Apa yang Mendorong Framing Anti-Syiah di Indonesia?
Riset SosialArtikel berjudul “What Drives Anti-Shia Framing in Indonesia?" merupakan karya Zulkifli. Tulisan ini terbit di Studia Islamika: Indonesian Journal for Islamic Studies tahun 2024. Sebaagi gerakan fenomena global, gerakan anti-Syiah di Indonesia telah merusak karakteristik moderat Islam Indonesia. Berbeda dengan studi mengenai gerakan anti-Syiah di negara mayoritas muslim yang menekankan peran aktor negara dan faktor keagamaan, ekonnomi dan politik, studi tersebut berupaya mengungkan framing anti-Syiah dan faktor yang berkontribusi. Data didapatkan melalui kerja lapangan dan studi kepustakaan berdasarkan sumber online dan offline pada kasus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dan Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS). Terdapat lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, framing anti-Syiah. Ketiga, MIUMI dan ANNAS sebagai gerakan sosial. Keempat, kerangka strategis anti-Syiah. Kelima, ideologi keagamaan, pola pikir mayoritas dan ancaman yang dirasakan.
Pendahuluan
Anti-Syiah dikenal sebagai istilah yang menerangkan kebencian terhadap prasangka, diskriminasi dan kekerasan berdasarkan agama dan warisan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Shia Rights Watch pada tahun 2011 dan menjadi sebuah fenomena global. Hal ini tidak hanya terbatas pada wilayah di mana Syiah adalah kelompok minoritas, seperti di Timur Tengah, terlebih di Asia Tenggara.
Di Indonesia, intoleransi, diskriminasi dan kekeasan terhadap Syiah telah merusak ‘wajah ramah’ Islam Indonesia. Secara popular, umat Islam Indonesia memiliki sikap dan perilaku toleran yang lebih rendah terhadap kelompok minoritas muslim seperti Syiah dan Ahmadiyah, dibandingkan terhadap penganut agama lain. Manurut laporan Wahid Foundations, isu Syiah menduduki peringkat tertinggi dalam ujaran kebencian antara tahun 2009 dan 2018, di mana Majelis Ulama Indonesia (MUI), Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) menjadi aktor utama. Perkataan kebencian sektarian merupakan elemen penting dalam strategi radikalisasi dan gerakan ekstremis, baik online maupun offline. Meluasnya teknologi informasi dan transaksi demokrasi, aktivisme anti-Syiah di Indonesia semakin intensif dan memberikan dampak luas. Hal ini memungkinkan kelompok kecil konservatif untuk monopoli otoritas muslim terhadap kelompok Islam non-arus utama seperti Syiah dan Ahmadiyah dengan upaya menyeragamkan interpretasi Islam.
Framing Anti-Syiah
Istilah “framing” dalam gerakan sosial mengacu pada proses konstruksi. Berdasarkan kajian sosiologi, analisis framing yang dikembangkan dalam gerakan sosial dan bidang lainnya pertama kali diciptakan sekaligus dipopulerkan oleh interaksionis simbolik Erving Goffman. Pada bidang studi gerakan sosial, framing dipahami sebagai fenomena aktif yang menyiratkan keagenan dan pertentangan pada tingkat konstuksi realitas. Proses pembingkaian adalah upaya strategis yang dilakukan secara sadar oleh sekelompok orang untuk berbagi pemahaman tentang dunia, dan secara pribadi melegitimasi atau memotivasi tindakan kolektif. Jadi, framing Anti-Syiah adalah proses konstruksi makna yang terkait dengan kebencian, prasangka, diskriminasi dan kekerasan terhadap muslim Syiah.
Terdapat tiga jenis inti framing Anti-Syiah yang bertujuan menyelidiki hubungan dimensi psikologis sosial dan budaya yakni ideologi agama, pola pikir mayoritas dan persepsi ancaman dengan anti-Syiah. Pertama, ideologi adalah keyakinan mendasar suatu kelompok dan anggota tertentu. Pada konteks studi gerakan sosial, hal ini mengacu pada keyakinan, nilai dan tujuan yang tekait dengan gerakan tertentu dan memberikan dasar pemikiran bagi tindakan individu dan kolektif. Sedangkan, ideologi agama adalah seperangkat gagasan yang mengacu pada alat keagamaan dan sekular, serta menyertai tindakan dan proses politik secara berkelanjutan dan sistematis. Tujuan utamanya adalah memobilisasi masyarakat untuk gerakan reformasi yang menunjukkan pengaruh signifikan ideologi agama dalam framing anti-Syiah.
Kedua, pola pikir mayoritas yakni kumpulan anggapan, kebijaksanaan yang diteima dan pemahaman budaya bersama dari orang-orang dalam kelompok dominan. Konsep ini mirip dengan mayoritasisme yakni sikap politik yang menolak jaminan konstitusional atas kesetaraan bagi semua warga negara dan mengutamakan kelompok dominan, yang memiliki norma dan nilai. Pola piki mayoritas menciptakan asumsi normatif yang mendasari pemahaman arus utama Islam dalam konteks elasi Sunni-Syiah, sehingga memainkan peran penting dalam pembingkaian Anti-Syiah.
Baca Juga : Selamat Tahun Baru 2025: NU dalam Pusaran Harmoni Sosial (Bagian Ketujuh)
Ketiga, persepsi ancaman. Teori ancaman antar kelompok baru-baru ini digunakan sebagai kerangka penting untuk menjelaskan Islamophobia, anti-Semisitisme dan sikap anti-imigran sebagai pendorong sikap dan prasangka luar kelompok. Ancaman dipahami sebagai sesuatu yang simbolis karena perbedaan persepsi dalam nilai, sikap, keyakinan, pandangan dunia, dan budaya antar kelompok. Ketiga persepsi tersebut berperan penting dalam menjelaskan faktor yang mempengaruhi framing anti-Syiah yang dikonstruksi, diproduksi, dan disebarkan oleh aktivis anti-Syiah di Indonesia.
MIUMI dan ANNAS Sebagai Gerakan Sosial
Alasan keprihatinan dengan lemahnya kepemimpinan umat Islam di Indonesia, MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) secara resmi didirikan pada tanggal 28 Februari 2012. Lima belas tokoh intelektual muda memprakarsai dengan fokus utamanya berafiliasi dengan INSISTS (Lembaga Pengkajian Pemikiran dan Peradaban Islam), sebuah wadah pemikir yang didirikan pada tahun 2003 olrh alumni pesantren modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, DDII (Dewan Dakwah Islamiyah/Indonesia), aktivis yang belajar di Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam (ISTAC), Kuala Lumpur, Malaysia. MIUMI dihadirkan sebagai gerakan intelektual ketimbang ormas yang bertujuan bersaing dengan organisasi sosial keagamaan yang sudah ada, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammdiyah.
Visi MIUMI adalah menjadi lembaga kepemimpinan formal Islam yang terdepan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan wadah pemersatu para intelektual dan ulama muda Indonesia dalam membangun peta perjuangan kejayaan Islam. Kelompok pemikir konservatif ini juga dikenal sebagai “sayap elit” kelompok konservatif dan radikal di Indonesia. Alasan pendiriannya adalah adanya “angin kencang” liberalisasi dan berbagai ajaran agama yang menyimpang. Alhasil, menjadi ancaman akidah Islam dan persatuan umat. Kelompok ini tidak menerima keanggotaan akar rumput, namun memiliki anggota inti yang mengawasi organisasi dan kegiatannya.
MIUMI mendirikan beberapa cabang regional dan yang paling aktif berada di Jakarta, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Surabaya, Medan dan Makassar baru-baru ini. Organisasi konservatif ini aktif mempromosikan penyimpangan syiah melalui website dan media online lainnya. Bekerja sama dengan INSISTS, MIUMI fokus pada aspek intelektual melalui seminar, diskusi, bedah buku, pertemuan publik dan sebagainya. Pasca diresmikan, MIUMI mengunjungi Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta untuk mendesaknya mengeluarkan fakta sesat tentang Syiah. Alhasil, pada 19 Maret 2012, MIUMI mengeluarkan siaran pers yang mendukung MUI Kabupaten Sampang, Jawa Timur yang mengluarkan fatwa sesat Syiah.
ANNAS (Aliansi Nasional Anti Syiah) merupakan koalisi aktivis anti-Syiah ternama di Indonesia. Aliansi ini berdiri di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 20 April 2014 guna memerangi keberadaan penganut Syiah dan melindungi umat Islam dari pengaruh ajarah Syiah. Aliansi ini menarik perhatian yang signifikan baik secara nasional maupun internasional. Inisiatif ini pertama kali terbentuk pada kongres nasional Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) tahun 2012 yang dipimpin oleh aktivis konservatif Athian Ali Dai. Kemudian, menyusul serangkaian pertemuan dengan tokoh-tokoh anti-Syiah dari DDII, faksi garis keras NU, dan lain sebagainya. FUUI didirikan di Bandung pada tahun 2001 dengan tujuan melawan Kristenisasi, liberalism, kemurtadan, dan aliran sesat.
Kerangka Strategis Anti-Syiah
Baca Juga : Problem Forum Internum: Diperlukan Kedewasaan Beragama (Bagian Dua)
Berdasarkan perspektif framing yang dirumuskan Benford dan Snow, MIUMI dan ANNAS berupaya memenuhi fungsi gerakan sosial dalam menyalahkan, mengidentifikasi masalah, dan merumuskan solusi, sekaligus memberikan alasan yang memotivasi tindakan kolektif melawan kelompok dan ajaran Syiah. Kedua organisasi ini telah mengarahkan dan menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan. Mereka mengadakan pertemuan publik, pertemuan keagamaan, seminar, dan diskusi. Mereka mempromosikan dan menyebarkan framing melalui situs web dan platform media sosial. Beberapa situs web organisasi tersebut adalah www.miumi.pusat.org; www.annasindonesia.com, serta situs web koservatif lainnya seperti www.syiahindonesia.com; www.arrahmah.com; www.nahimunkar.net; www.voa-islam.com; dan www.islampost.com.
Proses framing yang dibangun oleh aktivis anti-Syiah di Indonesia meliputi framing diagnostic, prognostic, dan motivasi. Kerangka diagnostic membahas aspek kehidupan sosial, siste pemerintahan atau perkembangan agama sebagai suatu permasalahan dan memerlukan penyelesaian atau perubahan. Pada konteks aktivisme anti-Syiah, framing diagnostic menjelaskan apa yang dianggap salah pada Syiah. Artinya, dapat dilakukan dengan pernyataan bahwa Syiah tidak hanya menjadi sumber masalah agama, sosial dan politik dalam masyarakat muslim, tapi juga menimbulkan ancaman bagi bangsa dan negara.
Framing diagnostic pertama yang disebarluaskan oleh aktivis anti-Syiah dalam buku, pamflet, website, spanduk, bahkan kaos oblong menggambarkan Syiah sebagai sekte sesat atau berada di luar batas ortodoksi Islam. Ungkapan yang umum digunakan adalah “Syiah itu sesat; Syiah di luar Islam; Syiah bukan Islam; Syiah itu kafir.” Framing diagnostik kedua adalah menganggap Syiah sebagai sumber Sunni. Ketua MIUMI menyatakan bahwa hidup berdampingan harmonis antara kelompok Sunni dan Syiah tidak mungkin dilakukan karena adanya perbedaan mencolok di antara keduanya. Kehadiran Syiah berdampak negatif bagi persatuan Islam. Framing diagnostic ketiga berkaitan dengan bahaya yang dirasakan oleh Syiah. Bahaya ini dibingkai sebagai sebuah penemuan Yahudi yang dikaitkan dengan Abdullah bin Saba yang bertujuan melemahkan Islam dari dalam. Framing diagnostik keempat adalah Syiahisasi muslim Sunni. Syiah dituduh menyebarkan ajarannya dan mengubah Islam Sunni. Artinya, terdapat upaya Syiahisasi yang mengganggu relasi Sunni-Syiah. Framing diagnostic kelima menampilkan Syiah sebagai ancaman terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Syiah dianggap bertentangan dengan ideologi Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. Syiah dianggap mengejar cita-cita pembentukan model pemerintahan imamah absolut.
Permasalahan yang teridentifikasi tidak hanya dikenali namun solusi spesifik juga disusulkan dalam kerangka prognostic. Ada dua solusi utama yang diajukan para aktivis dan framing prognostic anti-Syiah. Pertama, dikeluarkannya fatwa MUI mengenai pengimpangan ajaran Syiah, serta pelarangan seluruh organisasi, yayasan, dan lembaga Syiah oleh pemerintah. Kedua, penguatan persaudaraan Islam antar individu, kelompok dan organisasi. Misalnya, Sunni harus membangun kesadaran untuk mempersatukan seluruh elemen masyarakat dalam persaudaraan yang kuat untukmelawan Syiah.
Selain kerangka diagnostic dan prognostic, aktivis anti-Syiah juga mengadopsi kerangka motivasi untuk menggalang dukungan dan mendorong tindakan kolektif dengan tujuan melibatkan individu dalam aktivisme anti-Syiah. Mereka secara luas mempromosikan slogan “Indonesia tanpa Syiah” melalui website, media online, spanduk, dan lain sebagainya. Pada konteks ini, seruan jihad melawan Syiah adalah kerangka motivasi utama yang dianjurkan.
Ideologi Keagamaan, Pola Pikir Mayoritas dan Ancaman yang Dirasakan
Jika ditinjau dari sudut pandang ideologi keagamaan, MIUMI dan ANNAS memiliki landasan ideologis dan orientasi keagamaan yang serupa berdasarkan teologi eksklusif dan doktrin salafi, serta aliran puritan dalam Islam. Islam puritan memiliki penafsiran literal terhadap al-Qur’an dan hadis serta menolak penafsiran intelektual Islam. Mereka menganjurkan penafsiran langsung dan ijtihad berdasarkan sumber al-Qur’an dan hadis, serta menolak sistem taqlid dan mazhab.
Sejalan dengan interpretasi Islam literal, MIUMI dan ANNAS bersama dengan kelompok serupa bersatu secara ideologis melawan filosofi Islam liberal, beroperasi di bawah bendera anti-westernisasi, anti-liberalisme, anti-sekularisme, dan anti-pluralisme untuk mengorganisir gerakan secara sistematis. Aktivis anti-Syiah di Indonesia memiliki hubungan yang kuat dengan ideologi Wahabi. Aspek ideologi konservatif berkontribusi signifikan terhadap framing sentimen anti-Syiah, termasuk pembingkaian diagnostic, prognostic dan motivasi, meskipun, ideologi agama adalah faktor penting dalam pembingkaian anti-Syiah, ideologi agama bukan satu-satunya elemen.
Kemudian, jika ditinjau dari pola pikir mayoritas menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara dengan Islam Sunni berdasarkan referensi sejarah dan tekstual Islam. Meski jumlahnya lebih sedikit, seluruh aktivis anti-Syiah secara konsisten mengidentifikasi diri mereka sebagai mayoritas Sunni, dan bertindak atas nama mayoritas. Pola pikir mayoritas yang terwujud dalam berbagai cara meniadakan hak kelompok minoritas muslim guna menjalankan kewajiban, norma, dan ritual keagamaan serta memandang pluralisme agama sebagai ancaman terhadap mayoritasisme.
Pola pikir mayoritas menolak dialog konstruktif dengan kelompok minoritas Syiah. Indonesia, setidaknya memiliki dua organisasi Islam terbesar dan berpengaruh yakni NU dan Muhammadiyah. Organisasi-organisasi tersebut telah melakukan pertemuan dialogis dengan organisasi Syiah seperti IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) dan ABI (Ahlul Bait Indonesia). Namun, belum ada dialog yang terjalin secara institusional yang diformalkan.
Selanjutnya, jika ditinjau dari ancaman yang dirasakan, persepsi ancaman Syiah merupakan faktor signifikan yang berkontribusi terhadap pembingkaian anti-Syiah. Persepsi ini mencakup ancaman Syiahisasi Sunni, dan bahaya Syiah terhadap negara dan masyarakat Indonesia. Ancaman Syiah yang dirasakan juga terkait dengan dominasi budaya, ekonomi dan politik. Salah satu aspek ajaran Syiah yang dianggap sangat berbahaya adalah konsep imamah. Faktor pembeda antara Syiah dan Sunni dipandang sebagai ancaman besar, khususnya yang bersifat politik dontrin imamah dengan menyarankan agar Syiah mendirikan negara.
Kesimpulan
Aktivis anti-Syiah menggambarkan Syiah sebagai sekte sesat dan sumber konflik dalam masyarakat muslim. Hal ini memerlukan advokasi terhadap fatwa yang diterapkan secara nasional dan seruan kepada pemerintah untuk melarang organisasi, lembaga dan yayasan Syiah. Kerangka strategis anti-Syiah adalah hasil dari keterkaitan antara ideologi agama konservatif, pola pikir mayoritas, dan ancaman yang dirasakan. Meskipun, beberapa kajian gerakan kadang condong melemahkan peran ideologi, penelitian tersebut justru menemukan bahwa idelogi Islam konservatif memiliki pengaruh penting dalam pembingkaian anti-Syiah.

