(Sumber : Dokumentasi Penulis )

Merajut Islam Rahmah Untuk Indonesia Damai

Khazanah

Saya memperoleh kehormatan pada hari Raya Idul Adha, tahun 1445 H atau tahun 2024, sebab diminta untuk menjadi khotib pada Masjid Nurul Iman, Jl. Bendul Merisi Airdas No. 68, Kompleks Perumahan Margorejo Indah, Surabaya. 

  

Shalat jamaah Idul Adha dilaksanakan di lapangan Masjid Nurul Iman, yang diikuti oleh ratusan jamaah. Hadir pada shalat Idul Adha ini, Bapak Imam Utomo, Mantan Gubernur Jawa Timur yang usianya sudah 83 tahun,  Pak Emil E. Dardak, Wagub Jawa Timur, Dr. Iswanto, MM, Takmir Masjid Nurul Iman, Imam Buwaity dan lain-lain. 

  

Yang menjadi imam dalam shalat jamaah Idul Adha adalah Prof. Dr. Muktafi Sahal, MAg, Imam tetap Masjid Nurul Iman, yang sudah mengabdi di masjid ini selama belasan tahun. 

Berikut adalah isi khutbah yang saya bacakan pada shalat Idul Adha di Masjid Nurul Iman, Kompleks Perumahan Margorejo Indah Surabaya. 

  

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر

اللهُ أَكْبَر كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً 

لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ اللهُ أَكْبَر وَلِلّهِ الحَمْدُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ

قَالَ اللّٰهُ تَعٰلَى فِيْ القُرْآنُ الكَرِيْمِ اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

في القران العظيم قَالَ الله تَعَالَ 


Baca Juga : Menjaga Imanitas dan Imunitas di Era Disrupsi Perspektif QS. Al-Ikhlas Ayat 1

فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّۗ 

الله أكبر, الله أكبر, أ الله أكبر, الله أكبر,  وَلِلّهِ الحَمْدُ

Hadirin jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah. 

  

Marilah kita bersyukur ke hadirat Allah SWT karena betapa banyaknya nikmat yang diberikan Allah kepada kita semua. Yang paling mendasar adalah nikmat iman kepada Allah SWT. Kita bersyukur karena kita meyakini ajaran rukun Iman di dalam Islam dan kemudian berlanjut untuk menjalankan rukun Islam dengan sebaik-baiknya. Kita dapat melakukan shalat Hari Raya kurban, idul Adha 1445 H, karena adanya iman di dalam diri kita.

    

Di antara umat Islam ada yang menjalankan ibadah haji sebagai proses napak tilas atas syariah yang dilakukan oleh Nabiyullah Ibrahim AS dan dilestarikan oleh Nabi Muhammad SAW dan kemudian dijalankan oleh umat Islam. Kita juga berkurban dengan menyembelih sapi atau kambing juga sebagai bagian dari ritual yang pernah dijalankan oleh Nabi Ibrahim AS dan juga dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW dan umat Islam. Semua itu dilaksanakan dengan  berbasis pada iman kita kepada Allah SWT. Kita tentu merasa bahagia karena telah menjalankan ajaran Islam yang didasari oleh iman. 

  

Kita beriman kepada Allah melalui pembelajaran yang kita dapatkan, dan kemudian berusaha untuk memeliharanya, dan yang terjadi akhirnya kita tetap berada di dalam keimanan dimaksud. Hadits Riwayat Imam Muslim menjelaskan: 

  

قل آمنت بالله ثم استقم

  

“Katakanlah saya beriman kepada Allah, kemudian  beristiqamahlah”. 


Baca Juga : Mengintegrasikan Moderasi Beragama dalam Kurikulum Pendidikan Islam

  

Untuk beriman kepada Allah itu ada beberapa cara yang dilakukan manusia, yaitu: iman yang diperoleh melalui keturunan dan lingkungan. Kebanyakan di antara kita berada di sini. Menjadi beriman kepada Allah SWT melalui washilah orang tua, pendidikan dan lingkungan kita. Kita menjadi umat Islam karena iman yang kita peroleh dari factor keluarga dan lingkungan. Di dalam sabda Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

  

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه 

  

“Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Maka orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai  Yahudi, atau Nasrani atau Majusi”.  

  

Ada yang beriman melalui pengkajian secara mendalam atas ajaran Islam.  Pengkajian yang dilakukan atas ayat-ayat kauniyah atau ayat semesta. Dari sini lalu orang menjadi beriman kepada Allah. Berdasarkan kajian sains, maka kebenaran Alqur’an  dapat dipahami. Misalnya kajian yang dilakukan oleh Maurice Buchaille dalam bukunya “Bible, Qur’an dan Sains Modern” (1976) yang membuktikan bahwa Fir’aun memang tenggelam di laut karena di dalam mumminya ternyata mulutnya penuh dengan kandungan garam dari air laut, kemudian juga Jacques Yves Costeau yang menemukan air tawar di laut yang tidak tercampur dengan air laut, kemudian Carner NASA yang masuk Islam karena mu’jizat malam lailatul qadar. 

  

Dan yang tidak kalah menarik adalah hipotesis yang ditemukan kebenarannya oleh Stephen K. Meyer, di dalam bukunya “Return to God Hypothesis” yang menghasilkan kedekatan antara sains dan teologis. Di dalam karyanya ini, Meyer sampai pada suatu pandangan bahwa alam diciptakan oleh intelek (mind) yang superior yang tidak hanya menciptakan tetapi juga mengatur dengan baik untuk kehidupan manusia dan alam. 

  

Mereka adalah orang yang mendapatkan hidayah dari Allah SWT sehingga menjadi penganut Islam. Tetapi juga ada orang yang mengkaji Islam dengan sangat sungguh-sungguh, tetapi tidak mendapatkan cahaya Tuhan. Dia adalah Annemarie Schimmel, penulis tasawuf yang luar biasa, hafal alqur’an, hafal kitab Alfiyah Ibnu Malik, hafal beberapa kitab kuning, tetapi hal tersebut tidak menggerakkanya menjadi Muslimah. Dia menjadikan Islam sebagai pengetahuan dan bukan keimanan dan amalan shalihan. Ini semata-mata karena tidak mendapatkan hidayah Allah SWT. Di dalam Surat An Nahl 125 dijelaskan: 

  

هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

  


Baca Juga : Manuskrip Tua

“Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapatkan petunjuk”. 

  

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر وَلِلّهِ الحَمْدُ

  

Sebagai konsekuensi negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, maka Indonesia tentu harus menjadi contoh bagaimana mempertahankan Islam yang bisa berdampingan dengan umat lain atau penganut agama lain. Tanggung jawab inilah yang kiranya harus menjadi kesadaran bersama umat Islam di Indonesia, sekarang dan akan datang.  Sesungguhnya keberadaan Islam wasathiyah merupakan legacy dari para pendakwah Islam di masa lalu, dan masyarakat Indonesia sekarang tentu merasakan betapa tingginya   kearifan para da’i tersebut dalam mewariskan Islam yang sangat baik bagi bangsa ini. Islam wasathiyah merupakan karunia Ilahi yang terbesar bagi bangsa ini. 

  

Semenjak para penyebar Islam memasuki gugusan kepulauan Nusantara, maka ajaran agama yang dikembangkannya adalah ajaran agama yang selalu membawa perdamaian dan kebersamaan. Akibatnya, bangsa ini menjadi bangsa yang besar, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, dengan pluralitas dan multikulturalitas yang sangat tinggi.

  

Karunia Tuhan terbesar inilah yang mesti dijaga secara bersama-sama. Sebagai komponen bangsa, maka tugas ini tentu tidak hanya diemban oleh umat Islam saja tetapi juga lintas agama, sebab jika yang menjaganya hanya satu saja, maka tidak terjadi keseimbangan. Kerukunan dan harmoni akan terjaga jika seluruh komponen bangsa ini menjaganya secara bersama-sama. Oleh karena itu, hendaknya tidak terjadi prejudice antara satu dengan lainnya, tidak mengembangkan penafsiran atas agama dengan otoritas tunggal  yang merasa paling benar, dan tindakan yang melawan terhadap perdamaian dan kebersamaan.

  

Islam sebenarnya merupakan agama atau dinun layyinun, dinun balighun, dinun karimun. Islam adalah agama yang lembut, Islam adalah agama yang lugas, Islam adalah yang mulia. Oleh karena itu di dalam merawat Islam wasathiyah tentu juga harus mempertahankan prinsip Islam sebagai agama rahmatan lil alamin dengan prasyarat mengedepan penggunaan diksi-diksi yang mempresentasikan kelembutan, menjelaskan dengan kelugasan dan mengusung kemuliaan. 

  

Islam bisa menjadi agama dunia, padahal Islam diturunkan di wilayah padang pasir yang tandus dan gersang tentu karena kemulyaan ajaran Islam dan disampaikan dengan cara-cara yang mulya. Marilah kita mencontoh dakwah yang dilakukan oleh waliyullah yang menyebarkan Islam di bumi Nusantara. Para waliyullah tentu menggunakan cara-cara yang mulia dan memuliakan manusia. Melalui cara ini, maka Islam bisa menjadi agama mayoritas di Nusantara.

  

  الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر وَلِلّهِ الحَمْدُ


Baca Juga : Wajah Agama Indonesia Memasuki Fase Tinkering

  

Masyarakat Indonesia sudah memantapkan pilihan bahwa Islam yang hidup dan berkembang di Indonesia adalah Islam wasathiyah sehingga gerakan yang ditetapkan dalam kerangka berbangsa dan bernegara adalah Gerakan Moderasi Beragama.  Upaya untuk memoderasi beragama tersebut tentu tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja tetapi juga harus menjadi bagian dari program organisasi keagamaan dan seluruh komponen masyarakat. Pilihan untuk membangun moderasi beragama adalah melalui pintu pendidikan dan gerakan kultural. Jadi yang dimoderasikan bukan agamanya tetapi umat beragama. Orangnya. Islam sudah menjadi agama yang moderat, agama yang rahmatan lil alamin. Untuk membangun perdamaian, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu:

  

Pertama, mengembangkan pendidikan dan dakwah yang membawa kerahmatan. Pendidikan sebagai upaya untuk mentransformasikan nilai-nilai keislaman, keindonesiaan dan kemoderenan tentu saja harus menjadi pilihan di dalam pengembangan program moderasi beragama. Tanpa pendidikan yang berbasis pada tiga dimensi ini, maka dipastikan bahwa masyarakat Indonesia akan tertinggal di tengah percaturan dunia global yang semakin kompleks. Dakwah juga harus mengembangkan Islam wasathiyah. Pendidikan keislaman atau bahkan pendidikan keagamaan dan dakwah Islam harus bermuatan moderasi beragama atau di dalam Islam disebut sebagai Islam wasathiyah atau Islam rahmatan lil ‘alamin. 

  

Guru umum,  guru agama serta da’i harus mengajarkan dan mendakwahkan konten pendidikan dan dakwah yang membawa Islam damai bukan Islam perang. Di dalam pendidikan dan dakwah harus berbasis keindonesiaan, maka yang diajarkan adalah pendidikan dan dakwah multikultural yang menghargai kebinekaan sebagai rahmat Tuhan dan bukan sebaliknya. Di sisi lain juga harus mengarahkan pendidikan dan dakwah untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik dengan mengikuti perkembangan Revolusi Industri 4.0 atau Revolusi Industri 5.0. Para peserta didik dan masyarakat harus diajarkan bahwa bangsa Indonesia harus modern, tidak boleh tertinggal.

  

Kedua, membangun kesadaran masyarakat tentang umat Islam damai. Gerakan kultural dilakukan melalui penyadaran terhadap masyarakat tentang keharusan untuk menjadikan Islam wasathiyah sebagai pilihan kultural bagi bangsa Indonesia. Gerakan kultural mengandaikan bahwa masyarakat memiliki kesadaran tentang arti dan makna perdamaian, kerukunan, keharmonisan dan keselamatan semua warga bangsa, bahkan juga masyarakat dunia. Konflik baik lokal maupun regional pasti tidak akan pernah menguntungkan. 

  

Konflik selalu membuat porak poranda tidak hanya infrastruktur kehidupan tetapi juga sistem sosial dan keteraturan  sosial. Kehancuran ada di mana-mana dan akan membuat kesedihan dan kesengsaraan. Sudah terlalu banyak contoh konflik atau perang yang justru menghancurkan dan bukan menyelamatkan. Negeri-negeri di Timur Tengah adalah contoh realistis bagaimana peperangan sungguh menghasilkan penderitaan jangka panjang,  tidak hanya secara pisikal tetapi juga mental. Yang terlihat hanyalah kehancuran demi kehancuran.

  

Ketiga, kita dapat belajar dari apa yang tidak boleh dilakukan dalam berhaji, yaitu rafats, fusuq dan jidal atau dilarang melakukan relasi seksualitas pada saat kita harus melakukan ibadah kepada Allah, artinya kita harus menahan diri tidak melakukan kesalahan dalam konteks sedang beribadah. Kita dilarang untuk menggunjing,  membulli, mencaci maki dan membuat pernyataan jelek dalam relasi sosial, dan dilarang juga kita melakukan perdebatan yang tidak ada manfaatnya. Dilarang kita melakukan perdebatan yang dapat merusak harmoni sosial yang seharusnya dijunjung tinggi. 

  

Kita juga harus belajar tentang bagaimana Nabi Ibrahim mencintai Allah jauh dari cinta atas keduniawian lainnya, termasuk anaknya. Kecintaan kita kepada Allah harus berada di atas segala-galanya.padahal perintah untuk mengorbankan putranya itu hanya lewat mimpi, akan tetapi Nabi Ibrahim AS melakukannya dengan ketaatan dan keikhlasan yang sangat luar biasa. Saya kira sulit menemukan kepatuhan dan cinta manusia kepada Allah SWT yang melebihi kepatuhan dan cinta Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT.

  

Kita juga harus belajar kepada Nabi Muhammad SAW tentang bagaimana Beliau memberikan kasih sayangnya kepada umatnya. Bahkan di kala Beliau berdakwah ke Thaif dan Beliau terluka karena dilempari batu dan kotoran, kala Malaikat Jibril akan menghancurkannya dengan jepitan dua gunung di Thaif, maka Nabi Muhammad SAW melarangnya. Beliau menyatakan bahwa dirinya diutus oleh Allah SWT untuk memberikan pencerahan dan bimbingan religious dan jika masyarakat Thaif  memperlakukan seperti itu karena mereka belum tahu kebenaran ajaran Islam. 

  

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر وَلِلّهِ الحَمْدُ

  

Kita sungguh sangat beruntung bahwa pilihan bangsa Indonesia terhadap paham dan pengamalan beragamanya adalah dalam coraknya yang wasathiyah atau moderat. Hanya  dengan memperkuat umat Islam yang moderat, maka masyarakat beragama yang damai akan dapat direngkuh. Dan kita semua pasti bisa melakukannya.

  

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Wapres, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, pada waktu Pembukaan Raker Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) di Surabaya, 11-13/08/2023, bahwa ulama internasional di bawah koordinasi Grand Syekh Al Azhar pernah datang ke Indonesia dengan menyatakan bahwa Indonesia adalah masa depan Islam. Indonesia adalah contoh toleransi dan kerukunan umat beragama.

  

Demikianlah khutbah yang dapat saya sampaikan semoga dapat menjadi bagian dari literasi beragama yang dapat menciptakan kesatuan dan persatuan, kerukunan dan kedamaian, harmoni dan keselamatan untuk Indonesia sekarang dan masa depan. 

  

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا أستغفر الله العظيم رَّبِّ ٱغْفِرْ وَٱرْحَمْ وَأَنتَ خَيْرُ ٱلرَّٰحِمِينَ