Mistisme Dukun Jawa: Moralitas Terhadap Tuhan
Riset BudayaTulisan berjudul “Mysticism in Javanese Shamans: Morality Toward God” merupakan karya Sartini. Artikel ini terbit di Journal of Indonesian Islam tahun 2021. Penelitian tersebut berusaha menjelaskan praktik mistis dukun di Jawa yang kerap kali disebut wong pinter, serta menganalisis berbagai jenis praktiknya melalui perbandingan definisi, tindakan, dan fitur mistiknya. Teknik penggalian data dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam yang kemudian di analisis berdasarkan teori tasawuf. Terdapat lima sub bab dalam penelitian ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, dukun dan sejarah mistisme Jawa. Ketiga, antara mistisme substantif dan formalis. Keempat, kedekatan dengan Tuhan: pengalaman wong pinter. Kelima, moralitas sosial sebagai kewajiban hidup.
Pendahuluan
Secara umum, istilah wong pinter sering kali digunakan untuk mengidentifikasi seroang dukun. Artinya, wong pinter merujuk pada orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengamalkan ahli ilmu gaib. Selain itu, wong pinter memiliki definisi yang lebih sempit serta bersifat lokal dan khusus. Terutama, jika dikaitkan dengan klaim bahwa istilah dukun cenderung memiliki konotasi negatif karena mencakup status ekonomi maupun sosial dan dianggap ‘berbahaya’.
Secara sempit, wong pinter merujuk pada seseorang yang memiliki kemampuan khusus, terutama berkaitan komunikasi dengan alam gaib, membantu orang lain, berakhlak mulia, membantu doa, dan memberikan nasihat kepada siapa pun yang datang. Istilah wong pinter lebih diterima daripada dukun, sebab memiliki konotasi positif terkait dengan moralitas dan kebijaksanaan. Istilah wong pinter mirip dengan istilah wong tuwo, sedangkan dukun lebih dikaitkan dengan ilmu hitam.
Dukun dan Sejarah Mistisme di Jawa
Menurut Fauzan Saleh dalam artikelnya yang berjudul “Modern Trends in Islamic Theological Discourse in 20th Century Indonesia: A Critical Study” berpendapat bahwa kepercayaan pada dukun didasarkan pada kepercayaan terhadap kekuatan gaib, setan, jin, bahkan roh nenek moyang. Pendapat tersebut dianggap mencakup konsep dukun dalam arti lebih luas bahwa wong pinter bisa dianggap sebagai seseorang yang melakukan praktik perdukunan (dengan ciri tertentu) dipengaruhi oleh aliran mistik yang berkembang di Jawa. Latar belakang agama tidak menjadi masalah, sebab mistisme bisa mengakar dan ditemukan pada semua agama. Pandangan tersebut diperkuat oleh Sam D. Gill dalam tulisannya berjudul “The Primitive: The Religions of Nonliterate Peoples” yang menyatakan bahwa paraktik perdukunan mengacu pada praktik individu, bukan agama tertentu. Berdasarkan dua konsep tersebut, terdapat anggapan bahwa dalam perilaku wong pinter sebagai praktik perdukunan Jawa terdapat unsur mistisme.
Perkembangan Islam di Indonesia menggambarkan pengaruh tradisi mistik. Masuknya Islam di Jawa dipengaruhi oleh kerajaan Samudra Pasai melalui karya para sufi Aceh seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Passai dan Nuruddin Arraniry. Berbagai karya tersebut menyebar ke Cirebon dan meluas sampai ke Pulau Jawa yang ditunjukkan oleh suluk (sastra mistik), bahkan muncul istilah manunggaling kawulo gusti yang menggantikan konsep devaraja. Teologi jenis ini terwakili dalam agama Hindu dan Islam di mana kedua ajaran tersebut berkembang di Indonesia dalam ‘tasawuf’.
Baca Juga : Selamat Tahun Baru 2025: Kerukunan Internal Umat Beragama (Bagian Ke Enam)
Antara Mistisme Substantif dan Formalis
Menurut mistisme, tujuan manusia adalah memperoleh hubungan secara langsung dan sadar dengan Tuhan. Kesadaran ini mencakup komunikasi dan dialog antar jiwa dengan Tuhan melalui ‘pengasingan’. Mereka yang menjalankan tasawuf dengan benar akan merasakan dirinya mampu menyentuh bahkan menyatu dengan Tuhan. Secara umum tasawuf dapat disimpulkan sebagai upaya untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan Tuhan. Selain itu, dapat diartikan sebagai upaya pengendalian diri untuk menghasilkan akhlak dan perilaku yang baik, sekaligus bermanfaat bagi orang lain.
Mistisme adalah bagian dari beberapa bagian kelompok agama dalam Islam, termasuk Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Tradisi mistik tasawuf di kalangan Muhammadiyah memang kurang popular. Misalnya, beberapa tokoh Muhammadiyah, seperti Ahmad Dahlan, Hamka, Abdul Rozak Fachruddin, dan Abdurrahim Nur mengamalkan tasawuf dalam kehidupan sehari-hari, meskipun tidak berafiliasi dengan organisasi tarekat tertentu. Ahmad Dahlan bekerja keras dalam upaya sosial seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pelayanan sosial. Hamka melakukan introspeksi diri, memperbaiki akhlak, membersihkan hati, melakukan perenungan, hidup sederhana, sabar, ikhlas namun juga teguh dan menjunjung tinggi syariat Islam. Muhammdiyah mengajarkan tasawuf moderat yang mengajarkan umatnya untuk beribadah sesuai aturan al-Qur’an dan hadis. Muhammadiyah mengkritik tradisi sufi berdasarkan guru spiritual tertentu atau kelompok tarekat tertentu. Pandangan ini sejalan dengan pandangan yang menolak tasawuf sebagai ajaran Islam, melainkan menyetujui bahwa tasawuf adalah cara dan moral yang mulia dan terpuji.
Di Indonesia, kewenangan untuk ‘mengesahkan’ tasawuf berada pada kelompok Nahdlatul Ulama yang disebut tarekat. Tarekat baisanya diasosiasikan dengan pendiri organisasi dan garis keturunan pemimpin menentukan kedudukan tarekat dan anggotanya secara hukum. Silsilah kepemimpinan dan relasi antara guru dan murid menjadi elemen penting. Salah satu fungsi penting seorang guru dalam tarekat adalah sebagai pembimbing dan perantara bagi murid yang ingin lebih dekat dengan Tuhan.
Kedekatan dengan Tuhan: Pengalaman Wong Pinter
Terdapat beberapa pandangan yang berbeda di kalangan wong pinter terkait bagaimana manusia dapat dekat dengan Tuhan. Beberapa di antaranya adalah, pertama, Choirul Anam yang menganggap bahwa hubungan antara manusia dengan Tuhan seperti adoh ra pisahan, cepak ra senggolan. Artinya, menusia bisa merasakan kehadiran Tuhan di dekatnya. Di dalam kaitannya dengan kedekatan manusia dengan Tuhan, seorang muslim wajib melaksanakan salat wajib maupun sunnah, serta puasa wajib maupun sunnah. Kedua, Ento berpandangan bahwa Tuhan itu dekat. Seorang manusia dapat mendekati Tuhan dengan melaksanakan salat, puasa, wurud, dan berdoa secara konsisten. Ketiga, Zamari berpendapat bahwa dekat dengan Tuhan dapat dilakukan dengan laku prihatin seperti puasa ngebleng, tirakat, melek, dan nyuwun. Ia juga bermeditasi dengan menahan nafas, berziarah ke makan kiai, ‘berbakti’ kepada makhluk gaib seperti arwah leluhur dan danyang. Keempat, Gudik berpendapat bahwa dekat dengan Tuhan dapat dilakukan dengan banyak laku prihatin, kurang tidur dan kurang makan, sehingga dapat memahami diri sendiri.
Moralitas Sosial Sebagai Kewajiban Hidup
Selain memiliki pemahaman dan metode khusus untuk mendekati Tuhan, wong pinter menganggap mambantu dan melayani masyarakat adalah suatu kewajiban. Wong pinter tidak akan memberitahu atau menunjukkan bahwa mereka dapat membantu. Namun, mereka akan melayani setiap orang yang datang untuk meminta bantuan.
Wong pinter lebih mementingkan amal saleh dan ketakwaan sosial, selain kepasraahan kepada kekuasaan Tuhan. Mereka memulai pandangan hidupnya dengan sikap luhur, akhlak yang baik, kebaikan kepada makhluk Tuhan yang lain, kedermawanan, kerendahan hati, kesederhanaan, kelembutan, menyamanan, ketakutan akan dosa dan penolong. Mereka memberikan bantuan kepada mereka yang bertanya, namun tetap menyadari kekurangannya. Mereka tidak bisa menolak orang yang meminta bantuan, bankan harus membantu orang. Mereka akan memohon kepada Allah SWT dan berserah diri sepenuhnya pada kehendak-Nya.
Kesimpulan
Secara garis besar, pada penelitian di atas menunjukkan bahwa sebenarnya ada aspek pengalaman pribadi dan sosial kuat dalam mistisme yang dibungkus dengan praktik wong pinter. Pengalaman pribadi digunakan untuk memberikan pelayanan sosial dalam konteks kepuasan mistik pribadi. Hal ini tidak tepat jika disebut dengan ‘kebatinan aktif’ karena mereka memberikan bantuan atas permintaan orang lain. Tidak bisa disebut juga ‘kebatinan pasif’ karena kemampuannya dimanfaatkan secara aktif oleh masyarakat. Wong pinter sebagai orang awam yang melakukan tindakan mistis dengan tunduk kepada Tuhan dan memiliki prilaku sekaligus akhlak yang baik serta relasi sosial yang kuat. Secara reflektif, dapat diasumsikan bahwa ilmu kebatinan juga dipraktikkan oleh para dukun yang memiliki ciri sama dengan wong pinter. Intinya, penelitian ini mendukung klaim bahwa perdukunan memiliki kaitan dengan mistisme.

