidupan terutama urusan bangsa dan negara. Kedua sikap ini membantu kita untuk tetap tenang, rasional, dan mandiri dalam menghadapi berbagai situasi, serta membuat keputusan yang lebih baik dan lebih bijaksana.

