(Sumber : Nur Syam Centre)

Ibrahim

Khazanah

Oleh: Lukomono Hadi (Dosen UPN Yogyakarta)

  

Seandainya saya yang diberi perintah untuk memotong leher anak sendiri, mungkin sekali saya akan menolak, dengan  takzim dan takut. Saya akan katakan, biarlah saya masuk neraka, asal anak itu selamat.

  

Namun, saya bukan Ibrahim. Saya bukan tokoh Kitab Suci. Di dalam "Frygt og Baeven" (Gentar dan Gemetar) yang terbit tahun 1843, Kiekergard, pemikir Denmark menggambarkan Ibrahim sebagai "kesatria iman". Ia mengutip kisah dalam Kitab Kejadian. Pada momen Ibrahim atau Abraham mengambil pisau untuk menyembelih anaknya untuk jadi kurban, tuba-tiba berserulah Malaikat dari langit kepadanya: \"Abraham, Abraham! lalu Tuhan berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia." 

  

 Di dalam buku "Sacrifise in Judaism, Chrsitianity and Islam" (2017), David L Weddle mengatakan, kurban adalah hal universal dalam agama-agama Ibrahim (Yahudi, Kristen, Islam).

  

Di dalam Islam, ibadah menyembelih hewan kurban (bagi yang mampu) pada besok Hari Raya Idhul Adha 1440 Hijriyah (bertepatan dengan 31 Juli 2020) bermuatan makna persembahan kepada Allah (ikhlas), juga bermuatan makna kemanusiaan.

  

Artinya, tiap ekor hewan yang mati disembelih untuk korban adalah lambang pemberian yang tak hendak dibalas. 

  

Pengorbanan adalah "memberi".  Seperti yang dilakukan Ibrahim, kata kuncinya adalah "ikhlas". Tak  ada pengharapan akan adanya pembalasan kelak. Di dalam pengorbanan atau memberi  yang "ikhlas" itu, benda berpindah tangan tanpa berdasarkan kontrak pertukaran dalam paradigma kapitalisme.  Tersirat dalam kontrak adalah pembatasan: dalam kepercayaan, dalam solidaritas kemanusiaan, dalam waktu. Maka ketika kita "memberi" pengorbanan, batas itu tak ada. Kata kuncinya "ikhlas" dan mengandung premis bahwa ada yang turah dalam hidup. Maka "memberi" tak mengenal Langka. 

  

Namun, hidup kian ribut oleh Langka dan manusia cemas. "Berkorban" atau memberi dengan "ikhlas" makin jadi laku yang sulit. Yang berkuasa adalah proses tukar-menukar yang mengharapkan "laba", dari mana orang masih akan dirundung Langka. 

  

Pada kata-kata  Marcel Mauss di telaah sosiologinya dalam "Essai Sur Ledon" di tahun 1925, bahwa sindrom langka begitu kuat hingga masuk ke wilayah di mana orang hidup dengan mencoba meniru jejak Ibrahim tapi sulit sekali "memberi"  karena "memberi" akhirnya juga jadi proses pertukaran yang dikalkulasi