(Sumber : nursyamcentre.com)

Kuliah Online : Tantangan Orang Tua Mahasiswa di Tengah Pandemi

Informasi

Saat di tengah pandemi, kuliah dilakukan secara online. Namun, biaya kuliah tetap menjadi kewajiban administratif yang perlu ditunaikan. Maka, biaya kuliah tetap harus dibayar oleh mahasiswa untuk tetap dapat melanjutkan perkuliahan. Hanya saja hal tersebut kemudian menuai respon, baik mahasiswa dan wali mahasiswa. Salah satunya yang menjadi beban utama, yaitu kuota internet. Bahkan, akhirnya juga muncul sebuah pertanyaan dari beberapa masyarakat, ‘Kuliahnya Saja Online, Masa Masih Perlu Membayar Biaya Kuliah’. Kendati demikian, beberapa perguruan tinggi hingga kini masih belum memberikan jawaban yang pasti terkait persoalan kuota internet.

 

Kuota Internet Menjadi Beban Tambahan Bagi Ortu

 

Beberapa respon tersebut muncul pada umumnya disebabkan karena faktor ekonomi. Hal ini bermula karena ekonomi masyarakat yang kian mencekik di tengah pandemi, misal salah satunya pemasukan yang akhirnya menurun karena sepinya pengunjung. Selain itu, banyak juga perusahaan yang memberikan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawannya.

 

Sumarsih pekerja sebagai Laundry, wali mahasiswa dari salah satu kampus Islam Negeri di Surabaya mengatakan, dirinya begitu terbebani dengan biaya kuliah di tengah pandemi saat ini.  Ia pun mengaku bahwa pendapatannya kini menurun karena dampak dari pandemi Covid-19.“Yo pendapatane kurang, Yo sebenare keberatan. Yo cari pinjaman,” ucapnya pada crew Nur Syam Centre, (01/08).

 

Berbeda dengan Sumarsih, Imam Ghozali pekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, wali mahasiswa di kampus UIN Sunan Ampel Surabaya justru menganggap biaya kuliah di tengah pandemi tak menjadi persoalan yang berarti. Walau, sebenarnya dirinya juga berharap adanya penurunan  biaya kuliah di tengah pandemi. “Masak nggak ada keringanan gitu? Yaudah gapapa. Gak masalah,” kata Imam pada crew Nur Syam Centre, (01/08).

 

Sementara, Siti Muayyadah asal Tuban bekerja sebagai Petani, wali mahasiswa di kampus Surabaya mengaku keberatan saat harus membayar biaya kuliah di tengah pandemi. Sebab, baginya pendapatan dari hasil bertani sudah sangat minim. “Keberatan membayar UKT karena untuk bayar biaya kuliah anak saya udah pas-pasan. Apalagi sekarang ditambah jatah kuota internet,” ujarnya saat diwawancara oleh crew Nur Syam Centre, (01/08).

 

Tidak Menggunakan Fasilitas Kampus

 

Demikian respon datang dari beberapa mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, Nadia mahasiswi semester 5 program studi Ilmu Kelautan Fakultas Sains Dan Teknologi (Saintek) asal Jakarta mengaku masih keberatan dengan biaya kuliah saat masa pandemi sekarang ini. Walau, sebenarnya sudah ada keringanan dengan pemotongan biaya kuliah, yaitu 10 persen. “Kami juga tidak menikmati fasilitas kampus. Potongan biaya kuliah tersebut masih terlalu sedikit dari total pembayaran UKT. Paling tidak potongan 50 persen,” tuturnya pada crew Nur Syam Centre, (01/08).


Baca Juga : Relasi Perbedaan Gender dan Motivasi Diri

 

Sama halnya dengan Nadia, Yoga mahasiswa semester 5 program studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) mengatakan bahwa biaya kuliah di tengah pandemi cukup memberatkan. Sebab, baginya saat pembelajaran kuliah secara online, mahasiswa tidak sama sekali menggunakan fasilitas kampus. Tak hanya itu, ia juga mengaku keberatan dengan biaya kuliah karena pendapatan orang tua yang tak menentu di tengah pandemi.“Pendapat orang tua nggak menentu. Tambah lagi saat ini mahasiswa kuliah online yang harus pakai paket data atau kuota internet yang lumayan banyak. Saya sendiri juga belum menerima kuota sampai sekarang,” jelasnya pada crew Nur Syam Centre, (01/08).

 

Kampus Bertanggung Jawab Atas Kuliah Online yang Terbaik

 

Menanggapi beragam respon terkait masih perlukah pembayaran biaya kuliah saat pembelajaran  hanya dilakukan secara online. H. Moh. Faizin, S.Ag,. M.Pdi Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya menyampaikan bahwa dampak pandemi mengakibatkan muncul sebuah tatanan yang baru, yaitu pembelajaran secara online. Kendati demikian, ia juga mengatakan bahwa kuliah dengan sistem online dapat menimbulkan banyak kerugian, baik bagi mahasiwa dan khususnya wali mahasiswa yang bertanggung jawab untuk keberlangsungan kuliah putra-putrinya.

 

“Dampak itu harus dapat dikurangi. Sedang, kampus sudah mempersiapkan terkait dampak tersebut, seperti kuota internet. Namun, pemerintah juga perlu ikut serta dalam mengurangi dampak tersebut,” jelasnya.

 

Kendati demikian, perguruan tinggi bertanggung jawab untuk menciptakan sebuah tatanan yang baru, yaitu kuliah secara online yang terbaik. Demikian disampaikan oleh Faizin bahwa pendidikan menjadi prioritas yang utama. Walau, saat ini dunia pendidikan dihadapkan dengan masa yang sulit. Akhirnya semua jenjang pendidikan, termasuk perguruan tinggi menerapkan sistem pembelajaran secara online guna memutus rantai penyebaran Covid-19. Hanya saja, saat kuliah secara online kuota internet tetap menjadi hal yang dibutuhkan guna berlangsungnya proses pembelajaran dengan lancar dan baik.

 

So Must Go On. Pendidikan sangat urgen. Pendidikan harus dilakukan dengan proses yang baik, bijak, santun, dan simbiosis mutualisme antara civitas akademika,” ujarnya.

 

Bekerja Bersama Menyongsong Perubahan

 

Faizin pun kembali menyampaikan, saat ini adalah waktunya untuk perguruan tinggi dan civitas akademika menyongsong perubahan, yaitu New Normal. Dengan menciptakan beragam inovasi dan kreativitas di dunia pendidikan. Serta, terus menjaga komunikasi dan kerja tim antar sesama.

 

“Kreativitas dan inovasi dengan membuat pembelajaran yang berbasis digital, seperti e-learning. Selain itu, juga perlu banyak komunikasi dan kolaboratif. Bahkan, juga penting memilki critical thinking. Sebab, every problem there is a solution. “ pungkasnya. (Nin)