Kesenian Tradisional di Tengah Determinasi Teknologi
Riset BudayaTulisan berjudul “Kesenian Tradisional Sebagai Sarana Strategi Kebudayaan di Tengah Determinasi Teknologi Komunikasi” adalah karya Agus Maladi Irianto. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana strategi dan pengembangan kesenian tradisional di tengah determinasi teknologi informasi, serta menemukan model alternatif melindungi kesenian tradisional sebagai identitas kultural masyarakat pendukung yang tetap sinergis dengan tuntutan globalisasi. Di dalam review ini akan diulas kembali dalam tiga subab bab. Pertama, eksistensi kesenian tradisional di era pasca-modernitas. Kedua, tipologi kebudayaan masyarakat. Ketiga, kesenian tradisional sebagai strategi kebudayaan.
Eksistensi Kesenian Tradisional di Era Pasca-Modernitas
Irianto menjelaskan “gap” dengan cara yang runtut. Ia menjelaskan definisi pasca-modernitas dengan segala tuntutannya. Selanjutnya, ia menjelaskan bagaimana kesenian tradisional di tengah tuntutan global. Cara menulis artikel semacam ini sangat mempermudah pembaca dalam memahami apa yang sebenarnya terjadi, karena lebih struktural.
Irianto meminjam istilah Smith dalam bukunya yang berjudul “The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations” dalam menjelaskan perkembangan sosial. Perkembangan sosial saat ini dianggap telah melewati modernitas, artinya menuju pasca-modernitas. Pasca-modernitas identik dengan globalisasi ekonomi yang cenderung ditandai dengan perkembangan teknologi informasi, konsumsi budaya dan permainan media massa. Tuntutan tersebut menyebabkan perubahan terhadap cara pandang masyarakat, terutama terkait dengan eksistensi kesenian tradisional.
Kesenian tradisional saat ini tidak hanya dianggap sebagai identitas kultural, tapi juga dituntut menjadi komoditas hiburan yang mengandung unsur komersial. Saat ini segala sesuatu dapat dikomesialisasikan, misalnya kesenian dijadikan sebagai industri wisata. Namun, eksistensi kesenian tradisional saat ini harus termarjinalisasi karena dianggap tidak memenuhi standar dalam industri pariwisata, yang merupakan tuntutan global.
Seiring dengan tuntutan global, pewarisan tradisi untuk mempertahankan kolektivitas sosial mengalami banyak hambatan. Salah satunya adalah pemudaran identitas kultural yang selama ini melekat pada diri masyarakat. Selain itu, determinasi teknologi komunikasi dan globalisasi media terhadap kesenian tradisional mengubah cara pandang masyarakat selama mengembangkan tradisi untuk mempertahankan kolektivitas sosial.
Tipologi Kebudayaan Masyarakat
Irianto menjelaskan konsepsi dasar kebudayaan masyarakat secara tradisional. Ia mensitasi bukunya yang berjudul “Multikulturalisme Yogyakarta dan Identitas Keindonesiaan” untuk menjelaskan latar belakang kebudayaan Indonesia. Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga tipologi berbeda atas kebudayaan masyarakat. Namun, Irianto tidak mengulas tuntas semua latar belakang kebudayaan. Ia hanya mengulas singkat tentang kebudayaan masyarakat petani dan nelayan.
Tipologi masyarakat petani dideskripsikan dengan masyarakat di perdesaan, serta memiliki ikatan tradisi dan perasaan. Masyarakat petani lebih “menonjolkan” sifat sosial daripada ekonomi. Artinya, mereka lebih mengutamakan ketentraman dan perdamaian tanpa memaksakan keinginan yang lebih. Mereka lebih nyaman dalam kehidupan komunal ketimbang individual. Sedangkan, tipologi masyarakat nelayan dijelaskan bahwa nelayan memiliki adaptasi lingkungan yang sangat baik. Selain itu, nelayan adalah sekelompok orang yang memiliki keberanian menghadapi resiko.
Kesenian Tradisional Sebagai Strategi Kebudayaan
Kesenian tradisional sering kali dianggap sebagai identitas kultural yang berbasis kearifan lokal masyarakat. Namun, seiring perkembangan peradaban bangsa, kesenian tradisional juga dituntut menjadi komoditas hiburan yang mengandung unsur komersial. Globalisasi ekonomi dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, tumbuh beriringan dengan konsumsi budaya. Arus globalisasi yang masuk di Indonesia, berimbas pada kesenian tradisional yang harus menghadapi tantangan baru yang melahirkan perangkat praktis. Perangkat praktis yang lahir berbasis informasi, komunikasi, dan teknologi melahirkan industrialisasi yang mengarah pada orientasi pasar.
Pada dasarnya, tuntutan globalisasi ditandai dengan kemajuan teknologi yang harus memberikan ruang kreasi dan inovasi bagi revitalisasi kesenian tradisional. Sehingga, Irianto menjelaskan gagasannya mengenai revitaliasasi kesenian tradisioanal. Ia berpendapat bahwa harus ada gerakan pelestarian kesenian tradisional dalam bentuk multimedia. Cara tersebut dapat digunakan sebagai soft diplomacy bagi Indonesia.
Irianto memberikan contoh strategi kebudayaan berbasis multimedia dengan menuliskan pengalaman Korea Selatan dengan “Gangnam Style” yang sempat viral. Korea Selatan telah melakukan strategi kebudayaan dengan mengembangkan budaya pop. Gangnam Style merupakan kesenian tradisional yang direvitalisasi dalam bentuk multimedia dan menjadi salah satu strategi soft diplomacy Korea Selatan.
Kesimpulan
Tulisan Irianto menjelaskan secara jelas dan struktural mengenai bagaimana revitalisasi kesenian tradisional di tengah determinasi teknologi komunikasi dapat dijadikan strategi kebudayaan. Ia berpendapat bahwa strategi kebudayaan adalah grand design untuk dapat mewujudkan gerakan revitalisasi kebudayaan dari berbagai produk budaya. Revitalisasi dalam bentuk multimedia dapat menempatkan posisi kesenian tradisional untuk tetap terlindungi dan diwariskan tanpa harus termarjinalisasi oleh tuntutan ekonomi global. Menurut Irianto, strategi kebudayaan bisa dijadikan sebagai soft diplomacy negara Indonesia di dunia internasional. Namun, ia tidak menjelaskan bagaimana strategi kebudayaan digunakan dalam soft diplomacy, bahkan konsepsi dasar mengenai soft diplomacy. Terlepas dari kekurangan tersebut, Irianto memberikan sumbangsi pemikirannya untuk menjaga kesenian tradisional agar tidak kalah dengan tuntutan zaman.

