Poligami Ulama Madura: Kewenangan, Kebudayaan dan Seksualitas
Riset BudayaArtikel berjudul “Authority, Culture, and Sexuality in the Poligamy of Madurese Ulamas” merupakan karya Moh. Afandi, Ahmad Agus Ramdlany, Nilna Fauza, Siti Khoirotul Ula, dan Mohammad Farah Ubaidillah. Tulisan tersebut terbit di Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah tahun 2024. Umumnya, poligami di kalangan ulama Madura dilakukan secara sewenang-wenang dan sembunyi-sembunyi, akibatnya adalah penderitaan dan diskriminasi yang sangat merugikan perempuan. Namun pada kasus tertentu, ulama Madura kadang menunjukkan perilaku unik dalam menjalankan poligami, sehingga menumbuhkan kenyamanan dan keharmonisan dalam rumah tangganya. Tujuan dari penelitian tersebut adalah menelaah praktik poligami yang dilakukan ulama Madura dan faktor yang mempengaruhinya. Metode kualitatif diterapkan dengan sumber data primer berasal dari tiga keluarga ulama Madura yang memiliki keunikan dalam membangun rumah tangga poligami. Terdapat empat sub bab pada resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, karakter ulama Madura. Ketiga, poligami di kalangan ulama Madura. Keempat, di antara seksualitas, otoritas dan budaya.
Pendahuluan
Poligami diposisikan sebagai sumber diskriminasi terhadap perempuan. Argumentasi ini berdasarkan pada banyak kasus kekerasan rumah tangga yang dialami perempuan korban poligami. Begitu pula suami yang melakukan praktik poligami condong mengabaikan tanggung jawabnya menelantarkan keluarga pertamanya. Dampak lainnya bagi perempuan korban poligami adalah adanya tekanan psikologis akibat persepsi masyarakat terhadap statusnya pada kehidupan sosial, terutama bagi Istri kedua.
Madura adalah salah satu pulau di Jawa Timur, Indonesia dengan perspektif budaya yang unik, terutama pada kaitannya dengan poligami. Meskipun belum ada statistik khusus, namun pada ahli sepakat bahwa praktik poligami di Madura sering kali dilakukan tanpa persetujuan dan sepengetahuan istri pertama. Praktik ini sering terjadi melalui pernikahan siri yang bersifat rahasia, sehingga sifat rahasia poligami meningkat. Prevalensi poligami di Madura berkontribusi pada semakin kompleksnya permasalahan terkait poligami, sehingga menimbulkan perdebatan signifikan mengenai kesetaraan gender, hak perempuan, dan potensi dampak negatif keluarga. Kontroversi muncul karena subjektivitas pribadi, perbedaan interpretasi terhadap teks agama, dan praktik budaya spesifik berdasarkan kearifan lokal.
Ulama di Madura adalah tokoh yang dianggap memiliki pemahaman keagamaan yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat Madura pada umumnya. Terutama pada kaitannya dengan Al-Qur’an dan hadis serta memiliki tanggung jawab sosial guna menyebarkan ajaran agama berdasarkan tafsirnya. Oleh sebab itu, ulama Madura dianggap telah membangun kerangka sosial dengan melembagakan doktrin poligami melalui platform dakwah yang mereka lakukan. Tidak jarang hadis misoginis digunakan sebagai alat doktrinal untuk memperkuat argumen mereka. Sebaliknya, perempuan Madura rela dipoligami dengan Ulama Madura karena dianggap sebagai korban atas doktrin yang dipaksakan. Faktanya, tidak semua ulama di Madura melakukan poligami. Demikian pula tidak semua ulama dengan praktik poligami melakukan diskriminasi terhadap istrinya.
Karakter Ulama Madura
Ulama di Madura diakui dan dibedakan dengan ulama di tempat lain karena ciri khasnya. Cirinya dapat dilacak pada dimensi genealogi, pola kepemimpinan, ideologi, dan peran kepemimpinan di lingkungan pesantren. Empat unsur inilah yang melekat dan membentuk jati diri ulama di Madura.
Pertama, secara genealogis, ulama di Madura dikenal memiliki garis keturunan yang berhubungan. Artinya, tetap menjaga hubungan kekerabatan. Di Madura, pernikahan antar saudara adalah kearifan lokal yang berkembang dan menjadi pandangan masyarakat. Pernikahan semacam ini disebut dengan endogami yakni pernikahan yang mengacu pada pembatasan pilihan pasangan dalam kelompok yang sama. Pola ini sangat mengikat dalam keluarga ulama, dan dianggap sebagai norma yang lazim pada sebagian besar keluarga ulama. Jadi, istilah bangsawan di Madura erat kaitannya dengan keluarga ulama yang menempati strata sosial tertinggi. Ulama di Madura membentuk jaringan endogami yang luar biasa, sehingga menciptakan penghalang strata sosial di bawah mereka guna menembus lingkaran pertahanan keluarga.
Baca Juga : Masa Depan Gerakan Gulen di Turki
Kedua, pola kepemimpinan ulama Madura bercirikan kepemimpinan karismatik. Kepemimpinan ini didasarkan pada kualitas seseorang. Istilah karisma mengacu pada kualitas yang membedakan seseorang. Ulama Madura diyakini memiliki kesaktian. Jadi, kepemimpinan karismatik condong pada penggambaran citra tokoh. Ulama memegang posisi sentral pada hampir seluruh aspek kehidupan. Pengaruh ulama di tengah masyarakat melebihi lembaga kepemimpinan lainnya. Hubungan ulama dan masyarakat dikenal dengan pola paternisme di mana layaknya hubungan ayah dan anak. Tingginya karisma juga menyebabkan masyarakat berebut “keberkahan” dengan memberikan pelayanan terbaik kepada ulama yang diseganinya.
Ketiga, ideologi Islam tradisionalis sangat kuat di Madura, sehingga menyelimuti struktur kognitif dan mentalitas masyarakatnya. Hal ini terlihat dari keselarasan budaya dan struktural mereka dengan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Aspek yang menentukan dari Islam tradisional adalah kepatuhan yang kuat terhadap ulama yang mencakup aspek tasawuf, hadis, yurisprudensi, penafsiran dan teologi. Hal ini memberikan landasan budaya dan intelektual bagi kaum tradisionalis untuk berinteraksi dengan modernitas. Hasilnya, pemahaman Islam yang menyatu dengan tradisi dan budaya lokal.
Keempat, peran kepemimpinan di lingkungan masyarakat. ulama Madura erat berkaitan dengan kepemilikan pesantren. Di mana pondok pesantren hadir sebagai pusat otoritas sosial keagamaan. Tumbuh dan berkembangnya pondok pesantren di Madura menjadi bukti bagaimana masyarakat memahami situs tersebut sebagai basis utama ulama Madura dalam menyebarkan Islam. Masyarakat Madura sangat ketat dalam pendidikan agama, pondok pesantren adalah tempat bagi pendidikan putra-putri masyarakat Madura. Hal ini menggambarkan besarnya pengaruh Ulama Madura pada kehidupan masyarakat.
Poligami di Kalangan Ulama Madura
Poligami di kalangan Ulama banyak terjadi di Madura. Namun tidak perlu digeneralisasikan, sehingga memunculkan pepatah bahwa semua ulama Madura melakukan poligami. Bagi masyarakat awam, poligami mungkin dikaitkan dengan kebutuhan biologis yang umum. Namun, bagi para ulama, poligami adalah kebutuhan terkait dakwah. Poligami adalah bagian dari dakwah dengan makna ganda. Pertama, mobilitas ulama yang tinggi jadi mau tidak mau harus berinteraksi intens dengan lapisan masyarakat. Akhirnya, muncul berbagai godaan termasuk seksual. Bagi ulama semacam ini, pasangan lebih dari satu dapat mendukung karena memerlukan frekuensi hubungan seksual yang lebih tinggi. Kedua, praktik poligami adalah keharusan bagi keberhasilan berdakwah. Misalnya, ulama mungkin perlu menikahi pelacur untuk mencegahnya melakukan praktik prostitusi. Ulama lain menjelaskan bahwa poligami dilakukan berakar dari mencari keberkahan bagi keturunan. Seorang ulama dengan mobilitas dakwah tinggi mungkin banyak menerima permohonan berkah keturunan di berbagai daerah.
Pandangan mengenai kebutuhan material dan biologis tidak akan terpenuhi, sebab fitrah manusia mengenai keduanya adakan selalu kekurangan. Meskipun, terlihat lebih dari cukup. Jika hal ini tidak dapat dikendalikan, berapa pun kekayaan dan kemampuan seksual, maka kehidupan berumah tangga tidak akan pernah mencapai predikat ketenteraman, cinta dan kasih sayang.
Intinya, ulama Madura melakukan poligami karena dua hal. Pertama, kebutuhan biologis yang tinggi. Poligami dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya perzinahan dan pencabulan, serta kekerasan seksual yang ditujukan pada istrinya. Kedua, keinginan istri para ulama Madura. Sebenarnya, ulama tidak menghendaki poligami, namun desakan istrinya karena memiliki kecenderungan psikologis yang berbeda dibandingkan wanita kebanyakan.
Di antara Seksualitas, Otoritas dan Budaya
Kehidupan pernikahan yang harmonis pada pernikahan poligami dapat dicermati dari konsep sosiologi. Jika motif poligami adalah menghindari kekerasan seksual terhadap istri pertama yang tidak mampu memenuhi hasrat biologisnya, maka motif ini condong menonjolkan kewibawaan laki-laki dalam memenuhi kebutuhan biologis. Selain itu, terlihat bahwa ulama Madura memiliki pengaruh signifikan dalam masyarakat, terutama pada kaitan keinginannya melakukan poligami. Bukan hanya istri pertama, namun calon istri kedua juga tidak berdaya jika ulama Madura mengatakan keinginannya.
Secara sosiologis, kehadiran laki-laki dengan status sosial dan ekonomi yang tinggi menjadi salah satu alasan perempuan menyetujui poligami, meskipun dalam konteks menikah siri. Berdasarkan budaya Madura, menjadi istri ulama adalah hal lumrah dan merupakan suatu kebanggaan. Faktor budaya \"way of life\" masyarakat Madura menjadi magnet utama yang menarik minat perempuan Madura menjadi istri ulama. Faktor lainnya adalah keturunan dan ekonomi. Kunci keharmonisan keluarga poligami ulama Madura adalah konsistensi dan keterbukaan. Memberikan ruang nyaman bagi istri untuk berdialog dan saling mendukung secara konsisten. Gambaran poligami oleh ulama Madura dipengaruhi oleh tiga faktor yakni seksualitaa, otoritas, dan budaya. Pemanfaatan otoritas non otoriter, budaya \"pemujaan\" yang menumbuhkan kecintaan terhadap ulama, dan penguasaan seksualitas mendorong para ulama Madura menghadirkan keharmonisan di tengah keluarga mereka. Hal ini didikung oleh pendekatan terbuka, ideologis, dan konsisten antara ulama Madura dan para istrinya.
Kesimpulan
Secara garis besar dapat diketahui bahwa ada dua model poligami yang dilakukan ulama Madura. Pertama, diprakarsai suami dan disetujui istri karena kebutuhan biologis. Kedua, diprakarsai istri disetujui suami karena kurang kemampuan seksual dan finansial. Pada model kedua, kesepakatan untuk tidak mempermasalahkan pemberian rezeki materil dan rohani berperan sebagai pengikat antar istri untuk membangun keharmonisan. Ulama Madura adalah penguasa tertinggi dengan pengaruh kuat dalam membentuk sikap masyarakat Madura. Melalui doktrin agama, ulama Madura mengonstruksi budaya \"pemujaan\" sehingga melahirkan rasa cinta dan ketaatan pada ulama. Hal ini kemudian memberi warna tersendiri pada pemenuhan hasrat seksual ulama Madura melalui poligami.

