(Sumber : Kompas.com)

Islam Pesisir, Budaya Lokal dan Peran Tasawuf

Riset Budaya

Artikel berjudul “Institution of Islam Java: Coastal Islam, Local Culture, and the Role of Sufism” merupakan karya Nur Syam dan Wahyu Ilahi. Tulisan ini terbit di Islamica: Jurnal Studi Keislaman tahun 2023. Tujuan penelitian tersebut adalah mengkaji pelembagaan Islam di Jawa yang merupakan masyarakat Islam pesisir khususnya para sufi yang berkolaborasi dengan tradisi lokal pesisir. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, peran sufi dalam Islamisasi pesisir. Ketiga, sufisme dan Islam lokal. Keempat, memahami kontribusi Islam pesisir. 

  

Pendahuluan

  

Islam pertama kali tiba di daerah pesisir dan baru masuk ke daerah pedalaman. Ketika Islam masuk ke pedalaman, Islam murni kemudian ‘berdialog’ dengan tradisi masyarakat pedesaan. Para penyebar Islam ini adalah generasi dengan ‘kecerdasan’ tinggi guna memikat umat Hindu dan Budha agar memeluk ajaran baru, yakni Islam. Islam tidak diajarkan seperti di negara-negara Arab, melainkan melalui dialog dengan tradisi lokal masyarakat Indonesia. Mereka berprinsip meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jawa. 

  

Peran Sufi dalam Islamisasi Pesisir

  

Secara teoritis, tidak dapat dipungkiri bahwa Islam pertama kali berkembang di daerah pesisir. Oleh sebab itu, tidak salah jika ada anggapan bahwa penyumbang perkembangan Islam di Nusantara sebenarnya adalah masyarakat pesisir. Mereka yang menyebarkan Islam berasal dari kalangan pedagang dan sufi. Penyebaran Islam dilakukan melalui dakwah dari satu daerah ke daerah lain, kemudian mendirikan lembaga pendidikan, lembaga negara, maupun Kerajaan. Mereka mampu masuk ke wilayah kerajaan, seperti Samudera Pasai dan Perlak, serta mendirikan Kerajaan Islam pertama di Jawa yakni Kerajaan Demak Bintoro dengan Raden Fatah sebagai raja pertamanya. Saat itu, Demak menjadi pusak Islamisasi Jawa. Kerajaan Demak menerapkan politik keagamaan yang sangat efektif, sehingga muncul sebagai kekuatan baru pasca jatuhnya Majapahit. 

  

Berdasarkan teori Islamisasi Nusantara, memang tidak seluruhnya disebabkan faktor perdagangan, namun juga para sufi, pendakwah, dan lain sebagainya. Jika berbicara mengenai gerakan untuk menyebarkan Islam, pasti para pedagang yang lebih proaktif dalam mengembangkan Islam dibanding kaum sufi, meskipun tidak dipungkiri bahwa keduanya berkontribusi positif satu sama lain. Pada abad 14, sudah ada masyarakat muslim di daerah pesisir Jawa yang mendapatkan kesempatan berdagang ke luar negeri. Saat itu, pedagang dari Timur Tengah, India dan China juga mulai berdagang di Nusantara, khususnya Jawa. 

  

Pusat perdagangan di Jawa berada di kawasan pesisir dengan pelabuhan-pelabuhan besar, seperti Surabaya, Gresik, Tuban, serta beberapa daerah pesisir lainnya. Semuanya menggambarkan bahwa masyarakat pesisir telah melakukan dakwah melalui berbagai proses. Munculnya Pesantren Ampel di Surabaya dan Giri di Gresik menunjukkan bahwa wilayah pesisir adalah titik sentral penyebaran dan pendidikan Islam masa itu. 

  

Salah satu andalan dalam pengembangan Islam di seluruh Nusantara adalah sistem pendidikan. Masa itu, banyak berdiri pesantren sebagai pusat pendidikan Islam. Kecepatan penyebaran Islam di Nusantara tentu juga ditentukan oleh berdirinya pesantren-pesantren tersebut. Para tokoh Islam di seluruh Nusantara juga mengembangkan sistem pendidikan sebagai bagian dari proses Islamisasi. Sejak berdirinya pondok pesantren, proses penyebaran Islam memulai babak baru, bukan melalui pendekatan persoalan melainkan sistem pendidikan terstruktur yang memanfaatkan pengalaman belajar di Timur Tengah.


Baca Juga : Curahan Perhatian Untuk Alquran

  

Sufisme dan Islam Lokal

  

Secara teoritis, kedatangan Islam ke Nusantara terjadi ketika Kerajaan seperti Singosari atau Majapahit telah maju. Melalui sistem pertanian dan Angkatan laut yang kuat, Majapahit mampu melakukan akuisisi terhadap negara tetangganya. Alhasil, luas wilayah Majapahit hampir sama dengan Indonesia saat ini. 

  

Terdapat beberapa proposisi mengenai upaya komunitas Islam Pesisir dalam mengembangkan Islam di seluruh Nusantara serta bagaimana kontribusinya. Pertama, para pedagang dan sufi dari Arab dan Gujarat menghasilkan sumber daya manusia yang luar biasa. Mereka tidak hanya mengajar di mana mereka tinggal, namun berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Misalnya, Sunan Giri yang memiliki jejak Sejarah di Ternate, Nusa Tenggara Barat dan Bali. 

  

Kedua, transmisi Ilmu antara orang Arab dan Indonesia tidak pernah terputus sejak kedatangan para pedagang dan sufi di Nusantara. Jadi, sumber transmisi ilmiah melalui Islam Timur Tengah. Hampir semua wali memiliki jejak ilmu dari Makkah dan Madinah dan terhubung secara intelektual dengan para akademisi Timur Tengah. Misalnya, Sunan Ampel dan Sunan Giri sebelum berdakwah di Nusantara, ia belajar Islam di Arab Saudi selama beberapa tahun. 

  

Ketiga, seluruh wali Allah di Nusantara adalah keturunan ulama Timur Tengah dan memiliki garis keturunan Nabi Muhammad SAW. Bahkan, tidak dapat dipungkiri bahwa penyebar awal Islam adalah para habaib yang memang menerima transmisi ajaran Islam dari sumber otentiknya. Oleh sebab itu, penghormatan terhadap habaib menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan beragama di Nusantara ini. 

  

Keempat, dari sistem dakwah bercorak individual menjadi bercorak negara yakni dengan kemunculan Kerajaan Demak dengan sistem pemerintahan monarki yang didukung oleh para wali di tanah Jawa. Semuanya berjalan sesuai dengan skenario yang telah ditetapkan, yakni negara sebagai instrumen mengembangkan agama Islam. Pada perkembangan selanjutnya, hubungan antara Islam dan negara mengalami pasang-surut. Ada kalanya dekat dan jauh, sehingga nuansa konflik membayangi. 

  

Kelima, mendirikan lembaga pendidikan Islam sebagai instrumen mencetak ahli agama. di antara media paling efektif menyebarkan Islam adalah pendidikan, seperti pesantren yang telah memberikan kontribusi besar dalam Islamisasi Nusantara. Sejalan dengan perkembangan zaman, pesantren yang dulunya mengandalkan sistem pembelajaran konvensional (sistem sorogan, wetonan dan bandongan) telah memasukkan metode pendidikan madrasah yang lebih menekankan pada sistem klasikal. Meski demikian, sistem lama tetap dipertahankan. Jadi, sistem pendidikan pesantren sebenarnya adalah sistem pendidikan yang terintegrasi antara konvensional dan modern. 

  

Memahami Kontribusi Islam Pesisir

  

Perubahan sosial; budaya dapat dikategorikan sebagai perubahan yang berkesinambungan. Selain itu, perubahan adalah sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat. Oleh sebab itu, Islam tidak harus selalu identik dengan Islam di masa lalu, namun dapat berubah sesuai dengan tuntutan zaman. Setiap perubahan pasti melalui proses. Kedatangan para pedagang dan sufi di masyarakat pesisir adalah proses awal dalam perubahan sosial budaya masyarakat pesisir. Masyarakat Nusantara yang bermula beragama Hindu-Budha dan penganut animisme dinamisme, kemudian menjadi muslim. Perubahan ini berlangsung dalam proses yang panjang, Woodward menyebutnya sebagai dialog kultural yang melahirkan Islam akulturatif. 

  

Terdapat elemen dasar yang tidak dapat berubah total atau kontinuitas. Misalnya, ‘slametan,’ wadahnya adalah wadah lama tapi substansinya sudah berubah dari corak asli Hindu-Budha menjadi corak Islami. Alhasil, tradisi lama berubah menjadi tradisi baru dalam kemasan lama, Nur Syam menyebutnya dengan Islam kolaboratif di mana masyarakat Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, abangan bertemu dalam media budaya seperti sumur, makam dan masjid. 

  

Pelembagaan Islam di Nusantara telah menjadi proses Islamisasi yang unik dan menghasilkan corak yang unik pula. Melalui pesantren, bermetamorfosis menjadi madrasah, sekolah, pemahaman Islam menjadi lebih kuat dan masif. Hal yang menarik dari keberadaan pondok pesantren adalah mampu melahirkan pemahaman dan pengamalan Islam yang moderat. Islam Indonesia adalah contoh bagaimana Islam dipraktikkan dalam corak damai atau moderat yang menjunjung tinggi keharmonisan hidup dengan Tuhan, manusia dan alam semesta sebagai produk pendidikan Islam. 

  

Kesimpulan

  

Secara garis besar hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pelembagaan Islam di Jawa adalah proses panjang yang dilakukan para penyebar Islam. Upaya yang mereka lakukan di antaranya melali dakwah atau penyebaran Islam secara individu dan kemudian bersama-sama mendirikan Kerajaan, dan semakin terstruktur dengan pendirian lembaga pendidikan Islam atau pesantren. Islam yang dihasilkan dalam proses panjang ini adalah Islam dengan corak akulturatif atau kolaboratif yakni pengamalan ajaran Islam yang selaras dengan tradisi lokal. Sekalipun telah terjadi perubahan demi perubahan, namun ajaran pokok dalam Islam tidak berubah kecuali ajaran yang bersifat instrumental. Salah satu atribut terbesar dalam proses Islamisasi pesisir adalah terciptanya pengamalan agama secara moderat.