Para Wali Sebagai Washilah Rasul: Khaul Syekh Al Baqi
KhazanahDi dalam kesempatan memberikan taushiyah pada acara Khaul Syekh Al Baqi atau Mbah Boqa Baqi atau Mbah Jumantoro, maka saya menyampaikan hal yang sangat mendasar bahwa acara manganan, istilah di masa lalu, atau sekarang disebut sebagai sedekah bumi atau Khaul adalah bagian dari ajaran Islam yang tidak dilarang, karena inti dari ajaran ini tidak mensyarikatkan ajaran Ketuhanan atau menyekutukan Allah SWT.
Kita yang melakukan sedekah bumi atau khaul Mbah Baqi itu tidak melakukan penyembahan kepada Syekh Baqi akan tetapi full doa kepada Allah SWT yang ditujukan kepada Syekh Al Baqi dan berharap agar Allah memberikan rahmat dan barakahnya kepada umat Islam yang melakukan acara ini. Jadi bukan sebagaimana pandangan orang yang sering menyatakan bahwa acara khaul itu penuh dengan penyimpangan dari ajaran Islam. Saya tegaskan sama sekali tidak ada penyimpangan.
Acara sedekah bumi ini dihadiri oleh segenap masyarakat desa Semampir, Desa Sembungrejo, Merakurak, Tuban. Acara diselenggarakan pada Sabtu, 27 Juli 2024, di pendapa Makam Dusun Semampir yang dihadiri oleh Kyai Jumadil Kubro, Takmir Masjid Nurul Iman, Ustadz Diono, Pamong Desa Sembungrejo, Trisnoto, SPdI dan Ustadz Habibi, Ketua Yayasan Qarya Jadida, Sarmadi, Guru SDN Sembungrejo, Guru TK Al Hikmah, mahasiswa IAINU Tuban yang sedang KKN di Dusun Semampir, siswa SDN Semampir dan siswa TK Al Hikmah. Di dalam acara ini juga dilakukan acara tahlilan dan yasinan serta pemberian santunan kepada anak-anak yatim di dusun Semampir yang diberikan oleh Ranting NU Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Merakurak, Tuban.
Saya menyampaikan tiga hal, yaitu: pertama, acara sedekah bumi atau di masa lalu dikenal sebagai acara manganan memang merupakan tradisi yang sudah berurat akar di dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Meskipun kita sudah hidup di era modern seperti sekarang, akan tetapi acara sedekah bumi atau disebut juga sebagai acara khaul tetap dilakukan. Acara khaul merupakan acara untuk memperingati terhadap orang yang dituakan atau waliyullah sebagai penyebar Islam di masa lalu, khususnya di Dusun Semampir. Sama halnya di Dusun Banaran dikenal Makam Mbah Tongli, di Desa Senori terdapat makam Mbah Gajah, di Desa Tobo adalah Makam Mbah Sumigit dan banyak lagi lainnya. Sedekah bumi atau khaul bukan kegiatan yang mengandung syirik karena tidak ada acara menyembah kepada makam-makam tersebut. Kita ini merasa senang dan bersyukur sebab Allah menurunkan para wali untuk menjadi penerang dan penyuluh agar kita beriman dan beribadah kepada Allah SWT. Tanpa kehadiran para waliyullah tersebut, maka kita tidak bisa menjadi umat Islam seperti sekarang.
Kedua, para waliyullah itu adalah washilah kita semua untuk mengenal dan memahami ajaran agama Islam. Melalui kehadiran para waliyullah, maka kita dapat menjadi umat Islam. Allah itu menurunkan Islam kepada umat manusia melalui washilah Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW, washilah para sahabat Nabi, tabi’in dan tabiit tabi’in, para ulama hingga sampai kepada kita sekarang. Kita menjadi umat Islam karena keberadaan orang tua, kakek dan nenek, buyut, canggah, udeg-udeg, gantung siwur dan seterusnya ke atas. Di antaranya adalah kehadiran para waliyullah dimaksud.
Waliyullah adalah perantara atau di dalam Bahasa Inggris mungkin mediator. Wali berasal dari Bahasa Arab atau washilah, lalu menjadi perantara di dalam Bahasa Indonesia. Wali adalah pelindung atau penolong. Artinya orang yang menjadi penolong orang lain untuk memasuki ajaran Islam. Jadi para waliyullah adalah washilah kita semua untuk menjadi umat Islam. Para waliyullah itulah yang memperkenalkan kita untuk menjadi orang Islam. Dari para waliyullah, kemudian kepada para ulama atau kyai dan kemudian kepada kakek dan nenek moyang, kepada orang tua dan jadilah kita sekarang menjadi orang Islam. Oleh karena itu di saat kita melakukan upacara khaul kepada para waliyullah sebagai penyebar Islam generasi awal di desa, maka kita berada di dalam memperingati perjuangan para waliyullah tersebut untuk menyebarkan Islam. Di Kabupaten Tuban ternyata banyak sekali para waliyullah. Nyaris setiap desa terdapat para wali yang menyebarkan Islam di masa lalu. Jadi, pada abad ke 16 di wilayah Tuban sudah terdapat proses Islamisasi yang massif.
Ketiga, acara khaul ini dilakukan pada bulan Muharram yang di dalam kelender Jawa disebut sebagai bulan Suro. Kalender Jawa memiliki nama-nama bulan yang mirip dengan kalender Islam. Juga sama menggunakan system penanggalan berbasis bulan atau lunar. Nama-nama bulan Jawa itu masih dikenal oleh masyarakat Jawa secara umum. Kalender Jawa disusun oleh Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma, Raja Mataram. Memang ada perbedaan nama bulan Muharram di dalam tradisi kalender Islam dan Kalender Jawa. Nama Suro diambil dari kata Asyura. Di dalam Bulan Muharram terdapat peristiwa Asyura. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 10 bulan Muharrom atau tanggal 10 bulan Suro.
Pada tanggal 10 Muharram tersebut terdapat banyak peristiwa, misalnya pengampunan atas Nabi Adam AS. Setelah diturunkan di bumi, maka Nabi Adam diturunkan di wilayah India, lalu Hawwa diturunkan di Wilayah Arab. Mereka berdua bertemu di Bukit Rahmah atau Jabal Rahmah, yang tempatnya dekat dengan wilayah Mina atau Arafah. Pengampunan tersebut atas doa yang dilantunkan oleh Nabi Adam. “Rabbana dhalamna anfusana wain lam taghfirlana wa tarhamna la nakunanna minal khasirin”.
Juga peristiwa diselamatkannya Nabi Yunus AS dari perut ikan. Nabi Yunus meninggalkan umatnya yang ingkar kepada Tuhan. Dengan menaiki kapal laut dan terjadilah peristiwa yang tidak dikehendaki. Kapal itu nyaris tenggelam karena kelebihan penumpang dan melalui undian, maka Nabi Yunus yang selalu kebagian untuk dibuang di laut. Akhirnya Nabi Yunus dibuang di laut dan ditelan oleh Ikan paus raksasa. Selama 40 hari di dalam perut ikan tetapi akhirnya diselamatkan oleh Allah. Doa Nabi Yunus adalah: la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadh dhalimin.
Sekali lagi marilah kita bersyukur kepada Allah yang telah menjadikan kita sebagai umat Islam dan semua itu adalah kontribusi para waliyullah yang hadir di dusun kita. Dengan memperingati kehadiran Syekh Al Baqi atau Syekh Boqa Baqi atau Mbah Jumantoro, maka berarti kita menjadi orang yang bersyukur kepada Allah atas jasa kebaikan para leluhur. Kita adalah keturunan Syekh Al Baqi. Bisa jadi keturunan fisikal, tetapi yang jelas adalah keturunan secara ilmu dan pengamalan Islam.
Wallahu a’lam bi al shawab.

